Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 69


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 69


“Kita pakai mobil saya saja ya, Wan. Kamu yang menyetir.” Ucap Bagi pada Darmawan yang terdengar seperti memberikan perintah.


“Baik, Pak.” Sahut Darmawan yang melangkah ringan di sebelah Bagi. Baru saja mereka keluar dari kantor dan menuju parkir.


***


“Apa yang akan Bapak lakukan kalau seandainya benar istri Bapak terkena racun?” Tanya Darmawan pada Bagi disela-sela kegiatan menyetirnya.


Bagi tidak langsung menjawab pertanyaan Darmawan. “Saya juga belum yakin. Sedikit pun saya tidak memiliki bayangan kalau akan ada orang yang berniat untuk menyelakai keluarga saya. Apa lagi istri saya. Dia itu orang paling baik yang pernah saya kenal. Cara berpikirnya pun selalu positif dan sederhana.” Sahut Bagi ragu. “Menurut kamu, Wan. Apa yang harus saya lakukan?” Tanya Bagi balik kepada Darmawan


“Saya akan segera lapor polisi, Pak. Biar pun bukti-bukti sedikit, saya yakin, pelaku pasti akan menunjukkan belangnya walau samar.” Sahut Darmawan.


Bagi menatap lekat asisten terbaik yang kini terasa seperti sahabat untuknya. Bagi memutuskan untuk tidak menjawab pendapat Darmawan. Dirinya terbuai oleh pemikiran didalam benaknya, “benar juga yang dikatakan oleh Darmawan. Kalau polisi turun tangan, pasti ada saja yang akan muncul kepermukaan. Hal-hal kecil bisa saja sangat berguna untuk hal besar lainnya.”


Bagi kemudian menghembuskan napasnya kasar.


Darmawan melirik atasannya dengan penuh empati, namun tetap fokus dalam mengemudikan kendaraan roda empat milik Bagi.


***


Darmawan dan Bagi termangu di kantin kantor laboratorium. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Mereka baru saja bertemu dengan Sanjaya, teman Darmawan yang bertugas sebagai penguji klinis untuk mereka yang akan melakukan prosedur Bpom. Atas permintaan dari Darmawan, tentu saja disertai dengan penjelasan menyeluruh dari kejadian yang dialami atasannya, Sanjaya dengan senang hati membantu.


Berbekal sample bunga kering di ruangan Silvi dan teh yang ditemukan oleh Sena juga Senja di dapur G Florist, Sanjaya mengatakan bahwa kedua sample itu sembilan puluh sembilan koma tiga persen cocok.


“Kok bisa koma tiga persen, J?” Tanya Darmawan pada Sanjaya yang biasa dipanggil dengan sebutan J.


“Iya betul, karena sample teh itu mengacaukan sedikit. Tapi tidak mengurangi keyakinan kalau teh itu memang dicampur dengan bunga itu.” Sahut Sanjaya.


Darmawan dan Bagi diam tidak tahu harus mengatakan apa pun.


“By the way, bunga apa itu?” Tanya Sanjaya penasaran.


Darmawan melirik Bagi untuk membiarkan atasannya itu menjawab pertanyaan dari Sanjaya.

__ADS_1


“Saya belum yakin, Dik Sanjaya. Oh ya, apa saya akan merepotkan kalau saya meminta tolong sekali lagi?” Ucap Bagi dengan wajah muram.


“Minta tolong apa, Pak?” Tanya Sanjaya kembali pada Bagi.


“Diagnosa dokter yang menangani istri saya bilang, kalau istri saya terdeteksi kelebihan tanin. Apa bisa Dik Sanjaya membantu saya untuk memastikan, apa kedua sample itu benar-benar mengandung tanin yang menyebabkan zat besi tidak bisa masuk ke dalam tubuh istri saya? Saya perlu sekali menguji hal ini. Kalau memang benar teh itu yang menyebabkan istri saya mengalami keadaan seperti sekarang, saya akan segera berdiskusi dengan dokter. Siapa tahu, dengan mengetahui kandungan teh itu, dokter bisa memberikan penangangan baru.” Jelas Bagi dengan detail.


“Gampang, Pak. Saya akan pastikan kandungan kedua sample secara menyeluruh. Bukan hanya tanin saja yang akan saya uji. Tapi, siapa tahu ada zat lain yang tidak sepatutnya ada pada bagian teh ity. Secepatnya akan saya kerjakan. Semoga besok lusa bisa beres ya, Pak.” Balas Sanjaya.


“Terima kasih banyak bantuannya ya, Dik Sanjaya.”


“Bapak sabar sebentar lagi ya, Pak. Saya doakan semoga istri Bapak bisa segera sadar.” Ucap Sanjaya tulus.


Darmawan mengaduk Es Soda Gembira, minuman soda yang dicampur dengan sirup gula dan juga susu kental manis memang sangat cocok menemani siang hari yang sangat panas itu.


“Sekarang apa yang harus saya lakukan, Wan?” Tanya Bagi yang duduk dihadapan Darmawan. Mata Bagi menatap tangan Darmawan bergerak pelan mengaduk isi gelasnya yang kini telah berubah warna menjadi merah muda.


