
Mamaku Hantu
Part 8
Senja menghabiskan waktunya di perpustakaan sekolah untuk mencari tahu tentang kandungan senyawa yang disampaikan dokter beberapa waktu lalu.
Secara medis, upaya yang dilakukan pihak rumah sakit sudah jelas. Tapi sepertinya Agia masih enggan untuk sadar dan menghadapi kehidupan nyata.
Dokter Wirya sebagai gastroenterologis atau dokter ahli gangguan saluran pencernaan yang menangani Agia pun sudah melakukan segala cara selama tiga bulan terakhir ini. Beliau telah melakukan endoskopi untuk melihat keadaan saluran pencernaan, setelah hasil pengecekan darah menyatakan bahwa di dalam tubuh Agia kekurangan zat besi.
Pihak rumah sakit melakukan test darah secara berkala untuk memastikan kadar hemoglobin dalam tubuh Agia. Awalnya kadar hemoglobin Agia sangatlah rendah. Setelah dilakukan pengecekan, ternyata kadar ferritin dalam darahnya sangat rendah.
Ferritin adalah sejenis protein dalam tubuh, yang berfungsi untuk mengikat zat besi. Jumlah protein dalam darah inilah yang menjadi acuan penunjuk seberapa banyak zat besi di dalam tubuh. Dokter Wirya menunjukkan hasil tes ferritin dengan hasil yang rendah, artinya zat besi dalam tubuh berada pada tingkat yang rendah dan tubuh sedang kekurangan zat besi.
“Zat besi merupakan komponen utama dalam pembentukan hemoglobin, yaitu bagian dari sel darah merah. Zat ini juga memiliki peran dalam proses metabolisme tubuh, pertumbuhan, dan perkembangan fungsi normal sel-sel tubuh, pembentukan hormon, serta hantaran sinyal listrik dalam sistem saraf tubuh. Bisa saja Ibu Agia melemah metabolisme dan sistem saraf pada tubuhnya.” Begitulah penjelasan yang disampaikan Dokter Wirya kepada Bagi. Senja yang masih belum paham, mencoba mencari tahu sendiri tentang hal-hal yang dibahas dua orang dewasa saat itu.
“Kemarin kami sudah melakukan pemeriksaan endoskopi lagi. Kali ini mengkhusus untuk mendeteksi adanya sel kanker dan polip usus. Mungkin besok siang hasilnya akan keluar. Kita berdoa bersama-sama, semoga hasilnya negatif.” Dokter Wirya mencoba membesarkan hati Bagi dan anak-anaknya.
“Sebenarnya apa yang menyebabkan seseorang bisa tidak sadarkan diri selama ini, Dok?” Bagi berusaha mencurahkan keingintahuannya.
“Sebenarnya koma terjadi akibat kerusakan di salah satu bagian otak. Kerusakan inilah yang mengatur kesadaran seseorang. Kerusakan tersebut dapat terjadi dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Pada langkah awal, Ibu Agia kami periska melalui pemindaian pencitraan diagnostik atau yang sering kita dengar dengan MRI otak. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendiagnosis tumor otak, stroke, dan perdarahan di dalam rongga kepala. Beruntung, hasil test MRI menunjukkan segala fungsi otak dalam keadaan normal. Maka dari itu, kami melanjutkan kepemeriksaan melalui darah.” Dokter Wirya berusaha menjelaskan dengan cara sederhana agar keluarga pasien bisa memahami inti penyebab seseorang bisa tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama.
“Tapi, Mama saya bisa sadar kan, Dok?” Sena tidak tahan untuk menanyakan hal paling penting ini.
Dokter Wirya tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari anak kecil yang memandangnya penuh pengharapan.
“Sena, dokter ini cuma manusia biasa. Dokter berjanji akan berusaha untuk melakukan apa saja supaya Mama kamu segera sadar. Tapi dokter bukan Tuhan. Sena mau bantu dokter untuk terus berdoa dan meminta kepada Tuhan? Jangan pernah berhenti mengharap kepada Tuhan, ya.” Dokter Wirya menarik tangan Sena dan menggenggamnya dengan erat.
***
Sena tidak menemukan keberadaan Mamanya di mana pun. Tadi saat jam istirahat, Mamanya masih duduk di pojok ruang kelas. Tapi tiba-tiba saja dia menghilang. Panik Sena langsung berdiri dan membuat seisi kelas terkejut.
