Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 78


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 78


Ragil membuka paket yang tiba beberapa menit sebelumnya.


Pengemasan yang dilakukan oleh pemilik toko sangat apik. Alat penyadap suara itu dibungkus dengan menggunakan bubble wrap atau pembungkus gelembung udara berukuran kecil, dengan bertujuan untuk melindungi barang yang akan dikirim dari gesekan atau bertubrukkan dengan paket lainnya.


Alat penyadap itu berwarna putih metalik. Ukurannya kecil seukuran ibu jari orang dewasa. Sama persis dengan alat penyimpanan data secara kilat, atau sering disebut dengan flashdisk.


Ragil antusias membuka kemasan berbahan mika dan segera mendapatkan benda kecil berbentuk persegi panjang itu dalam genggamannya.


Ragil membolak-balikkan benda itu dan mendapati sebuah tombol on dan off pada sisi samping. Ragil menekannya, kemudian lampu kecil diujung berlawanannya menyala berwarna merah. “Oh, mungkin kedip-kedip lampu merah ini artinya sedang merekam suara.” Ucap Ragil sendirian di dalam kamarnya. Ragil kemudian membuka tutup alat tersebut, terlihat ujung alat yang berfungsi untuk menyambungkan pada perangkat lain seperti komputer atau televisi. “Wah, setelah merekam, alat ini bisa langsung menyimpan. Keren juga, nih! Bisa langsung diputar sepertinya.”


Ragil kemudian membaca buku petunjuk yang disertakan oleh penjual dalam hati. “Ternyata alat ini sering dipakai untuk merekam seminar, atau hasil meeting. Gue kira banyak yang minat untuk nguping pembicaraan orang lain.” Ucap Ragil tersenyum malu dengan pikirannya sendiri.


Tangannya dengan cepat bergerak untuk membuat group pembicaraan melalui aplikasi. Ragil memberikan nama Minions pada group tersebut. Dirinya kemudian mengetik pesan yang ditujukan kepada anggota group.


[Woy, minions. Mulai skrg kalo ada yg mau dibahas lewat group ini, ya!]


[buset! Minions! Oke kapten!] balas Doni menyetujui ide Ragil.


Ragil lalu mengambil gambar alat penyadap dan segera mengirimkan pada group Minions. Tidak lupa Ragil menyertakan informasi pada gambar yang dikirim itu. [Gue nemu alat canggih. Tapi blm gue coba, sih. Ada yang bs nebak gak ini apaan?]


[flashdisk lah. Lo pikir gue senorak itu sampe gak tau?] balas Senja cepat.


Ragil tersenyum penuh kemenangan. Dirinya sudah menduga kalau Senja akan memberikan respon seperti itu.


[salah.] balas Ragil tanpa menghilangkan senyum nakal dari wajahnya. [ini alat penyadap suara.]


[gercep amat lo gil.] balas Riki tidak percaya jika usahanya daam menemukan alat untuk operasi selanjutnya telah didahului oleh Ragil.


[ya dong. Ngapain lama2.] balas Ragil. Kemenangan masih menguasai perasaan Ragil.


[harga brp?] balas Riki kembali mengirimkan pesan.

__ADS_1


[280 sama ongkir] balas Ragil cepat


[gak mahal ya.] balas Riki lagi.


[berfungsi gak? Taunya malah beli sampah.] sahut Senja masih menyimak percakapan anggota group yang lain.


[iya bawel. Nanti gw cb. Brisik lo.]


“Kak Ragil!” Panggil Sena dari luar rumah.


Ragil mendongakkan kepala karena mendeteksi panggilan seseorang dari luar sana.


[yg lebih gercep malah Sena. Doi lg ddpn rmh gw. Pasti mau liat alat ini. Cabut dulu. Bye minions!] ketik Ragil berpamitan sebelum menjumpai Sena di depan rumah.


***


“Penasaran ya, Sen? Yuk sini, masuk aja!” Panggil Ragil dari pintu teras rumahnya.


Sena menggeser pintu gerbang rumah Ragil agar terbuka. “Gue masuk ya, Kak. Permisi.” Ucap Sena sebelum melangkahkan kakinya memasuki rumah Ragil. “Tante kemana, Kak?” Tanya Sena saat melihat keadaan rumah Rahil terlihat sepi.


