
Mamaku Hantu
Part 45
Ya Tuhan, tolong bantu saya untuk menyelamatkan Danti. Biarkan saya menjadi invisible man saat ini sebentar saja. Saya harap Pak Teguh tidak menyadari kalau saya membuntutinya. Setelah ini saya berjanji akan menjaga Danti dengan baik. Saya tidak akan mengabaikan Danti lagi, Tuhan. Tolong selamatkan Danti. Berikan saya kekuatan untuk melepaskan Danti dari Pak Teguh.
***
Dandi tanpa sengaja melihat Pak Teguh memperbaiki posisi tubuh Danti di dalam tas ransel. Hampir terlepas bola matanya saat menyaksikan adik perempuan yang selama ini sangat dibencinya berada dalam tempat sempit dengan tubuh terlipat.
Tuhan masih membantunya untuk membuat Bu Siti dan Bu Cahya memaksa beristirahat di dalam rumah gubug. Dandi bersandar pada dinding rumah di sebelah tumpukan tas ransel milik Pak Guntur dan perlengkapan lainnya seperti air minum dan makanan. Pak Teguh terlihat terburu-buru hingga tidak menyadari keberadaan Dandi di dalam rumah. Dengan demikian, aksi Pak Teguh terlihat dengan jelas setiap detailnya.
Dengan tubuh gemetar Dandi mengikuti Pak Teguh membawa Danti ke suatu tempat. Pak Teguh memilih jalur lain yang lebih gelap dan juga lembab. Sepertinya jalur ini jarang digunakan oleh orang-orang untuk berlalu-lalang. Lain halnya dengan jalur awal yang digunakan peserta kemah untuk jurit malam, jalur itu sengaja dibuat lebih lebar, agar mempermudahkan kendaraan keluar masuk kebun untuk mengangkut hasil panen.
Dengan berat hati Dandi mengakui jika Pak Teguh yang sudah tidak muda lagi memiliki stamina luar biasa. Dengan beban Danti dipunggungnya, Pak Teguh mampu melewati kebun durian ini tanpa hambatan. Sayangnya, stamina yang dimiliki oleh Pak Teguh disalah gunakan untuk hal jahat seperti ini.
“Danti, gue harap lo bertahan di dalam sana. Tolong jangan kehabisan napaa. Gue mohon lo kuat dan harus selamat.” Ucap Dandi di dalam hatinya.
Dandi memilih untuk tidak menyalakan lampu penerangannya agar Pak Teguh tidak mengetahui keberadaannya. Keadaan Pak Teguh yang tergesa-gesa membuat Dandi berada pada posisi yang aman. Pak Teguh tidak sempat menoleh ke belakang, dia hanya terus berjalan dan tetap berjalan.
Tidak sampai berapa lama, lapangan di belakang sekolah tempat tenda-tenda didirikan telah terlihat dari kejauhan.
__ADS_1
“Eh, ini kok kayaknya terlalu cepat, apa mungkin ini jalan pintas, ya? Rasa-rasanya gue cuma jalan sebentar, deh.” Pikir Dandi heran karena perjalannya terasa begitu singkat. Lapangan terlihat sepi dari posisi Dandi berada. Beberapa guru tengah menyiapkan diri untuk mengatur kelompok berikutnya agar memulai kegiatan jurit malam.
Pak Teguh tidak menghentikan langkahnya. Dia terus berjalan mengitari lapangan melalui belakang toilet, dan mendekati kebun pisang di dekat sekolah. Tidak berapa lama, Pak Teguh membelokkan langkah kakinya ke sebuah sudut, dan menyibakkan tanaman seperti semak belukar. Dandi tidak tahu pasti tanaman apa yang menyibukkan Pak Teguh itu sehingga membuatnya hilang dimakan oleh semak belukar. Suasana gelap gulita membuat Dandi tidak yakin dengan keputusannya untuk mengikuti Pak Teguh.
Dandi ragu untuk turut serta masuk ke dalam semak belukar itu sendirian. Tapi, kalau dia tidak mengikuti Pak Teguh, kemana lagi harus mencari Danti.
“Sebenarnya Kak Ragil dan Kak Riki kemana, sih? Kok mereka tiba-tiba menghilang, ya?” Pikir Dandi karena mengharapkan bala bantuan dari orang lain.
