
Mamaku Hantu
Part 58
Andre menghembuskan napas heran setelah mendengar penuturan dari Teguh.
“Jadi anak perempuan bernama Dara ini tidak sesuai dengan syarat yang diajukan oleh Mbah Kaliwesung?” Tanya Andre dengan kening berkerut yang menyebabkan alisnya saling bertaut.
“Benar, Pak.” Balas Teguh menundukkan kepala.
“Memang syaratnya apa saja?” Tanya Andre lagi.
“Anak perempuan yang belum datang bulan.” Sahut Teguh jujur apa adanya. Dia merasa tidak perlu lagi menutup-nutupi semuanya. Sudah terlanjur dan tidak bisa mengelak.
“Lalu, kenapa tidak anda lepaskan saja anak itu?”
Teguh memandang Andre, “Apa Bapak sungguh-sungguh bertanya seperti itu? Kalau saya lepaskan anak itu, pasti lah semua orang akan tahu kalau saya pelakunya.” Teguh merasa petugas ini tidak bisa menggunakan logikanya.
Andre mendengus karena merasa direndahkan oleh pelaku.
“Apa saja yang telah anda lakukan pada anak bernama Dara?” Tanya Andre lebih menjurus.
“Maksud anda apa? Saya tidak melakukan apa pun. Saya tetap memberinya makan dan minum. Tempat tinggal pun saya berikan.” Balas Teguh santai tanpa sedikit pun terlihat rasa menyesal.
“Seandainya anak bernama Dara ini sesuai dengan kriteria, apa yang akan anda lakukan?”
Teguh terdiam sebentar, “akan segera saya serahkan pada Mbah Kaliwesung untuk ditukar sukmanya agar Mala kembali hidup.”
“Mala? Siapa Mala?” Tanya Andre bingung.
Teguh tidak menjawab. Dia diam memandang jari-jari dipangkuannya.
***
__ADS_1
“Gimana? Apa Pak sudah mengerti dengan persyaratan yang saya sampaikan barusan?” Tanya Mbah Kaliwesung dari teras. Teguh mendekatkan diri, namun tidak beranjak untuk naik ke atas teras.
“Sudah, Mbah. Saya harus menukar sukma anak perempuan lain dengan Mala, kan?” Tanya Teguh memastikan sekali lagi. Matanya tidak bisa menahan untuk melirik calon presiden yang duduk tegap di sudut teras rumah bagian utara.
Mbah Kaliwesung tertawa sebentar sebelum menjawab pertanyaan Teguh, “kalau itu yang Pak pahami, dan juga menyanggupi. Lakukanlah. Kalau tidak sanggup, lupakan saja kalau Pak pernah ke tempat ini.”
“Saya sanggup, Mbah. Sanggup. Tapi, tubuh Mala saya harus taruh dimana sampai saya menemukan anak perempuan lain?” Tanya Teguh perlu saran dari Mbah Kaliwesung.
“Jangan terlalu manja, Pak. Saya ini bukan organisasi konseling yang bisa ditanya ini itu. Kalau saya berkenan, baru saya jawab. Lagian, saya tidak yakin kalau Pak bisa membawakan seorang anak perempuan.” Sahut Mbah Kaliwesung meremehkan antusias Teguh.
“Saya akan membawakan anak perempuan kutang dari tiga bulan, Mbah.” Balas Teguh cepat.
“Tiga bulan?” Mata Mbah Kaliwesung membelalak dan dilanjutkan dengan suara tawa membahana dari Mbah Kaliwesung dan calon presiden itu.
“Hoi, Pak! Sini, duduk dulu di sini.” Ucap calon presiden itu pada Teguh. Dengan ragu Teguh melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju teras rumah bagian utara. Perlahan tubuh Teguh telah berada di pinggir teras. Jauh dari Mbah Kaliwesung dan calon presiden itu.
“Kalau anda nunggu sampai tiga bulan, anak anda sudah jadi bangkai busuk. Mending menyerah saja. Anda tidak akan mampu.” Ucap calon presiden itu penuh penekanan. “Tapi, kalau mau, anda bisa ikut saya. Lebih mudah mendapatkan apa yang anda perlukan.”
“Ikut bagaimana? Saya harus bagaimana? Apa yang harus saya lakukan?” Tanya Teguh ingin tahu.
“Tapi saya tidak pernah melakukan hal yang berbau politik.” Teguh ragu jika harus mengiyakan tawaran calon presiden itu.
