
Mamaku Hantu
Part 36
“Tapi enggak gitu juga sih, Kak. Aku kan cuma bilang apa yang aku rasa aja waktu itu.” Sengit Stevina saat mendengar penyampaian Damar tentang usahanya selama ini agar bisa memiliki sesuatu yang bisa membanggakan keluarga Stevina.
“Aku enggak tahu hal membanggakan seperti apa yang kamu maksud. Kata-katamu dulu yang aku tangkap cuma sampai sini aja.” Balas Damar dengan tatapan tidak bersahabat. “Kalau dulu kamu jujur sama aku, bilang sedetail mungkin apa yang kamu mau, mungkin enggak begini jadinya. Tapi, aku seharusnya memang bilang makasih sama kamu, Stev. Kalau kamu enggak nantangin aku dulu, aku enggak mungkin bisa seperti sekarang. Terima kasih. Sekali lagi terima kasih banyak.”
Stevina memandang Damar penuh pengharapan. “Bukan harusnya kebalik? Kalau Kakak jujur dari awal sama aku tentang perempuan itu, aku juga gak akan buang-buang waktu berhubungan sama Kakak.”
“Kan aku sudah bilang, Sandra itu bukan siapa-siapa. Dia cuma staff biasa yang memang harus banyak interaksi sama aku. Apa lagi kamu tahu sendiri kalau waktu itu ada kasus di tempat aku kerja kan.” Balas Damar membela diri.
“Aku pulang duluan ya, Kak. Kayaknya berapa kali pun kita bahas hal ini, enggak akan nemu jalan keluarnya.” Sahut Stevina seraya bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Damar dengan sapuan angin dingin pegunungan.
Kebersamaan mereka di sebuah kedai kopi dengan latar pemandangan sebuah gunung dan danau yang sangat indah, berubah menjadi perseteruan tanpa ujung.
Damar mengajak Stevina menikmati masa liburnya di Indonesia, dengan berkunjung ke tempat yang sedang viral belakangan ini. Alih-alih mencoba keberuntungan untuk menjalin kisah yang belum usai, perdebatan diantara mereka justru memacu pertengkaran tentang masa lalu.
***
Damar menyeruput kopi panas yang telah menguap tanpa meninggalkan jejak. Kopi dingin kini menemani kesendirian Damar di sudut kedai dengan desiran angin. Beruntung kaca mata hitam yang digunakannya sangat berguna untuk menutupi kesedihan serta kekecewaan.
Hanya dia yang paham, betapa sakit hatinya jika mengingat perkataan Stevina dulu.
“Latar belakang kita sama, tapi enggak ada sesuatu yang bisa membanggakan orang tua aku. Aku perlu sesuatu untuk mereka.” Ucap Stevina dulu saat Damar mengutarakan keinginannya untuk melamar.
Memang benar perkataan Stevina, Damar yang saat itu berprofesi sebagai Operational Manager memang jauh dari kata membanggakan untuk keluarga Stevina. Ditambah, seorang staff perempuan menjadi dekat karena suatu keadaan, menjadikan Stevina mengambil keputusan sepihak untuk melanjutkan sekolah di Jepang.
Rasa tertekan karena direndahkan oleh seorang perempuan membuat Damar enggan menghubunginya lagi. Mereka berpisah, tanpa kata perpisahan.
__ADS_1
***
“Sebenarnya tadi gue lihat Pak Har sendirian di dalam kebun durian. Di sana ada satu rumah gubug yang kecil. Pak Har sih bilangnya lagi ngecek Pos yang akan dijadikan tempat pemberhentian selanjutnya. Kita berdua curiga kalau di dalam rumah itu ada sesuatu.” Ucap Ragil kepada anggota kelompok dua beserta Dandi. Mereka duduk saling berdekatan dan mendengarkan penjelasan-penjelasan yang dilakukan oleh Ragil dan juga Riki.
“Ayo kita sekarang ke sana.” Ajak Dandi semangat.
“Ya enggak bisa gitu, Dan. Kita harus lihat situasinya dulu. Lo enggak mau, kan, Danti sampai kenapa-napa cuma karena gegabahnya lo dalam bertindak.” Balas Elano.
“Lantas, kita harus bagaimana.” Balas Dandi tidak sabar.
“Kita ulang dulu kejadiaan hilangnya adik lo.” Balas Ragil. “Coba cerita dari awal.” Ragil membetulkan posisi duduknya berlagak bisa memahami masalah besar yang terjadi di antara mereka.
“Awalnya Tia yang sadar kalau Danti enggak ada, Kak. Berarti itu jam satu dini hari.” Balas Sena mencoba membuka permasalahan awal hilangnya Danti.
