Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 81


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 81


“Dara, lo dengerin gue baik-baik. Waktu kita enggak banyak.” Ucap Ragil pada Dara yang terlihat setengah hati bertatap muka lagi dengannya.


“Apaan sih? Nanti Om Bram nongol. Berabe urusannya!” Sahut Dara tersungut-sungut berusaha untuk meninggalkan Ragil. Sebelumnya, Dara tergopoh-gopoh menemui Ragil karena suara berisik yang dibuat menggunakan handle gerbang. Suara berdenting tanpa irama membuat Dara segera keluar dari rumah dengan was-was.


“Lo dengerin gue dulu. Sebentar aja.” Pinta Ragil memohon.


“Gue takut nanti nyokap dan Om Bram datang dan melihat gue di sini, Gil. Maaf ya. Gue masuk aja.” Ucap Dara bergerak meninggalkan Ragil.


“Lo dijual sama nyokap lo!” Tegas Ragil dengan suara sedikit meninggi. Tanpa perlu menekan tombol berhenti, tubuh Dara seketika mematung sepersekian detik. Tubuhnya memutar, kedua bola matanya menatap Ragil. “Lo bilang apa?” Tanya Dara memastikan pendengarannya.


“Makanya lo dengerin gue dulu. Gue perlu bantuan lo untuk membuktikan kalau nyokap dan Om Bram itu ngejual lo, Ra. Lo dijual sama mereka cuma untuk kepentingan duniawi.” Ucap Ragil mencoba membuat Dara mengerti.


“Gue enggak ngerti, Gil. Lo jangan ngomong yang enggak masuk akal ya. Mana ada cerita kalau seorang ibu ngejual anaknya sendiri. Gue ini anak kandungnya, Gil. Enggak beres ya pikiran lo itu.” Sahut Dara sengit. “Biar pun nyokap gue enggak pernah terlalu peduli sama gue, mustahil rasanya kalau dia sampai ngejual gue.” Bibir Dara mencebik karena rasa tidak percaya pada ucapan Ragil. ”Kalau pun benar, nyokap dan Om Bram ngejual gue, memangnya yang beli siapa, Gil?” Tanya Dara merendahkan suaranya.


“Pak Hartanto, Dara. Gue denger sendiri kalau nyokap lo nerima uang dua puluh juta rupiah.” Balas Ragil masih berusaha untuk membuat Dara percaya.


“Dua puluh juta? Yang bener aja. Mana mungkin Pak Hartanto mau ngeluarin uang untuk nyokap gue.” Sinis Dara masih tidak bisa berpikir dengan logika.


“Kalau gitu, kenapa lo bisa ada di ruang rahasia itu, coba? Lo bisa ngejelasin? Kenapa lo bisa ada di sana, sementara keluarga lo enggak ada sedikit pun usaha untuk mencari. Kalau memang lo itu berharga, nyokap lo pasti menggunakan segala macam cara untuk nemuin lo. Nyatanya apa? Kalau bukan kita yang nemuin, lo pasti masih disekap, Ra. Itu pun kita nemunya tanpa disengaja.” Terang Ragil panjang-panjang agar logika dan pemikiran Dara berlinear dengannya. Tatapan mata Ragil menyurutkan emosi Dara yang sempat meninggi.


“Untuk apa Pak Hartanto beli gue?” Tanya Dara kemudian.

__ADS_1


“Gue belum tahu. Yang pasti, Pak Hartanto, Pak Teguh, dan pemilik tenda untuk perkemahan itu bersekongkol untuk culik lo waktu itu. Tahun ini pun sama. Mereka pasti bersekongkol, Ra.” Ucap Ragil sabar.


Dara terlihat berpikir. “Gue takut lo kenapa-napa. Makanya hari ini gue ke rumah lo. Gue takut, kalau nyokap lo berencana untuk ngejual lo ke orang lain, Ra.” Ucap Ragil takut-takut.


Wajah Dara berubah pucat. Sedikit pun tidak ada pemikiran bahwa hidupnya saat ini masih belum aman. “Lo kenapa harus bilang gitu, Gil. Gue jadi takut.” Sahut Dara ketakutan.


“Sama, Ra. Gue juga takut. Makanya. Gue perlu bantuan lo.” Balas Ragil kemudian.


“Bantuan apa, Gil?” Tanya Dara penasaran.


