
Mamaku Hantu
Part 23
Tidak dapat kutahan rasa bangga saat melihat suami dan anak-anak masih bisa melanjutkan kehidupan, walau tanpa kehadiranku.
Dulu, saat aku masih seperti sedia kala, sering kali berpikir, apa yang akan terjadi dengan anak-anak jika aku pergi? Sanggupkah mereka bergerak tanpaku. Kini semua terjawab sudah.
Senja semakin bertanggung jawab terhadap adiknya, Sena semakin berani menghadapi lingkungan, dan suamiku? Bagaimana dengannya? Apakah dia sudah bisa tanpaku? Sering aku menatap suamiku lekat saat dia melakukan sesuatu di rumah. Aku merasakan kehilangan karena tidak bisa menyentuhnya. Aku rindu.
Aku berjalan pelan mengitari sudut rumah. Ada rasa candu yang membawaku ingin segera pulang, berkumpul bersama mereka. Tapi, entah apa yang akan terjadi. Semakin hari, kaki ini menjadi kaku.
Awalnya aku pun terkejut saat mendapati bahwa aku bernapas. Aku pikir jika hantu tidak perlu bernapas awalnya. M Oh, apakah karena aku belum mati?
Rasa lapar dan haus pernah terasa beberapa kali, tapi rasa itu akan segera hilang. Mungkin tenaga medis di rumah sakit lupa mengganti cairan infusku. Tapi untuk rasa ngantuk, aku tidak pernah merasakannya selama ini.
Rasa bangga yang aku rasakan sebelumnya berganti kesedihan. Tak rela rasanya jika harus meninggalkan keseruan dan kebahagiaan bersama anak-anakku. Bersusah payah aku berusaha menahan kesedihan ini, sayangnya semua menjadi amarah yang menggebu-gebu. Tiba-tiba bayangan seseorang yang memberikanku sebungkus besar benda berwarna hijau terlintas. Apa itu? Siapa orangnya? Apa ada hubungannya dengan kesehatanku saat ini?
Kepalaku berdenyut karena usaha keras yang aku lakukan untuk mengingat kejadian itu. Sakit sekali. Aku menjatuhkan diri di dekat jendela. Pengelihatanku menangkap suatu adegan di pintu gerbang. Bayangan kembali menyeruak.
Ya, aku menerima benda itu di pintu gerbang.
“Ma, kenapa?” Sena bergegas mendekatiku yang terus merasa kesakitan pada kepala bagian atas.
Aku ingin hidup lagi. Aku harus hidup lagi.
***
Damar mematut diri di depan cermin. Penampilan trendi menunjukkannya sebagai seseorang yang memiliki perekonomian diatas rata-rata. Memang itu tujuannya.
Damar akan mengunjungi toko bunga Agia untuk melihat lebih dekat lingkungan istri sahabatnya itu.
Setelah siap, Damar bergegas menuju G Florist dengan mengendarai kendaraan roda empat keluaran terbaru miliknya.
***
“Permisi,” Damar melihat toko bunga dalam keadaan kosong dari pintu masuk. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam.
Ember-ember yang berisikan berbagai jenis bunga hias cantik dengan banyak warna berbeda menyambut Damar.
Di tengah-tengah toko terdapat sofa berwarna abu-abu yang bersandar pada dinding toko sebelah kiri. Damar melewatinya dan tetap berjalan dengan mata mengamati seluruh isi toko. Matanya menangkap rak yang terletak di seberang sofa. Terdapat beberapa album foto yang menarik perhatiannya. Damar lalu membuka dan mendapati ada banyak foto buket bunga pada album tersebut. Dia menduga album foto ini digunakan sebagai referensi untuk pelanggan yang akan memesan bunga.
Damar kemudian menutup album foto dan melanjutkan pengamatannya.
Tiba-tiba Silvia keluar dari pintu di sebelah rak. Mereka berdua sama-sama terkejut.
“Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Silvia canggung.
Damar tersenyum melihat Silvia. “Saya kira tidak ada siapa-siapa di sini. Memang biasa sepi begini, ya?”
__ADS_1
Silvia nampak berusaha untuk menenangkan diri berhadapan dengan Damar yang memang berperawakan gagah dan juga tampan. “Pegawai yang lain lagi izin makan, Pak. Saya juga barusan lagi makan di dalam. Maaf ya, Pak kalau harus menunggu.”
“Oh! Maaf saya mengganggu jam makan siangnya ya?” Damar menunjukkan wajah bersalah.
“Ah tidak apa-apa, sudah selesai, kok. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau pesan buket bunga yang sederhana saja.” Balas Damar disertai dengan senyuman hangat.
Silvia berjalan mendekati meja di samping sofa. “Untuk kapan, Pak?”
“Untuk sekarang, bisa? Biar saya tunggu.”
Silvia tersenyum, kemudian mengambil kertas dan pulpen. “Dengan Bapak siapa, kalau boleh saya tahu?”
“Saya Damar.” Ucapnya seraya mengulurkan tangan yang otomatis disambut oleh Silvia.
“Saya Silvia.” Menjabat tangan Damar percaya diri.
