
Mamaku Hantu
Part 60
Teguh berulang kali melirik dinding tempatnya menggantung jam dinding. Benda persegi yang berisikan sejumlah angka disertai latar foto wajah calon presiden. Baju kaos, topi, juga jam dinding itu didapatkannya di pasar pagi oleh beberapa tim sukses dari calon presiden berwajah santun dengan adat ketimuran. Siapa sangka kalau calon presiden itu terbiasa bermain-main dengan seorang dukun.
Teguh berdiskusi dengan dirinya sendiri, haruskah dia mencari informasi tentang calon presiden itu lebih dalam?
“Kalau aku mengiyakan menjadi tim suksesnya, berarti aku hanya membagi-bagikan cinderamata seperti orang di pasar pagi itu. Tapi bagaimana jika ada orang yang tahu kalau aku menjadi bagian politik? Apa lagi aku adalah seorang aparat sipil negara. Ditambah, apa yang akan dikatan orang tua siswa, jika tahu aku membagi-bagikan sesuatu yang berbau politik? Oh! Aku bisa menggunakan topi dan masker wajah, tidak mungkin akan ada yang tahu. Pintar juga aku ini.”
Teguh lalu menggerakkan bola matanya menuju luar rumah melalui jendela. Hari masih terang, walau waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Tanpa menunda lagi, dia menggerakkan tubuhnya menuju luar rumah. Pengaman kepala, serta jaket yang memang diletakkan di atas sepeda motor, menjadi tujuan pertama sebelum menuju rumah Mbah Kaliwesung.
“Aku harus tahu, apa saja yang akan dilakukan calon presiden itu di rumah Mbah Kaliwesung.” Ucap Teguh dalam hatinya.
Teguh menuntun sepeda motor ke luar dari garasi. Tidak lupa dia menurunkan standar samping sepeda motornya untuk menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh. Teguh kemudian menutup rapat pintu gerbang, dan memasangkan gembok kecil.
***
Lalu lintas sore itu terbilang ramai. Begitu banyak kendaraan berusaha menjadi yang pertama melintasi jalan raya, seolah-olah urusan merekalah yang terpenting.
“Orang-orang ini pada mau kemana, sih? Di jalan begini kok ngebut-ngebut. Harusnya mereka berangkat lebih awal, dari pada harus bergegas tanpa memikirkan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Heran!” Seru Teguh berbicara keras dari balik helmnya.
“Nanti kalau sampai nyerempet pengendara lain, kan bahaya!” Saran bijak yang Teguh umbar, hanya menjadi desau angin tanpa ujung.
__ADS_1
Teguh membelokkan sepeda motornya menuju sebuah jalan lebar beraspal. Masih ingat betul dirinya, akan melewati sebuah minimarket yang tersebar luas di seluruh Indonesia, sebelum mendekati rumah Mbah Kaliwesung.
Rumah Mbah Kaliwesung berada di sebelah kiri jalan. Namun, di sebelah kanan, kiri, juga depan, tidak terdapat bangunan apa pun. Di seberang rumah Mbah Kaliwesung terdapat kebun tebu yang amat luas. Sementara di sebelah kanan dan kiri, hanya tanah kosong.
Teguh memberhentikan sepeda motornya pada minimarket yang berada di sebelah kanan jalan. Dia membeli sebotol kecil kopi dingin, dan roti bundar dengan rasa cokelat untuk pengganti makan malamnya. Sepulang dari rumah Mbah Kaliwesung, dia berencana untuk membeli gulai kambing di pasar malam.
Teguh melirik pergelangan tangannya, untuk memastikan ketepatan waktu sesuai dengan dugaannya. Namun sayang, dugaan Teguh salah, perjalanan yang dirasa melebihi tiga puluh menit, hanya bergerak sepuluh menit saja.
Teguh lalu duduk di emperan minimarket untuk menikmati kopi dan juga rotinya beberapa menit. Tanpa menunda lebih lama, Teguh segera melanjutkan perjalanan menuju rumah Kaliwesung. Tidak sabar rasanya untuk mencari tahu, apa saja yang akan dilakukan oleh calon presiden itu.
