Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 64


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 64


“Pa, kita mau minta bantuan Papa untuk antar ketemu Pak Polisi yang waktu itu dong, Pa.” Ucap Senja saat mereka telah usai menghabiskan makan malam yang diorder melalui layanan online.


Bagi menaikkan alisnya sebelum menjawab Senja, “memangnya ada apa?”


“Ternyata Dara itu dijual sama ibunya, Pa.” Sahut Senja dengan menimbulkan respon kaget dari Bagi.


“Dijual? Tahu dari mana kamu?” Balas Bagi tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.


“Betul, Pa. Yang dibilang Kakak itu betul. Tadi siang kita main ke rumah Kak Dara. Di sana Kak Riki enggak sengaja dengar percakapan Ibunya Kak Dara sama pacarnya.” Sahut Sena tenang membantu melengkapi cerita Senja.


“Dan parahnya lagi nih, Pa. Ibunya Kak Dara ngejual ke Pak Hartanto! Kepala sekolah kita, Pa! Kurang ajar, kan?” Sambung Senja meledak-ledak. “Kita enggak boleh diam, Pa. Semua harus segera diselidiki polisi. Kasihan Kak Dara. Takutnya nanti malah dijual ke orang lain lagi.”


“Hush! Kakak ini kok ngomongnya gitu amat!” Balas Sena kepada Senja yang menaruh kecurigaan kepada keluarga Dara.


“Kan gue menganjurkan supaya menutup kemungkinan itu terjadi.” Sahut Senja kepada Sena.


“Oke, nanti Papa coba minta nomor teleponnya Pak Andre ke Om Damar.”


Senja dan Sena menganggukkan kepala setuju dengan sahutan Bagi yang tidak segan mau membantu untuk menyelesaikan masalah besar ini.


***


[Mar, coba tolong kirimkan gue nomor telepon Pak Andre.] Bagi mengirimkan pesan melaluli telepon genggamnya pada Damar.


Tanpa perlu menunggu lama, Damar mengirimkan nomor telepon dari Pak Andre berikut dengan pertanyaan ingin tahunya.


[Mau ngapain sama Pak Andre?]


[Ada kasus ngeri nih. Kata anak-anak, siswi yang disekap kemarin itu ternyata korban trafficking. Bahkan yang jual orang tuanya sendiri ke salah satu guru di sekolah. Parahnya, guru itu kepala sekolah anak-anak gue, Mar!] Balas Bagi pada Damar. Sedetik selepas pesan itu terkirim, telepon genggam Bagi mendapat panggilan masuk. Tentu saja dari Damar.


“Parah! Dari mana anak-anak dapat informasi begini? Bahaya mereka, Bro. Gue sekarang ke rumah lo ya. Sekalian gue ajak Pak Andre.” Serbu Damar setelah Bagi menyapa panggilan telepon itu.

__ADS_1


“Apa enggak terlalu gegabah kita?”


“Gegabah apanya? Gue takutnya nanti malah makin bahaya ke anak-anak lo. Biar gimana pun, anak lo udah terlibat, Bagi. Biar nanti Senja dan Sena yang jelasin secara detail ke Pak Andre. Tunggu ya, gue ke sana sekarang.”


***


“Senja! Sena!” Panggil Bagi bergegas menemui kedua anaknya yang sedang asik menatap layar besar pada dinding rumah. Keduanya menoleh ke arah datangnya Bagi.


“Sekarang Om Damar dan Pak Andre sedang menuju ke rumah. Nanti kalian bisa langsung cerita ke Pak Andre, ya.” Terang Bagi pada Senja dan Sena.


Senja terperanjat tidak percaya dengan ucapan Papanya, “serius, Pa? Aku harus bilang sama Ragil, nih. Aku panggil dia ya, Pa?”


“Ah, ngapain? Kasihan sudah malam. Kamu malah ganggu Ragil.” Balas Bagi.


“Enggak mungkin ganggu. Dia itu pasti senang kalau dihubungi sama anak cantik kayak aku.” Seru Senja berhamburan menuju pintu rumah.


Sena terkikik mendengar ucapan Senja, “anak cantik katanya.”


***


“Gue rasa jangan dulu. Biar kita diskusi dulu sama Pak Andre. Kalau memang Pak Andre bilang perlu pengakuan langsung dari Riki, biar kita sama-sama ke sana.” Balas Senja menyampaikan pendapatnya.


Ragil mengangguk mantap.


“Lo mau cerita ke nyokap bokap, enggak?” Tanya Senja.


