Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 50


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 50


Pak Hartanto, Pak Guntur, Bu Siti, dan Bu Cahya, terdiam membisu saat mendapati beberapa fakta dalam kegiatan kemah ini.


“Bagaimana cara saya mempertanggung jawabkan semua ini? Kasus Dara saja belum selesai. Sudah muncul lagi masalah lainnya.” Sesal Pak Hartanto sambil memangku dagunya dengan tangan.


“Jadi, Dara belum ketemu sampai sekarang, Pak Har?” Tanya Bu Cahya.


“Ya begitulah.” Sahut Pak Har tidak semangat. “Saya juga kurang mengerti dengan orang tua Dara. Mereka seolah tidak perduli dengan hilangnya Dara.” Pak Har memutuskan untuk berbagi dengan rekan seprofesinya. Selama ini Pak Har hanya menyimpannya sendirian saja. “Orang tua Dara hanya meminta kompensasi keyayasan sebesar dua puluh juta untuk tidak menyebarkan kemasyarakat.”


“Hah? Dua puluh juta? Murah sekali nilai seorang anak untuk mereka. Dara itu anak kandung mereka, kan?” Tanya Bu Cahya sengit.


“Betul. Saya pun memiliki pemikiran yang sama. Tapi mereka juga meminta agar teruas berupaya menemukan Dara. Walaupun diam-diam dan tanpa melibatkan kepolisian.” Sambung Pak Har.


“Waduh, orang tua macam apa itu?” Sahut Pak Guntur tidak memercayai sikap orang tua dari salah satu siswinya.


“Sepertinya saya salah dalam mengambil keputusan untuk melanjutkan lagi kegiatan tahunan kita.” Pak Hartanto mengungkapkan apa yang dirasa beberapa waktu ini.


“Bapak tidak salah. Siapa yang bisa menyangka kalau salah satu dari siswa-siswi kita akan hilang, kan?” Balas Bu Cahya menenangkan Pak Hartanto.


Pak Guntur tidak mau larut dalam kisah masa lalu. Dirinya ingin kegiatan tahun ini berakhir menyenangkan dan tentu saja semua peserta kemah harus selamat.


“Apa Ibu-ibu yakin kalau Sena dan Doni tidak balik ke Pos 2 setelah saya dan yang lain berangkat?” Kali ketiga Pak Guntur bertanya kepada Bu Siti dan Bu Cahya.


“Ya ampun, Pak Guntur. Nanya begitu terus. Masak sih saya harus bohong? Untuk apa coba?” Balas Bu Cahya.

__ADS_1


“Ya, bisa saja salah satu dari kalian punya niatan buruk sama anak-anak.” Sahut Pak Guntur membuat para guru itu saling melirik curiga.


“Ah, Pak Guntur aneh-aneh saja. Masak sih guru di sekolah kita menculik anak kecil. Apa lagi siswanya sendiri.” Balas Bu Cahya.


Bu Siti meremang ketika ingatannya memunculkan kejadian saat beberapa helai rambut keluar dari tas ransel yang digendong oleh Pak Teguh. “Bapak-bapak dan Bu Cahya, apa kalian kenal baik dengan Pak Teguh?” Ucap Bu Siti berbisik.


“Kenal lah. Pak Teguh itu guru yang baik sekali, Bu Siti. Pengabdiannya untuk perkembangan akademis dan non akademis benar-benar membuahkan hasil. Sekolah kita sering kali mendapatkan juara, kan berkat bimbingan dari Pak Teguh.” Balas Bu Cahya.


“Tapi,” Bu Siti membenarkan posisi duduknya. “Ada yang aneh sama Pak Teguh.” Ucap Bu Siti lirih.


“Bu Siti ini kenapa, sih? Kok jadi aneh begini? Kalau ada yang mau disampaikan, katakan saja.” Balas Bu Cahya menuntut Bu Siti.


“Pak Guntur, tadi di Pos 3, ada Pak Teguh, enggak?” Tanya Bu Siti mengalihkan pembicaraan.


“Enggak ada, Bu. Oh iya, saya juga baru sadar, kok Pak Teguh enggak ada, ya?” Balas Pak Guntur heran. Dirinya lalu merogoh kantong celana untuk mengambil telepon genggam. “Coba saya hubungi Pak Yusuf dulu.” Tanpa menunda, Pak Guntur segera menghubungi Pak Yusuf.


“Enggak ada, Pak Guntur. Tadi saat menuju ke Pos 3, Pak Teguhnya balik lagi ke Pos 2. Katanya sih HPnya ketinggalan. Jadi beliau balik lagi. Tapi sampai sekarang pun belum sampai di Pos 3.” Balas Pak Yusuf menjelaskan.


