Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 61


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 61


“Permisi…” ucap Ragil di depan rumah Dara. Rumah Dara terlihat sepi.


“Dara…” panggil Riki kemudian.


Senja yang menenteng bungkusan melihat ke sekitar rumah. Terdapat sebuah warung kecil yang menjual di seberang rumah Dara. Dia menyebrang menuju warung itu.


“Siang, Ibu.” Sapa Senja pada penjual yang sedang memainkan telepon genggamnya. Seketika penjual itu menoleh dan tersenyum pada Senja. “Mau beli apa?” Tanya Ibu penjual ramah.


“Air mineralnya satu, Bu.” Sahut Senja kemudian. “Saya mau main ke rumah teman saya di seberang. Tapi tiba-tiba haus.” Sambung Senja. Alis Ibu penjual terangkat mendengar ucapan Senja.


Ibu penjual kemudian menyerahkan sebotol tanggung air mineral pada Senja. “Temannya Dara?” Tanya Ibu penjual memastikan.


“Betul, Bu. Ibu kenal dengan Dara?” Tanya Senja hati-hati. Matanya kemudian melirik teman-temannya yang lain sedang memasuki rumah Dara. Seorang laki-laki membukakan mereka pintu dan mempersilahkan untuk masuk. “Itu siapa, Bu? Bapaknya Dara?” Tanya Senja kemudian.


Ibu penjual lalu menoleh ke seberang warungnya. “Bukan. Itu kekasih Ibunya.” Sahutnya berbisik seolah takut jika ucapannya akan terdengar oleh orang lain.


“Loh? Saya pikir Dara tinggal dengan orang tuanya.” Balas Senja mulai mengeluarkan aksi untuk mencari informasi.


“Enggak. Dara itu enggak punya Bapak. Ibunya perempuan nakal. Enggak jelas siapa suaminya, tahu-tahu hamil, terus punya anak. Malah beberapa waktu lalu Dara dititipkan ke orang tua Ibunya di kampung. Sampai-sampai Dara pindah sekolah.” Ungkap Ibu penjual.


“Pindah sekolah?” Tanya Senja heran karena merasa ada yang aneh. Tetangga di sekitar rumah Dara tidak mengetahui jika anak perempuan itu telah diculik selama ini.


“Kalau di sekolah, Dara enggak pernah ada informasi kalau pindah sekolah, Bu. Tahu-tahu sudah enggak pernah datang ke sekolah. Makanya mumpung libur, kita pada main ke sini.” Sahut Senja apa adanya, namun tidak mengebutkan tentang penculikan itu.


“Kalau saya juga enggak yakin. Tetangga yang lain bilang kalau Dara itu dijual sama Ibunya.” Terang Ibu penjual lagi.

__ADS_1


“Dijual? Dijual gimana, Bu?” Tanya Senja berpura-pura heran. Padahal spekulasi awal mereka memang memprediksi bahwa orang tua Dara pelaku trafficking.


“Dara itu enggak pernah dianggap anak sama Ibunya. Dari kecil sudah disiksa, dijadikan pembantu. Semua pekerjaan rumah dia yang mengerjakan. Saya sampai kasihan sama anak itu. Sampai suatu hari saya lihat tangan dan kakinya memar. Saya tanya, dia enggak mau jujur. Yang paling saya khawatirkan, kekasih Ibunya sering menginap di sana. Khawatir sekali rasanya ada laki-laki dewasa yang bukan keluarga berada dalam satu atap dengan anak perempuan. Pikiran saya kok gimana gitu.” Jelas Ibu penjual tidak tanggung-tanggung. “Tapi kalau Dara sekarang sudah di rumah, saya jadi lega. Berarti gosip yang beredar tentang Dara dijual itu enggak benar. Mustahil juga sih rasanya, mana mungkin ya, seorang Ibu yang susah payah melahirkan mau menjual anaknya.” Lanjut Ibu penjual.


“Memang Ibunya Dara apa pekerjannya, Bu?” Tanya Senja lagi.


“Enggak jelas, katanya sih dia designer, kalau kata kita-kita sih lebih pantas disebut penjahit. Cuma masang kancing baju, retsleting, atau kecilkan baju saja kok ngaku designer. Tapi kalau saya enggak pernah ke sana. Malas! Jutek sekali. Mana minta bayarannya mahal. Mending bawa ke tempat lain aja yang lebih ramah. Makanya kita curiga kalau Dara dijual sama Ibunya, masak sih cuma jahit-jahit gitu bisa beli barang elektronik yang baru. Bahkan sepeda motor baru juga bisa dibeli. Kan, aneh?” Ungkap Ibu penjual benar-benar menarik Senja untuk berusaha mengorek banyak-banyak informasi.


“Kalau di sekolah Dara itu terkenal pintar, tapi pendiam dan pemalu. Kalau sama tetangga gimana, Bu?” Tanya Senja lagi.


