Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 32


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 32


Ibu Siti memandang Leri tajam. “Pak Leri belum pulang? Kok masih ada di sini?” Tanya Bu Siti sinis.


“Iya sama Pak Har disuruh tinggal dulu. Takut nanti ada masalah teknis atau apa gitu.” Jawab Leri sesaat setelah meletakkan tubuhnya di antara Bu Siti dan Pak Guntur.


“Bukannya malah akan ada masalah kalau situ ada di sini?” Balas Bu Siti melemahkan volume suaranya.


“Gimana, Bu?” Tanya Leri meyakinkan pendengarannya.


“Ah, enggak. Memangnya tadi Pak Leri datang dari mana?” Bu Siti kemudian ingin memastikan keberadaan Leri sebelum berada di area dekat api unggun.


“Saya ke toilet, Bu.” Balas Leri disertai dengan senyuman.


“Saya enggak lihat Pak Leri di toilet.” Sanggah Bu Siti berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa sedari tadi Leri tidak terlihat di sekitar toilet.


“Mungkin karena terlalu gelap. Kalau Ibu tidak percaya, boleh tanya kepada siswa yang bernama siapa ya tadi,” Leri berusaha mengingat dengan kekuatan penuh. “Sena ya? Sena sepertinya nama anak tadi.” Jawab Leri dengan yakin, walaupun dia tidah tahu pasti siapa nama anak tadi.


“Oh…” Jawab Bu Siti, “awas aja lo bohongin gue, gue lempar lo pake kayu api.” Tambah Bu Siti dengan volume suara rendah.


“Apa, Bu?” Tanya Leri tidak jelas mendengar perkataan Bu Siti.


”Saya barusan nyanyi.” Jawab Bu Situ sinis, malas membalas ucapan Leri.


“Mantap nih Bu Siti. Ayo nyanyi, biar saya yang main gitar.” Sambung Pak Guntur.


“Malas ah, udah ngantuk. Nanti perlu tenaga untuk nemenin anak-anak.” Bu Siti menjawab sambil menatap layar telepon genggamnya. Dia lebih memilih untuk melihat aktivitas dunia maya.


“Yaaah, Bu Siti enggak asik. Ya sudah, Pak Leri aja yang nyanyi, ya.” Pinta Pak Guntur sambil mengambil gitar yang sedari tadi tidak memiliki jari jemari untuk menggelitik senarnya.


“Sama-sama lah, biar sama-sama jelek.” Kilah Leri.


Mereka berdua lalu tertawa bersama mendengar gurauan Leri.


***


Agia terus memperhatikan gerak-gerik Leri. Dirinya yakin sekali kalau Leri itu bukan orang baik.

__ADS_1


Namun sayang, Leri tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan.


Kemudian Agia melihat anak perempuan mengintip dari balik pohon pisang, jauh dari api unggun. Agia mencoba untuk berkenalan dengan anak itu. Sayangnya, dia berjalan menjauh dengan cepat dan menghilang dari pandangan.


Agia bingung dalam mengambil keputusan, apakah harus mengejar anak itu, atau tetap berada dekat dengan Leri. Dirinya khawatir jika terjadi sesuatu dengan anak-anaknya. Agia mengingat bagaimana upaya Sena sebelumnya dalam mencari banyak informasi dari laki-laki bernama Leri ini.


Agia akhirnya memilih diam dan tetap memerhatikan gerak-gerik Leri.


“Nanti jurit malam lewat mana, Pak Guntur?” Tanya Leri sesaat setelah beberapa lagu usai mereka nyanyikan.


“Jalur biasa, Pak.” Sahut Pak Guntur. Dia meletakkan gitar di sampingnya. Dengan segera Pak Guntur memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket tebal. Semakin malam, udara di tengah lapangan semakin dingin.


Leri melirik Pak Guntur. “Apa tidak apa-apa?”


Pak Guntur menatap tajam mata Leri, “jangan bicara keras-keras, nanti kalau ada yang dengar, bisa bahaya. Mereka akan berpikir yang bukan-bukan. Bersikap biasa saja, seperti enggak pernah terjadi apa-apa.” Balas Pak Guntur dengan volume rendah, nyaris berbisik.


Agia mengernyitkan keningnya, “memangnya pernah terjadi apa?” Batin Agia yang sibuk mencuri dengar percakapan guru-guru di sekitar api unggun.