“Saya kok berasa bicara dengan istri pengacara yang sering muncul di TV zaman kuliah dulu ya.” Ucap Damar sambil menyipitkan mata.
“Pengacara siapa maksud Bapak?”
“Itu istrinya penyanyi zaman Ibu saya dulu. Judul lagunya Gelas-gelas Kaca.”
“Oh, Nia Daniati maksud Bapak? Ibu saya juga suka sekali dengan penyanyi itu.”
“Ah yang benar, Pak?” Balas Silvia tersipu malu namun ada gurat bahagia dalam senyumnya.
“Tentu saja benar.” Sahut Damar meyakinkan Silvia.
“Lalu, untuk buket bunga, Bapak mau dominasi warna apa?” Tanya Silvia semangat dan berusaha mengalihkan pembicaraan agar dirinya tidak terbuai oleh rayuan Damar.
“Bagusnya apa?”
“Biasanya warna pastel yang jadi jawara di sini.”
“Ya sudah itu saja. Berapa lama kira-kira harus saya tunggu?”
“Sebentar saja kok, Pak. Semua alat-alatnya sudah ada. Bapak bisa tunggu di sana.” Balasnya seraya menunjuk sofa agar Damar bisa duduk sambil menunggu.
“Baik.”
Damar memperhatikan Silvia yang sedang mengerjakan pesanannya. Dia tidak menuruti saran Silvia agar duduk menunggu. Damar justru mengitari toko bunga dan menuju belakang. Bunga yang diceritakan oleh Bagi terdeteksi dan membuatnya ingin mengutarakan keingintahuannya kepada Silvia. “Mbak Silvia, ini bunga apa?”
“Itu bunga Azalea, Pak.” Sahut Silvia seraya menoleh sepintas ke arah Damar.
“Bagus sekali. Seleranya bagus sekali ya pemiliknya. Selain tokonya jadi sejuk, mata yang memandang pun tidak kalah nyaman dan damai.” Balas Damar.
“Betul, Pak. Bunga Azalea itu anggun sekali tampilannya. Sebenarnya bunga ini asalnya dari negara China, tapi Azelea justru populer di Amerika, Pak.”
__ADS_1
“Oh! Ini bunga import?” Seru Damar.
“Iya benar. Tapi karena bunga Azalea ini sangat mudah tumbuh di tempat tropis, jadi di Indonesia pun bunga ini sangat mudah didapatkan. Biarpun bunga ini tidak sedang berbunga, dia tetap cantik, Pak. Daun-daunnya yang rimbun, tetap menarik mata siapapun untuk mengaguminya.” Jelas Silvia.
“Benar juga. Daun-daunnya seperti semak belukar ya. Rimbun sekali. Ini tidak dijual, Mbak?”
“Sebenanrnya sih tidak, Pak. Tapi ada beberapa pelanggan kami yang berminat. Jadi saya siapkan dalam bentuk pot. Bapak mau warna apa? Nanti biar saya siapkan.”
“Yang ungu sepertinya bagus. Boleh saya pelihara yang ungu?”
“Boleh, Pak. Tunggu sebentar ya, Pak. Setelah pesanan Bapak selesai, saya siapkan.”
“Iya. Santai saja. Saya juga tidak sedang buru-buru, kok.”
***
“Mau dibuatkan nota atas nama Bapak?” Tanya Silvia setelah usai membuat buket bunga berwarna merah muda.
“Boleh.” Sahut Damar seraya mendekati meja tempat Silvia menulis administrasi.
“Boleh saya tahu nomor telepon yang bisa dihubungi, Pak?” Tanya Silvia lagi, dan disambut oleh Damar dengan sederet angka.
“Buket bunga ini untuk istrinya ya, Pak?” Tanya Silvia penasaran.
“Oh, saya belum menikah.” Sahut Damar santai.
Silvia menaikkan kedua alisnya karena mendengar pernyataan dari Damar.
“Sebentar, saya ambilkan bunga Azalea itu untuk Bapak.” Ucapnya lagi semangat.
***
Silvia mengantar kepergian Damar sampai ke area parkir di depan toko. Dirinya kagum sekali melihat laki-laki berparas tampan dan juga nampak mapan ini.
“Terima kasih banyak atas pesanannya ya, Pak Damar. Semoga suka dengan hasil karya kami.” Ucap Silvia ramah.
“Sama-sama, Mbak. Terima kasih juga untuk bunga Azalea yang cantik ini.” Balas Damar seraya menutup pintu bagasi mobil setelah meletakkan bunga Azalea di dalamnya.
“Ini buket bunga cantik ini buat Mbak Silvia saja. Semoga bisa menjadi awal perkenalan dan pertemanan kita.” Ucap Damar sehingga membuat Silvia terkejut.
“Untuk saya? Kok bisa?” Sahutnya takjub.
“Kenapa tidak? Perempuan cantik memang pantas menerima pemberian yang cantik juga.”
Tanpa disadari Stevina tiba-tiba berada di dekat mobil dengan pandangan mematikan untuk Damar dan juga Silvia.
“Agia ada di toko?”
***
__ADS_1