Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 65


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 65


“Saya mau dengar pendapat kalian.” Tanya Andre pada Senja dan Sena sesaat setelah Ragil melenggang meninggalkan mereka.


“Tentang apa, Pak?” Tanya Sena tidak paham dengan arah pembicaraan Andre.


“Tentang kasus penculikan ini. Yang pasti, Teguh terdapat tangan melakukan aksinya dengan banyak saksi mata, bukan?” Ucap Andre pada yang lain. “Yang saya herankan, kenapa bisa kepala sekolah jadi terseret. Dari pandangan kalian sendiri, kepala sekolah kalian itu orangnya seperti apa?”


“Pak Hartanto itu baik, Pak. Banyak kegiatan mengasyikkan ada di sekolah semenjak Pak Har yang mimpin. Gitu sih kata kakak-kakak kelas. Kalau dulu, sekolah itu monoton banget.” Sahut Senja mendahului Sena. “Tapi kalau saya pribadi, saya enggak pernah berhubungan secara langsung dengan Pak Har. Saya rasa, Pak Har juga enggak tahu nama-nama siswa atau siswi di sekolah. Paling yang punya masalah atau yang punya prestasi aja yang berurusan sama Pak Har.”


Andre kemudian mengarahkan pandangannya ingin mendengar pendapat Sena.


“Sama, Pak Andre. Saya juga enggak pernah berurusan secara langsung sama Pak Hartanto. Jadi pendapat saya dijamin enggak bisa bantu Pak Andre. Ada baiknya, guru-guru saja yang dimintai pendapat, Pak.” Terang Sena menyampaikan pendapatnya.


Andre menganggukkan kepala berusaha mengerti dengan penyampaian anak-anak itu. “Nanti kita tanya Ragil dan temannya. Mereka kan sudah tamat lebih dulu. Siapa tahu mereka punya pendapat lain tentang kepala sekolah ini.”


“Oh ya, Om minta tolong supaya kalian enggak bertindak sendirian kayak kemah kemarin ya, Sena, Senja.” Ucap Damar tiba-tiba menyela pembicaraan antara penyidik dan saksi mata kasus besar ini. “Om rasa ini masalah besar dan sangat berbahaya. Biar sekarang Pak Andre aja yang ngelanjutin penyelidikan.”


“Tapi, Om. Di kebun durian ada satu anak lagi yang kita perlu cari informasinya lebih banyak.” Balas Sena.


Melihat orang-orang dewasa di sekitarnya nampak kebingungan, Sena lalu melanjutkan ucapannya. “Aku sama Mama sempat lihat ada anak perempuan di sama. Namanya Raya.”


Senja menaikkan kedua alisnya malas seraya menjawab informasi dari Sena. “Kalau kalian mau tahu, Raya ini bukan makhluk hidup. Dia ini hantu.”


Andre dan Damar nampak terkesiao mendengar perkataan Senja. “Hantu?” Tanya Damar.


“Iya, Om. Mama sempat komunikasi sama Raya. Ya kan, Ma?” Tanya Sena pada Agia untuk memastikan.


“Pake nanya lagi ni bocah. Jelas-jelas cuma dia doang yang bisa komunikasi sama Mama.” Protes Senja melihat aksi adiknya itu.

__ADS_1


“Lantas, Mama kamu bilang apa, Sena?” Tanya Andre penasaran.


“Mama bilang kalau Raya ini sudah lama tinggal di kebun durian. Dan Raya juga bilang kalau Pak Hartanto memang beberapa kali terlihat berkeliaran dia kebun durian. Apa lagi, Ma?” Tanya Sena pada Mamanya.


“Anak itu juga sempat bilang kalau Pak Teguh jahat dan mengikat tangan juga kakinya. Entahlah, Mama enggak yakin. Makanya kita harus ke sana supaya kita bisa ngobrol sama Raya.” Sahut Agia tidak yakin.


“Kalau misalnya besok, Pak Andre bisa antar kita ke kebun durian lagi? Mama bilang, Raya harus diajak ngobrol lagi untuk dapat informasi lebih banyak.” Tanya Sena pada Andre.


“Kalian enggak sekolah?” Tanya Andre.


“Lagi libur sekolah, Pak.”


“Ya sudah, kita berangkat.”


“Saya ikut ya, Pak.” Ucap Bagi menyampaikan keinginannya berpartisipasi dalam penyelidikan.


