Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 71


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 71


Semua orang tanpa terkecuali tercengang saat mendapati plastik polybag hitam menyembul dari balik tanah berwarna cokelat kemerahan.


“Itu? Itu apa?” Tanya Senja dengan suara bergetar.


Ijal dan Kuntoro, juga dibantu oleh Damar melanjutkan penggalian. Namun kali ini lebih hati-hati agar tidak menghancurkan apa pun yang bisa saja berada didalam plastik polybag itu.


Tidak sampai berapa lama, bagian ujung plastik polybag hitam terlihat jelas. Kuntoro meraba sekedar menebak isi plastik itu.


“Pak Andre, sepertinya kita perlu petugas forensik.” Ucapnya pada Andre.


“Konfirmasi, Kun?” Sahut Andre tidak mampu membendung rasa penasarannya.


“Sepertinya iya, Pak.” Kuntoro kembali berusaha menghalau tanah-tanah yang masih menutupi sebagian plastik polybag hitam, dengan menggunakan tangan dilapisi oleh selop tangan berbagan lateks.


Andre kemudian menjauhi kumpulan orang yang berada di dalam rumah gubug untuk menghubungi petugas forensik agar segera mendatangi lokasi Tempat Kejadian Perkara kasus penculikan anak sekolah saat kegiatan berkemah.


Sena dan yang lain terlihat tegang menyaksikan proses pencarian sesuatu yang tidak ingin mereka bayangkan. Namun tidak dengan Doni. Dia lebih memilih memerhatikan gerak-gerik Raya. Tatapannya kosong. Tidak terlihat sedikit pun gairah ingin mengetahui tentang kabar baik mengenai ditemukan tubuh dan segala kenangan yang tertanam di bawah sana. Kemudian, kepala Raya bergerak melihat ke luar, ke arah Andre berada.


“Prabu Lanang,” Doni mendengar Raya mendesiskan sesuatu. Tapi Doni tidak yakin dengan apa yang diucapkan Raya, karena konsentrasi Doni terhadap Raya tiba-tiba terganggu dengan teriakan Kuntoro.


”Stop! Stop! Sudah berhenti saja. Biar tim forensik yang melanjutkan. Jangan sampai kita menyebabkan bukti jadi rusak, apa lagi kalau hilang!”


Ijal menuruti perintah rekan kerjanya, begitu pun dengan Damar yang tidak tahu betul dengan aturan penyelidikan sekarang. Peluh membasahi sekuruh tubuhnya. Air asam yang menjadi saksi betapa berat dan juga mengerikannya upaya yang dilakukan siang itu.


“Anak-anak. Apa kalian bisa tunggu di luar? Nanti kalian akan terus terbayang-bayang dengan hal ini. Kasihan mental kalian, lebih baik kalian di luar saja.” Ucap Ijal pada mereka yang masih memasang wajah tidak nyaman dengan situasi yang sedang terjadi.


Kuntoro dan Damar mendongakkan kepala melihat ke arah anak-anak dibawah umur itu masih setia memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan ketiga orang dewasa di bawah. “Benar, lebih baik kalian ke luar dulu.” Sambung Kuntoro menyetujui perkataan Ijal.


“Tapi saya penasaran, Pak. Ingin tahu ada apa di dalam plastik hitam itu.” Sahut Ragil membantah saran kedua polisi itu, agar tetap bisa berada di dalam dan menjadi saksi penemuan sebuah rahasia.

__ADS_1


“Tidak perlu, nanti kasihan kalau harus ingat-ingat.” Balas Ijal lagi. “Kalau sudah ada sesuatu, kalian pasti akan tahu juga. Tapi tidak perlu menyaksikan secara detail begini. Kasihan, kalian masih terlalu muda.”


Mau tidak mau, Senja menarik Sena keluar, sehingga yang lain pun mengikuti. Senja pikir benar juga yang dikatakan Bapak polisi yang. Etnama Ijal itu. Bisa-bisa, ke kamar mandi pun dirinya tidak akan berani kalau harus memaksakan diri.


Kuntoro, Ijal mengajak Damar ikut serta untuk keluar dari rumah gubug. Semua akan dilanjutkan oleh petugas forensik.


***


“Saya sudah minta surat pemanggilan pemeriksaan ke kejaksaan. Kita harus segera bergerak memeriksa Hartanto dan Leri.” Ucap Andre pada Kuntoro dan Ijal.


“Tapi, kita belum punya bukti, Pak. Lagian tidak ada hubungannya penemuan ini dengan mereka, kan? Apa kita tidak akan dianggap sedang membuat lelucon?” Balas Kuntoro.


“Ah! Siapa yang peduli dengan bukti? Kalau orang sudah terhimpit? Pasti mengaku juga, kan?” Sahut Ijal.


