
Mamaku Hantu
Part 57
“Kenapa kalian enggak cerita apa pun sama Papa?” Bagi berbicara lantang pada Senja dan Sena yang baru saja menyelesaikan kewajibannya sebagai warga negara yang baik di kantor polisi. Walaupun dalam keadaan lelah dengan berbagai pertanyaan yang diajukan oleh Andre, tidak menyurutkan antusiasme anak-anak dibawah umur itu.
Senja dan Sena diam membisu menatap piring kosong di hadapan masing-masing. Bagi menginterogasi mereka setelah menyantap makan malam yang diorder melalui aplikasi pengantar makanan.
“Papa sampai hampir frustasi memikirkan gimana caranya berkomunikasi dengan Mama kalian. Malah kalian rahasia-rahasia sama Papa.” Senja dan Sena, bahkan Agia pun terdiam tidak tahu harus mengatakan apa.
“Jadi, enggak ada yang mau jawab Papa?” Tanya Bagi sekali lagi.
“Aku yang ngelarang Sena dan Kakek untuk cerita sama Papa.” Sahut Senja pada akhirnya dengan suara lirih.
“Kakek? Kakek tahu juga?” Tanya Bagi semakin berang.
Senja dan Sena mengangguk berbarengan.
“Kakek juga bisa lihat Mama, Pa.” Balas Sena membuka suara pada Bagi. “Nenek juga tahu, tapi enggak bisa lihat Mama.”
“Kita diam-diam lagi menyelidiki kenapa Mama bisa sampai koma, Pa. Jujur aja, aku enggak cerita sama Papa, karena khawatir kalau Papa yang nyakitin Mama.” Sahut Senja. Sulit sekali rasanya mengutarakan kecurigaan pada Papa. Tapi, tidak ada cara lain.
Bagi mengusap kasar wajahnya. Tanpa terasa air matanya mengalir. “Kalian dengar, ya. Sampai kapan pun, istri Papa cuma satu, dan selamanya akan begitu. Kalau akan terjadi hal terburuk sekali pun, Mama akan selalu jadi wanita yang terakhir dalam hidup Papa. Kalian paham?”
“Paham, Pa.” Sahut Senja dan Sena.
“Lantas? Apa hasil yang kalian dapat dalam penyelidikan rahasia itu?” Sindir Bagi pada Senja dan Sena.
“Enggak terlalu signifikan sih, Pa. Mama cuma ingat kalau hampir setiap ke toko, Mama minum teh yang disediakan oleh seseorang di sana. Teh itu sudah kita bawa, dan sekarang ada di rumah Kakek, Pa.” Sahut Senja sendu.
Bagi diam menatap kedua anaknya. Begitu gencar gerakan yang mereka lakukan demi menyelamatkan Mamanya.
“Ya sudah, kalian pasti lelah. Istirahat lah dulu. Nanti kita bicarakan lagi.” Ucap Bagi pada akhirnya.
***
Senja dan Sena sedang berada di kamar orang tuanya. Mereka merebahkan diri di samping Bagi dan Agia. Walaupun hal ini hanya bisa dilihat oleh Sena seorang.
__ADS_1
“Jadi, kenapa Mama bisa berubah jadi menyeramkan gitu, Ma?” Tanya Sena pada Agia.
“Mama juga enggak tahu. Mama marah sekali karena kamu ditangkap sama orang itu. Bayangan Mama cuma satu, gimana caranya nyelamatin kamu.” Balas Agia. “Mama merasa kalau tubuh Mama jadi panas seperti terbakar api. Tahu-tahu Mama mendekati guru itu.
“Mama bilang apa?” Tanya Senja yang menunggu Sena menerjemahkan bahasa Mama mereka.
“Mama bilang, Mama cuma niruin wajah Kakak aja kok.” Sahut Sena menggoda Senja.
“Lo ngatain gue?” Pekik Senja berbarengan dengan tangannya yang mendarat didada Sena.
Semua tertawa mendengar lelucon dari Sena.
“Intinya, Mama sayang sama kita semua, Kak. Terutama aku.” Ucap Sena lembut.
“Ma,” Panggil Senja. “Mama lebih sayang sama Sena ya dari pada aku?”
Semua terdiam. “Kok yang bisa lihat Mama cuma Sena aja? Aku juga kangen banget sama Mama. Aku mau ketemu Mama.” Ucap Senja lirih. Tanpa terasa air matanya menetes.
