Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 46


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 46


Pak Teguh mendengus sebal saat mendengar percakapan orang-orang di luar gerbang sekolah yang hendak mengejarnya.


“Kalian pikir akan bisa menemukanku?” Ucap Pak Teguh dalam hatinya. “Coba saja kalau bisa.”


***


Susah payah aku mencari-cari anak yang pantas untuk kutukar sukmanya dengan Mala. Enak saja mereka mau mengambilnya. Jangan kira usiaku yang tidak muda ini bisa kalian taklukan dengan mudah.


Sialnya aku karena tidak mengira seseorang bisa menemukan anak ini di dalam ransel. Harusnya aku segera menaruhnya di bawah. Untung saja aku datang tepat waktu, anak-anak tengil itu bisa segera aku lenyapkan. Tidak akan ada yang tahu bahwa mereka berada di bawah sana.


Ya sudah lah. Aku akan menaruh anak ini di tempat lain. Aku akan membawanya dengan cepat sebelum menuju Pos 3.


***


Teguh terpekur memandang Mala yang membiru dihadapannya. Siapa yang dapat menyangka jika anak perempuan kesayangannya lemas dengan mata tertutup. Upaya Teguh dalam menempa fisik dan mental anak usia sembilan tahun itu berujung fatal akibat ambisinya.


“Mala! Jangan coba-coba untuk berbohong pada Bapak, ya! Bapak tahu kalau kamu pura-pura saja, kan?” Bentak Teguh pada Mala yang berhenti menggigil.


“Mala! Bangun!” Perintah Teguh pada Mala yang terduduk pada sebuah batu besar di pinggir sungai. Teguh mendekati putri semata wayangnya itu dengan garang. “Ayo bangun!” Teriak Teguh. “Ini belum seberapa, kalau kamu Bapak ajak mendaki gunung di luar pulau, akan lebih berat dari ini, Mala.” Ucap Teguh tanpa tahu, bahwa Mala tengah berjuang melewati hipotermia berat.


Kegiatan yang mereka lakukan hampir setiap akhir pekan itu berubah menjadi siksaan fisik pada diri Mala.

__ADS_1


“Ayo, Mala! Sedikit lagi sampai!” Teguh memberikan semangat kepada Mala yang sebentar lagi sampai pada tujuan mereka yaitu sungai di seberang bukit.


“Pak, kita berhenti sebentar, ya. Mala kok tidak kuat, ya? Mala ngantuk sekali.” Jawab Mala dengan tidak semangat. Sementara Teguh telah lebih dulu berjalan beberapa langkah di depannya.


“Sedikit lagi sampai, Mala. Lihat, matahari saja sudah hampir muncul. Jangan sampai kita didahului oleh matahari.” Ucap Teguh tanpa menoleh pada Mala yang berjalan pelan menuruni berbukitan.


Gigi Mala bergemeletuk karena menahan rasa dingin. Persendian pada jari-jemari Mala terasa kaku walaupun dia telah memasukkan pada saku jaket tebalnya. Napasnya terengah-engah karena sulit mengatur oksigen dan karbon dioksida yang saling bertukar tempat pada tubuhnya.


Mala memilih duduk pada batang pohon besar dan membuka tas ranselnya. Botol yang tetap menjaga suhu hangat pada teh yang disiapkan oleh Bapaknya sisa beberapa teguk. Tanpa berpikir dua kali, Mala meneguk habis cairan dengan kandungan kafein itu. Cairan manis yang mengandung kafein itu masuk melalui mulut Mala, kemudian mengalir menuju lambung dari kerongkongan. Rasa hangat terasa begitu nyaman, sehingga Mala ingin memejamkan mata saat teh hangat masuk melalui pembuluh kapiler ke dalam darah yang akan segera dialirkan ke seluruh tubuh. Dengan bantuan cairan tadi, jantung Mala mulai memompa darah ke seluruh tubuh lebih cepat.


“Mala! Ayo cepat! Kalau tidak cepat, nanti Bapak tinggal kamu sendirian di sini. Berani?” Perintah Teguh kepada Mala.


Dengan rasa malas Mala beranjak untuk mengikuti perintah Teguh. Glukosa dari teh manis yang diminumnya tadi, mampu mengantarkan energi ke dalam sel-sel dalam tubuh.


Hutan jati pada bukit itu mulai menangkap semburat cahaya jingga dari arah timur. Mala mengarahkan tubuhnya pada penerangan dari Sang Maha Pencipta. Matanya nelangsa menatap Sang Surya yang tidak pernah membual tentang janji untuk selalu menemani makhluk hidup. Pembuktian akan kehadirannya setiap pagi cukup membuat siapa saja mampu berharap pada kehidupan yang lebih baik.


Mala bergeming menatap keindahan maha dahsyat yang membuat siapapun terpana. Sang Surya memang terbangun dari satu arah, namun, gelombang elektromagnetik yang terdiri dari berbagai macam warna dapat melingkupi segala arah.