“Memangnya yang berhubungan dengan gaib sudah sering, Pak?” Tanya calon presiden itu lagi.
“Belum pernah juga. Baru kali ini.” Sahut Teguh pelan sambil menundukkan wajahnya.
Calon presiden itu tertawa terbahak-bahak. “Baru pertama kali juga kan menjadi penyebab kematian seseorang?”
Teguh terdiam memandang calon presiden itu.
“Sudahlah, Pak pulang saja. Kuburkan saja anak itu dengan layak. Syarat ini tidak akan bisa Pak sanggupi.” Tutur Mbah Kaliwesung mengingatkan Teguh.
“Tapi saya ingin sekali agar Mala hidup kembali, Mbah. Saya ingin memperbaiki semuanya dari awal.” Balas Teguh.
__ADS_1
“Pim Xander, saya permisi dulu.” Ucap calon presiden tadi pada Mbah Kaliwesung seraya membungkuk memberikan hormatnya dalam-dalam.
“Baik, sampai ketemu malam sebelum hari kliwon datang.” Balas Mbah Kaliwesung.
Calon presiden itu hanya menganggukkan kepala, dan berjalan menuju pintu gerbang.
Tinggallah Teguh berdua dengan Mbah Kaliwesung.
“Mbah, orang itu calon presiden, kan?” Tanya Teguh penasaran.
“Tergantung dari cara kita melihatnya. Dari yang saya lihat. Dia sama dengan Pak. Orang yang menginginkan sesuatu tanpa menggunakan logika, apa lagi perasaan. Hanya berbekal ambisi yang tidak masuk akal.” Balas Mbah Kaliwesung.
“Tapi, kok orang itu manggil Mbah berbeda, ya? Siapa tadi katanya? Sulit sekali mendengarnya.” Sahut Teguh berusaha menyebutkan nama yang diucapkan oleh calon presiden tadi.
Mbah Kaliwesung justru tidak menjawab, dia hanya menarik sedikit bibirnya ke atas.
“Baiklah, saya rasa urusan Pak sudah selesai. Saya masuh ada pekerjaan lain.” Ucap Mbah Kaliwesung berusaha bangkit.
“Tunggu sebentar, Mbah.” Ucap Teguh menjegal tangan Mbah Kaliwesung.
“Saya akan buktikan kalau saya mampu membawa seorang anak ke sini.” Seru Teguh antusias.
“Tidak perlu membawanya ke sini. Lakukan saja sesuai arahan saya. Nanti siapkan saja kalau sudah terkumpul.” Perintah Mbah Kaliwesung.
***
Teguh sampai di rumah siang hari. Bergegas dia menggendong Mala ke dalam kamar. Dengan cepat Teguh meletakkan Mala di atas tempat tidurnya menghadap ke atas. Teguh lalu membuka seluruh pakaian anak manis bernama Mala. Teguh diam menatap Mala dengan perasaan menggebu-gebu. “Bapak janji, kamu akan hidup lagi.” Ucap Teguh pada tubuh Mala.
Teguh kemudian memijat tubuh Mala untuk melemaskan otot-otot yang kaku karena lama tidak bergerak di dalam mobil. Kemudian dia membersihkan tubuh Mala dengan tissue basah yang mengandung desinfektan. Dirinya hanya berbekal sedikit pengetahuan dari internet, bagaimana cara mengawetkan jenazah. Dengan cepat Teguh memasukkan cairan balsem yaitu zat formadelhida yang dicampurkan dengan air ke dalam tubuh Mala melalui arteri yang paling dekat dengan jantung. Teguh hanya menyiapkan satu galon cairan balsem untuk mengawetkan tubuh Mala. Dia telah berjanji, jika terjadi tanda-tanda pembusukan, akan dilakukan pengisian cairan balsem sekali lagi.
Setelah dirasa cukup, Teguh membungkus tubuh Mala dengan pakaian. Kemudian melapisi tubuhnya dengan plastik besar agar tidak tercium aroma busuk atau aroma balsem dari kamar Mala.
Teguh tersenyum puas dengan apa yang telah dilakukannya.
__ADS_1
“Tugas Bapak sekarang hanya mencraikan kamu sukma yang baru, Mala. Kamu di sini dulu istirahat sebentar. Nanti kalau sudah waktunya, kita jalan-jalan ke tempat yang kamu mau, ya.”