
Mamaku Hantu
Part 22
Ragil berusaha menghubungi teman-temannya saat SD melalui telepon pintar. Dia ingin mengajak mereka untuk mengunjungi acara kemah yang selalu diadakan sekolahnya dulu setiap pergantian semester ganjil menuju semester genap. Kegiatan ini selalu dinantikan oleh siswa-siswa yang bersekolah di sana tanpa kecuali.
Ragil memiliki ide untuk mengajak teman-temannya agar ikut serta dalam kegiatan jurit malam. Dia ingin merekam wajah-wajah ketakutan peserta kegiatan jurit malam itu, lalu memuatnya dalam kanal Youtube yang ditekuni sejak duduk dibangku sekolah dasar kelas lima.
Walaupun Ragil yakin, guru-guru tidak akan mengizinkan almunus untuk ikut dalam kegiatan itu. Tapi, Ragil sudah mempersiapkan dengan matang aksi ini secara diam-diam. Dia tahu daerah mana saja yang tidak ditunggui oleh guru sebagai landasan pos.
Sebenarnya, Ragil memiliki rasa kekhawatiran saat Senja juga adiknya yang akan menjalani kegiatan itu. Menurut Ragil, perawakan Dara dan Senja banyak kemiripan. Rambut panjang dan lurus menjadi kesamaan paling dasar, ditambah cara bicara Dara maupun Senja yang ceplas-ceplos pun mirip. Terlebih rumor tentang predator anak sempat booming saat dia duduk dikelas enam membuat Ragil semakin tidak bisa menahan diri untuk mengeluarkan rasa cemas. Maka dari itu Ragil memutuskan untuk ikut serta dalam kegiatan ini secara diam-diam.
[Lo enggak punya otak atau gimana?] Balas Riki sesaat setelah Ragil mengirimkan ajakan untuk ikut dalam kegiatan jurit malam.
[Ada, nih. Coba periksa kepala gue. Otaknya super keriting menandakan gue sangat cerdas dan berpotensi untuk menciptakan nuklir.] Balas Ragil.
[Nuklir kepala lo bau bulu kucing liar yang enggak pernah mandi? Lo pikir gue berminat untuk jadi santapan predator?]
[Lagian, memangnya ada teman-teman lain yang mau ikut?] Balas Riki.
[Belum ada tanggapan dari yang lain. Kalau misalnya enggak ada, kita berdua aja yuk, Ki! Enggak mungkin predator nangkap kita. Secara tinggi kita aja udah hampir 160 cm, mana mungin dianggap bocah. Kalau pun ketemu predator, biar gue rekam dan gue sebarin sekalian.] Jawab Ragil.
Lama Ragil menunggu, namun Riki tak kunjung membalas pesannya.
Ragil memutuskan untuk mempersiapkan segala keperluan untuk merekam aktivitas jurit malam tiga hari lagi. Mulai dari sepatu olah raga hitam bergaris merah, celana jogger berwarna hitam, hingga baju hoodie abu-abu atau baju berlengan panjang yang dilengkapi dengan penutup kepala. Ragil meletakkan set pakaian itu di dalam lemari bagian bawah agar memudahkannya untuk mengambil.
Ragil lalu mengambil tas ransel berwarna senada dengan celana joggernya. Kamera bekas yang dibelinya saat mendapatkan royalti dari beberapa iklan pun menjadi benda pertama didalam tas. Memori kamera tersebut pun telah dikosongkan ya. Dua baterai cadangan diselipkan didalam kantung kecil bagian dalam. Kemudian Dia meletakkan lampu senter kecil yang dia pesan melalui aplikasi belanja. Walaupun kecil, sinar dari lampu ini sangatlah besar dan juga jangkauannya jauh. Pengisian daya menggunakan adaptor dan kabel untuk disambungkan kelistrik. Namun, daya baterai juga bisa digunakan. Ragil menuliskan catatan penting dalam pikirannya agar membeli baterai cadangan untuk berjaga-jaga.
