Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 12


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 12


“Nenek, ini apa?” Tanya Senja saat melewati penjual jajanan pasar.


“Itu kue putu mayang. Senja mau?” Tanya Nenek.


“Enak?”


“Enak banget.” Balas Nenek yakin.


“Mau, Nek.” Senja menunjukkan wajah ceria seperti menemukan mainan baru.


“Apa lagi?”


Senja mengedarkan pandangannya pada deretan kue-kue yang ditata rapi oleh penjual.


“Kalau ini apa, Nek?”


“Itu kue wajik. Enak. Rasanya manis dan gurih gitu. Coba ya?”


Senja menganggukkan kepala mantap.


“Ada lagi?”


Mata Senja masih bergerilya diantara jajanan yang masih hangat itu. Masih banyak yang tidak dia ketahui nama dan rasanya.


“Kalau ini, Senja tahu?” Kini giliran Nenek yang bertanya.


“Ih ini enak! Senja pernah dibeliin Mama. Tapi Senja lupa namanya. Batu apa ya, Nek?”


“Namanya jajan batu bedil. Ya sudah kita beli ini juga. Klepon Senja mau?”


“Mau! Ih aku pengen nyoba semua deh, Nek.”


“Ya jangan semua. Nanti perut kekenyangan malah jadi sakit. Kan besok sekolah.”


“Tapi minggu depan main ke pasar lagi ya, Nek. Nyesel deh enggak pernah mau ikut Mama ke pasar. Ternyata ada yang jual banyak hal ya, Nek.”


Nenek memberikan sejumlah uang untuk jajanan pasar yang diinginkan Senja kepada pedagang. Tidak lupa Nenek mengambil lebih untuk suami dan juga cucu laki-lakinya. “Lah iya! Di pasar juga harganya murah-murah. Coba lihat, kamu dapat apa saja?” Mereka lalu melanjutkan perjalanan menyusuri pasar setelah mendapatkan bahan-bahan untuk dimasak nanti.


“Senja dibeliin jepit rambut sama Nenek. Makasi ya, Nek. Ini kalau di mall harganya bisa lima belas ribu, Nek! Di pasar kok cuma tiga ribu, ya?”


“Pedagang di pasar ambil untungnya sedikit-sedikit, Senja. Mereka yang jualan di pasar pun enggak ada keinginan untuk bisa jadi kaya raya. Paling mereka cukup untuk keseharian saja.”


“Emang iya, Nek?”


“Sedikit sekali pedagang-pedagang di pasar tradisional kayak gini yang punya latar belakang pendidikan tinggi. Kalaupun ada, paling cuma segelintir. Mereka berjuang supaya bisa menyekolahkan anak-anaknya setinggi yang mereka mampu. Coba kamu bayangkan kue ini,” Nenek mengangkat kue putu mayang dari dalam tas plastik yang diberikan oleh pedagang. “Sekotak mika ini harganya tiga ribu rupiah. Anggaplah modalnya seribu lima ratus. Dia cuma dapat untung seribu lima ratus. Belum bayar ongkos sewa tempat di pasar. Belum beli bensin untuk ke pasar.”


“Kasihan ya, Nek orang-orang yang jualan.”


“Kasihan sih enggak. Karena mereka pasti menikmati kegiatan jual beli ini. Mereka begini juga untuk keluarga, kan? Yang kasihan itu kalau nemu pedagang yang ditawar mati-matian sama pembeli. Apa lagi kalau yang nawar itu terbiasa belanja di supermarket. Eh begitu belanja di pasar, nawarnya sadis. Parahnya lagi, orang itu bangga bisa nawar saat belanja.”


“Oh kalau belanja di pasar bisa nawar ya, Nek? Nenek dari tadi kok enggak ada nawar?”


“Sudah murah. Buat apa ditawar lagi. Untungnya paling cuma seribu. Terus kalau Nenek nawar, mereka itu bukan jualan namanya, tapi ngasi minta.”


Senja manggut-manggut mendengar penjelasan Neneknya.

__ADS_1


Sedetik kemudian Senja melihat celana pendek dengan bahan yang sejuk. Dalam bayangannya, celana itu cocok digunakan untuk bersantai di rumah.


“Nek, coba tanya harga celana itu berapa?” Senja berbisik kepada Neneknya.


“Bu, celana itu berapa?”


“Kalau beli satu sepuluh ribu. Kalau lima puluh ribu dapat enam, Bu.”


Senja melotot mendengar jawaban yang disebutkan oleh pedagang itu.


“Senja mau?”


Senja memperlihatkan giginya dengan ekspresi menggemaskan, lalu menganggukkan kepala.


“Nanti kasi Sena juga ya.” Perintah Neneknya.


“Lima puluh ribu deh, Bu. Tolong warna anak cewek tiga, warna anak cowok juga tiga.” Ucap Nenek seraya menyodorkan selembar uang kertas berwarna biru.


Setelah mengemas celana, Ibu dagang menyerahkan bungkus plastik dan menerima uang dari Nenek.


“Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak. Terima kasih ya, adik cantik.” Ucap Ibu dagang berkali-kali.


Mereka melanjutkan lagi perjalanan menuju mobil.


