
Mamaku Hantu
Part 30
Ragil menoleh ke belakang. Nampak Riki sedang berdiri dengan jaket tebal berwarna hijau.
Dengan gemas Ragil memukul lengan Riki.
“Aduh! Kenapa lo mukul gue?“ ucap Riki. Ragil langsung membekap mulut Riki dengan kuat.
“Sst! Jangan keras-keras.” Balas Ragil lirih.
“Kenapa? Kok lo bisik-bisik?” Jawab Riki.
“Tadi Pak Har ke sini. Tapi tiba-tiba hilang.” Balas Ragil sambil mencari-cari keberadaan Pak Har. Riki pun mengikuti Ragil melihat-lihat ke arah lapangan untuk mencari objek yang disampaikan oleh temannya.
Ragil membalik tubuhnya menghadap Riki. “Kok lo bisa di sini?”
“Iya,” Jawab Riki sambil memperlihatkan deretan giginya. “Gue kasihan sama tekad baik lo. Jadi gue nyusul dan ikutin rencana lo. Baik kan gue?” Riki menambahkan senyum ceria untuk Ragil.
“Baik apaan? Bikin gue uji nyali sendirian tadi. Hampir aja jiwa gue melayang ke nirwana.” Mata Ragil melotot hendak menyerang Riki.
“Kaget lo, ya?” Balas Riki disertai dengan tawa renyah. “Maaf deh, maaf. Sekarang apa rencana lo?”
“Belum ada. Di sini dulu memantau pergerakan. Anak-anak dan guru-guru udah pada masuk ke dalam tenda. Sementara ada Pak Guntur dan Pak Har yang masih ke sana kemari” Terang Ragil.
“Sebenarnya lo ini curiga sama siapa sih?”
“Enggak tahu.” Balas Ragil santai.
“Lah.. Gue kira lo semangat kayak gini karena udah tahu sesuatu gitu.”
Ragil menaikkan alisnya. “Dengan kita ada di sini, kita pasti nemuin sesuatu. Lo tenang aja deh.”
***
Satu jam kemudian, lapangan tempat perkemahan benar-benar sepi. Walaupun ada beberapa guru yang berada di dekat api unggun, tidak terlalu banyak aktivitas yang mereka lakukan. Ragil dan Riki berjalan menyusuri kebun durian dalam gelap.
“Gil, kayaknya kita salah ambil keputusan deh.” Ucap Riki disela-sela perjalanan. Tangan kanannya memegang tas milik Ragil, sementara tangan satunya menggengam senter besar yang biasa digunakan oleh orang ronda malam.
“Kenapa salah?” Tanya Ragil tanpa menoleh Riki.
“Sumpah, gue takut banget.” Jawabnya lirih.
“Kan kita berdua. Ngapain takut sih?”
__ADS_1
“Ya takut lah. Kalau predator itu benar-benar ada, gimana?”
“Ya gimana bagusnya?”
“Ih! Lo ditanya malah nanya balik.” Tiba-tiba penerangan milik Riki menyorot sebuah gubuk kecil beberapa ratus meter dari tempat mereka. “Eh, itu ada rumah, Gil.” Ucap Riki.
Ragil mengikuti objek yang diterangi oleh lampu senter Riki. Ragil lalu mengedarkan sinar lampu senter miliknya ke sekitar. Berjaga-jaga jika ada orang lain di dekat mereka. Sunyi. Tidak ada siapa pun di sana.
Ragil berjalan mendekati rumah gubuk itu perlahan dengan ragu-ragu. Tangan kanan Riki menarik tangan Ragil sebagai kode agar tidak melanjutkan niatannya untuk mendekati rumah itu. Dalam gelapnya kebun durian, Ragil sangat tahu bahwa Riki sangat ketakutan saat ini.
“Jangan, Gil.” Ucap Riki berbisik.
“Enggak akan ada apa-apa. Lo percaya sama gue.” Balas Ragil menenangkan Riki.
Mereka berdua lalu berjalan perlahan-lahan. Dedaunan pohon durian berdesis akibat tiupan angin. Suasana tidak lagi setenang tadi.
“Lampu senter punya lo fokus ke rumah ya, Ki. Biar kelihatan apapun yang ada di sana dari jauh. Kalau ada apa-apa, kita bisa lari.” Perintah Ragil.
“Oke!” Jawab Riki yakin. Entah dari mana dia memiliki keberanian seperti sekarang.
Mereka semakin dekat. Tiba-tiba sinar dari lampu senter Riki menangkap pergerakan dari rumah itu. Riki dan Ragil berhenti dan mematung dengan napas tertahan. Seseorang mendekati mereka.
“Siapa kalian?” Semakin dekat, orang itu terlihat semakin jelas. Pak Hartanto.
“Kami.. Kami lagi cari durian, Pak!” Sahut Ragil berpikir cepat.
“Iya, Pak. Setelah itu kami jadi tersesat. Bapak sedang apa di sini malam-malam?” Tanya Ragil dengan berani. “Bapak yang punya pondok ini?” Sambung Ragil.
