Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 41


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 41


Bu Rima dan Pak Yusuf melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 tanpa Pak Teguh.


“Pak Yusuf, Pak Yusuf kan lebih dulu mengajar di sekolah dari pada saya. Pak Yusuf kenal dengan Pak Teguh?” Tanya Bu Rima membuka percakapan dengan Pak Yusuf yang mengajar pelajaran agama.


“Tidak terlalu, Bu. Pak Teguh itu jarang bergaul dengan guru yang lain. Dari cerita yang saya dengar dari guru-guru, Pak Teguh itu memberikan kehidupannya secara penuh untuk anak didik di sekolah.” Jawab Pak Yusuf.


“Memangnya Pak Teguh tidak punya keluarga?” Tanya Bu Rima lagi. Dirinya memang termasuk guru baru di sekolah ini. Kecintaan Bu Rima terhadap musik, mengantarkannya kepada keberhasilan menyelesaikan studi di institut seni. Dengan berbekal kemampuan secara legal, Bu Rima diperkenankan untuk mengajarkan seni musik dan seni suara di sekolah Senja dan Sena.


“Hal ini paling jarang dibicarakan, Bu Rima. Saya juga tidak tahu pasti, ada yang bilang kalau Pak Teguh itu punya keluarga. Tapi istri dan anak perempuannya dikabarkan meninggal. Ada juga yang bilang kalau Pak Teguh tinggal sendirian di rumahnya.” Balas Pak Yusuf menjelaskan tentang Pak Teguh sesuai informasi yang diterimanya.


“Meninggal? Meninggal kenapa, Pak?” Bu Dima terperangah mendengar penuturan Pak Yusuf tentang Pak Teguh.


“Tidak ada yang tahu pasti, Bu. Desas-desus yang beredar bilang kalau keluarga Pak Teguh itu meninggal saat beliau mendaki gunung. Tapi tidak ada satu orang pun yang berani memastikan. Siapa sih yang mau membahas soal kematian, Bu. Apa lagi yang meninggal itu orang tercinta.” Balas Pak Yusuf.


“Mungkin hal itu yang menyebabkan Pak Teguh jadi mengabdikan hidupnya untuk siswa di sekolah. Apa lagi kalau Pak Teguh jadi wali kelas, beliau akan memberikan seluruh kemampuannya untuk anak-anak. Salut sekali saya dengan beliau.” Lanjut Pak Yusuf menambahkan informasi mengenai Pak Yusuf.


Bu Rima tidak tahu harus menanggapi apa, hanya anggukan kepala tanda mengerti yang dia berikan.


***


Setelah memastikan Pak Teguh pergi dari rumah gubug, Ragil dan Riki bergegas memasuki bagian dalam rumah. Ragil berjalan mendahului Riki. Ragil mengedarkan pandangannya setelah sampai di dalam rumah. Tidak ada yang mencurigakan di dalam. Hanya ada sebuah meja dan kursi yang terbuat dari kayu tua. Sebuah lemari usang diletakkan di sudut ruangan. Riki membukanya, tidak ada yang istimewa, hanya perkakas untuk berkebun.


“Sebentar lagi Pak Latif dan Bu Dena sampai Pos 2. Saya berangkat duluan ya.” Pamit Pak Guntur kepada Bu Siti, dan Bu Cahya. Suara Pak Guntur pun terdengar dari salam rumah. Ragil dan Riki bergegaa keluar dari dalam rumah, mereka takut jika Pak Guntur atau salah satu guru yang lain akan masuk ke dalam untuk mengambil air minum atau sesuatu.


“Ayo keluar. Nanti ada yang masuk!” Bisik Ragil memberi perintah.


“Iya, Pak. Hati-hati, ya. Kalau mereka lelah, istirahat saja dulu di tempat yang nyaman.” Balas Bu Siti.


“Apa benar Ibu-ibu berani berdua saja di sini?” Tanya Pak Guntur khawatir.


“Berani, sebentar lagi Pak Latif kan sampai.” Balas Bu Cahya.

__ADS_1


Sebelumnya Pak Rudian telah terlebih dahulu berangkat menemani kelompok satu. Kini giliran Pak Guntur yang akan melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 menemani kelompok dua.


“Pak, apa boleh saya tidak melanjutkan perjalanan? Kaki saya keseleo, Pak. Saya diam di Pos 2 saja ya?” Pinta Dandi.


“Iya kah? Ya sudah kamu duduk di sini dulu. Nanti biar Bu Siti yang memijat kakimu, ya.” Ucap Bu Siti saat mendengar permohonan Dandi kepada Pak Guntur.