Sekelebat bayangan kembali menarik perhatian Agia. Anak perempuan tadi kembali menunjukkan keberadaannya. Agia berjalan cepat agar bisa segera mendekati anak itu. Anak itu pun cepat-cepat pergi meninggalkan posisi awalnya.


“Tunggu! Saya bisa lihat kamu, kok.” Teriak Agia mencegah kepergian anak perempuan itu. Dia pun berhenti dan segera membalikkan badan. Agia memprediksi jika anak ini seumuran dengan Sena. Rambut pendeknya melewati telinga dengan poni yang menutupi seluruh dahi. Anak perempuan itu mengenakan baju kaos berwarna biru dengan celana pendek berwarna cokelat.


“Kamu terganggu karena ada ramai-ramai ya?” Tanya Agia lagi. Agia memutuskan untuk melangkahkan kaki agar lebih dekat lagi dengannya.


“Saya, saya ini bukan manusia, kok. Sama kayak kamu.” Agia mengatakannya dengan senyum hangat. Anak itu terlihat tertarik dengan ucapan Agia.


“Iya, benar. Saya juga hantu. Sama kayak kamu. Cuma ya gitu, sampai sekarang saya belum tahu kenapa saya bisa jadi hantu, apa lagi pelakunya, saya enggak punya ide untuk menebak siapa orangnya.” Agia menjelaskan anak perempuan itu dengan ceria agar dia tidak takut untuk berdekat dengannya.


“Minta tolong saja sama Prabu Lanang.” Jawab anak itu tiba-tiba dengan antusias.


Agia menaikkan alis karena terkejut. “Apakah Prabu Lanang ini sama dengan yang ditemui oleh Eka beberapa tahun yang lalu? Prabu Lanang sepertinya terkenal diantara jiwa-jiwa yang tersesat seperti aku.” Pikir Agia dalam hati.


“Dimana saya bisa bertemu dengan Prabu Lanang?” Tanya Agia antusias.


Anak perempuan itu menggeleng lemah. “Prabu Lanang akan datang sendiri. Enggak bisa dicari.”


“Nama kamu siapa?” Tanya Agia karena merasa anak perempuan itu mulai merespon dan tertarik dengannya.


“Kayaknya sih nama saya Raya. Saya enggak yakin, Tante.” Sahut anak perempuan itu.

__ADS_1


“Memangnya kamu sudah lama seperti ini?”


“Kayaknya sih gitu. Saya bolak-balik terus ke lapangan dan ke dalam kebun. Saya juga enggak ngerti. Yang saya ingat cuma,” balas anak perempuan itu ragu.


“Cuma apa?” Tanya Agia mencari tahu.


“Yang saya ingat, Om itu mengikat tangan dan kaki saya.” Balasnya sambil mengangkat jari menunjuk ke arah api unggun.


“Om yang mana?” Tanya Agia sambil memandang ke arah orang-orang di sekitar api unggun.


“Yang itu.”


Mereka berdua kemudian terkejut karena Pak Hartanto muncul dari dalam kebun.


Wajahnya terlihat memendam kemarahan.


“Kamu tahu siapa dia, Raya?” Tanya Agia.


“Tahu. Kepala sekolah.” Jawab Raya datar tanpa berhenti mengalihkan tatapannya kepada Pak Hartanto. Kedua matanya memicing seperti hendak memfokuskan pengelihatan kepada Pak Hartanto.


“Ngapain kepala sekolah itu di kebun?” Mereka berdua memperhatikan Pak Hartanto yang berjalan dengan langkah kaki cepat.


“Dari tadi dia mondar-mandir lihat ini dan itu.”


“Apa yang di lihatnya?”


“Mbak Dara.”


***


Selamat semua. Mohon maaf sampai Part 32 ini terasa sangat lambat, pendek, dan juga singkat. Ada sesuatu hal yang harus dilakukan dikehidupan nyata. Hehehe


Tapi semoga hari Minggu sudah bisa menulis dengan santai tanpa kendala. Jadi, saya siap masuk dan membawa pembaca sekalian ke dunia halusinasi dengan ide dan cerita yang lebih panjang lagi. Tapi tetap akan memusingkan pembaca, memang itu tujuan saya. Hehe (lagi).


Semoga pembaca sekalian tidak bosan ya dengan gaya saya menulis. Jangan lupa dicermati dengan baik, karena akan berkesinambungan juga dengan cerita pada judul berikutnya.


Semoga semua sehat selalu yaaaa


Salam sayang,

__ADS_1


Intan Pandan.


__ADS_2