Mala teringat dengan kata-kata dari Ibunya, hiduplah seperti mentari, walaupun dia terbenam, pasti akan terbit esok harinya. Begitupun dengan kita, jika masalah menghampiri, tidak apa-apa untuk bersedih. Berjuang dan bangkitlah untuk kembali pulih.


Tanpa terasa, air mata Mala menitik. Tidak sabar rasanya untuk segera bertemu kembali dengan Ibunya yang entah berada di dimensi bagian mana. Seperti halnya pendaki yang dengan sabar menapaki mili demi mili untuk sampai puncak, agar dapat menunggu dan mengabadikan ketegaran matahari yang tangguh menghadapi milyaran pasang mata seorang diri. Selama matahari masih terbit setiap harinya, siapa saja masih bisa untuk berubah menjadi lebih baik.


“Ibu, Mala rindu.”


***

__ADS_1


“Lihat, Mala! Tidak setiap hari kita bisa menjumpai air jernih dan segar seperti ini.” Seru Teguh.


Aliran air sungai yang tenang juga dangkal, memantulkan cahaya seperti kristal. Mala menggigil cemas saat membayangkan jika harus menyentuh air sungai itu.


Tanpa memerlukan izin dari Sang Pemilik, Teguh menggulung lengan jaketnya dan mendekat ke arah sungai. Teguh meraup wajahnya dengan rakus, seakan tidak ada lagi air yang bisa dia nikmati untuk kehidupan ini.


“Sini, Mala! Ayo! Kapan lagi kita bisa mandi air alami seperti ini?” Kata Teguh tanpa memperhatikan wajah Mala yang semakin pucat.


Bergegas Teguh membuka topi, jaket, dan juga sepatunya. Dalam hitungan detik dia telah menduduki sebuah batu hitam yang separuhnya terendam oleh air sungai.


Mau tidak mau, Mala mengikuti Bapaknya itu. Pelan tapi pasti Mala membuka jaket dan sepatu lalu berusaha untuk duduk di tepian sungai. Kemalangan memang tidak pernah memberitakan kedatangannya terlebih dahulu, lelah pada otot kaki Mala mengantarkan pada celaka. Batu licin yang dipercaya untuk memijakkan kakinya justru membawa setengah tubuhnya terduduk di dasar sungai. Air dan juga udara pagi di dataran tinggi yang sangat dingin mengalahkan rasa sakit pada bokongnya. Mala memekik karena terkejut.


Pembuluh darah serta saraf pada kaki akibat terendam air dingin seolah rusak. Kulit dan jaringan dibawahnya seperti membeku.


“Segar sekali, kan?” Teguh tidak khawatir pada Mala yang telah membasahi celananya. Teguh tidak pernah lupa membawakan pakaian ganti untuk Mala, jadi tidak masalah jika harus berakhir pada keadaan basah kuyup seperti sekarang.


Sekuat tenaga Mala bangkit seorang diri agar berhasil keluar dari air sungai yang dingin. Tertatih, Mala membaringkan tubuhnya yang lelah di atas batu besar di pinggir sungai.


“Mala!” Panggil Teguh dari tempatnya duduk. Dengan cepat Teguh bangkit dan mendekati Mala.


“Mala! Jangan coba-coba untuk berbohong pada Bapak, ya! Bapak tahu kalau kamu pura-pura saja, kan?” Bentak Teguh pada Mala yang berhenti menggigil. Napasnya semakin lemah.


Teguh menyentuh kedua pipi Mala yang tidak memiliki tenaga. Tersentak Teguh oleh kulit pipi yang dingin seperti es.


“Mala! Bangun, Nak. Jangan bercanda tentang hal begini. Bapak tidak suka!” Mala tidak merespon. Kesadarannya mulai menurun. Teguh segera meletakkan jarinya pada pergelangan tangan Mala untuk memastikan denyut nadinya. Nyaris tidak terasa adanya pergerakan pada nadi Mala. Bibirnya mulai membiru.

__ADS_1


Teguh sadar bahwa Mala kini mengalami hipotermia. Dia segera mengangkat Mala dan memindahkannya ke tempat kering. Dalam satu gerakan, Teguh mengambil tas ransel dan mengeluarkan pakaian ganti milik Mala. Walaupun keadaan tidak sedang baik-baik saja, Teguh berusaha untuk tetap tenang mengganti pakaian Mala. Teguh meraih jaket Mala dan juga miliknya, untuk menyelimuti tubuh Mala. Kemudian, Teguh menggosokkan telapak tangannya dengan cepat, lalu meletakkan tangan pada pipi Mala.


“Mala, bangunlah, Nak. Jangan tinggalkan Bapak sendirian.” Pinta Teguh lirih.


__ADS_2