“Kita periksa perlahan, tenang, dan tanpa tekanan. Kita anggap saja sedang mengobrol. Tanyakan, apakah mereka kenal dengan pelaku, Si Teguh? Ya bisa-bisa kita nanti lah.” Balas Andre tenang.


“Apa jangan-jangan Leri ini termasuk sindikat Jro Gemblung di Indonesia bagian tengah?” Tanya Ijal entah pada Andre, mau pun Kuntoro.


***


“Leri dan Hartanto sudah di kantor, Pak Andre.” Ucap Ijal setelah menyelesaikan panggilan telepon dari salah seorang dikepolisian.


“Ya, biar lah mereka di sana dulu. Biar mereka memilih ide untuk mengelak tentang apa pun yang akan kita tanyakan.” Sahut Andre.


Petugas forensik memenuhi kebun durian. Warga berdatangan ingin menyaksikan secara langsung tentang isu yang disampaikan oleh salah satu warga tentang penemuan kerangka anak kecil. Entah siapa yang melaporkannya, awak media pun sibuk mengabadikan suasana yang sedang terjadi di tengah-tengah kebun durian. Tidak dipungkiri, petugas kepolisian terlihat enggan didekati oleh pewarta berita yang begitu gesit ingin mendapatkan informasi.


Tim forensik dan penyidik mengkonfirmasi bahwa kerangka manusia yang ditemukan, masih menggunakan baju kaos putih dan celana pendek. Persis seperti yang digunakan Raya.


Raya menatap sekumpulan orang dari kejauhan. Agia memutuskan untuk mendekati Raya.


“Raya, selamat, tubuh kamu sudah ditemukan, Nak. Kamu enggak akan kedingin dan sendirian lagi di sini.” Ucap Agia.


“Iya, Tante. Tadi, Prabu Lanang juga sudah datang. Tapi beliau bilang, belum waktunya. Tapi, kenapa terus melihat ke arah sini ya?” Balas Raya.

__ADS_1


“Prabu Lanang? Mana?” Agia tercengang mendengar nama yang disebutkan Raya.


“Tadi ada, tapi sekarang sudah enggak ada lagi.” Balas Raya sambil melihat ke sana kemari. Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Prabu Lanang.


“Sekarang kamu ingat, enggak, Raya? Kamu tinggal dimana?” Tanya Agia lagi.


“Enggak tahu, Tante. Raya enggak punya rumah, enggak punya keluarga. Raya ini siapa ya, Tante? Kok enggak ada yang mencari Raya? Justru, Tante yang orang lain sibuk membantu Raya.” Balas Raya


Agia terpana mendengar jawaban lawan bicaranya yang masih sangat muda, namun telah meninggalkan dunia ini dengan cara yang menyedihkan. Sendiri, tanpa ada satu orang pun yang menyadari kehilangannya. Malang sekali Raya ini.


***


“Sebaiknya kita pulang sekarang. Hari semakin gelap. Enggak baik loh anak-anak main polisi-polisian sampai jam segini.” Ucap Damar pada Sena dan yang lain.


“Iya, gue setuju. Lagi pula, kerangka Raya kan diperiksa di rumah sakit. Kita enggak mungkin di sini jadi petugas Siskamling, kan?” Sahut Senja.


“Tapi ada satu hal yang bikin gue penasaran. Kenapa Dara enggak diapa-apain sama mereka?” Tanya Ragil. Mendapati tatapan bengis dari teman-temannya, Ragil meralat ucapannya, “maksud gue, kenapa? Pasti ada sesuatu yang terjadi sampai-sampai Dara mendapat perlakuan berbeda dibandingkan Raya, kan? Bukan berarti gue kepingin supaya Dara diapa-apain. Gue cuma penasaran doang!”


Andre mendengar pertanyaan jeli dari Ragil, “Dari penuturan Teguh, Dara itu tidak masuk kedalam syarat yang diajukan. Karena Dara itu sudah datang bulan.” Sahut Andre menyiram rasa penasaran Ragil.


Tiba-tiba mata anak-anak itu, Ragil, Riki, Doni, dan Sena, memandang Senja, “Lo sudah datang bulan, Ja?” Tanya Ragil.


“Belum, kenapa lo nanya-nanya?” Sahut Senja sewot.


“Hati-hati, lo sasaran berikutnya!”


***


Hai, pengen bilang hai aja sih sama pembaca sekalian. Pengen tahu deh, pembaca disini pada umur berapa ya? Komen ya, karena saya ada bagian yang sadis. Jadi cek ombak dulu, pada umur berapa ya? Biar bisa disaring dulu hehehe. Makasi bantuannya,


Salam sayang,


Intan Pandan.

__ADS_1


__ADS_2