“Nek, aku kok pengen nangis ya.”


“Kenapa?”


“Tadi Ibu yang jual celana kok bilang makasinya sampai begitu? Aku jadi terharu, Nek.”


“Mungkin Ibu itu belum dapat pembeli dari pertama buka hari ini. Jadi dia merasa senang.”


***


“Kemana aja sih? Lama amat!” Sena memasang muka garang saat melihat Kakak dan Neneknya datang dengan banyak tas hasil belanja.


“Shopping kece dong. Kamu kira kita nyalon? Nih! Pasti laper ya? Kalau laper dia jadi resek, Nek.” Senja menyodorkan tas plastik berisikan beraneka ragam jajanan pasar, setelah berhasil masuk ke dalam mobil.


Tanpa bersuara Sena mengobok-ngobok isi tas plastik itu.


Setelah Nenek menaruh belanjaan di bagasi, dia segera menempati posisi penumpang bagian depan.


“Terus gimana jalan-jalan kalian? Ada berita apa?” Tanya Nenek.


“Enggak ada apa-apa, Bun. Semua aman. Agia juga bilang aman, enggak ada yang aneh.” Sahut Ayah Agia dengan mulut sibuk mengunyah klepon hangat.


“Eh, ini kleponnya masih hangat. Enak banget, Nek!” Seru Sena.


“Enaklah! Murah lagi.” Senja juga tidak mau ketinggalan mencicipi hasil perburuan mereka.


“Ma, nanti aku ikut Mama ke pasar ya. Aku happy banget bisa jalan-jalan ke pasar. Mama denger aku, kan?”


Agia hanya tersenyum melihat tingkah laku putri sulungnya.


“Nih, aku beliin celana. Murah banget!” Senja mengeluarkan isi tas plastik berwarna hitam.


“Berapa emang?” Tanya Sena tanpa menyentuh celana, karena tangannya masih memegang jajan batu bendil.


“Lima puluh ribu dapat enam! Murah enggak tuh?”

__ADS_1


“Murah banget!” Balas Sena.


“Sekarang kita ke toko, ya?” Ucap Ayah Agia seraya menghidupkan mesin mobilnya.


***


Silvia terheran-heran, mengapa keluarga Agia terus berdatangan ke toko. Kemarin Bagi, kini orang tua dan anak-anaknya yang datang.


“Halo Senja, Sena.” Sapa Silvia dan Rania.


“Lagi sibuk, ya?” Tanya Ayah Agia saat memasuki toko. Ayah dan Bunda meletakkan tubuhnya di sofa toko.


“Tidak, Pak. Masih pagi, belum ada pelanggan datang.” Sahut Rania.


Sena tidak melepaskan tangan Agia sedetikpun. Kemana pun Sena melangkah, di sampingnya pasti ada Agia.


“Tante, biasanya kalau Mama ke toko, ngapain aja?” Sena memberanikan diri bertanya langsung pada inti topik.


Silvia dan Rania saling lihat.


“Ngapain ya? Ya duduk sebentar. Kalau ada orderan bucket bunga, hasil orderan itu diperiksa dulu sama Mama. Sudah cantik atau belum.” Rania menjelaskan sesungguhnya kegiatan Agia di toko.


Kalau kebetulan banyak orderan, Mama juga ikut bantu. Hasil tangan Mama masih sangat bagus dibanding Tante-tante yang kerja di sini.” Rania pun menambahkan.


Sena berjalan mengelilingi toko.


“Kalau ini bunga apa namanya, Tante?” Tanya Senja tentang bunga yang ditanam pemberian dari Dewi.


“Tante kurang tahu namanya. Tapi itu dikasi sama Neneknya Senja dan Sena.” Sahut Rania lagi.


Yang lain kemudian menoleh Bunda Agia.


“Ah, maksud saya, Ibunya Kak Bagi. Sudah lama. Mungkin tahun lalu.” Sambungnya lagi.


“Tante Silvi kok diam aja?” Tanya Sena sinis.


“Iya, Tante lagi enggak enak badan nih.” Jawabnya ragu.


Agia lalu menarik tangan Sena mendekati dapur. Sena paham bahwa dirinya harus mengajak Agia melewati pintu.


“Mama setiap ke toko minum teh itu.” Tunjuk Agia ke arah toples berisikan daun teh.


“Kakek!” Panggil Sena.


Ayah Agia bergegas menuju dapur.


“Teh ini, Kek.” Ayah Agia mengerti maksud perkataan cucunya. Dia lalu mencari plastik kecil agar bisa meletakkan daun teh di dalamnya. Setelah berhasil, dia lalu menyembunyikannya di dalam kantong celana.


“Ada lagi, Ma?”


“Ke kantor.” Ucap Agia.


“Tante, aku boleh ke kantor?” Tanya Sena.


“Boleh, silahkan.” Silvia tidak memiliki tenaga karena telah mengalami shock akibat ulah Bagi kemarin sore. Sudah kepalang basah, biarlah kini dirinya akan menikmati.


Agia menutup matanya mencoba mengingat. “Mama biasa minum teh di sini sambil ngecek laporan harian dari Tante Silvi.”


“Terus?”

__ADS_1


Agia menggeleng lemah.


__ADS_2