Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 67


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 67


Andre datang bersama Damar. Sena, Ragil dan yang lain sudah bersiap di balik gerbang Rumah Sena dan Senja.


“Waduh, pasukannya komplit nih!” Seru Damar ketika berhasil turun dari mobil dan menutup pintu. Andre juga nampak mengikuti Damar menuju rumah sahabatnya, Bagi dan Agia.


“Iya dong, Om. Kita kan detektif cilik.” Sahut Ragil semangat. “Masih ingat kan, Om Damar, Pak Andre? Ini Riki, dan ini Doni.”


“Halo, kalian sudah lama nunggu?” Tanya Andre.


“Enggak lama kok, Pak. Kita juga sambil bercanda di sini.” Balas Riki pada Andre.


“Sudah siap berangkat? Supaya enggak terlalu siang kita.” Sambung Damar mengajak semua pasukan untuk berangkat menuju kebun durian.


“Siap, Om! Tunggu biar aku kunci pintu rumah dulu.” Ucap Senja beranjak menuju dalam rumah. Tak berapa lama, Senja keluar dengan kotak kontainerbseukuran dus air mineral berukuran enam ratus mili liter.


Sena nampang tidak senang dengan penglihatannya, “jangan bawa aneh-aneh, Kak!” Seru Sena pada Senja.


“Enggak aneh! Berisik amat!” Balas Senja.


“Itu apaan? Pasti bawa yang enggak penting!”


“Cuma bawa minum dan jajanan aja. Ribut amat lo.”


Ragil melirik Doni yang tersenyum geli melihat kakak beradik itu berdebat.


“Lagian, mobil Om Damar masih muat kok kalau bawa satu kontainer kecil ginian. Ya, kan, Om?” Tanya Senja pada Sena.


Belum sempat Damar menyahut, Sena terlebih dahulu memberikan protesnya, “masalahnya nih, Om, ini manusia kurang kerjaan. Bisa bawa aneh-aneh dan enggak penting.”


“Bilang aja enggak penting. Tapi pas kemah kemarin, semua yang gue siapin berguna kan buat lo? Rewel amat, kayak bayi habis imunisasi deh ni bocah!” Seru Senja


“Sudah-sudah. Jangan berantem. Sini biar Om bantu taruh box ini dibagasi, ya.” Dengan cepat Damar meraih kontainer milik Senja dan bergerak menuju belakang mobil.


“Taruhan, yuk? Hal aneh apa yang dimasukin Senja ke dalam box?” Ucap Doni pada Ragil.


“Obat penurun panas!” Seru Ragil semangat.

__ADS_1


Sahutan Ragil disambut gelam tawa dari yang lain.


“Kalau menurut gue, dia bawa tikar!” Sahut Doni tidak kalah semangat.


“Tikar? Yang bener aja?” Balas Riki tidak percaya dengan pendengarannya. “Memangnya kita mau piknik?”


“Namanya juga manusia aneh.” Ledek Doni melirik Senja.


***


Di perjalanan, percakapan ringan sampai berat tidak pernah terputus. Ada saja yang mereka bahas hingga tidak terasa jalan masuk menuju kebun durian telah terlihat.


“Kita masuk lewat sini, Om?” Tanya Riki pada Damar yang menyetir perlahan.


“Iya, Pak Andre tadi yang bilang. Supaya kita enggak perlu jalan memutar dari sisi sawah.” Sahut Damar.


“By the way, kalau siang-siang gini malah asik ya di kebun. Adem, bikin betah.” Ucap Sena membuka kaca jendela di sebelah kanan. Udara sejuk mulai memasuki mobil bagian dalam. Damar lalu mematikan pendingin ruangan karena ingin membiarkan udara bersih menguasai udara di dalam mobil. Andre yang duduk dikursi penumpang bagian depan mengikuti Sena membuka kaca jendela. Begitu juga Senja yang duduj tepat di belakang Andre.


Sedikit lagi gubug di tengah kebun sampai. Damar memperlambat laku kendaraan roda empatnya. Tidak perlu menunggu lama, Sena melirik Agia yang duduk diantara dirinya dan Senja. Lalu, kepalanya menoleh ke arah belakang.


“Kak Doni, lihat itu.” Ucap Sena menunjuk sudut rumah gubug yang terlihat suram.


“Raya? Anak itu ada sekarang?” Tanya Ragil.