“Memangnya Papa enggak kerja?” Tanya Senja.


“Biar gue yang ikut, Bro.” Balas Damar cepat dan antusias.


“Om enggak kerja?” Tanya Sena.


“Bos sih enggak harus datang tiap hari.” Sahutnya menyombongkan diri dengan wajah ceria. Senja dan Sena sangat suka bercengkerama dengan sahabat Papanya itu. Pikirannya luas, dan suka membuat lelucon ringan.


Tidak berapa lama, Ragil datang dengan cepat sambil menenteng sebuah tas berwarna abu-abu.


Tanpa mengeluarkan suara, Ragil membuka retsleting tas tersebut dan mengeluarkan komputer lipat miliknya. Benda paling berharga yang didapatnya dari sebuah situs tempat dia biasa membagikan video. Kegiatan kegemarannya berupa cinematography membuahkan pundi-pundi rupiah yang digunakan untuk membeli barang impiannya. Bermodalkan action camera yang dirancang khusus untuk mengabadikan kegiatan bergerak. Kamera berbentuk segi empat ini didapatkan dari Ibunya yang menang door prize pengundian sebuah bank swasta. Kini, berkat kegemarannya, sebuah video bisa membantu kepolisian dalam menyelam lebih dalam pada kasus pahit di balik penculikan seorang siswi.


Ragil menyerahkan komputer lipat kepada Andre yang sedang duduk bersebelahan dengan Damar. Bersamaan Andre dan Damar menyaksikan hasil rekaman sederhana dari Ragil. Terpampang wajah Pak Hartanto yang berada di dalam kegelapan. Sinar dari lampi senter membuat keadaan semakin mencekam. Percakapan antara Ragil, Riki, dan juga Pak Hartanto terdengar jelas.


“Saya rasa, bagian ini bisa Pak Andre tanyakan langsung ke Pak Hartanto. Ngapain celingak-celinguk di gubug itu? Mencurigakan sekali.” Ucap Ragil debgan alis bertautan menjadi satu.

__ADS_1


“Menurut kamu, apa yang sedang dilakukan Pak Har?” Tanya Andre mencoba memancing isi hati dan pikiran Ragil.


Ragil diam sebentar. “Rasa-rasanya nih, Pak. Pak Hartanto ini enggak tahu kalau Dara ada di bawah kandang. Tapi, saya yakin seratus persen, kalau Pak Hartanto tahu kalau Dara hilang dan disembunyikan oleh Pak Teguh. Aduh, entah lah, Pak. Nanti saya malah ngomong ngawur.”


“Enggak, Gil. Saya senang mendengar pendapat orang awam. Kadang, kepolosan cara berpikir orang yang tidak memiliki pengalaman, justru bisa membantu menemukan titik terang.” Sahut Andre dengan senyuman manis.


“Lalu, apa pendapat saya tadi cukup untuk membuat rasa penasaran Pak Andre bergemuruh?” Tanya Ragil menimbilkan tawa dari Senja dan Sena.


“Kenapa lo ketawa?” Tanya Ragil sengit pada Senja.


“Kata-kata lo menjijikkan, hiii geli gue denger. Bergemuruh!” Tawa Senja meledek Ragil.


Ragil hanya membalas ledekan Senja dengan menjulurkan lidahnya.


“Besok, kita mau ke kebun durian. Lo ikut?” Tanya Senja pada Ragil kemudian.


“Ngapain?” Balas Ragil dengan membesarkan kedua matanya tanda ingin tahu.


“Mau panen durian.”


***


Saya yakin sekali, teman-teman semua kecewa karena saya hilang berbulan-bulan. Maafkan saya yang kurang profesional ini. Saya janji tidak akan menggantung cerita ini dan akan menyelesaikannya dengan cepat. Mohon permaklumannya, karena saya mamak-mamak anak dua yang keribetannya melebihi apapun.


Saya masih punya banyak sekali ide cerita, hanya saja, waktu untuk menuang dalam kata-kata yang sulit sekali untuk didapatkan. Sekali lagi, saya minta maaf, dan terima kasih sekali untuk selalu menanti munculnya kelanjutan cerita Mamaku Hantu.


Saya doakan semoga semua para pembaca dilimpahi kesehatan dan kebaikan dari segala penjuru arah.


Salam sayang,


Intan Pandan.

__ADS_1


__ADS_2