Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 48


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 48


“Kamu pegang ini, untuk jaga-jaga.” Ucap Damar kepada Dandi seraya memberikan sebuah tongkat baseball. Pintu bagasi mobil Damar terbuka lebar dengan Dandi bersamanya sedang mencari-cari senjata untuk menghadapi Pak Teguh.


“Om pemain baseball?” Tanya Dandi pada Damar.


“Enggak. Memang sengaja naruh di dalam mobil untuk jaga-jaga. Ternyata ada gunanya juga, kan?” Sahut Damar. “Om bawa yang ini.” Sambung Damar.


“Pisau kecil juga untuk jaga-jaga, Om? Hebat sekali persiapannya.” Puji Dandi untuk Damar.


“Bukan. Pisau ini untuk motong buah. Kadang-kadang Om berhenti untuk beli buah dalam perjalanan, tapi susah kalau enggak ada pisau untuk ngupas kulitnya.” Ujar Damar dengan menunjukkan deretan giginya.


“Kok malah mirip Mama saya, Om?” Balas Dandi kecewa.


“Iya kah?” Sahut Damar seraya menutup pintu bagasi dengan satu gerakan mengayun ke bawah. Suara pintu berdebum terdengar setelahnya. “Sudah, yuk kita cabut. Kamu bawa lampu senter?” Tanya Damar memastikan.


“Bawa, Om. Ini.” Sahut Dandi menunjukkan lampu senter berukuran sedang.


“Om juga sudah siap.” Damar menunjukkan senter besar pada Dandi.


“Kayak punya Papa saya di rumah, Om. Persis begini, sama juga warnanya merah. Biasanya dipakai untuk ronda. Tapi punya Papa saya isi tali. Jadi bisa kayak tas selempang.” Dandi terperangah melihat wujud lampu penerangan yang ditunjukkan oleh Damar.


“Ini juga bisa pakai tali.” Damar lalu menarik tali pada sumbernya. “Let’s go!”


***


“Gerbangnya dikunci. Padahal tadi Pak Guru itu masuk ke sekolah lewat pintu gerbang. Berarti dia punya kuncinya.” Ucap Damar saat mendapati pintu gerbang sekolah terkunci.


“Coba kita lewat samping, Om.” Saran Dandi. Mereka lalu mencari jalan lain agar bisa memasuki sekolah tanpa harus melalui pintu gerbang. Dandi menemukan tembok yang digunakan oleh Ragil juga Riki untuk menuju sekolah.


Damar dan Dandi berhasil meloncati tembok, lalu mendarat dengan sempurna.


“Kita kemana sekarang?” Tanya Damar.


“Kira-kira, kemana Pak Teguh membawa Danti, ya?” Balas Dandi seraya berjalan pelan memasuki area sekolah.


Tidak terlihat tanda-tanda kehidupan dari sekolah yang sedang dalam keadaan gelap gulita itu.


“Mana ruang guru?” Tanya Damar berbisik.

__ADS_1


“Itu, Om.” Tunjuk Dandi pada ruangan di sebelah kanan mereka.


Damar mencoba untuk membuka handel pintu, namun gagal. Ruang guru terkunci.


“Kelasnya Danti dimana? Kita coba ke sana.” Damar mengajukan idenya. Sayang sekali, kelas itu pun terkunci.


“Om, kita coba ke belakang sekolah gimana? Ada gudang di sana, Om.” Saran Dandi.


“Ayo!”


***


Bu Siti panik karena mendapati Dandi hilang.


“Bu! Bu Cahya! Dandi kok enggak ada di dalam, ya? Kemana anak itu?” Teriak Bu Siti pada Bu Cahya.


“Enggak ada bagaimana? Kan tadi di dalam.” Balas Bu Cahya tak kalah panik.


Pak Latif tiba beberapa menit lebih dulu dibandingkan dengan kelompok berikutnya.


Begitu melihat Bu Siti dan Bu Cahya berwajah panik, Pak Latif menjadi khawatir.


“Ada apa Ibu-ibu? Kok mukanya cemas begitu?” Tanya Pak Latif.


“Hilang bagaimana?” Tanya Pak Latif bingung karena tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.


“Tadi anak itu enggak lanjut ke Pos 3 karena kakinya keseleo, jadi dia saya biarkan istirahat di dalam. Tapi barusan saya ke dalam, eh dianya enggak ada, Pak. Gimana ini, Pak Latif?” Sahut Bu Siti panik. Hilangnya seorang siswi dua tahun lalu benar-benar menimbulkan trauma untuk Bu Siti.


“Coba kita cek dulu. Siapa tahu dia lagi buang air kecil, Bu.” Balas Pak Latif berusaha menenangkan.


