Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 77


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 77


“Makasi ya, Sil. Makasi sudah nemenin saya makan hari ini.” Ucap Damar setelah dirinya menutup pintu mobil.


“Sama-sama, Mas Damar. Saya senang sekali hari ini karena banyak berbagi ilmu. Apa lagi mentornya enggak pelit ilmu sama sekali.” Balas Silvia dengan senyum yang tulus.


“Kalau begitu, saya boleh dong minta bunga Azalea lagi sebagai bayaran sharing hari ini?” Sahut Damar dengan wajah tampan menggemaskan.


“Tentu saja boleh! Mau warna apa, Mas?” Tanya Silvia bergegas menuju arah tumbuhnya semak Azalea yang sangat subur itu. Damar mengikuti langkah Silvia dengan santai.


“Warna apa ya yang menarik? Saya mau coba bikin teh dari bunga-bunga ini. Mau saya jadikan minuman penyambut kedatangan pengunjung di resort.” Ucap Damar santai.


Seketika Silvia menoleh, “ah! Jangan, Mas Damar. Jangan!” Seru Silvia.


“Kenapa? Kan kamu bilang bunga ini bagus untuk dijadikan teh.” Balas Damar terheran-heran dengan tanggapan Silvia yang seketika berubah tegang.


“Ya, enggak apa-apa sih, Mas Damar. Kan masih ada tanaman lain yang lebih enak untuk dijadikan minuman. Enggak semua orang cocok mengkonsumsi suatu tanaman. Apa lagi bunga Azalea ini belum umum untuk dikonsumsi. Dan lagi, bunga ini bisa menimbulkan efek yang buruk katanya. Apa lagi kalau diminum rutin, Mas.” Jawab Silvia meyakinkan Damar agar tidak menggunakan bunga Azalea sebagai minuman.


“Oh ya? Memangnya bisa bagaimana?” Tanya Damar semakin intim.


“Kucing dan anjing enggak boleh konsumsi bunga ini. Bisa mati, Mas Damar. Kalau manusia, belum ada kabar sampai habis nyawanya. Masih koma.” Sahut Silvia berbisik.


Damar menaikkan alisnya tercengang. Terkejut sekaligus ngeri dengan jawaban Silvia. Tiba-tiba emosi menguasai pikiran Damar. “hah? Orang jadi koma kalau memakan bunga ini?” Tanya Damar memastikan.


“Kayaknya sih gitu, Mas.” Jawab Silvia sambil tertawa. “Saya juga enggak tahu pasti. Kan bukan saya yang minum.”


***


Damar tidak lagi memiliki batas kesabaran untuk segera bertemu Bagi dan menceritakan pengalamannya bersama Silvia barusan. Damar, Bagi, dan Stevina berjanji untuk membahas hal ini selepas Bagi pulang dari kantor.


[nanti kita ktm di resto pizza aja y], Damar mengirimkan pesan kepada Bagi.


[ok. Jam tengah 6 ya], tanpa menunggu waktu lama, Bagi segera membalas pesan Damar.

__ADS_1


***


“Gil, gue nemu sesuatu yang keren.” Ucap Riki pada Ragil melalui sambungan telepon.


“Apaan?” Balas Ragil penasaran.


“Iseng gue cari-cari alat untuk merekam suara saat mengintai orang tua Dara. Gue nemu rekorder mirip pemutar musik gitu.” Jawab Riki menceritakan penemuannya. “Harganya juga enggak terlalu mahal. Masih dibawah dua ratus ribu rupiah.”


“Kalau mirip pemutar musik, berarti fisiknya lumayan gede, Ki. Nanti malah orang tua Dara heran. Dari mana Dara dapat barang begituan. Apa enggak sebaiknya alat itu kecil? Lebih baik dan enggak mencolok juga.” Balas Ragil memberikan pendapatnya.


“Ya udah, gue cari-cari lagi.” Balas Riki mencoba mengakhiri sambungan telepon.


“Lo nyari dimana, Ki?”


“Market place. Udah, ya. Bye.” Putus Riki.


Merasa usaha Riki harus dibarengi, Ragil membuka aplikasi belanja on line dan menelusuri pencarian “alat merekam suara”. Muncul banyak sekali pilihan. Mulai dari pulpen merekam, sampai alat penyadap yang berbentuk seperti flashdisk pun ada.