“Iya, Kak. Itu lagi lihat ke kita.” Sahut Sena.


“Iiih kok gue takut.” Ucap Senja memasang wajah ragu.


“Enggak apa-apa, Kak. Raya itu baik. Kayaknya, sih. Sama Mama dia baik. Ya kan, Ma?” Tanya Sena memastikan pada Agia.


“Kalian tunggu di sini dulu. Biar Mama yang bicara sama Raya, ya.” Ucap Agia.


“Mama bilang, biar Mama dulu yang bicara sama Raya. Kita disuruh tunggu didalam mobil.” Sena mengulang perkataan Agia demi memberikan informasi pada yang lainnya.


Sena lalu membuka pintu mobil dan membantu Mamanya agar bisa turun. “Hati-hati, ya, Ma.” Ucap Sena. Agia membalasnya dengan senyuman dibarengi dengan anggukan cepat.


Agia berjalan cepat menuju Raya.


“Seperti apa rupa Raya itu?” Tanya Andre entah pada siapa.

__ADS_1


“Rambutnya pendek, Pak. Kata Mama, dia seumuran saya. Tapi daya juga kurang yakin. Belum pernah ngobrol. Cuma Mama saja yang ngobrol.” Sahut Sena.


“Sen, lo ingat perkataan lo waktu lalu, kalau pemilik tenda yang disewa sama sekolah, tiba-tiba muncul dari arah kebun, kan?” Tanya Riki membuka pembicaraan.


“Oh! Betul, Kak. Kok Bapak pemilik tenda itu luput dari laporan kita, ya.” Seru Sena.


“Pemilik tenda?” Tanya Andre.


“Iya, Pak. Waktu saya ke toilet, kan diantar Mama. Tiba-tiba pemilik tenda itu muncul. Dia ngakunya ke saya dari toilet juga. Tapi Mama bilang, pemilik tenda itu dari dalam kebun, Pak. Pasti ada sesuatu, kan? Ngapain coba pemilik tenda jalan-jalan sendirian ke dalam kebun.” jelas Sena pada Andre.


“Biar nanti saya periksa. Namanya diapa pemilik tenda itu?” Tanya Andre.


“Wah, dongok saya, Pak. Lupa nanya.” Balas Sena.


“Jiwa kedetektifan lo belum muncul mungkin, Sen.” Sambung Ragil. Sena menggaruk kepalanya walau tidak gatal.


“Jam berapa kejadian itu. Kamu ingat?” Tanya Andre lagi.


“Ingat, Pak. Sekitar jam sebelas malam.” Balas Sena.


“Betul, Pak. Saya saksinya saat Sena keluar dari tenda untuk ke toilet.” Sahut Doni melengkapi pernyataan Sena.


“Jam sebelas juga kita ketemu sama Pak Hartanto di dalam kebun, bukan, Ki?” Tanya Ragil memastikan pada Riki.


“Iya, sekitar jam segitu kayaknya, deh. Apa mungkin pemilik tenda dan Pak Hartanto ketemu di dalam kebun? Ngapain mereka?” Tanya Riki penasaran.


“Nanti akan saya kroscek. Ingat ya, anak-anak, kalian jangan coba-coba cari tahu hal ini. Biarkan kami saja yang melanjutkannya. Ini hal bahaya. Saya takut nanti kalian malah jadi korban berikutnya.” Tegas Andre mengingatkan anak-anak yang terlihat begitu antusias dengan penyelidikan dan petualangan.


“Iya, Pak. Bapak takut kalau kita bandel dan bergerak sendirian ya? Pasti Bapak kira kita ini seberani dan sehebat yang ada difilm itu, ya, Pak?” Canda Ragil dari kursi penumpang bagian paling belakang bersama Riki dan Doni.


“Mana mungkin, Pak. Saya dengar pacar Mamanya Dara ngomong aja rasa hati mah pingsan, Pak. Apa lagi sok-sok jadi detektif.” Sambung Riki.


“Siapa tahu, namanya juga anak-anak. Belum memikirkan efek negatif gang mereka perbuat. Tahunya seru dan memacu adrenalin saja!” Seru Andre.


Doni kemudian melihat Agia melambaikan tangan ke arah mobil.


“Sen, nyokap lo manggil-manggil, tuh!”


“Yuk! Kita semua turun!” Ajak Sena tidak sabar.

__ADS_1


***


__ADS_2