Pak Latif, Bu Siti, dan Bu Cahya bersama-sama mengelilingi rumah gubug dengan cemas. Keberadaan Dandi lenyap tanpa jejak.


“Apa mungkin dia lanjut ke Pos 3?” Ucap Bu Cahya.


“Ah, masak sih dia berani sendirian, Bu.” Balas Bu Siti tidak yakin dengan pendapat Bu Cahya.


“Jangan-jangan ada yang menculiknya, Bu Cahya.” Bu Siti menduga-duga dengan raut wajah khawatir. “Ayo kita hubungi Pak Har!” Ajak Bu Siti tegang.


***


“Ck! Gara-gara hal sepele begini, semua rencanaku gagal total.” Ucap Teguh dalam hatinya saat berhasil melompati tembok belakang sekolah dengan susah payah.

__ADS_1


Dalam keadaan tergesa-gesa, Teguh berlari menyusuri kebun pisang yang masih gelap, untuk menuji kebun durian. Saat mendekati rumah gubug, Teguh melihat Bagi dan Stevina yang berjalan pelan menuju rumah gubug.


“Siapa mereka? Mau apa dia mendekati rumah itu? Apa mereka sudah tahu semuanya?” Pikir Teguh.


Tak ingin menunggu lebih lama, Teguh berjalan mendahului Bagi dan Stevina melalui jalur lain agar tidak terlihat oleh mereka. Teguh pun melihat Bu Siti, Bu Cahya, dan Pak Latif yang sedang berjalan ke sana kemari. “Apa yang sedang mereka cari?” Pikir Teguh. Dalam satu gerakan, Teguh menyusup ke dalam kandang yang gelap. Perlahan Teguh menggeser kotak pakan ternak yang terbuat dari kayu itu. Sebuah pintu yang terbuat dari besi terlihat tertutup dengan disematkan sebuah gembok besar.


Teguh mengeluarkan sebuah kunci dari kantong celananya. Satu, dua, hanya dengan dua gerakan saja Teguh berhasil membuka kunci gembok tersebut. Tangannya menarik pengait besi untuk mengangkat pintu itu.


***


Gredek, gredek.


Suara berisik terdengar dari atas gudang rahasia.


“Bokap lo sampai, Sen!” Teriak Riki semringah. Tidak lama lagi mereka semua akan keluar dengan selamat. Begitu pikir Riki dalam hatinya.


“Ayo, Ra. Kita bisa keluar dari sini.” Ajak Ragil menarik tangan Dara agar berdiri.


Semua menanti dengan wajah penuh semangat di bawah anak tangga kemunculan Bagi.


“Kalian masih hidup?”


***


“Dani, lihat. Itu ada bangku di dekat tembok. Pasti guru itu lewat sana.” Bisik Damar.


“Ayo, Om. Kita kejar guru kampret itu.” Ajak Dandi.


“Tunggu! Suara apa itu?” Seru Damar menghentikan langkah Dandi.


Damar kemudian mengarahkan lampu penerangannya ke sebelah kanan. Terdapat sebuah gudang kecil dengan pintu yang tergembok rapi. Damar mendekati gudang itu. Sepi, tidak terdengar apa pun dari dalam sana.


“Uu… u… Mmph…” Suara itu terdengar lagi. Damar dan Dandi berhamburan mencari sumber suara. Dandi berjalan ke sebelah kiri, menuju bak yang terbuat dari beton untuk tempat pembuangan sampah. Dandi melongokkan kepala agar bisa melihat ke dalam bak sampah. Sebuah tas ransel besar berwarna hitam tergeletak di sudut bagian dalam bak sampah.


“Danti! Danti! Om, di sini, Om! Ketemu!” Teriak Dandi meriah. Dalam satu gerakan, Dandi dan Damar masuk ke dalam bak sampah. Tidak mereka perdulikan bau busuk dari dalam bak sampah itu.


Dandi meletakkan tongkat baseball itu di sembarang tempat. Sementara Damar memerhatikan sekitar untuk memastikan jika mereka tidak dalam keadaan bahaya. Bisa saja guru biadap itu bersembunyi, lalu menyerangnya.


Tangan Dandi bergetar saat berhasil menemukan Danti yang masih dalam keadaan sehat. Gegas Dandi menyeruakkan tangannya untuk membuka tas ransel itu untuk mengeluarkan Danti. Tubuh Danti kaku karena terlalu lama tertekuk di dalam tas.


“Danti, lo enggak apa-apa?” Dandi membuka lakban yang menutupi mulut adiknya itu.

__ADS_1


“Dandi!” Danti meraung dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya. Damar membantu untuk membukakan tali pengikat dengan pisau kecil yang dibawanya tadi.


“Ayo kita keluar dulu dari sini.” Ajak Damar kepada kedua anak kecil sembilan tahun itu.


__ADS_2