“Saya ngecheck jalur jurit malam, ini Pos pemberhentian anak-anak yang lagi kemah di sana.” Balas Pak Har meyakinkan Ragil dan Riki. “Rumah kalian dimana?”
“Dekat sini, Pak.” Jawab Ragil lagi.
“Ohh..” Balas Ragil. Lampu senter diarahkan ke dalam rumah.
“Kalian jangan main dekat-dekat sini, bahaya. Mending kalian pulang.”
“Saya capek, Pak. Mau istirahat sebentar di dalam. Boleh?” Sahut Ragil mengabaikan saran dari Pak Hartanto.
“Jangan!” Pak Hartanto membentak Ragil “Kalian pulang saja.” Sambungnya lagi.
“Kenapa, Pak? Kaki saya sakit.” Ragil berkilah.
“Sebentar lagi siswa-siswa saya akan lewat.” Pak Hartanto menjawabnya dengan sedikit ragu
“Biar saja, saya enggak akan mengganggu, Pak.” Ragil tetap bertahan agar diizinkan masuk ke dalam rumah di dalam kebun durian itu
__ADS_1
“Lebih baik kalian pulang saja. Ini sudah terlalu larut.” Pak Harto untuk kembali memberikan saran kepada Ragil dan Ricky Ricky
Selama Pak Hartanto dan Ragil berdebat, Riki mendengar suara aneh dari suatu tempat. Namun, Riki tidak tahu suara apa itu. Dia kemudian mengedarkan pandangannya disertai dengan sinar dari lampu senter itu di sekitar rumah gubuk.
Riki menemukan sebuah rumah, dia menduga rumah itu adalah kandang sapi. Riki beranjak mendekati kandang sapi perlahan.
Pak Hartanto menyadari pergerakan Riki, “Hei! Mau kemana kamu?” Hardik Pak Hartanto.
Riki menghentikan langkah namun tetap memusatkan pengelihatannya pada kandang sapi. “Itu kandang sapi, Pak?”
“I, iya. Itu mungkin kandang sapi. Saya juga kurang tahu. Dari tadi saya di sini, tapi tidak mendengar suara sapi. Mungkin sudah tertidur.” Jawab Pak Hartanto meragukan.
Riki tetap melanjutkan langkahnya. “Biar saya lihat, Pak.” Balas Riki.
“Jangan!”
“Kenapa, Pak. Bapak kenapa mencurigakan? Apa Bapak ini maling yang sedang bersembunyi?” Balas Ragil mulai tidak sabar.
“Enak saja! Saya ini kepala sekolah di Sekolah Dasar Tunas Harapan! Masak saya dibilang maling.” Pak Hartanto membela diri.
Ragil menertawakan kegelisahan Pak Hartanto. “Siapa juga yang enggak tahu profesi dan jabatan lo, gue juga mantan murid lo dulu. Lo aja yang enggak perhatian.” Ucap Ragil dalam hatinya.
“Kalau begitu, apa Bapak menyembunyikan maling?” Balas Ragil lagi.
“Untuk apa saya menyembunyikan maling? Memangnya saya kurang kerjaan?”
“Ya sudah, ayo kita lihat sapi itu, Pak.”
“Jangan! Nanti sapi itu terbangun dan akan jadi sulit tidur. Kasihan kan kalau dia jadi insomnia.” Balas Pak Hartanto.
Ragil memandang Pak Hartanto yang menjawab dengan jawaban konyol.
Perdebatan antara Ragil dan Pak Hartanto lagi-lagi memberi kesempatan kepada Riki untuk mendekati kandang sapi. Kosong. Tidak ada sapi di sana.
“Ini memang kandang hewan ternak, tapi hewannya enggak ada.” Batin Riki dalam hatinya. Dia memperhatikan kayu untuk mengikat ternak, serta kotak besar dengan bahan dasar kayu yang terbagi menjadi dua bagian. Satu sisi menampung air yang kini hanya terdapat setengah dari kotak kayu itu. Sisi lainnya untuk meletakkan pakan ternak berupa rumput. Sisa-sisa rumput kering masih terlihat di kotak kayu itu.
Pak Hartanto segera mendekati Riki. Dia terlihat memperhatikan ke seluruh kandang sapi, “kan, saya bilang juga apa. Engggak ada apa-apa di sini.”
“Memangnya siapa yang bilang kalau di sini ada apa-apa, Pak?” Balas Riki mencoba mencari celah untuk mengorek sesuatu.
Sekelebat bayangan melintas dari rumah gubuk di sebelah kandang hewan ternak. Ragil dengan cepat menyoroti asal bayangan itu dengan lampu senter. Tidak nampak apapun dari tempat tadi.
“Ya sudah, kami pulang dulu ya, Pak. Bapak berani sendirian di sini?” Goda Ragil kepada Hartanto.
“Berani lah. Memangnya ada apa di sini?”
__ADS_1
“Mana saya tahu, Pak. Ya sudah. Kami pulang dulu ya.” Balas Ragil. Sementara Riki masih memerhatikan sekitar dengan pengelihatan tanpa penerangan. Dirinya yakin ada sesuatu yang tersembunyi di sini.