Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 33


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 33


Doni tersadar dari tidurnya karena mendengar suara-suara di luar tenda. Dia putuskan untuk tetap memejamkan mata, namun menanamkan pendengaran.


Doni mendengar Sena berbisik. Doni memicingkan matanya dan berusaha menangkap aktivitas yang dilakukan oleh Sena. “Pengen pipis, Ma.”


Doni paham bahwa Sena tengah berbicara dengan Mamanya yang sejak awal memang terus mengikuti.


Doni masih tetap berpura-pura tertidur. Dia merasakan gerakan yang melewati kakinya dan keluar dari tenda. Seketika Doni membuka mata dan melihat ke sekitar. Sena tidak terlihat berada di dalam tenda. Doni mendudukkan dirinya dan mengintip ke luar dari celah tenda yang tidak tertutup sempurna.


“Enggak mungkin Sena berani ke toilet kalau Mamanya enggak ikut.” Batin Doni. Lama Doni menanti kedatangan Sena. Ada rasa khawatir karena Sena tidak kunjung datang dari toilet.


Hampir tiga puluh menit, Sena akhirnya muncul dan mendapati Doni sedang duduk di dalam tenda.


“Kak, kebangun karena gue ke luar, ya?”


“Enggak, gue memang udah bangun dari tadi.” Balas Doni. “Lo tadi ke toilet?”


“Iya, Kak.” Sahut Sena sambil duduk di depan Doni dengan kaki bersila.


“Berani lo sendirian?” Tanya Doni.


“Ada guru-guru di luar, Kak. Belum ada yang tidur. Masih ramai.”


“Oh..” Balas Doni. “Nyokap lo enggak masuk ke tenda?” Tanya Doni.


Sena menatap Doni penuh selidik.


“Iya, gue udah tahu kok.”


“Sejak kapan?”


“Sejak tadi siang. Nyokap lo kan mempel terus. Adik lo juga ikut terus kan dari tadi, sekarang ada dimana?”


“Adik yang mana?”


“Itu yang rambutnya pendek.”


“Itu bukan adik gue, Kak.”


“Lantas siapa?”


“Enggak tahu. Gue belum tahu itu siapa.”


Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


“Sejak kapan Kak Doni bisa melihat yang begitu?”

__ADS_1


“Dari kecil.”


“Gimana rasanya, Kak?”


“Ya enggak gimana-gimana. Memangnya harus gimana?”


“Takut gitu misalnya.”


“Ngapain takut? Kan gue enggak ada ganggu-ganggu.”


“Nyokap gue sebenrnya belum meninggal, Kak. Dia koma di rumah sakit.”


“Iya, gue tahu. Mungkin satu sekolah juga tahu tentang ini.” Doni merasa kurang nyaman jika harus membahas ini dengan Sena.


“Kasihan ya gue?” Balas Sena dengan wajah pasrah.


“Jelas lah. Siapa sih yang mau kayak lo.”


Tak berapa lama suara berisik terdengar dari luar tenda.


“Kayaknya jurit malam udah dimulai deh.” Ucap Doni dengan mata melirik ke arah luar tenda.


“Kita semua dibangunkan berbarengan, Kak?” Tanya Sena antusias.


“Enggak. Satu kelompok aja. Dan tidak boleh berisik. Jadi kelompok lain yang belum dibangunkan enggak tahu kalau jurit malam udah dimulai. Kayaknya sekarang kelompok satu, deh.” Terang Doni.


Benar saja, kelompok di sebelah mulai mengeluarkan suara.


“Enggak bisa tidur, Kak.” Sahut Sena memeluk lututnya.


“Ya sudah, gue juga enggak usah tidur lah. Sebaiknya kita ngapain?”


“Kalau kita cerita-cerita, gimana?”


“Cerita apa?”


“Tentang anak hilang dua tahun lalu, gimana?”


***


“Pak Har udah balik.” Ucap Riki dari balik pohon durian. “Udah aman. Sekarang kita kemana?”


“Gue penasaran sama suara yang lo denger dari kandang tadi.” Balas Ragil.


“Tapi udah gue cek, enggak ada apa-apa di sana.” Jawab Riki.