Teman-teman yang lain saling lirik karena mengerti bahwa Dandi akan melakukan aksinya di rumah gubug untuk menemukan adik kembarnya.


“Oke! Yang lain siap melanjutkan petualangan?” Tanya Pak Guntur semangat.


Tidak ada sahutan dari anggota kelompok dua.


“Loh? Kok diam saja? Semangat dong! Keluarkan jiwa-jiwa membara dari anak muda dalam diri kalian. Jangan melempem. Ayo, semangat! Sama-sama bilang semangat ya. Dalam hitungan ketiga, bilang semangat. Satu, dua, tiga, semangat!” Perintah Pak Guntur.


“Semangat.” Sahut anak-anak kelompok dua tidak semangat.


***


“Ya ampun, Pak! Botol minum saya ketinggalan di Pos 2.” Teriak Sena setelah perjalanan yang ditempuh selama dua puluh menit.


“Enggak mau, Pak. Saya maunya yang itu aja. Saya balik dulu ya, Pak!” Teriak Sena.


“Hei! Bahaya kalau sendiri. Enggak perlu lah balik lagi. Minum ini saja.” Balas Pak Guntur menghentikan perjalanan.


“Enggak mau, Pak!” Sahut Sena.


“Yuk, gue antar.” Doni mengeluarkan suaranya untuk menawarkan diri.


“Berani kalian berdua jalan gelap begini?” Tanya Pak Guntur.


“Berani, Pak. Memangnya apa yang harus ditakutkan? Hantu? Atau orang jahat?” Sindir Doni.


“Ya sudah, kalian hati-hati, ya. Nanti kalian lanjut jalan berbarengan dengan kelompok tiga saja. Jangan berdua. Perjalanan masih sangat jauh menuju Pos 3. Kita tunggu di Pos 3. Oke?” Ucap Pak Guntur yang langsung disanggupi oleh Sena dan Doni


***

__ADS_1


“Pak Guntur enggak mencurigakan ya, Kak.” Ucap Sena membuka pembicaraan untuk menghapus rasa sepi yang muncul disela perjalanan mereka kembali ke rumah gubug.


“Gue enggak tahu, Sen. Yang pasti dari tadi memang Pak Guntur enggak ada gelagat aneh.” Sahut Doni menanggapi ucapan Sena. “Tapi bisa aja Pak Guntur jago berpura-pura. Kita enggak pernah tahu, Sen.”


“Iya juga, Kak. Gue penasaran, apa aja yanb ditemuin Kak Ragil dan Kak Riki di dalam rumah gubug itu.” Balas Sena.


“Gue harap, Danti cepat ketemu. Jangan sampai Danti celaka sebelum ditemukan.” Sahut Doni penuh pengharapan.


***


“Nanti kita lewat belakang rumah ya, Sen.” Ujar Doni kepada Sena.


“Ada ular, enggak ya, Kak? Di belakang rumah gubug itu gelap banget kelihatannya.” Ucap Sena.


“Kalau udara dingin gini, kayaknya sih enggak, Sena. Gue juga enggak yakin. Semoga aja enggak ada, ya. Gue juga takut sama ular.” Balas Doni.


“Kalau sama hantu enggak takut?” Tanya Sena.


“Enggak. Mereka justru yang takut sama kita.” Balas Doni berusaha menenangkan Sena.


“Yang benar, Kak?” Sena menaikkan alisnya tidak yakin.


“Mungkin. Gue juga enggak tahu pasti.” Sahut Doni disertai dengan tawa yang renyah. “Coba tanya sama nyokap lo nanti.”


“Nyokap gue kan bukan hantu beneran. Dia masih hidup, Kak.” Balas Sena tidak terima.


“Anak perempuan itu kayaknya hantu beneran deh. Nanti kita ngobrol sama dia kalau sempat.” Sahut Doni.


“Berarti, Senja enggak bisa lihat nyokap lo?” Tanya Doni penasaran.


“Iya. Gue aja yang bisa. Eh, sama Kakek gue. Ayahnya nyokap, Kak.” Sahut Sena.


“Wah, ternyata keturunan mata ajaib. Gue juga nurun dari Nenek, adik perempuan gue yang masih TK juga bisa ngelihat yang begituan.” Balas Doni semangat.


Tanpa terasa perjalanan mereka telah mendekati rumah gubug. Doni menarik tangan Sena agar mengikutinya berjalan melalui belakang rumah.

__ADS_1


***


__ADS_2