Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 11


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 11


“Agia ada di toko?” Tanya Dewi kepada Sutustini yang sedang merapikan tata letak bunga-bunga yang baru datang dikirim oleh Pak Gede, pemasok bunga hias.


“Eh Ibu, Mbak Agia belum datang, Bu. Mungkin masih di perjalanan menjemput anak-anak.” Sahut Sutustini.


“Ya sudah. Ini saya bawakan bunga untuk toko. Boleh ditanam di belakang.” Ucap Dewi sambil menyerahkan lima pot berisikan bunga berwarna kuning, merah, putih, merah muda, dan ungu.


“Bunga apa ini, Bu?” Tanya Sutustini sambil memperhatikan bunga-bunga cantik dengan daun yang rimbun seperti semak belukar.


“Adalah, bunga apa saya juga lupa namanya. Tanam di belakang ya, biar jadi banyak. Saya pulang dulu.” Ucap Dewi cepat lalu meninggalkan toko.


“Siapa, Tin?” Rania muncul dari dalam gudang penyimpanan.


“Ibunya Kak Bagi, Ran. Bawa bunga-bunga ini. Kita disuruh tanam di belakang.” Sahut Sutustini.


“Ya sudah, sana tanam.”


“Bareng-bareng dong. Masak gue sendiri.”


“Ish, jadi pegawai kecil kok manjanya kayak orang ningrat!”


“Biarpun cuma pegawai, siapa tahu beneran jadi ningrat.”


***


Bunda Agia sibuk berkutat dengan bahan-bahan untuk dibuatkan makan siang serta camilan untuk cucu-cucunya.


Sementara yang lain sedang membahas penyebab Agia dalam kondisi seperti sekarang.


“Gi, coba kamu cerita ke Ayah, kegiatan setiap hari kayak apa? Siapa tahu kita bisa dapat petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi. Siapa tahu juga kamu pernah ngelakuin kesalahan, kan?”


“Apa ya? Bangun pagi, antar anak-anak. Ke pasar, terus ke toko, pulang ke rumah. Masak. Jemput anak-anak sekolah. Terus pulang. Enggak ada yang spesial, Yah.” Jawab Agia.


Senja diam menunggu Kakeknya yang sedang berbicara dengan angin.


“Mama bilang apa, Kek?” Senja tidak dapat menahan rasa penasarannya.


“Diam dulu, Kak.” Balas Sena.


“Besok kita ke pasar tempat kamu biasa belanja ya, Gi. Terus kita ke toko. Kita ulang semua hal yang biasa kamu lakukan.” Ucap Ayah Agia lagi.


“Memang harus begitu, Yah?”


“Kita coba aja, Ma. Siapa tahu Mama jadi ingat sesuatu, kan?” Jawab Sena.


Senja yang merasa sangat tidak nyambung memutuskan untuk membantu Neneknya saja.


“Huh! Aku enggak ngerti kalian bahas apa. Aku ke dapur aja deh bantu Nenek.”


Sena dan Ayah Agia hanya meliriknya sekilas. Mereka kembali melanjutkan obrolan.


“Untung aja Kakek bisa lihat Mama. Aku jadi enggak ngerasa takut lagi.” Ujar Sena.


“Memangnya Sena takut?” Agia bertanya heran.


“Iya, Ma. Aku ngerasa ada yang enggak beres sama diri aku. Kalau ada teman kayak Kakek, aku jadi lebih tenang.”

__ADS_1


“Mungkin faktor keturunan. Buktinya kita bertiga sama-sama bisa lihat begituan kan?” Sahut Ayah Agia.


***


Berbekal kecurigaan Rania terhadap Silvi, Bagi memutuskan untuk berkunjung ke toko setelah dari rumah sakit. Rania menyarankan agar Bagi datang setelah jam lima sore. Biasanya Silvia akan pulang sekitar jam lima sore.


Toko bunga terlihat sepi pengunjung. Karena pelanggan tidak harus berkunjung ke toko jika ingin melakukan pengorderan. Cukup melalui online, semua bisa dikerjakan. G Florist juga melakukan pengiriman secara gratis jika masih ruang lingkup dalam kota.