Masih ingat betul Ragil dengan lokasi jurit malam terakhir yang mengharuskan peserta melewati perkebunan kecil dengan banyak ditumbuhi pohon durian, pohon rambutan, juga pohon pisang. Walaupun panjang perkebunan itu tidak sampai lima kilometer, lebarnya pun hanya dua kilometer, namun sangat memacu adrenalin siapa saja yang melewatinya. Penerangan hanya didapat dari sinar bulan saja. Maka dari itu, anak-anak diharuskan untuk membawa lampu penerangan agar memudahkan kegiatan tersebut.
Mental anak-anak sangat dilatih di sini. Bagaimana mereka menjaga satu sama lain, juga menguatkan teman satu kelompoknya agar bertahan sampai akhir kegiatan.
__ADS_1
Saat itu Ragil berada dalam kelompok yang berdeda dengan Dara. Namun, desas-desus hilangnya terdengar setelah kegiatan berakhir. Teman sekelasnya gempar saat orang tua Dara mendatangi sekolah untuk mempertanyakan keberadaan anak perempuan mereka.
Beberapa guru meyakini jika Dara sudah pulang dijemput oleh seseorang setelah kegiatan jurit malam selesai. Tepatnya pukul tujuh pagi. Namun, teman-teman yang berada dalam satu kelompok dengannya mengatakan bahwa Dara tidak ikut serta dalam kegiatan jurit malam.
Kepolisian pun dikerahkan dalam pencarian Dara sampai beberapa waktu. Guru-guru diperiksa, juga warga sekitar turut menjadi tujuan penggalian informasi oleh polisi.Sayang sekali, hingga kini keberadaan Dara tidak pernah terdengar lagi.
Setelah kejadian hilangnya siswa saat kegiatan perkemahan, membuat pihak sekolah tidak mengadakan lagi tahun berikutnya. Entah apa yang menjadi pertimbangan oleh guru-guru untuk mengadakannya kegiatan tahunan kembali tahun ini.
Ragil memiliki perasaan tidak baik dengan kegiatan ini. Bisa saja predator pemangsa anak-anak kembali berulah. Keamanan adik-adik yang tidak dikenalnya seolah terancam. Disatu sisi, Ragil ingin melihat wajah-wajah ketakutan mereka. Namun, disisi lainnya, Ragil ingin mencari bukti hal-hal mencurigakan yang bisa saja terjadi selama perkemahan.
Ragil pun yakin, kalau izin tidak akan pernah didapatkannya dari orang tua untuk melakukan kegiatan berbahaya ini. Maka dari itu, dia memiliki rencana untuk menggunakan Riki sebagai tameng. Ragil akan mengatakan bahwa dirinya menginap di rumah Riki.
***
Terjadi kegaduhan yang dibuat oleh Senja dan Sena tentang barang bawaan untuk kegiatan kemah akhir minggu ini. Sena tetap tidak mau membawa begitu banyak barang-barang yang dirasa tidak perlu. Namun, Senja tidak mau melonggarkan aturan yang telah dia buatnya sendiri.
“Pemikiran dari mana sih, Kak, kalau bawa lampu senter itu harus dua?” Tanya Sena tidak habis pikir saat melihat lampu senter genggam dan lampu senter kepala didalam tas besar berwarna cokelat.
“Pemikiran orang cerdas dan cemerlang kayak aku, lah! Memangnya kamu! Udah deh, Kakak kan udah pernah ikut acara kemah ini, jadi lebih tahu dari pada kamu. Ngikut aja kenapa, sih?” Sahut Senja sambil mengecek lagi apa-apa saja yang kemungkinan lupa dia masukkan.
Senja hanya melirik wajah adiknya yang kini berubah seperti ibu-ibu yang hendak diserobot antriannya.
“Ini lagi. Kaos kaki ada tiga pasang. Kak! Please! Kita itu kemahnya cuma satu malam, bukan satu minggu!” Sena ingin melempar kaos kaki yang telah digulung membentuk bola oleh Senja.