“Betul, Kak. Gue bilang ke Kak Doni kalau Danti enggak ada sekitar jam satu malam. Tapi sebelumnya gue udah tahu. Gue sempat kebangun karena suara berisik dari kelompok sebelah yang duluan berangkat jurit malam. Waktu itu gue tahu kalau Danti enggak ada. Gue pikir dia ke toilet. Karena gue ngantuk banget, gue tidur lagi.” Jawab Tia menuturkan kronologi sebelum berangkatnya mereka tanpa Danti.
“Kita diperintahkan untuk masuk ke dalam tenda itu sekitar jam sembilan. Waktu itu Danti masih ada bareng kita, kan?” Tanya Elano memastikan kepada Sena.
“Lo pergi ke toilet sendirian? Hebat banget!” Seru Elano tidak percaya dengan ucapan Sena. Sena hanya melirik Doni yang memahami keadaan, bahwa Sena ditemani oleh Mamanya untuk pergi ke toilet.
“Iya, gue juga tahu kalau Sena pergi ke luar sendirian. Setelah itu kita ngobrol-ngobrol sampai waktu berangkat jurit malam.” Sahut Doni menambahkan kesaksian Sena.
“Berarti Danti menghilang antara jam sembilan sampai jam sebelas malam, ya?” Rangkum Riki setelah mendengar penuturan rekan-rekan yang berada satu kelompok dengan Danti.
“Tunggu, gue ingat ada suara langkah-langkah kaki di belakang tenda tempat gue tidur.” Seru Sena saat ingat bahwa dirinya terbangun karena suara di belakang tenda.
“Sama! Gue juga dengar kok.” Sahut Doni.
“Suara apa? Kenapa kalian baru bilang?” Balas Dandi.
__ADS_1
“Gue kurang tahu. Mana gue tahu kalau hal ini bisa jadi penting atau enggak.” Jawab Sena.
“Seandainya lo keluar dan melihat ada apa di belakang tenda, bisa aja Danti enggak hilang!” Serbu Dandi garang hendak menyerang Sena. Gerakannya itu dengan cepat ditahan oleh Doni.
“Lo kenapa malah begini? Kalau lo enggak bisa kooperatif, gimana kita mau bantu nemuin adik lo?” Ucap Doni menenagkan Dandi. “Saat itu kita semua kan enggak tahu kalau Danti hilang.”
Dandi terdiam menunduk karena tidak tahu harus menjawab apa. Dandi lalu menangis. “Gue enggak tahu harus gimana. Danti pasti ketakutan sekarang. Bocah tengil itu takut gelap, tapi dia pura-pura berani karena sering gue ledek. Kak, tolong bantuin gue untuk nemuin Danti.” Rengek Dandi kepada Ragil dan Riki.
“Mana memori kamera lo? Biar gue cek.” Ucap Riki dengan wajah jengah karena kasus rumit ini. Ragil membuka kameranya dan menyerahkan memori kepada Riki. Memori itu lalu dibuka melalui kamera yang lebih besar, agar lebih mudah melihat rekaman lebih detail.
Mereka tercengang saat melihat kumpulan guru-guru yang berjalan sambil menggendong tas ransel berukuran besar.
“Kira-kira manusia seukuran Danti bisa masuk ke dalam ransel itu, enggak?” Tanya Riki.
“Kalau dalam keadaan tidak sadar, bisa aja. Karena dia enggak bergerak-gerak.” Sahut Ragil. “Berapa berat badan Danti?” Tanya Ragil kepada Dandi.
“Gue enggak tahu.” Balas Dandi menyesali karena tidak mengetahui tentang adiknya itu.
“Lo, beratnya berapa?” Tanya Ragil kepada Yulia.
“Gue dua puluh lima kilogram, Kak.” Balas Yulia.
“Waduh, mungkin gak orang dewasa bisa ngangkat anak dengan berat dua lpuluh lima kilo?” Tanya Ragil kepada siapa saja yang sekiranya bisa memberikan masukan.
“Gue rasa bisa, Kak. Karena berat kan ditumpu pada pundak. Gue punya tetangga yang anaknya berkebutuhan khusus, jadi anak itu seumuran sama gue. Tiap hari digendong pakai gendongan yang kayak tas ransel itu. Gue rasa beratnya beda tipis sama kita-kita.” Sahut Jeremiah memberikan pendapatnya berdasarkan pengalaman dalam melihat langsung kejadian yang berada di sekitarnya.
“Oke, berarti kita nemu satu kemungkinan, Danti dipindahkan oleh salah satu guru dengan menggunakan tas ransel besar ini. Masalah berikutnya adalah yang membawa ransel berukuran besar itu tidak hanya satu orang. Melainkan tiga orang.” Ucap Ragil.
***
__ADS_1
Mohon maaf ya pembaca terlambat up, dari tadi sore enggak bisa up cerita entah kenapa statusnya -sedang review- terus. Mohon maaf sekali lagi.
Intan Pandan