Ragil merogoh kantong celananya dan memberikan alat penyadap suara pada Dara.


Dara menerima dan memerhatikannya dengan seksama. “Flashdisk? Untuk apa?” Tanya Dara heran.


“Itu bukan flashdisk, Ra. Itu alat penyadap suara. Suara yang terekam, langsung tersimpan didalamnya. Fungsinya juga sama untuk menyimpan data hasil rekaman.” Ucap Ragil menjelaskan benda kecil berwarna putih metalik itu.


“Gue mau lo pancing-pancing nyokap lo. Dia harus cerita tentang hilangnya lo dulu. Kenapa dia enggak ada usaha untuk nyari lo. Kita rekam. Nanti hasil rekamannya biar gue serahin ke polisi.” Ungkap Ragil bersemangat.


“Gimana caranya pakai benda ini?” Tanya Dara meneliti benda kecil itu.


“Itu, tekan tombol on disamping. Nanti kalau lampu merah itu menyala kedap-kedip. Alat itu berfungsi dengan baik.” Jelas Ragil pada Dara.


“Tahan berapa lama?”


“Delapan jam sih kata penjualnya.”

__ADS_1


“Kalau ketahuan, gimana?” Tanya Dara kemudian.


Ragil menatap Dara, “gue akan ke sini setiap hari. Gue akan bawa alat penyadap yang lain setiap harinya. Kita tukaran. Lo bawa yang baterainya penuh dan memorinya kosong. Yang sudah merekam, biar gue yang bawa.” Ucap Ragil. “Lo bisa ke depan setiap jam tujuh malam? Kayaknya lebih aman kalau malam-malam. Enggak ketahuan kita tukaran sesuatu.”


Dara kemudian menganggukkan kepala mantap. “Kalau gue enggak keluar, kemungkinannya tiga. Mereka di rumah, gue dijual lagi, atau gue mati.” Ucap Dara.


“Pinter ya ngomongnya. Udah, sekarang lo masuk. Terserah gimana cara lo mancing-mancing nyokap atau Om Bram untuk ngomong tentang hubungan mereka sama Pak Hartanto. Pokoknya, kita harus dapet bukti kuat untuk menyeret Pak Har dan rekannya yang lain.” Sahut Ragil.


Dara mengangguk paham dengan maksud Ragil.


“Ra, kalau seandainya nyokap lo bener-bener terbukti ngejual lo gimana?” Tanya Ragil kemudian.


Dara terdiam. Wajahnya menunduk lesu. “Gue harus gimana menurut lo, Gil?” Tanya Dara kemudian.


“Lo harus kuat, Ra. Lo tinggal sama Nenek lo aja di kampung. Atau gimana, ya? Gue juga enggak tahu harus gimana.” Jawab Ragil bingung.


“Gue harap nyokap gue enggak sungguh-sungguh mau ngejual gue.” Sahut Dara, “gue sayang banget sama nyokap gue, Gil. Walaupun sama sekali enggak pernah nunjukin rasa kasih sayang, gue sayang banget sama dia.” Lanjut Dara.


Ragil diam mendengarkan isi hati Dara.


“Apa salah gue sampai-sampai mereka tega.” Butiran bening kemudian menitik satu demi satu. “Gue takut, Gil. Setiap hari gue ketakutan di ruang rahasia itu. Gue pikir, gue pasti akan segera mati. Gue takut banget sama Pak Teguh. Gue pikir, saat itu Tuhan enggak ada. Tuhan enggak pernah mau bantu gue, Gil. Gue takut setiap hari. Gue pikir, dengan kembalinha gue ke rumah, mereka akan senang. Ternyata gue salah. Apa mereka mengharapkan kalau gue enggak pernah kembali ya, Gil?”


Ragil meneguk air ludahnya dengan panik. “Sudah, sekarang lo kan udah selamat. Gue mau lo tetap berinteraksi dengan gue. Apa pun, informasikan ke gue. Supaya gue bisa dengan mudah ngebantu lo.” Ucap Ragil menenangkan Dara. “Oh ya, lo enggak pegang HP ya, Ra?”


Dara lalu menggelengkan kepalanya, “mana mungkin nyokap gue ngasi HP, Gil. Boleh belanja di depan aja sudah beruntung.”

__ADS_1


***


__ADS_2