“Bapak tahu rumah pegawai yang mengelola toko bunga?” Tanya Darmawan.


“Saya belum pernah ke sana. Tapi istri saya pernah bilang kalau rumah Silvi ada di pusat kota bagian utara. Memangnya kenapa?” Balas Bagi balik bertanya.


“Siapa tahu kita bisa mendapat petunjuk, Pak.”


“Kita coba saja. Saya siap menemani Bapak.”


Bagi memasukkan pendapat Darmawan kedalam pikirannya. Entah dengan cara apa dirinya bisa mencari informasi sekaligus bukti yang berkaitan dengan Silvia.


Tiba-tiba dia ingat dengan Damar yang telah berhasil menjajaki kesan pertama baik dengan Silvia. Bagi akan segera menghubungi Stevina untuk memohon izin agar diberikan kewenangan kepada Damar.


***


“Terima kasih banyak, Yud. Nanti kalau saya perlu informasi, saya minta bantuan lagi.” Ucap Andre mengakhiri pembicaraan. Setelah itu, Andre tidak langsung menyimpan telepon genggamnya, melainkan memerika dokumen yang dikirimkan oleh Yudana tentang identitas pemilik penyewaan tenda.


“Sena, apa ini orang yang kamu lihat?” Tanya Andre pada Sena dengan menunjukkan layar telepon genggamnya.


Sena mendekat, juga Agia. “Betul, Pak. Ini benar dia ya, Ma?”


Agia pun menyetujui pendapat Sena.


“Namanya Leri, orang ini sudah cukup lama menyewakan tenda-tenda dan juga perlengkapan kemah serta mendaki.” Andre memberikan sedikit informasi mengenai identitas Leri.

__ADS_1


“Boleh pinjam HP Bapak sebentar? Mau saya tunjukkan ke Raya.” Sena meminta izin pada Andre untuk membawa serta telepon genggamnya agar bisa mendekat ke arah Raya yang masih berada di sudut ruangan rumah gubug. Dengan satu gerakan, Andre menyerahkan telepon genggamnya pada Sena.


“Raya, apa orang ini yang lo bilang Om Jahat?” Tanya Sena pada Raya.


Mimik muka Raya berubah menjadi ketakutan. “Iya, itu dia Om Jahat!” Pekik Raya.


Sena dan Agia saling berpandangan.


“Berarti, saat Pak Teguh datang dari belakang gubug, Pak Leri ini juga ada di sekitar kita.” Ucap Doni tiba-tiba.


“Ini kayaknya gue mulai mual karena grogi deh. Sebenarnya ada berapa banyak penjahatnya, sih?” Tanya Senja yang sejak tadi tidak mengeluarkan suaranya karena gelisah.


“Pak Andre, apa perlu kita gali tanah rumah ini?” Tanya Damar pada Andre.


“Saya sudah memberikan pesan melalui aplikasi kepada rekan-rekan lain. Sebentar lagi mereka pasti datang. Kita perlu tenaga tambahan.” Sahut Andre.


“Lalu sekarang kita gimana?” Tanya Senja semakin tidak nyaman.


“Kenapa? Lo takut kalau harus ikut menggali tanah di sini?” Ledek Ragil untuk Senja.


“Bukannya gue takut. Masak sih gue harus ikut ngerjain kerjaan keras begitu. Kan sebaiknya tenaga gue disimpan untuk hal lain.” Sahut Senja berkilah.


“Misalnya?”


“Mau kue enggak? Gue bawa kue dimobil.” Senja berjalan cepat meninggalkan tumah gubug menuju mobil milik Damar.


“Siapa juga yang mau ikutan lihat-lihat jasad di sana. Hiii amit-amit deh gue.” Ucap Senja seorang diri. Tangannya tidak berhenti beraktifitas mengambil box konteiner dari dalam mobil.


Ragil dan Riki pun menyusul Senja untuk mencoba tawaran kue yang dibawa.


“Senja, lo enggak usah malu dan gengsi kalau takut sama sesuatu. Gue juga takut kok ini.” Ucap Riki mencoba menenangkan Senja


.Senja terpaku menatap Riki yang dengan berjiwa besar mengakui sedang ketakutan oleh keadaan.


“Namanya manusia, apa lagi kita anak kecil yang belum pernah sama sekali terlibat sama hal macam beginian. Ya wajar takut lah. Gue rasa, Pak Andre yang jadi penyidik pun masih punya rasa takut.” Ucap Riki melanjutkan. “Dari pada kita paksain diri kita uang takut ini, justru berujung pada trauma. Bahaya sama ini.” Riki menunjuk keningnya. “Mental kita bisa terganggu.”


Senja kemudian tersenyum manis dan memberikan satu buah tas kresek yang cukup besar, dengan berbagai macam jajanan pasar didalamnya.


“Makasi banyak ya, Kak Riki. Sudah nenangin gue. Enggak kayak sompret satu ini. Huh!” Ucap Senja kesal pada Ragil.

__ADS_1


__ADS_2