“Kalau kaos kaki kamu basah, kan masih ada cadangan. Lagian enggak memakan tempat kok. Bawa saja.” Sahut Senja santai sambil duduk di lantai melipat baju bersih untuk di rumah. Mau tidak mau sebagian pekerjaan Agia diambil alih oleh Senja.
“What? Untuk apa bawa benang dan jarum, Kak? Mau buka kursus menjahit? Apa kata teman-teman aku kalau lihat ginian? Dijamin sampai reuni tujuh puluh tahun lagi aku pasti diejek, Kak.” Sena tiba-tiba tidak ingin mengikuti acara perkemahan itu setelah melihat tempat jarum berbentuk bulat dengan ukuran jarum yang berbeda-beda didalamnya.
“Ada apa sih kalian ini ribut terus? Enggak pernah Papa dengar kalian ini ngobrol kayak manusia yang tinggal di dalam rumah. Selalu aja ribut teriak-teriak kayak lagi nonton perlombaan tarik tambang.” Bagi mendekati keributan di ruang TV.
“Pa. Aku enggak jadi ikut kemah deh. Malas!” Ucap Sena merajuk
__ADS_1
“Cengeng banget sih ni anak. Segitu aja ngambek!” Balas Senja.
“Dari pada Kakak, manusia super repot nan menjelimet.” Balas Sena.
“Masih bagus aku mau bantuin siapin perlengkapanmu, malah ngatain aku repot.” Senja masih tidak mau kalan membalas jawaban Sena.
“Woi, woi! Udah kelar belum? Papa tinggal nih. Papa di rumah sakit aja nemenin Mama. Biar sekalian Papa ikutan pingsan aja deh.”
Senja dan Sena akhirnya diam.
Bagi mendekat ke arah Sena. “Mana perlengkapan yang Sena enggak mau bawa?”
“Pa, coba lihat. Colokan listrik, Pa. Logika dari mana yang dipakai landasan sama Kakak, coba? Memangnya untuk apa aku bawa colokan listrik kayak gini?”
Tanpa disadari Bagi tersenyum menyetujui anak bungsunya, bahwa Senja memang berlebihan dalam mempersiapkan keperluan kemah untuk adiknya. “Oke, colokan listrik enggak perlu dibawa.”
“Tapi, Pa. Nanti kalau perlu gimana?” Sanggah Senja cepat.
“Bawa satu saja ditas Senja. Nanti kalau Sena perlu, biar pinjam sama kamu.” Sahut Bagi menengahi. Senyum Sena tersungging penuh kemenangan.
“Enggak akan gue pinjemin lo bocah licik.” Balas Senja garang.
“Apa lagi?” Tanya Bagi.
“Ini sereal instans masak aku dibawain tiga. Nanti aku disangka mau buka warung sama teman-teman.” Protes Sena.
“Ya sudah, bawa dua saja. Benar juga Kakakmu. Kalau lapar gimana? Kan tinggal minta air sama guru di sana.” Balas Bagi. Sena hanya merengut karena melihat lidah Senja terjulur meledeknya.
“Udah, Pa. Udah cukup segitu aja koreksinya. Yang lain pasti perlu.” Senja mencegah Bagi untuk memeriksa tas adiknya.
“Benang dan jarum, Pa. Ayo lah! Kegiatan kemah macam apa sih yang perlu pakai benang dan jarum?” Sena masih berusaha untuk mengurangi isi tasnya.
__ADS_1
Bagi menoleh Senja yang terlihat salah tingkah. Tidak mau terlihat membedakan anak, Bagi memutuskan untuk memihak Senja kali ini.
“Iya kali aja perlu. Bawa saja. Kan tidak kelihatan. Taruh saja di bagian dalam. Enggak akan kelihatan sama teman-teman.” Jawab Bagi. Sena hanya mampu memutar bola matanya heran.