Bagi melangkah masuk dan mendapati Sutustini sedang menyapu bekas potongan-potongan tangkai tanaman yang tidak diperlukan.


“Eh, Kak Bagi. Tumben ke toko, Kak.” Sapa Sutustini terkejut dengan kehadiran Bagi tanpa salam.


“Iya ada yang mau saya lihat di kantor. Silvia ada?” Tanya Bagi langsung.


“Baru saja Silvi pulang, Kak.” Jawab Sutustini.


“Ya sudah saya ke dalam sebentar ya.” Balas Bagi.


Ternyata pintur ruangan Silvia terkunci. “Pintunya memang biasa dikunci ya?” Tanya Bagi memastikan.


“Iya, Kak. Memang dari dulu dikunci. Tapi Mbak Agia punya kunci cadangannya kok, Kak.” Jawab Sutustini meyakinkan Bagi.


Tak habis ide, Bagi berjalan menuju mobilnya. Dia memeriksa isi mobil untuk mencari keberadaan kunci ruangan Silvia. Keberuntungan memihak Bagi. Kunci menemukan sebuah kunci asing yang tidak dikenalnya. Kunci tersebut ditemukan di salam laci bawa dashboard. Bagi berharap semoga ini kunci ruang kantor toko bunga.


Bagi lalu kembali ke dalam toko dan mencoba untuk membuka pintu. Dalam sekali coba Bagi berhasil.


Bagi segera menutup pintu lagi. Dia tidak ingin aktifitasnya di daam terlihat oleh pegawai.


Bagi mengedarkan pandangan di dalam. Hanya ada meja dan kursi kerja di tengah- tengah. Di sampingnya terdapat lemari untuk menyimpan data.


Bagi mendekati meja kerja. Berbagai macam buku ditemukannya di atas meja. Bagi membuka satu persatu. Ada buku orderan, buku penjualan harian, buku laporan bulanan, juga buku laporan tahunan.


Bagi memutuskan untuk memeriksa komputer. Dia tekan tombol tenaga dan menunggu proses kerja komputer di toko Agia.


Muncul sebuah kotak pemberitahuan bahwa pengguna harus mengisi kata sandi untuk memasuki komputer tersebut.


Bagi memejamkan mata, dia sedang menduga-duga apa kata sandi yang tepat untuk membuka komputer ini.


Bagi mencoba kesempatan pertama dengan kata gflorist. Gagal.


Percobaan selanjutnya adalah tokobungaku. Masih tetap gagal.


Bagi diam sebentar. Lalu dia mengambil telepon genggamnya dan menghubungi Silvia.


Tidak memerlukan waktu lama, Silvia segera menjawab panggilannya.


“Iya Kak Bagi. Ada yang bisa aku bantu?” Jawab Silvia di seberang telepon.


“Sil, gue minta kata sandi komputer di toko dong.” Jawab Bagi langsung tanpa berbasa-basi.


Terdengar jeda dari seberang telepon.


“Halo, Sil.” Bagi memastikan jika telepon masih tersambung


“I-iya, Kak. Ada keperluan apa Kak Bagi dengan komputer di toko? Besok biar aku carikan dan bawa ke rumah, Kak.”


“Enggak perlu. Biar gue cari sendiri. Ayo cepat apa kata sandinya.” Balas Bagi dengan nada menuntut.


“Eee. Kak Bagi sekarang ada di toko? Biar aku ke sana ya, Kak.” Jawab Silvia masih berusaha mengalihkan.

__ADS_1


“Enggak perlu. Bisa kasi tahu gue kata sandinya apa?”


“Punyasilvia. Kata sandinya punyasilvia, Kak.” Jawab Silvia malas.


Bagi mengernyitkan keningnya saat mendengar kata sandi dari Silvia.


Bagi segera mencoba. Terbuka. “Oke, terima kasih.” Sahuy Bagi singkat dan segera menutup sambungan teleponnya.


“Apa dia bilang? Punya Silvia? Bisa-bisanya dia menganggap toko ini punya dia?” Ujar Bagi dalam hatinya.


Bagi tidak tahu harus memulai dari mana. Bagi kemudian menghubungi Darmawan.


