
Mamaku Hantu
Part 49
“Pak Andre. Saya minta maaf sekali karena mengganggu jam seginu. Tapi ini serius urgent. Lebih urgent dari pada apa pun.” Ucap Damar cepat ketika sambungan telepon mereka terhubung.
“Ini dengan siapa?” Balas Andre dari seberang telepon.
“Saya Damar, Pak. Masih ingat dengan saya?”
“Damar? Damar Kampus Sastra?” Tanya Andre memastikan.
“Betul, Pak Andre. Betul sekali. Saya perlu pertolongan yang amat penting. Anak teman saya diculik, Pak. Ada kasus penculikan di sini.” Sahut Damar tidak mau membuang waktu untuk penjelasan melalui telepon.
“Penculikan? Lo ada dimana sekarang?” Tanya Andre antusias.
Damar menyebutkan nama sekolah dan juga alamat lengkap untuk memudahkan Andre untuk menuju ke sini. “Pak Andre, saya minta bantuannya juga untuk menghubungi ambulance dan mengirimnya ke sini. Tapi tolong tidak perlu menghidupkan sirine. Penculik itu masih ada di sekitar sini, Pak.”
“Baik, saya akan segera ke sana.” Balas Andre cepat.
“Oh ya, Pak Andre, tolong bawa gunting besi atau apa saja untuk membuka gembok gerbang. Salah satu korban penculikan sudah saya selamatkan. Tapi saya tidak bisa mengevakuasi ke tempat yang aman.” Pinta Damar sekaligus menjelaskan kondisinya saat ini.
“Baik. Saya dan tim akan segera sampai kurang dari sepuluh menit.” Balas Andre.
Damar meletakkan kembali telepon genggamnya setelah sambungan telepon terputus. Dia tidak tahu harus melakukan apa untuk bertindak secara profesional. Tidak ingin rasanya jika harus bertindak gegabah tanpa melibatkan mereka yang lebih terlatih dan berpengalaman dalam menghadapi kasus berbahaya seperti ini.
Beruntung Damar masih menyimpan nomor telepon Andre yang pastinya bisa diandalkan untuk pertolongan genting seperti saat ini. Seperti halnya pada kejadian di villa tempat Damar bekerja, tanpa bantuan Andre, tidak mungkin kasus itu bisa selesai dengan baik.
“Siapa tadi nama kamu? Dandi, ya?” Tanya Damar pada Dandi yang duduk merangkul Danti. Mereka telah berhasil mengeluarkan Danti dari tempat pembuangan sampah dan meletakkannya di depan gudang sekolah.
“Iya, Om.” Sahut Dandi.
“Kamu tahu dimana ada keran air?” Tanya Damar pada Dandi.
“Di depan sepertinya ada, Om. Yang pasti ada sih di toilet sekolah. Untuk apa, Om?” Tanya Dandi.
“Adik kamu ini harus diberikan cairan, Dan. Entah berapa lama dia tidak sadarkan diri dan kekurangan oksigen di dalam tas ransel itu.” Sahut Damar seraya mendekati tempat pembuangan sampah. Dia mengambil salah satu botol air mineral yang terlihat bersih.
“Pakai botol bekas, Om?” Tanya Dandi tidak mempercayai pengelihatan dan pikirannya sendiri.
“Kamu bawa botol minum, enggak?” Tanya Damar balik.
“Enggak, Om.” Balas Dandi.
__ADS_1
“Ya sudah, pakai ini saja.” Sahut Damar tanpa memperdulikan Dandi. “Lebih baik adik kamu itu diare, dari pada dehidrasi.”
Dandi diam tidak menjawab.
“Adikmu pernah makan hamburger, enggak?” Tanya Damar.
“Sering, Om.” Sahut Dandi.
“Ya, sudah. Enggak ada bedanya sama botol bekas ini.” Balas Damar sembari melangkahkan kakinya menuju keran yang disebut Dandi.
***
Sena dan yang lain duduk di sudut dengan wajah khawatir. Teguh mengintimidasi mereka karena menggagalkan rencananya yang telah disusun dengan sangat rapi.
“Kalau kalian tidak usil, tidak perlu lah harus mengalami kejadian seperti ini.” Ucap Teguh. Dirinya berjongkok di depan anak-anak dengan tangan mengetuk-ngetuk lantai tanah menggunakan tangkai kapak yang terbuat dari kayu. “Kasihan mental kalian karena harus menjadi korban seperti ini. Saya harus bagaimana semestinya?”
Tidak ada sahutan dari Sena maupun yang lain.
“Coba bantu saya berpikir. Mana yang lebih baik? Melepaskan kalian? Atau menganggap kalian tidak pernah ada di dunia ini?” Ucap Teguh lagi dengan menyoroti wajah anak-anak tanpa dosa menggunakan lampu senter.
“Keduanya tidak akan menguntungkan saya, apa kalian tahu?” Lanjut Teguh datar tanpa penyesalan pada wajahnya. “Kalau saya lepaskan, kalian pasti lah mengadu dengan orang dewasa lainnya. Kalau dihabiskan, bagaimana?”