Sena menuruti dan mengikuti langkah kaki Ragil. Ini bukan kali pertama Sena mengunjungi kamar Ragil. Namun, bukan berarti dia bisa masuk tanpa diundang.


“Nih, Sen. Kecil mungil banget. Gue yakin orang tua Dara enggak akan tahu.” Ucap Ragil seraya menunjukkan benda kecil di atas kasur, masih lengkap dengan bungkusan paket dari penjualnya.


Sena mengambil alat penyadap itu dan melihatnya dengan hati-hati juga seksama.


“Kita coba yuk!” Ajak Ragil antusias.


“Gimana caranya, Kak?” Tanya Sena sambil meletakkan bokongnya di atas kasur Ragil.


Ragil lalu mengambil kembali alat penyadap itu dari tangan Sena.


“Dari petunjuknya sih cuma nyalakan tombol on ini. Lalu, berfungsi deh.” Balas Ragil seraya menekan tombol on pada sisi samping alat penyadap suara. “Tes tes a b c gue orang hebat la la la he he he.” Ucap Ragil kemudian dengan mendekatkan alat itu pada mulutnya.


Sena tertawa kecil mendengar kata-kata yang diucapkan oleh tetangganya itu.

__ADS_1


“Coba agak jauhan dikit, Kak.” Pinta Sena pada Ragil.


Ragil kemudian meletakkan alat penyadap itu di atas meja belajarnya. “Dari sini nih, kedengeran juga kan kan kan suara gue. Halo halo Bandung ibu kota la la la la.”


Ragil kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar, “gue mau coba dari luar kamar. Kedengeran atau enggak, ya?”


Sena masih duduk sambil memerhatikan gerak gerik Ragil. “Tapi ngomongnya jangan keras-keras, Kak. Biasa aja. Kedengeran juga atau enggak. Kalau keras pasti kedengeran dong.” Ucap Sena memberikan saran.


“Di sini senang, di sana senang, dimana-mana kemana-mana.” Ucap Ragil dari luar ruangan.


Tidak berapa lama wajah Ragil menyembul dari balik pintu, “lo mau minum, Sen?” Tanya Ragil masih ingat dengan peraturan dalam menerima tamu.


“Enggak usah repot, Kak. Kayak nawarin tamu yang rumahnya jauh banget aja deh.” Balas Sena menolak tawaran Ragil.


“Kali aja lo haus gitu. Kan nyebrang dari rumah lo ke sini itu perlu perjuangan yang cukup besar.” Balas Ragil seraya mengambil alat penyadap itu. Tangan Ragil kemudian bergerak membuka laptop dan menghidupkannya.


“Kita coba cek sama-sama. Apakah alat ini berfungsi dengan baik?” Ucap Ragil kemudian.


Ragil lalu memasangkan alat itu pada tempat semestinya. Sedetik kemudian muncul kotak informasi yang memberitakan bahwa sebuah perangkat telah terpasang pada laptop milik Ragil. Dengan gesit Ragil menekan-nekan sehingga sebuah suara milik Ragil terdengar dengan sangat jernih. “Tes tes a b c gue orang hebat la la la he he he.”


“Jelas banget, Sen!” Seru Ragil semangat karena benda kecil temuannya pada market place sangat memuaskan.


“Coba kita tunggu bagian yang Kak Ragil diluar kamar.” Sahut Sena tidak kalah semangat dari Ragil.


Ternyata, keseluruhan suara terdengar dengan sangat baik. Walaupun volume suara Ragil saat berada di luar kamar terdengar lebih kecil. Tidak masalah, karena pengaturan volume bisa dilakukan dengan sangat mudah.


“Fix! Kita bisa segera bergerak untuk memata-matai orang tua Dara.” Ucap Ragil semangat.


“Tapi, Kak. Memangnya tahan berapa lama alat ini?” Tanya Sena kemudian.


“Dari petunjuknya sih delapan jam.” Sahut Ragil.


“Terus gimana, tuh? Kalau keburu habis baterainya, gimana? Tanya Sena lagi.


“Nanti kita cari jalan keluarnya. Yang penting, kita punya alat perekam yang bisa dijadikan sebagai pencari bukti kalau orang tua Dara itu memang ngejual Dara ke Pak Hartanto. Ya, enggak?”

__ADS_1


***


__ADS_2