Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 52


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 52


Dengan satu gerakan Andre memotong gembok besi yang melilit pada pintu gerbang sekolah. Dua orang anggota polisi lainnya mempersiapkan diri dengan senjata api, untuk menghadapi penculik. Satu orang petugas polisi berjaga di balik pintu gerbang, agar tidak ada orang yang memasuki lingkungan sekolah. Begitu pun dengan petugas medis yang telah bersiap melakukan proses evakuasi pada korban yang telah disampaikan oleh Andre sebelumnya.


Damar mendengar seseorang membuka pintu gerbang sekolah, dengan cepat dia meletakkan telunjuknya di depan bibir untuk memberikan tanda pada Dandi dan juga Danti agar tidak mengeluarkan suara.


Damar mengeratkan pegangannya pada tongkat baseball itu. Kalau guru keparat itu mendekat dan mencoba untuk menyerang salah satu dari mereka, tidak akan segan-segan Damar untuk menyerang balik.


Tidak berapa lama langkah kaki anggota kepolisian terdengar dari belakang sekolah.


Wajah Damar berubah lega karena orang profesional telah sampai untuk membantu mereka. Andre mendekati Damar. Sementara dua anggota polisi lainnya diperintahkan untuk menyusuri gedung sekolah untuk menemukan suatu petunjuk.


“Apa kabar Damar?” Tanya Andre pada Damar begitu mereka bertemu seraya menyodorkan tangannya.


“Ya begini lah, Pak Andre. Hidup saya enggak jauh-jauh dari masalah.” Sahut Damar dan membalas uluran tangan dari Andre.


Andre lalu mengambil hand talky berwarna hitam dipinggangnya. Ibu jari tangannya menekan tombol hitam pada bagian samping kanan, sebelum suaranya dikirimkan oleh gelombang radio.


“Tim medis, silahkan ke sini. Kami ada di belakang.” Perintah Andre.


Andre kemudian tersenyum ke arah Damar. “Justru dengan adanya lo, pihak kepolisian lebih mudah mengatasi semuanya. Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Andre memastikan pada Damar.


“Sebaiknya kita dengar dari Dandi saja, Pak. Anak itu yang lebih tahu.” Balas Damar sambil mengarahkan pandnagannya pada Dandi.


Andre lalu berjalan mendekati Dandi. “Selamat pagi, saya Andre dari anggota kepolisian. Nama kamu siapa tadi?” Tanya Andre pada Dandi. Tangan Andre menyentuh kening Danti yang sedang duduk bersandar pada dada Dandi.


“Saya Dandi, Pak Polisi.” Jawab Dandi takut-takut. Ini kali pertama untuk Dandi berinteraksi secara langsung dengan anggota kepolisian.


“Ini teman kamu?” Tanya Andre lagi.


“Bukan, Pak. Adik saya. Kami saudara kembar.” Balas Dandi.

__ADS_1


“Oh? Kalian kembar? Siapa nama kamu, Dinda, ya?” Tebak Andre.


“Bukan, Pak. Saya Danti.” Balas Danti lemah.


“Oh, saya pikir Dandi dan Dinda. Jadi bagaimana ceritanya? Siapa yang diculik?”


“Awalnya adik saya ini yang diculik, Pak Polisi. Eh, saya awalnya enggak tahu dia diculik atau gimana. Yang pasti teman-teman satu kelompoknya bilang, kalau Danti hilang. Jadi saya dan yang lain atur strategi untuk mencari keberadaan adik saya. Kita enggak lapor keguru, karena kita takut kalau salah satu dari guru yang melakukannya. Ternyata benar. Sayang sekali.” Ungkap Dandi.


“Gimana, gimana? Kelompok apa? Coba yang detail dari awal. Apa hubungannya dengan guru. Kenapa kamu beranggapan bahwa guru di sekolah ini yang melakukannya?” Tanya Andre menginterogasi Dandi.


“Jadi gini Pak Andre. Sekolah ini memang tiap tahun melakukan kegiatan kemah. Kebetulan anaknya Bagi dan Agia sekolahnya di sini. Sekarang yang hilang malah Sena, anaknya Bagi dan Agia.” Terang Damar menjelaskan beberapa tambahan.


“Betul, Pak Polisi. Kita dengar isu kalau dua tahun lalu ada kejadian yang sama. Ada siswi yang hilang juga. Makanya kami enggak mau lapor ke guru. Nah, waktu kegiatan jurit malam, Sena dan Kak Doni mau membantu Kak Ragil dan Kak Riki untuk menyelidiki rumah di kebun durian. Karena di sana memang mencurigakan sekali, Pak Polisi. Sekarang mereka pasti ada di sana. Kita harus bergegas.” Ucap Dandi.