“Wan, posisi lagi di mana?” Tanya Bagi begitu sambungan telepon berhasil meraih Darmawan.


“Enggak ada kemana, Pak. Di rumah saja. Ada yang bisa saya bantu, Pak.” Jawab Darmawan.


“Sebenarnya saya malu kalau harus terus merepotkan. Tapi saya sekarang dalam keadaan genting dan tidak bisa keluar untuk membeli memori tambahan untuk komputer. Apa bisa kamu bantu saya untuk membeli, Wan?”


“Untuk apa, Pak?”


“Untuk memindahlan data. Ada sekitar empat puluh giga byte data yang harus saya pindahkan.” Bagi menjelaskan secara umum maksud tujuannya.


“Tunggu sebentar, saya segera meluncur. Dibawakan kemana, Pak?”


“Ke toko bunga istri saya. Akan saya bagikan letaknya lewat aplikasi ya, Wan.”


“Baik, Pak.” Tanpa menunggu lagi, Darmawan segera memenuhi permintaan Bagi.


Sambil menunggu kedatangan Darmawan Bagi memulai memeriksa secara umum apa saja isi komputer ini. Bagi memang tidak pernah sekali pun ikut campur dalam usaha istrinya. Menurutnya, usaha ini adalah bagian dari Agia, bukan bagian dari hubungan mereka. Tidak sewajarnya jika Bagi ikut campur dalam pengelolaannya.


Bagi akan membantu dengan senang hati jika Agia memerlukan bantuannya. Namun, Bagi tidak tahu secara detail tentang ***** bengek keseluruhan G Florist.


Seperti sekarang, ternyata banyak hal yang harus diperiksa. Bagi memutuskan untuk membuka data penjualan sebulan terakhir. Dia akan mencocokkannya dengan data yang diberikan oleh Rania.


Ternyata ada selisih penjualan sebesar tiga juta rupiah.


Dada Bagi bergemuruh membayangkan betapa sedih Agia jika tahu usaha kecil yang dirintisnya dengan susah payah, harus dikelabui seperti ini. Bagi segera merapikan nota-nota penjualan serta tanda terima pembelian bunga dari pemasok. Semua dijadikannya dalam satu tas besar yang telah Bagi siapkan di dalam mobil.


Tidak berapa lama kemudian, Darmawan datang membawa memori eksternal. Bagi bergegas memindahkan data-data yang diperlukannya.


“Ada apa, Pak?” Darmawan tidak tahan dengan rasa penasarannya.


“Audit di perusahaan istri.” Jawabnya singkat tanpa memindahkan pandangannya dari komputer.


“Ada indikasi penyelewengan, Pak?” Darmawan lalu mendekati meja kerja.


“Sementara baru ketemu tiga juta. Belum menyelam lebih dalam. Sudah keburu panas di sini.” Bagi menunjuk dadanya.


“Bapak perlu bantuan?”


“Enggak, Wan. Saya merasa bertanggung jawab dengan anak pertama istri saya yang dibesarkannya sebelum menikah dengan saya.”


Darmawan memandang Bagi prihatin. Dia tahu betul seberapa besar rasa cintanya kepada istri. Bagi juga beberapa kali bercerita tentang perjuangannya dulu untuk mendapatkan restu dari Ibunya. Walaupun di dalam rumah tahanan, Ibunya masih memegang teguh keputusan-keputusan yang akan Bagi ambil.


Dewi masih sering menyayangkan jika keberadaan Agialah yang menjadi penyebab dirinya berada di dalam tahanan.


Tapi Bagi terus berjuang untuk meyakinkan Dewi agar lebih membuka pikiran dan hatinya menerima Agia sebagai bagian dari hidup Bagi.


Darmawan memindai ruangan kecil di dalam toko bunga ini. Dia lalu berjalan menuju rak buku di sudut ruangan. Tidak ada yang aneh. Sampai dia menemukan sebuah kotak kayu. Pelan-pelan Darmawan membuka, matanya membesar setelah melihat isi di dalam kotak itu.

__ADS_1


“Pak, lihat ini. Ada beberapa bunga kering di sini.”


__ADS_2