Mau tidak mau, Dandi mengikuti jejak Pak Teguh. Semak belukar itu ternyata sebuah pintu rahasia untuk masuk ke jalan setapak yang bisa dilalui oleh satu orang saja. Di sebelah kiri merupakan dinding sekolah, sedangkan sebelah kanan adalah pagar yang dibuat dengan berbagai tanaman.
“Apa jalan ini buatan Pak Teguh? Kemana Pak Teguh itu pergi?” Ucap Dandi dalam hatinya seraya melangkahkan kaki dengar ragu untuk menyusuri jalan kecil itu.
“Pasti Pak Teguh melewati tembok ini.” Dandi berusaha untuk memanjat tembok agar bisa melewatinya. Saat dia mencapai puncak tembok, Dandi mendengar pembicaraan beberapa orang tentang lokasi Sena dan mereka berusaha untuk menemukan Sena. Tanpa berpikir dua kali, Dandi mendorong tubuhnya agar bisa mendarat dengan sempurna di atas tanah. Dandi melihat dua laki-laki dewasa dan satu orang perempuan di pinggir jalan aspal, dekat dengan gerbang sekolah.
“Om! Cari Sena, ya?” Tanya Dandi berbisik seraya mendekati tiga orang dewasa yang terlihat panik. Ketiganya lalu menoleh pada Dandi.
“Kamu kenal Sena?” Tanya Bagi memburu.
“Saya teman sekelasnya. Ngapain Om cari Sena?” Tanya Dandi lagi.
“Kebun durian itu di mana?” Tanya Stevina cepat.
__ADS_1
“Sebelum saya menjawab pertanyaan kalian, tolong jawab saya terlebih dahulu. Apa Om dan Tante lihat Bapak dengan tas ransel besar lewat sini?” Tawar Dandi.
“Oh, Pak Satpam itu baru saja masuk ke dalam sekolah.” Jawab Bagi yakin, karena baru saja orang yang disebutkan oleh teman anaknya itu lewat dan menanyakan maksud serta tujuan keberadaan Bagi, Damar, dan Stevina.
“Waduh! Dia bukan satpam, Om. Dia guru di sekolah ini. Tapi dia menculik adik saya. Yang ada di dalam tas ranselnya itu adik saya.” Ungkap Dandi. “Bantu saya, Om.” Bagi dan yang lain terkejut bukan kepalang. Bagaimana bisa seorang guru menculik anak didiknya sendiri.
“Kita harus menghubungi polisi, Mar. Ini masalah serius.” Ucap Bagi pada Damar. Stevina segera menggerakkan jari-jemarinya untuk menghubungi seorang polisi yang dikenalnya. Namun sayang, respon yang ditangkap tidak cepat karena saat itu jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari.
“Ini, Sena mengirimkan saya lokasi dia disekap oleh guru yang bernama Pak Teguh. Kamu tau ini dimana?” Tanya Bagi seraya memperlihatkan layar telepon genggamnya.
“Pak Teguh? Guru yang membawa adik saya itu namanya Pak Teguh, Om. Gawat ini, berarti Sena dan yang lain sudah tahu kalau pelakunya Pak Teguh, makanya mereka disekap. Ini sepertinya di rumah gubug, Om. Om lompati tembok ini dulu. Lewat gang kecil, terus Om belok kiri. Enggak seberapa jauh kok, Om.” Jelas Dandi.
“Oke, terima kasih, ya. Mar, lo sama anak ini ke sekolah. Gue sama Stevina cari Sena. Bisa kan lo?” Perintah Bagi. “Nama kamu siapa?” Tanya Bagi pada Dandi.
“Dandi, Om. Dandi.” Sahut Dandi.
“Om benar-benar mau bantu saya? Makasih banyak, Om. Saya enggak tahu harus minta tolong siapa. Kalau bilang sama guru yang lain, takutnya mereka malah bekerja sama. Saya takut sekali, Om.” Sahut Dandi lirih hampir menangis.
“Tenang, sekarang kita sama-sama cari adik kamu.” Ucap Damar sambil menepuk pundak Dandi untuk menenangkannya dari kerisauan.
***
__ADS_1