Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 18


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 18


“Nanti kita kemahnya di sana.” Tunjuk Dandi kepada teman-teman yang ikut melihat lapangan di belakang sekolah. Anak laki-laki kelas 4-B sebanyak dua belas orang bersama-sama mengangkat bangku dari gudang, lalu menumpuknya agar mereka bisa melihat keadaan di belakang sekolah.


“Tahu dari mana lo?” Sahut Sapta yang berada tepat di sebelah kanan Dandi, dan berada pada barisan paling ujung.


“Anak kelas enam yang cerita sama gue. Dua tahun lalu saat mereka kelas empat, di sana juga tempat kemahnya.” Jawab Dandi. “Makanya gue ajak kalian ke sini. Besok kan kita raportan, kapan lagi bisa survey tempat kalau bukan sekarang?” Semua mata anak-anak kelas 4-B tertuju pada hamparan rumput yang luas di depan mata mereka. Angin bertiup melantunkan desisan dari daun pisang yang bergesekan di bawah mereka. Kebun pisang yang tidak terlalu besar itu menjadi pembantas antara tembok sekolah dan lapangan. “Katanya tahun lalu enggak ada acara kemah. Kalian tahu kenapa?” Tanya Dandi kepada yang lain. Tidak ada jawaban, tapi anak-anak itu menunggu Dandi melanjutkan ceritanya.


“Dua tahun lalu, ada anak yang hilang saat jurit malam.” Lanjut Dandi dengan suara berbisik seperti takut akan ada orang lain yang mendengar.


Anak-anak lainnya menahan napas saat mendengar lanjutan cerita dari Dandi.


Sudut bibir kiri Dandi terangkat saat melihat wajah Sena menegang. “Kenapa? Lo takut?” Dandi meledek Sena.


Sena terkesiap dan segera mengubah ekspresinya.


“Itu kan cuma cerita bohong yang dibuat kakak kelas. Lagian orang pintar mana sih yang akan percaya cerita murahan kayak gitu?” Sahut Sena menutupi kekhawatirannya.


“Oh jadi lo mau bilang kalau gue ini enggak pintar?” Sungut Dandi.


“Emang kapan gue bilang gitu?” Sena dan Dandi berdebat dari atas bangku yang dibatasi oleh tiga teman diantara mereka.


“Sudah-sudah! Kalian ini enggak pernah bosan ya ribut-ribut.” Rendra mencoba melerai perdebatan kedua temannya.


“Gue tantang lo saat jurit malam, berani enggak lo?” Dandi mengeraskan suaranya.


“Gue enggak tertarik sama apapun yang ada hubungannya sama elo.” Balas Sena mencoba tidak terpancing dengan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya juga teman-teman.


“Cemen lo! Bilang aja lo takut!” Dandi tidak bosan mencoba untuk menggertak Sena.


“Kalau lo terima tantangan gue dan lo berhasil, gue janji enggak pernah ganggu-ganggu lo lagi. Gimana?” Lanjut Dandi lagi.

__ADS_1


Sena melirik Dandi yang berada di sebelah kanan. “Apa tantangan lo?”


Dandi tersenyum penuh kemenangan.


“Nanti saat jurit malam, semua pesertah kemah akan dibagi beberapa kelompok. Tantangan gue ke elo, setelah satu jam perjalanan, lo harus keluar dari rombongan dan kembali ke perkemahan. Sen-di-ri-an.” Dandi menyuarakan ide gilanya kepada yang lain.


“Cuma itu? Apa susahnya? Lantas apa alasan gue keguru-guru kalau harus kembali ke perkemahan sendirian?” Balas Sena.


“Apa kek suka-suka lo. Bilang sakit perut kek, lapar kek, atau kangen nyokap gitu.” Dandi tidak henti-hentinya meledek Sena.


Sena menatap Dandi sinis. “Enggak adil dong kalau gue aja yang nerima tantangan. Lo juga harus ngelakuin tantangan.” Balas Sena karena memiliki ide.


“Lo kira gue takut. Ayo! Apa tantangan lo?” Seru Dandi tidak sabar.


“Selama jurit malam, lo enggak boleh membawa lampu senter atau penerang apapun.” Jawab Sena santai.


Dandi terdiam sebentar karena tidak menyangka tantangan Sena sangat sederhana, namun terasa sangat menakutkan untuk Dandi. Tidak mau berpikir terlalu lama, dia menyanggupi tantangan itu.


“Oke! Kita terima tantangan masing-masing. Kalian semua jadi saksi, siapa yang lebih tangguh diantara gue dan Sena.”


