Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 53


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 53


“Saya sebaiknya kembali ke perkemahan, Pak Har. Semua anak-anak harus dikumpulkan terlebih dahulu. Saya mau memastikan kelengkapan para siswa.” Ucap Pak Guntur pada Pak Har dan yang lain di rumah gubuk.


“Benar juga. Kita harus melakukan sesuatu. Maaf ya, pikiran saya benar-benar kacau.” Balas Pak Hartanto.


“Saya ikut Pak Guntur.” Sahut Bu Siti tidak ingin tertinggal.


“Ibu di sini saja sama Pak Har dan Bu Cahya. Siapa tahu anak-anak kembali ke sini, Bu. Setelah semua aman di perkemahan, saya janji akan segera ke sini.” Balas Pak Guntur.


Bibir Bu Siti merengut tidak setuju dengan keputusan Pak Guntur. Tapi dia juga tidak mau menyangkal bahwa yang dikatakan Pak Guntur ada benarnya. Tanggung jawabnya sebagai seorang guru mengharuskan kuat dan berani.


“Pak Har, saya pinjam dulu sepeda motornya, ya.” Ucap Pak Guntur pada Pak Har.


“Silahkan, Pak.”


***


Api unggun besar telah menyala terang atas perintah dari Guntur. Para guru pun membuat api unggun kecil untuk masing-masing kelompok.


Seluruh peserta kemah kemudian dikumpulkan di depan tenda masing-masing kelompok. Setiap ketua kelompok pun diwajibkan untuk menghitung ulang jumlah anggota.


Terjadi kegaduhan di kelompok Dandi, karena keberadaannya dipertanyakan oleh anggota lain.


“Pak Guntur! Dandi enggak ada di tendanya, Pak!” Seru ketua kelompok histeris karena mendapati salah satu anggotanya tidak ada.


Senja yang mendengar hal itu menjadi panik dan ingin memeriksa adiknya. Dengan cepat kakinya melangkah menuju kelompok dua untuk menemukan Sena.


“El, Sena mana?” Tanya Senja karena tidak menemukan keberadaan adiknya.

__ADS_1


Wajah Elano berubah panik karena harus menghadapi Senja. “Ta, tadi ke toilet, Kak. Iya, Sena ke toilet.”


Tia yang mendengar percakapan antara Senja dan Elano berusaha untuk membantu. “Iya, Kak. Tadi Sena ke toilet.”


Senja tidak tinggal diam. “Pak Guntur! Tolong antar saya ke toilet untuk mencari adik saya.” Teriak Senja pada Pak Guntur.


“Sena sudah kembali ke tenda?” Tanya Pak Guntur semringah.


Tidak ada sahutan dari anggota kelompok dua. Mereka justru saling pandang karena hal ini bukan menjadi bagian dari rencana.


Jeremiah memiliki perasaan tidak baik karena Sena dan Doni belum juga kembali. Rencana awal, mereka akan segera menyusul kembali ke perkemahan. Namun, sudah lebih dari satu jam mereka tiba di perkemahan, Sena dan Doni belum kembali. Maka dari itu, dia memutuskan untuk menceritakan semuanya.


“Pak, sebenanrnya Danti juga hilang.” Ucap Jeremiah ragu-ragu.


“Apa? Danti hilang?” Seru Pak Guntur menyebabkan keadaan semakin tidak kondusif karena mendengar teriakan histeris dari guru olah raga mereka. Semua orang menjadi panik, tidak terkecuali guru-guru. Mereka mendekati Jeremiah dan Pak Guntur untuk mendengar kelengkapan cerita.


“Sebenarnya yang hilang itu Danti, Pak. Bukan Dandi. Tapi karena Dandi berencana menemukan Danti, dia gabung dengan kelompok kita. Tadi saat jurit malam, Dandi, Sena, dan Kak Doni berpisah dari kelompok untuk menemukan Danti.” Ungkap Jeremiah apa adanya.


Tambah lagi masalah yang harus segera diselesaikan. Tapi dia tidak tahu harus memulai dari mana. Tangannya bergerak cepat menyentuh layar telepon genggamnya untuk menghubungi Pak Hartanto.