“Kali aja ada jalan rahasia yang enggak kita ketahui. Sebaiknya kita diam di sini dulu sampai pagi. Nanti kalau sudah terang, baru kita bisa lanjutin penyelidikan di sana. Gimana menurut lo?” Tanya Ragil.


“Gue ikut aja. Lagi pula, kayaknya bahaya juga kalau kita ke sana sekarang. Dan anak-anak juga udah mau mulai melintasi daerah ini untuk jurit malam, kan?” Sahut Riki memantapkan pemikiran Ragil.

__ADS_1


“Betul. Semua terlihat berbahaya saat malam gelap kayak sekarang. Coba kalau sudah ada matahari, semua pasti akan lebih mudah. Ya, gak?” Balas Ragil.


Dari kejauhan terlihat sinar-sinar yang bergerak ke sana dan kemari.


“Tuh! Ada yang datang! Yuk kita ngumpet lagi.” Ucap Ragil.


Benar saja, guru-guru melintasi daerah perkebunan durian untuk menempati posnya masing-masing. Suara percakapan untuk menghapus rasa sepi dan juga ngeri dikeluarkan oleh guru-guru.


Tidak berselang lama, kelompok pertama berjalan pelan-pelan melewati tempat Ragil dan Riki bersembunyi. Ragil asik merekam aktivitas anak-anak itu dan fokus menghitung jumlah peserta dalam keadaan gelap. Ada lima belas anak dalam kelompok tersebut.


***


Waktu kini menunjukkan pada angka satu dini hari. Wajah anak-anak yang dibangungan dari mimpi memasang ekspresi malas. Tapi, apa boleh buat, kegiatan yang ditunggu-tunggu itu sangat menarik minat mereka.


Sena mengambil tas ransel kecil yang telah disiapkan oleh Senja, berikut dengan isiannya. Diperiksanya lagi kelengkapan seperti lampu penerangan, air minum, dan pakaiannya.


Sena memastikan tali sepatunya terikat sempurna dan jaket pun harus dalam keadaan tertutup dengan baik.


Anehnya, setelah Sena menggendong tas ransel berwarna abu-abu itu, dia merasa bahwa tasnya terlalu berat. Dia lalu menimang, apakah akan memberatkan perjalanannya nanti?


“Kenapa?” Tanya Elano saat melihat Sena tidak nyaman dan terus mengubah posisi tasnya.


“Takutnya bawaan gue terlalu berat.”


“Memangnya bawa apaan?” Tanya Elano penuh selidik.


“Segala hal yang menurut Senja penting. Udahlah enggak perlu ditanya.” Jawab Sena mencoba untuk menghentikan Elano bertanya lebih jauh. Sena takut kalau nanti dirinya akan diejek karena barang bawaan.


“Danti kok enggak ada ya?” Ucap Tia kepada Doni saat mereka bergerak dalam diam untuk melakukan aktivitas berikutnya. Mereka diharuskan untuk berbaris dalam waktu lima menit setelah bangun dari jam istirahat.


“Enggak ada gimana?” Balas Doni khawatir.


“Tadi pas tidur, dia ada. Begitu kita bangun, eh dia enggak ada.”


“Apa mungkin ke toilet?” Balas Doni lagi.


“Coba kita tunggu. Atau lo lapor Pak Guntur, Don.” Perintah Tia.


“Oke. Tunggu sebentar.”


Sena dan yang lain memerhatikan Doni penuh kekhawatiran.


Doni mendekati Pak Guntur dan memberikan laporan tentang ketidak beradaannya salah satu anggota kelompok dua yang bernama Danti.


Beberapa waktu kemudian Doni kembali kepada kelompoknya dan menyampaikan kabar bahwa Danti sedang tidak enak badan dan dijemput oleh kedua orang tuanya.


Sena dan Elano saling berpandangan. Begitu juga dengan Doni yang memancarkan wajah panik serta tidak nyaman dengan kenyataan bahwa salah satu anggota dalam kelompoknya tidak ada.


Sena mendekati Doni, “Kak, tadi gue memang dengar ada suara-suara langkah kaki di belakang tenda. Apa mungkin itu memang benar si Danti?” Ucap Sena berbisik.

__ADS_1


“Gue juga dengar. Gimana caranya untuk bisa menghubungi orang tua Danti, ya?” Balas Doni. “Gue harap, memang benar orang tua Danti yang menjemputnya.”


__ADS_2