Teguh menarik kenop gas pada sepeda motornya hampir sepuluh menit. Namun, rumah Mbah Kaliwesung belum nampak. Dia lalu menarik kenop gas semakin kuat untuk mempercepat laju sepeda motornya.
Setelah lebih dari dua puluh menit berkendara, Teguh merasa ada yang aneh. Dia menepikan sepeda motornya sebentar dan menoleh ke sana, kemari. Tidak ada satu rumah pun yang terlihat sejauh mata memandang. Dia lalu memutar sepeda motornya dan mencari minimarket. Tidak sampai tiga menit, Teguh telah sampai pada minimarket.
Teguh mencoba sekali lagi menuju rumah Mbah Kaliwesung. Kecepatan diatas rata-rata menjadi prioritas tangannya. Dalam satu gerakan, tangan Teguh menarik rem, karena kebun tebu terlihat di sebelah kanan. Keningnya berkerut saat melihat rumah kecil seperti tanpa penghuni berada di seberang kebun tebu itu. Teguh memberhentikan sepeda motornya tepat di depan rumah dengan gerbang yang terbuat dari bambu.
Tanpa mematikan mesin sepeda motornya, Teguh menurunkan standar dan mendekati rumah itu. Sepi. Kumuh. Sangat berbeda dengan rumah Mbah Kaliwesung yang sebelumnya.
Sedetik kemudian, seorang laki-laki tua muncul di depan pintu gerbang. Teguh terperanjat tanpa bisa mengontrol keterkejutannya.
“Cari siapa?” Tanya laki-laki tua itu dengan suara parau.
“Sa, saya mau ke rumah Mbah Kaliwesung, Pak.” Sahut Teguh ragu.
__ADS_1
“Kaliwesung? Untuk apa situ ke sana? Mau mencari nomor untuk judi? Atau mau minta penglaris?” Balas laki-laki tua itu sinis.
Teguh tertegun mendengar tuduhan itu. “Enak saja! Bapak ini tidak kenal saya, tapi menuduh yang bukan-bukan. Saya mau mencari anak saya yang hilang!” Sungut Teguh membalas tuduhan laki-laki tua di hadapannya.
“Anak hilang kok ke dukun? Memangnya sudah melapor ke polisi? Atau, situ yang menghilangkan anaknya sendiri?” Tebak laki-laki tua tadi tepat mengenai sasaran dalam pikiran Teguh hingga membuat perubahan ekspresi pada wajahnya.
“Lebih baik situ tidak usah ke rumah dukun itu. Permintaannya suka aneh-aneh. Bukannya untung malah buntung. Tidak pernah satu pun orang yang menghamba sama dukun itu berkahir bahagia. Hancur semua!” Tegasnya lagi.
“Tapi saya tidak salah jalan, kan? Benar lewat sini, kan?” Tanya Teguh memastikan lagi.
“Tak peringati sekali lagi, mending situ urungkan niatan awal itu. Sebelum hal-hal buruk bisa terjadi.” Ucap laki-laki tua itu. Sedetik kemudian, Teguh berada di depan pintu gerbang sebesar gapura. Ajudan pribadi calon presiden itu terlihat menghembuskan asap rokok di depan pintu gerbang.
“Dari mana saja? Kok bolak-balik? Tidak ketemu tempat ini, ya?” Ledek laki-laki itu tertawa.
“Tadi saya kemana ya, Pak? Kok tidak ketemu sama rumah Mbah Kaliwesung?” Tanya Teguh heran.
“Ya, mana saya tahu. Memangnya kemana dari tadi?”
“Tidak kemana-mana. Ah sudahlah, yang penting sudah sampai sekarang. Saya masuk dulu, ya.” Ucap Teguh setelah meletakkan helmnya di atas spion sepeda motor.
“Eits! Tunggu dulu. Bos saya masih di dalam. Tidak boleh masuk.” Ucap ajudan itu tegas.
“Memangnya kenapa? Saya kan juga ada janji dengan Mbah Kaliwesung.” Ucap Teguh membela diri.
__ADS_1
“Tidak perlu mengarang cerita. Kita semua tahu maksud kedatangan anda hari ini untuk mencari tahu tentang bos saya, kan? Apa yang mau anda tahu? Biar saya yang memberikan informasinya.” Balas ajudan itu.