***


Senja diam tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Sena, adik satu-satunya hilang karena berusaha untuk menemukan temannya yang hilang.


“Bagaimana mungkin Sena memutuskan hal ini?” Tanya Senja dalam hatinya. Dirinya begitu cemas sampai-sampai tidak bisa berpikir jernih. Ingin rasanya dia memasuki kebun durian untuk mencari keberadaan adiknya.


“El, coba cerita sama gue. Apa aja yang kalian rencanakan?” Tuntut Senja pada Elano.


“Mereka mau menyelidiki rumah gubuk di kebun durian, Kak. Menurut mereka, salah satu guru mungkin menyembunyikan Danti di dalam rumah itu.” Balas Elano jujur. Melihat Senja panik, Elano pun memikirkan hal yang tidak-tidak. “Kak Senja, jangan coba-coba masuk ke dalam kebun durian sendiri, ya. Sena pasti akan marah kalau tahu hal itu.” Sambung Elano.


“Berisik lo!” Balas Senja seraya melangkahkan kaki menjauh dari kelompok dua.

__ADS_1


***


“Malam, Pak Har. Maaf saya mau menyampaikan sesuatu.” Sahut Pak Guntur begitu sambungan telepon mereka terhubung.


“Silahkan, Pak Guntur.” Balas Pak Hartanto.


“Pak, ada hal serius di sini. Sebenarnya yang hilang itu bukan Dandi, tapi Danti, Pak.” Ungkap Pak Guntur yang membuat Pak Hartanto seketika berdiri kaku. “Maka dari itu Dandi, Sena, dan Doni, memisahkan diri dari kelompok dan mencoba untuk mencari keberadaan Danti.” Sambung Pak Guntur.


“Jangan bercanda, Pak Guntur.” Balas Pak Hartanto merinding karena mendengar informasi yang disampikan oleh Pak Guntur.


“Serius, Pak Har. Saya serius. Mereka sengaja tidak memberitahukan kita, karena curiga dengan salah satu guru yang bisa saja menculik Danti.” Terang Pak Guntur menyampaikan spekulasi anak didiknya. “Kita harus segera menghubungi polisi, Pak Har. Kita tidak boleh mengambil resiko terlalu jauh tanpa bantuan penanganan dari pihak berwenang. Mereka pasti tahu langkah-langkah apa yang harus dilakukan.”


“Benar, Pak Guntur. Sekarang saya akan balik ke perkemahan.” Balas Pak Hartanto tidak bisa berpikir jernih.


“Tidak perlu, Pak Har. Menurut anak-anak, Dandi dan yang lain sedang menyelidiki keberadaan Danti di dalam rumah gubuk. Lebih baik Pak Har ikut serta menyelidiki keadaan rumah gubuk dan sekitarnya. Siapa tahu anak-anak itu masih ada di sekitar sana.” Terang Pak Guntur memberikan sedikit perintah kepada atasannya. “Di perkemahan, biarkan saya yang bertanggung jawab, Pak. Semoga Dandi dan yang lain masih di sekitar kebun dalam keadaan selamat.”


***


Berbekal kecurigaan Bu Siti pada Pak Teguh, Pak Guntur ingin memastikan keberadaan guru senior itu. Pak Guntur pun mengumpulkan seluruh guru yang berada di area perkemahan pada satu sisi lapangan. Sayangnya, Pak Teguh tidak ada dalam barisan guru-guru itu.


“Pak Yusuf, Pak Teguh belum kembali, ya. Bagaimana ini?” Tanya Pak Guntur berbisik.


“Sudah dari tadi Pak Teguh juga tidak bersama kami, Pak. Beliau pun tidak bisa dihubungi melalui HP. Entah dimana Pak Teguh sekarang.” Balas PakYusuf.


Percakapan mereka terdengar oleh Bu Rima yang berada di dekat Pak Yusuf.


“Apa Pak Teguh yang melakukan penculikan, Pak Guntur?” Tanya Bu Rima dengan hati-hati.


“Saya tidak berani mengatakannya seperti itu, Bu Rima. Kita tidak punya bukti. Lagi pula, memang apa latar belakang Pak Teguh harus menculik anak-anak?”


***

__ADS_1


__ADS_2