Ragil menekan alat penyadap berbentuk flashdisk dengan varian harga sekitar dua ratus ribu hingga dua ratus enam puluh lima ribu rupiah. Produk tersebut telah terjual sebanyak lima ratus delapan puluh dua buah sejak awal dipasang pada etalase. “Wah, lumayan juga nih peminatnya. Memangnya ada banyak orang yang mau menguping pembicaraan, ya?” Tanya Ragil sendirian. Penilaian pembeli dari toko tersebut juga mayoritas memberikan bintang sebanyak lima. “Boleh juga nih.” Lanjut Ragil. Ragil kemudian membaca deskripsi yang dibuat oleh penjualnya. Penjelasan detail cara penggunaan, garansi toko jika alat rusak atau mati, bahkan fungsinya tertera dengan jelas.


***


“Asli, pasti Silvia yang nyakitin Agia.” Gemuruh Stevina nampak jelas dari wajahnya.


“Kita belum bisa menyimpulkan apa pun. Kita jangan sampai gegabah.” Sahut Bagi menenangkan Stevina.


“Lantas? Itu namanya apa? Dia sendiri kan yang bilang kalau mengkonsumsi bunga Azalea bisa berbahaya.” Balas Stevina.


“Kita harus pastikan dulu. Apa bunga yang dari rumah Silvia ini sama dengan bunga di toko, juga teh yang dikonsumsi Agia.” Balas Bagi.


“By the way, Bro. Di rumah lo enggak ada teh atau semacamnta yang dikonsum sama Agia?” Tanya Damar kemudian.


“Gue enggak sempat cari-cari.” Sahut Bagi dengan wajah pucat. Betapa teledornya Bagi karena tidak cermat memikirkan kemungkinan yang terjadi.


“Ayo kita cari sama-sama. Siapa tahu ada bukti yang tertinggal di rumah.” Balas Damar serius.

__ADS_1


“Bunga yang Kakak minta dari Wanita Ular itu dimana sekarang?” Tanya Stevina tidak mengurangi kadar kegarangannya.


“Ada dimobil.” Jawab Damar tidak tahu harus bagaimana menenangkan Stevina.


“Mana, biar aku lihat. Mau aku foto dan aku kirim keteman untuk memastikan.” Balas Stevina sengit.


“Kamu sebenarnya kenapa? Kok marah-marah terus dari tadi?” Tanya Damar pada akhirnya


“Siapa yang enggak marah sama orang jahat yang tega nyakitin atasannya?” Balas Stevina.


“Kan belum terbukti kalau dia pelakunya, Stev.” Sahut Damar berusaha tidak menaikkan nada bicaranya.


“Dia korupsi aja udah membuktikan kalau dia itu Wanita Ular, penjahat kelas krupuk. Garing!” Balas Stevina tidak hentinya merendahkan Silvia.


“Gue rasa Stevina cemburu.” Ucap Bagi kemudian.


***


Damar, Stevina, dan Bagi, sama-sama berjalan menuju parkiran. Pembicaraan mereka terhenti karena jam sudah bergerak naik berbanding terbalik dengan matahari yang semakin menurun.


“Kamu jadi mau lihat bunganya?” Tanya Damar pada Stevina.


“Boleh.” Sahut Stevina masih dengan wajah muram.


Tiga buah pot bunga berderet rapi didalam bagasi mobil Damar.


Bagi terkesiap dengan pengelihatannya. Pot berukuran sedang berwarna hitam mengingatkannya pada sore hari saat Sena mencoret-coret pot itu dengan menggunakan cat air. Memang cat air itu tidak lagi terlihat jelas. Namun warna hijau dan kuning yang dibuat Sena mengikuti bendera Brazil masih bisa terlihat.


“Ini pot bunga di rumah gue!” Seru Bagi mendekati pot-pot bunga dengan cepat.


“Yang mana?” Tanya Damar memastikan.


“Ini, yang ini. Ini Sena yang ngecat pakai cat air di rumah. Dia lagi belajar warna-warna bendera negara lain. Ini bendera Brazil ceritanya. Kok bisa pot bunga di rumah due nyasar ke rumah Silvia?” Tanya Bagi heran disertai dengan tatapan kedua temannya.


***

__ADS_1


__ADS_2