“Ya sama. Sama tetangga-tetangga juga begitu. Hanya senyum. Jarang berinteraksi. Enggak boleh sama Ibunya. Di dalam rumah terus. Kasihan Dara. Padahal dia mau main sama anak-anak tetangga. Saya sudah sedikit lega kalau Dara diajak di rumah Neneknya, siapa tahu diperlakukan lebih baik dari pada sama Ibunya. Eh, tahu-tahu sudah balik lagi ke sini.” Sahut Ibu penjual penuh penyesalan.


“Semoga Dara bahagia sama Ibunya ya, Bu. Dengar Ibu cerita, saya jadi kasihan deh sama Dara. Saya beli roti dan camilan-camilan ini deh buat Dara.” Ucap Senja pada Ibu penjual yang disambut dengan senyuman semakin ramah.


***


Senja memasuki rumah dan mendapati teman-temannya telah duduk di teras rumah Dara. “Hai, Kak Dara. Apa kabar?” Tanya Senja yang memulai perkenalan.


“Nah ini namanya Senja, kakaknya Sena.” Sebut Ragil saat Senja berjalan mendekati mereka. Senja meletakkan bingkisan dan belanjaan yang dibelinya tadi di dekat Dara.


“Untuk nemenin nonton TV, Kak.” Ucap Senja.


“Terima kasih, ya. Merepotkan segala. Sudah datang aja gue senang banget.” Balas Dara semringah. “Kalau bisa sering-sering ke sini.” Lanjut Dara merendahkan volumenya.


Tidak berapa lama, Ibu Dara datang membawakan minuman berupa es teh, tanpa makanan pendamping.


“Ayo anak-anak diminum dulu. Tapi maaf, cuma teh saja. Tante enggak ada stok camilan apa pun. Enggak apa-apa ya.” Ucap Ibu Dara pada mereka.


“Maaf merepotkan, Tante.” Ucap Senja pada Ibu Dara.

__ADS_1


Ibu Dara lalu pergi meninggalkan Dara dan teman-temannya di teras.


“Dara, gue mau pipis. Boleh pinjam kamar mandi?” Tanya Riki memulai aksinya. Walaupun Riki baru dijelaskan secara singkat saat mereka berada diperjalanan menuju rumah Dara. Diatas sepeda gayung yang dikendarai oleh Ragil, Riki mendengarkan dengan cermat perintah dari sahabatnya itu.


“Boleh, boleh. Silahkan.” Sahut Dara seraya beranjak untuk mengantarkan Riki ke dalam rumah.


Di dalam sepi. Tidak terlihat Ibu Dara atau kekasihnya. Riki tertegun melihat layar televisi besar yang tergantung di dinding ruang keluarga, beserta sofa empuk berwarna abu-abu menambah kesan mewah dari rumah Dara.


“Itu kamar mandi gue, Ki. Maaf ya, kamar mandinya kotor banget. Gue belum sempat bersihin.” Ucap Dara sambil menunjuk sebuah ruangan dengan pintu tertutup.


“Ada orang di dalamnya, Ra?” Tanya Riki curiga.


“Enggak. Memang biasa ditutup, supaya baunya enggak keluar.” Sahut Dara meringis malu.


Riki membuka pintu kamar mandi dan mendapati ruangan kecil, pengap, dan licin. Sedetik Riki menahan napas dan mencoba menghirup udara pelan-pelan beradaptasi.


Belum sempat Riki melakukan aktifitasnya, terdengar suara berbisik dari luar kamar mandi. Riki mendekatkan telinganya pada pintu untuk menguatkan indera pendengarannya.


“Aku enggak suka ya, Yang kalau anak itu berinteraksi dengan orang lain. Apa lagi sampai dibawa ke rumah.” Sungut Bram bersuara pelan.


“Ya mau bagaimana, memangnya kita bisa bilang kalau anak itu enggak di rumah? Kan mustahil, nanti malah mencurigakan. Terus mereka lapor polisi. Kamu mau berurusan sama polisi?” Sahut Damara, Ibu Dara.


“Awas aja kalau mereka berbuat yang aneh-aneh. Gue enggak segan-segan untuk habisin semua anak itu.” Balas Bram sengit.


“Jangan keras-keras nanti mereka dengar. Lagian kita enggak mungkin dicurigai, guru itu kan sudah tertangkap. Dia juga enggak tahu kalau kita berurusan sama kepala sekolah itu. Sudahlah. Jangan melebarkan masalah.” Balas Damara berbisik.


“Lagian, kok masih hidup sih tuh anak? Kenapa enggak sekalian mati aja? Heran gue!”


“Bukannya malah bagus dia enggak jadi mati. Kita masih bisa memeras kepala sekolah itu. Kita bisa ancam dia untuk laporkan ke polisi, kalau kepala sekolah yang memaksa kita untuk merelakan hilangnya Dara. Gampang, kan?” Balas Damara lagi.

__ADS_1


“Bila perlu, kita bisa jual ke orang lain anak itu.”


Riki serasa kehilangan atmanya saat mendengar percakapan kedua orang itu. Dia mengatur diri agar orang-orang jahat itu tidak mengetahui keberadaannya.


__ADS_2