__ADS_1
Sena bergegas meminta izin kepada guru yang mengajar untuk memberinya waktu ke toilet.
Sena berjalan cepat mengitari sekolah untuk mencari keberadaan Mamanya. Hampir dua puluh menit Sena mencari hingga terbersit pikiran buruk tentang keadaan Mamanya di rumah sakit.
“Apakah Mama sudah pergi?” Tiba-tiba napas Sena menderu menahan emosi yang tidak stabil. Sena terus berlari menuju ruang kelas Senja.
Dengan kasar Sena mengetuk pintu ruang kelas.
“Permisi, Bu. Saya mohon izin untuk memanggil Senja.” Sena mengatur napasnya.
“Loh, Senja di UKS. Tadi dia minta izin untuk ke UKS.” Sahut Ibu guru yang mengajar di kelas Sena.
“Terima kasih, Bu. Saya akan melihatnya di ruang UKS.” Balas Sena disertai badan yang membungkuk tanda hormat.
Sena berlari dengan cepat menuju ruang UKS. Kosong. Senja tidak ada di sana.
Sena semakin gusar mendapati orang-orang kesayangannya tidak ada.
Tanpa sadar air mata Sena menetes karena rasa panik. Tiba-tiba Sena menerka keberadaan Senja. Dia bergegas menuju perpustakaan.
Benar saja, Senja sedang duduk berhadapan dengan layar komputer. Tidak hanya itu, Mamanya pun terlihat duduk di sampingnya.
Sena menghembuskan napas lega. Semua baik-baik saja.
Bergegas Sena mendekati Senja.
“Kak..” Panggilnya berbisik karena sedang berada di dalam perpustakaan.
Senja menoleh dan segera menghapus air matanya.
“Kakak kenapa? Kok nangis?” Sena terkejut mendapati Senja sedang menangis penuh kesedihan.
__ADS_1
“Enggak. Kakak cuma kangen Mama. Tapi Kakak tahu kok kalau Mama sekarang ada di dekat Kakak, kan?” Jawab Senja masih dengan sisa tangisnya.
“Dari mana Kakak tahu?”
“Kakak dari tadi merasa dingin dan merinding di sebelah kiri ini.”
Sena lalu tersenyum. “Iya, Kak. Mama dari tadi di sini.”
“Sena kenapa ikut ke sini? Enggak belajar?” Agia bertanya kepada Sena.
“Tadi Sena bingung tiba-tiba Mama hilang. Jadi Sena cari Kakak di kelas. Eh tahu-tahunya pada nongkorng di perpus.”
“Iya, Mama tadi juga heran kok tiba-tiba bisa muncul di perpus. Eh, Kakak lagi nangis. Jadi Mama ikut di sini jaga Kakak.”
“Kak, tadi Kakak ada bilang apa? Kok bisa Mama tiba-tiba ada di sini?”
“Mana Kakak tahu. Kakak enggak tau mantra apa yang harus diucapkan supaya Mama bisa datang.”
“Coba ingat-ingat!”
“Apa ya?” Senja menerawang mencoba mengingat kejadian sebelumnya. “Kakak nangis karena kangen Mama. Terus Kakak panggil Mama. Apa mungkin karena itu?” Senja menoleh Sena.
Sena lalu mengingat kejadian saat dirinya hampir dirundung secara fisik oleh Dandi. Dia juga memanggil Mama, lalu Agia tiba-tiba datang. Untuk memastikan, Sena segera berlari keluar perpustakaan dan menuju toilet di ujung koridor. Sena lalu memejamkan mata dan memanggil Mamanya dalam hati.
“Mama, tolong kesini.” Ucapnya bersungguh-sungguh.
Benar saja. Agia tiba-tiba berada tepat dihadapan Sena.
Senyum kemenangan menghiasi wajah Sena.
“Mulai sekarang, aku enggak akan kehilangan Mama lagi!” Sena lalu menggenggam tangan Mamanya dan menarik agar mengikutinya ke dalam perpustakaan.
__ADS_1
“Berhasil, Kak! Mama memang akan datang kalau kita panggil.” Seru Sena bahagia sampai lupa bahwa mereka sedang berada di dalam perpustakaan.