Sentuhan dingin dirasakan oleh Senja dikeningnya. Dingin, namun terasa begitu hangat didalam dada. “Mama, aku mau Mama cepat-cepat sadar. Nanti kita tiap hari bobo bareng gini ya, Ma.”
Bagi tersenyum kecil. “Papa enggak perlu bilang apa-apa. Ternyata benar feeling Papa. Mama selalu ada di dekat kita. Apa pun yang terjadi. Papa enggak perlu pengakuan apa lagi pembuktian. Karena, selamanya Mama dan Papa akan tetap jadi satu.”
***
Senja dan Senja kembali ke kamar masing-masing meninggalkan Bagi seorang diri. Tentu saja sendiri, Sena tidak akan membiarkan Agia pergi meninggalkannya lagi. Tidak akan pernah Sena melepaskan tangan Mamanya.
Di kamar Sena, bersama Agia, mereka berbaring bersebelahan.
“Ma, gimana nasib Raya? Dia pasti kesepian sendiri di kebun durian.” Ucap Sena membuka pembicaraan.
“Oh iya! Kok Mama jadi lupa sama Raya. Anak itu ada kaitannya juga sama guru kamu yang kurang ajar itu, Sen. Seperti yang Mama bilang waktu itu, Raya bilang kalau Pak Teguh sebagai Om Jahat. Dia juga sempat bilang kalau Om Jahat itu mengikat tangan dan kakinya. Dia cuma ingat itu.” Ungkap Agia pada Sena.
“Ma, apa perlu kita bantu Raya?”
“Apa kita bisa?” Balas Agia ragu.
“Nanti aku bilang sama kak Doni dan yang lain. Mereka pasti mau bantu kita.” Sahut Sena.
__ADS_1
“Tapi Mama takut, Sena. Ini bahaya.”
“Bahaya gimana, Ma? Pak Teguh kan sudah di kantor polisi. Jadi enggak mungkin akan bahaya, kan?”
“Iya juga, sih. Ya, kalau kita mau ke sana, lebih baik saat siang hari supaya terang. Bahaya kalau malam hari.” Saran Agia.
“Lagian, aku enggak perlu takut apa pun. Kan ada Mama yang akan selalu sama aku.” Balas Sena seraya memeluk Mamanya. “Sena sayang sama Mama. Tapi, kalau peluk-peluk begini, jadi dingin, Ma.” Sambung Sena lagi dan menjauh dari Agia.
“Mama juga sudah bosan begini. Rindu kehidupan Mama yang dulu.” Balas Agia sendu.
“Setelah ini, kita gali lebih dalam masalah Mama, ya?” Sahut Sena membesarkan hati Agia.
“Terima kasih ya, Sayang.”
Dalam diam, Senja menajamkan pendengarannya di depan pintu kamar Sena. “Enggak akan gue biarin kalian bergerak sendirian lagi. Gue harus ikut!” Ucap Senja dalam hati.
***
Bergegas Senja berlari menuju kamar orang tuanya.
“Pa, Papa!” Panggil Senja lirih.
Beberapa saat kemudian Bagi membuka pintu, “Kenapa, Senja? Kok ke sini lagi? Enggak jadi bobo?”
“Pa, dengar dulu. Sena sama Mama ngerencanain sesuatu diam-diam. Kayaknya mereka mau balik ke kebun durian itu. Ada yang kelupaan. Kita harus ikutin mereka, Pa. Bahaya kalau dibiatin sendirian begitu, kan?” Seru raya nyaris berbisik agar tidak terdengar oleh Sena.
“Apa yang kelupaan?” Tanya Bagi heran.
“Aku juga enggak paham betul. Yang aku dengar nama Raya disebutkan. Terus, Pak Teguh juga. Mungkin masih ada kaitannya sama kejadian kemarin itu, Pa.” Balas Senja terus mengompori Bagi agar menuruti sarannya.
“Ya sudah, nanti kamu perhatiin aja gerak-gerik mereka. Jangan biarkan mereka keluar rumah sendirian. Eh berduaan maksud Papa.” Sahut Bagi lagi.
“Betul, Pa. Mendingan hal ini bilang ke polisi aja. Dari pada gegabah. Yang ada nanti malah kenapa-napa kan, Pa.” Senja tidak mau mengurangi kadar mengompori Bagi.
“Iya, Papa paham. Sekarang kamu bobo dulu. Sudah malam ini. Besok Papa juga kerja.” Balas Bagi dengan mata mengantuk.
***
__ADS_1