***
Pak Hartanto bergerak cepat menuju Pos 3 dengan menggunakan sepeda motor. Pak Guntur dan Pak Yusuf terkejut saat mendapati atasan mereka memasang wajah panik, “Malam, Pak Har.” Sambut Pak Yusuf hormat.
“Hah? Hilang?” Tanya Bu Rima histeris.
“Hilang bagaimana, Pak Har?” Tanya Pak Yusuf berbarengan dengan Bu Rima.
“Siapa yang hilang, Pak?” Tanya Pak Guntur penasaran.
“Dandi.” Sahut Pak Har singkat.
“Dandi? Bukannya kaki dia keseleo, Pak? Tadi dia minta izin dengan saya karena tidak bisa melanjutkan perjalanan.” Balas Pak Guntur.
“Benar. Bu Siti juga bilang begitu. Sekarang Pak Guntur bisa ikut saya ke Pos 2?” Pinta Pak Har.
“Bisa, Pak. Bisa.” Sahut Pak Guntur.
Pak Guntur kemudian bergegas menaiki jok bagian belakang dengan Pak Har sebagai pengendara. Mereka kemudian memasuki kebun durian dengan tujuan tentu saja menemui Bu Siti dan yang lain di Pos 2.
***
__ADS_1
“Pak Yusuf, apa yang harus kita lakukan, Pak?” Tanya Bu Rima.
“Bu Rima, apa kita perlu menelepon Pak Teguh?” Tanya Pak Yusuf tanpa menggubris pertanyaan Bu Rima.
“Saya, kenapa jadi takut ya dengan Pak Teguh?” Ucap Bu Rima nyaris berbisik.
“Takut bagaimana, Bu Rima?”
“Saya takut mengakui kalau Pak Teguh seperti mencurigakan.” Balas Bu Rima.
Pak Yusuf memandang Bu Rima yang tengah memancarkan aura ketegangan pada wajahnya. “Kenapa begitu, Bu? Apa yang buat Bu Rima curiga dengan Pak Teguh?”
“Entahlah, Pak. Sampai sekarang Pak Teguh pun enggak balik-balik, kan?”
Pak Yusuf diam tidak tahu harus menjawab apa pun.
“Pak, apa kita harus mengubungi pihak kepolisian?” Tanya Bu Rima lagi.
“Kita diam saja dulu, Bu. Kita belum tahu kondisi yang sebenarnya seperti apa, kan? Kita tunggu saja perintah dari Pak Har.” Jawab Pak Yusuf diplomatis.
***
“Pak Guntur tadi mendampingi kelompok berapa?” Tanya Pak Har dalam perjalanan menuju Pos 2.
“Kelompok dua, Pak Har. Kebetulan Dandi agian dari kelompok dua. Eh, tunggu sebentar. Dandi itu bukan kelompok dua, Pak.” Seru Pak Guntur baru menyadari keberadaan Dandi yang seharusnya bukan bagian dari kelompok dua.
“Maksud Pak Guntur, gimana? Jangan bercanda, Pak.” Balas Pak Har yang tiba-tiba mengurangi kecepatan kendaraan roda duanya karena mendengar penjelasan Pak Guntur yang kurang detail.
“Iya, Pak Har. Seingat saya Dandi tidak ada dalam kelompok dua siang tadi.” Pak Guntur berusaha menggali ingatannya. “Tapi, kenapa dia jurit malam jadi kelompok dua, ya?” Pak Guntur heran dengan kebingungannya sendiri. “Tapi kelompok dua jumlahnya pas lima belas orang.”
“Waduh! Saya kok jadi kelupaan sama dua siswa yang balik ke Pos 2 ya, Pak Har? Tolong kebut sedikit, Pak. Kita harus segera sampai di Pos 2. Sepertinya ada yang tidak beres.” Seru Pak Guntur saat mengingat jika di Pos 3, kelompok dua hanya berjumlah dua belas orang saja.
“Maksud Pak Guntur, Bapak membiarkan dua orang anak kecil berjalan tanpa pengawasan dari orang dewasa, begitu?” Hardik Pak Hartanto sengit.
“Saya pikir mereka akan segera kembali. Tapi saya lupa, Pak. Maafkan saya. Semoga Sena dan Doni masih berada di Pos 2.” Ucap Pak Guntur menyesali perbuatan cerobohnya.
***
Saya baru tahu ternyata dukungan pembaca sekalian sangat membantu performa cerita ini. Kalau seandainya saya meminta bantuan untuk meninggalkan jejak setelah membaca tiap bab, boleh tidak?
Hal kecil yang pembaca lakukan seperti menekan like/suka apa lagi memberikan komentar sangat membantu saya sebagai bentuk apresiasi. Ada juga tombol vote yang bisa diberikan setiap hari senin. Wah ini pasti membantu sekali.
Sekali lagi, mohon bantuan untuk dukungannya, ya.
__ADS_1
Terima kasih,
Intan Pandan