“Waduh, gitu ya, Pak. Ya sudah. Coba saya telepon saja Pak Teguhnya. Sudah dulu ya, Pak Yusuf.” Sahut Pak Guntur.


“Lalu, bagaimana perkembangan anak hilang itu, Pak?” Tanya Pak Yusuf tidak mau kehilangan kesempatan untuk memperoleh informasi, guna membunuh rasa penasarannya.


“Masih gawat, Pak. Nanti saya infokan lagi. Yang pasti, tiga siswa belum jelas keberadaannya.” Balas Pak Guntur tidak melegakan perasaan Pak Yusuf.


“Waduh. Kok malah bertambah banyak, Pak? Apa saya dan Bu Rima perlu melakukan sesuatu?” Tanya Pak Yusuf menawarkan diri.


“Untuk saat ini belum, Pak. Nanti akan saya informasikan lagi perkembangannya, ya.” Ucap Pak Guntur berusaha mengakhiri pembicaraannya dengan Pak Yusuf. “Oh ya, Pak Yusuf. Nanti kalau Pak Latif dan pasukannya sampai di Pos 3, tolong sampaikan agar segera mengajak mereka kembali ke perkemahan ya, Pak.” Perintah Pak Guntur. “Pak Har juga sudah memerintahkan untuk menyetop keberangkatan anak-anak dari perkemahan menuju Pos 2. Biarkan sudah acara ini berakhir saja, Pak.”

__ADS_1


“Baik, Pak Guntur. Perintah dilaksanakan. Lalu saya dan Bu Rima, bagaimana?” Tanya Pak Yusuf.


“Ikut saja kembali ke perkemahan, Pak. Minta tenaganya untuk menenangkan anak-anak. Jangan sampai mereka tahu apa yang sedang terjadi.” Balas Pak Guntur.


Bu Siti semakin gelisah karena mendengar beberapa penggal percakapan dari Pak Guntur dan Pak Yusuf.


“Fix, ada yang enggak beres ini sama Pak Teguh.” Ucap Bu Siti khawatir.


“Sebenarnya ada apa sih, Bu Siti?” Tanya Pak Guntur tidak sabar ingin menguak kecurigaan Bu Siti.


“Tadi Pak Teguh memang kembali ke Pos 2. Saya sampai hampir kena serangan jantung karena Pak Teguh muncul dari sana tanpa lampu penerangan, Pak.” Terang Bu Siti berbisik sambil menunjuk arah datangnya Pak Teguh, membuat guru lainnya memfokuskan pendengaran agar tidak salah menangkap penjelasan. “Terus, Pak Teguh pun bilang kalau HPnya tertinggal di dalam rumah. Karena saya ingat kalau cuma Pak Guntur saja yang sempat masuk ke dalam rumah, jadi saya muncul setitik rasa curiga. Saya ikuti Pak Teguh ke dalam rumah. Tahu tidak?” Bu Siti menghentikan ceritanya dan melihat ke sekitar. Dia ingin memastikan kalau Pak Teguh tidak ada di antara mereka.


“Tahu apa, Bu?” Tanya Pak Har tidak sabar.


“Dari dalam tas ranselnya Pak Teguh, ada beberapa helai rambut yang mencuat. Saya sampai tidak mampu berpikir jernih saat itu.” Ucap Bu Siti nyaris menangis karena mengingat betapa takut dirinya saat itu. “Makanya saya telepon Pak Latif supaya cepat sampai di sini.”


“Rambut? Maksud Bu Siti, Pak Teguh menculik Dandi dan memasukkannya ke dalam tas ransel, begitu?” Balas Pak Guntur. “Yang benar saja, Bu. Dandi itu bobotnya mungkin sama dengan saya. Anak itu tinggi dan besar. Mana mungkin Pak Teguh yang tidak muda lagi itu mampu menggendong Dandi.” Tungkas Pak Guntur yang sangat yakin kalau Pak Teguh tidak akan mampu untuk membawa Dandi dalam gendongannya.


“Lantas? Apa yang saya lihat itu, Pak?” Desak Bu Siti semakin ketakutan dengan pengalaman yang telah dialaminya sendiri.


“Saya coba untuk hubungi Pak Teguh.” Pak Har memutuskan untuk mencari jawaban kongkrit. Namun sayang, tujuan awalnya yang ingin mendapatkan kabar baik, justru menampilkan wajah pucat karena telepon genggam Pak Teguh tidak aktif.


“Apa kita harus menghubungi polisi?” Tanya Pak Har yang tidak menemukan jalan keluar.


***


Ingetin lagi, ah. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih banyak.

__ADS_1


Intan Pandan


__ADS_2