Tim medis datang dengan cepat, salah seorang di antaranya memberikan Danti selimut dan juga air putih. Danti pun digiring perlahan untuk menuju mobil ambulance yang terparkir di depan sekolah.


“Saya perlu ikut Danti ke rumah sakit enggak, Om?” Tanya Dandi saat melihat adiknya dipapah meninggalkan belakang sekolah.


“Enggak perlu, kita lebih perlu kamu di sini. Adikmu sudah ditangani oleh tenaga profesional. Dua anggota polisi juga sudah saya perintahkan untuk menjaga adikmu di rumah sakit. Semua pasti baik-baik saja.” Sahut Andre mendahului Damar. “Kamu mau kan membantu kepolisian?“ Tanya Andre kepada Dandi.


“Jadi, kemana pelaku pergi?” Tanya Andre berbisik di dekat Damar.


“Kurang tahu, Pak Andre. Sepertinya pergi melewati tembok sekolah menuju kebun di belakang.” Balas Damar berusaha menyampaikan idenya.


“Pak Polisi, kita sekarang langsung ke kebun durian aja. Pak Teguh pasti di sana.” Ucap Dandi yakin dengan feelingnya.


“Betul, Pak Andre. Bagi dan Stevina juga sudah menuju ke kebun durian. Sena, anaknya Bagi disekap di bawah kandang ternak katanya.” Jawab Damar menyetujui saran Dandi.


“Pak Andre, seluruh gedung sekolah ini kosong, Pak. Aman.” Ucap salah satu anggota yang bernama Faizal.


“Baik, terima kasih, Jal.” Balas Andre pada Faizal yang memiliki nama panggilan Ijal.


“Ya sudah, ayo kita ke kebun durian. Jal, panggil bantuan untuk menutup akses seluruh wilayah ini.” Perintah Andre pada Ijal.

__ADS_1


“Siap, Komandan!” Balas Ijal tegas.


Dandi terpukau menyaksikan aksi komando yang diberikan Andre untuk bawahannya. “Keren sekali Pak Polisi ini. Nanti gue juga akan jadi polisi seperti mereka!” Pikir Dandi bersemangat.


“Pak Polisi, saya tahu jalan pintas agar cepat sampai di kebun durian, Pak.” Ujar Dandi bersemangat. Tidak akan dia sia-siakan kesempatan untuk bekerja sama dengan kepolisian dalam menangkap dan mengupas tuntas kasus penculikan ini.


“Benarkah? Ayo kita ke sana!” Sahut Andre tak kalah semangat.


***


“Saya enggak percaya kalau Pak Teguh melakukan hal ini, Pak. Masak sih Pak Teguh setega ini?” Ucap Doni pada Pak Teguh.


“Melakukan apa? Saya melakukan apa? Saya tidak pernah melakukan apa-apa. Memangnya anak-anak itu ada urusannya dengan kalian? Kan tidak. Jadi tidak usahlah kalian mencoba inilah itulah. Tidak akan merubah apa pun.” Balas Pak Teguh santai.


“Pak, kami akan memaafkan Bapak kalau membebaskan kami. Janji, kami tidak akan melaporkannya pada siapa pun.” Balas Ragil.


Pak Teguh mendengus saat mendengar rayuan dari Ragil.


“Kamu kira saya ini bodoh?” Balas Pak Teguh santai.


“Bukannya memang bodoh? Kalau enggak bodoh, mana mungkin aksi penculikannya kita ketahui. Ya jelas bodoh lah!” Sahut Riki.


“Kalau bukan bodoh? Lantas apa? Sinting?” Sahut Sena tidak dapat menahan dirinya untuk menambahkan pendapatnya tentang Pak Teguh.


“Apa kamu bilang? Sinting?” Tanya Pak Teguh seraya menaikkan alisnya. “Berani kamu bilang saya sinting?”


Gredeg, gredeg.


Suara pintu di atas terdengar dari bawah. Pak Teguh mendadak panik karena merasa ada orang lain yang mengetahui tempat persembunyiannya.


“Sena! Sena!” Panggil Bagi lirih nyaris berbisik.


Langkah kaki Bagi yang menuruni anak tangga jelas terdengar. Beberapa detik kemudian, kepala Bagi telah muncul dari balik tangga.

__ADS_1


“Hei! Siapa kamu?” Tanya Pak Teguh pada Bagi. Tangannya dengan cepat menarik rambut Sena masuk dalam dekapannya. Pak Teguh kemudian meletakkan kapak besar pada pundak Sena. Semua menahan napas khawatir.


***


__ADS_2