“Baiknya, gimana?” Balas Ragil


“Gue rasa mereka harus tahu. Tapi ada baiknya kita tanya dulu sama Pak Andre. Takutnya, makin banyak yang tahu, malah menyebar dan mempersulit polisi untuk bertindak, kan?”


“Benar juga lo. Gue pikir gak bisa dipakai itu. Ternyata berguna juga.” Balas Ragil sambil menunjuk kepala Senja.


Tanpa menunggu, Senja melayangkan pukulannya ke arah Ragil. Sudah membaca tindak tanduk dari Senja, Ragil segera berkelit, “eits! Enggak kena!” Ragil lalu permisi untuk izin kepada orang tuanya karena akan menghabiskan beberapa waktu di rumah Senja dan Sena. “Gue bilang nyokap dulu, ya. Beranj lo sendirian di luar?” Tanya Ragil memastikan dengan nada mengejek.


“Sana, buruan!”

__ADS_1


***


Pak Andre dan Om Damar tidak memerlukan waktu yang lama untuk segera tiba di rumah Senja dan Sena.


“Om Damar, cepat sekali sampai di rumah?” Sambut Sena saat melihat mobil sahabat Papanya menepi di depan gerbang rumah.


“Kalau bisa menembus dinding, Om malah maunya begitu. Kalian ini lagi berhadapan sama penjahat, Om khawatir.” Balas Damar sambil meremas pundak Sena.


“Silahkan masuk, Pak Andre.” Sapa Bagi mempersilahkan Andre untuk memasuki rumahnya.


Setelah semua menempati posisi yang nyaman, dan Senja pun meletakkan beberapa gelas es teh di atas meja.


“Jadi, siapa yang mau cerita?” Ucap Andre setelah menyegarkan tenggorokan dengan teh manis segar buatan Senja.


“Kita enggak tahu harus mulai cerita dari mana, Pak.” Aku Ragil pada Andre.


“Oke, kita mulai dari pertanyaan saya dulu saja kalau begitu. Sebenarnya saya penasaran sama kamu, Gil. Kenapa bisa punya pemikiran untuk ikut kegiatan jurit malam itu?” Tanya Andre dengan memasang wajah serius.


“Sama seperti yang saya sampaikan waktu di kantor polisi beberapa hari lalu, Pak. Saya mau nangkap pelaku penculikan Dara. Saya mau cari bukti-bukti.” Jawab Ragil.


“Kenapa kamu yakin kalau Dara diculik? Bukannya sekolah sudah memberikan pernyataan kalau Dara pulang dijemput orang tuanya?” Balas Andre.


“Sebenarnya, saya dengar pembicaraan Mamanya Dara dengan Pak Hartanto, Pak.”


Andre mengernyitkan dahinya, “Pak Hartanto, kepala sekolah?”


“Betul, Pak. Kepala sekolah. Saya dengar Mamanya Dara menyebut soal sejumlah uang dan kampanye. Awalnya saya sama sekali enggak paham. Apa maksudnya? Lama-lama saya mengambil kesimpulan kalau Pak Har membeli Dara. Atau bisa jadi Pak Har sebagai penyalur jual beli manusia, Pak.” Jelas Ragil dengan wajah ngeri. “Makanya, saya mau lihat sendiri gimana sih gerak-gerik Pak Har saat kegiatan itu. Kan Pak Har sendiri yang memutuskan untuk melakukan kegiatan itu lagi. Padahal, isu-isu tentang penculikan belum meredup. Tapi Pak Har sudah berani memutuskan untuk melakukan kegiatan perkemahan lagi. Saya pikir, Pak Har mau melakukan aksinya.”


“Kamu pasti enggak punya bukti, kan?” Balas Pak Andre menyimak dengan mantap ulasan dan pemikiran Ragil, anak berusia dua belas tahun itu.


“Untuk percakapan Mamanya Dara dan Pak Hartanto memang enggak ada, Pak Andre. Tapi gerak-gerik aneh saat kegiatan perkemahan, saya punya. Saya punya rekaman Pak Har yang kelihatan sedang mencari sesuatu di sekitar rumah gubuk. Saya rasa Pak Andre bisa jadikan rekaman ini untuk sekadar mencari informasi melengkapi kecurigaan saya”. Sahut Ragil


“Mana rekamannya, biar saya lihat.”


“Tunggu sebentar, Pak. Saya ambil dulu di rumah.”

__ADS_1


***


__ADS_2