***


“Ma! Apa maksud Bagi barusan? Mama benar memberikan Agia bunga Azalea itu?” Andi memberondong Dewi dengan pertanyaan.


Dewi menoleh malas kepada laki-laki yang sangat diharapkannya dulu. Namun kini tidak lagi. “Apaan sih? Bapak sama anak kok ngurus bunga melulu. Kenapa memangnya kalau bunga itu Mama kasi Agia? Enggak mungkin dimakan sama dia. Papa pikir dia itu orang seperti apa? Hantu saja bisa dia lihat, masak bunga beracun mau dimakan?” Dewi bersungut-sungut memutar ulang bagian yang terlewati dari drama Korea, karena mengharuskannya berbicara dengan Andi.


“Ma, seharusnya Mama tidak perlu memberikan bunga itu untuk siapa-siapa. Papa membeli bunga itu untuk mengusir kucing dari rumah ini. Kan Mama tahu sendiri kalau Papa tidak suka dengan bau kotoran kucing.” Andi terlihat gusar dengan perilaku Dewi yang sama sekali tidak mau mengerti dengan keadaan yang terjadi.


“Lalu Papa maunya gimana? Mau melaporkan mama ke kantor polisi?” Tantang Dewi meradang.


“Bukan begitu maksud Papa.” Andi lalu melunak agar Dewi tidak terpancing emosinya dan bisa diajak berkomunikasi dengan baik. “Papa takut Agia sakit karena bunga itu, Ma. Kan kasihan anak dan cucu kita kalau ibunya kenapa-kenapa.”


“Enggak mungkin karena bunga itu, Pa. Siapa sih yang tahu kandungan bunga itu berbahaya? Palingan cuma Papa aja.” Dewi benar-benar malas jika harus berdebat dengan Andi.

__ADS_1


“Ma, yang Agia jual itu apa? Bunga, Ma! Itu toko bunga! Masak iya tidak ada satu orang pun yang tahu tentang manfaat atau efek samping dari bunga?”


Dewi terdiam mencerna ucapan suaminya. “Apa iya Agia sakit karena bunga yang Mama kasi, Pa?” Dewi menyadari kesalahan yang dilakukannya.


***


Bagi mengendarai pelan mobilnya karena menikmati perjalanan menuju resort milik Damar. Bagi harus melalui jalan beraspal halus dengan hamparan sawah bertumpuk-tumpuk di sebelah kanan dan kirinya. Perpaduan warna hijau dan kuning dari padi, juga langit biru sungguh menentramkan hati Bagi. Pohon kelapa yang berderet di samping jalan, seperti membawa Bagi masuk ke dalam lukisan.


Bagi mematikan pendingin di dalam mobilnya, dia lalu membuka kaca jendela dan membiarkan angin menerobos masuk.


Kenangan bersama Agia lalu mencuat dipikirannya. Sebelum mereka menikah, Bagi dan Agia sering berpetualang menggunakan sepeda motor untuk menjelajah tempat baru yang belum pernah mereka datangi. Jika menemukan suasana seperti ini, mereka akan menepi dan menikmati pemandangan di hadapannya.


Tanpa terasa air mata Bagi menetes tanpa komando. Rasa rindu bukan lagi mendominasi pikiran dan relung hatinya. Kini dirinya terorientasi oleh usaha dan cara untuk menyembuhkan Agia. Bagi berjanji untuk melakukan apa saja demi kesadaran Agia.


Sebuah plang nama yang terbuat dari batu paras mengukirkan sederet abjad bertuliskan Umah Padi Resort.


Bagi memelankan laju kendaraannya, lalu mengambil telepon genggam untuk memotret plang nama resort milik Damar.


Seorang petugas satuan pengamanan mendekati Bagi.


“Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” Sapa petugas itu dengan sangat ramah. Damar berhasil membentuk pekerjanya agar memberikan kesan pertama dengan sangat baik untuk pengunjung.


“Saya ada janji dengan Bapak Damar.” Jawab Bagi.


“Dengan siapa kalau saya boleh tahu?” Tanya petugas itu lagi.


“Saya Bagi.”


“Boleh saya menyimpan kartu identitas Bapak selama berada di area resort?”


“Boleh, boleh. Tentu saja boleh.” Bagi merogoh tasnya untuk mendapatkan dompet yang menyimpan kartu identitasnya.


Petugas keamanan itu kemudian menulis nama Bagi, berikut jam berkunjungnya. Lalu dia menyimpan kartu identitas milik Bagi dan membuka palang portal.

__ADS_1


Bagi memberikan senyuman untuk petugas itu dan melajukan mobilnya melewati portal pengaman.


__ADS_2