
Mamaku Hantu
Part 7
“Sena! Tolong nyapu halaman!” Teriak Senja dari dapur kepada Sena yang sedang asik menonton tayangan memasak ditelevisi. Senja sedang menyapu lantai dan akan segera mengepelnya.
“Enggak ah, males!” Sahut Sena santai.
“Berani-beraninya ya kamu bilang gitu. Masing-masing dari kita itu sudah ada tugasnya. Tugas adik itu patuhi perintah Kakak.” Seru Senja tanpa menghentikan aktifitasnya.
“Terus, tugas Kakak apa?”
“Ya ngasi kamu perintahlah!”
Sena menghela napas malas enggan menanggapi celoteh kakaknya.
“Ayo buruan nyapu halaman. Nanti keburu gelap.”
Senja dan Sena baru saja tiba di rumah dengan menggunakan fasilitas antar-jemput dari sekolah. Sena bersikukuh tidak mau lagi dijemput oleh Silvia.
Setibanya di rumah, Senja langsung mengganti seragam sekolah dengan pakaian rumah.
Ketika Mamanya masih sehat dulu, Senja dan Sena dibiasakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Setiap hari tugas-tugas berganti. Jika hari ini Senja bertugas membersihkan area dalam rumah, maka Sena bertugas di luar rumah. Hari berikutnya tugas yang mereka lakukan akan berganti.
“Sena, sekarang sudah jam setengah enam sore. Coba tolong bilang sama Kakak untuk memasak. Kalau Mama lagi yang memasak, Papa jadi tahu.” Agia yang memerhatikan anak sulungnya sedang sibuk menyapu lantai, berusaha mengingatkannya melalui Sena.
“Kak, disuruh masak sama Mama.”
“Masak apaan, Ma? Aku kan enggak bisa masak.” Jawabnya terkejut tidak mampu membayangkan harus membuat masakan untuk makan malam.
“Sena, ke warung Bu Nur dulu ya. Kita lihat ada apa di sana yang bisa dimasak Kakak.”
“Oke, Ma. Kak, aku sama Mama ke warung Bu Nur dulu.” Ucap Sena kepada Kakaknya.
“Tapi aku enggak ada uang, Ma.” Tiba-tiba Sena teringat jika harus memiliki uang saat berbelanja di warung Bu Nur.
“Di kamar Mama ada. Yuk kita cari.”
***
“Bu!” Panggil Sena kepada Bu Nur.
Terlihat tiga papan tempe, satu krat telur yang isinya tinggal beberapa butir. Tidak ada sayur karena hari sudah terlalu sore.
“Eh Sena. Mau beli apa?” Sahut Bu Nur ramah.
“Ambil tempe ini dan lima butir telur, Sena.” Perintah Agia. Sena kemudian menganggukkan kepala.
“Ini Bu, tempe dan telur.” Sena menunjuk tempe dan telur lalu disambut dengan uluran tangan Bu Nur untuk memasukkannya ke dalam kantong plastik.
“Tomat, cabai merah besar, bawang merah, bawang putih, terasi.” Seru Agia menyebutkan keperluan memasak sore itu.
“Pelan-pelan, Ma!” Sena memprotes kecepatan Agia dalam berbicara.
“Gimana, Sena? Mama kamu? Mama kamu sudah sembuh?” Sahut Bu Nur keheranan.
“Ah, bukan Bu. Maksud saya, Kak Senja mau belajar masak pelan-pelan.” Dengan cepat Sena mencari ide agar tidak terdengar aneh.
Agia tertawa meledek kecerobohan Sena saat tanpa sengaja bibirnya berbicara kepada Agia
__ADS_1
Sena lalu mengulang dengan teliti apa saja yang diperlukan Mamanya untuk memasak.
Bu Nur kemudian menghitung belanjaan Sena dan menyerahkannya dalam kantong plastik. Sigap Sena menyerahkan uang untuk membayar bahan makanan yang telah diambilnya dari warung Bu Nur
***
“Pertama cuci tangan dulu, Senja.” Agia mengucapkan perintah yang akan diestafetkan oleh Sena.
“Cuci tangan, Kak.” Perintah Sena.
Tanpa perlawanan Senja menuruti setiap kata-kata yang diucapkan oleh adiknya.
Agia lalu membuka laci di bawah tubuh Senja. Terdapat talenan yang diperlukan Agia untuk memotong tempe.
Tiba-tiba Senja memekik karena terkejut sebuah talenan melayang di hadapannya.
“Apaan sih, Kak!” Seru Sena yang juga terkejut mendengar kakaknya memekik.
“Ma! Aku belum terbiasa kalau lihat benda-benda berterbangan kayak gini, Ma. Aku bisa pingsan karena kaget!” Senja protes dengan kelakuan Mamanya yang terlalu mendadak.
“Kaget apaan? Segitu aja Kakak kaget.”
“Ya kamu kan bisa lihat Mama bergerak. Sementara aku enggak lihat Mama!” Senja menggerutu.
“Sudah, jangan berantem. Sekarang potong-potong tempe ini jadi dadu.” Perintah Agia lagi.
“Tuh, potong tempenya jadi dadu!” Ucap Sena sewot.
Senja hanya membalas Sena dengan mencebik bibirnya.
Perlahan-lahan Senja memotong tempe dengan perasaan takut jika jarinya ikut terpotong.
“Kak, Mama mau hidupkan kompor.”
“Iya, Ma.” Sahut Senja sambil tetap memotong tempe.
“Sena, tolong ambil blander khusus bumbu di lemari kabinet atas.”
Sena lalu berjalan mengambil kursi makan agar sampai membuka pintu kabinet di dapur bagian atas.
“Yang ini, Ma?”
“Benar, yang itu.” Agia menaruh penggorengan di atas kompor lalu menuang minyak goreng.
Agia lalu mengupas bawang merah dan bawang putih. Tidak lupa dia cuci bersih semua bahan seperti tomat, cabai merah, bawang merah dan bawang putih, sebelum dimasukkan ke dalam blander.
“Sena bisa blander ini?” Tanya Agia.
“Bisa, Ma.” Sena segera menekan tombol nyala pada blander milik Mamanya itu.
“Bilang ke Kakak, Mama mau goreng tempe. Jangan kaget.” Agia berbicara dengan nada yang keras karena motor blander sedang bekerja.
“Kak! Mama mau goreng tempe!” Teriak Sena.
“Oke!” Sahut Senja yang juga berteriak.
Begitu bumbu yang dihaluskan selesai, Agia memerintahkan Sena agar Senja mengambil penggorengan di lemari kabinet bawah.
Senja menuruti dan segera meletakkan penggorengan di atas kompor.
__ADS_1
“Masukkan minyak, Kak.” Perintah Agia.
“Isi minyak, Kak.” Sena mengulang perintah Agia.
“Dikit aja.” Tambah Agia lagi.
“Dikit aja, kata Mama.”
“Tumis bumbu tomat yang ada di dalam blander tadi.” Agia memberikan instruksi sambil memecahkan telur ke dalam mangkok kaca sebanyak lima butir.
Sena lalu mengambil blander dan menyerahkannya kepada Senja, “tumis kata Mama.”
Hati-hati Senja menuang bumbu halus itu dan mengaduknya. Semakin lama aroma bumbu tomat mengeluarkan bau yang sangat enak.
“Isi garam, Kak. Kecap manis juga sedikit aja.” Perintah Agia lagi yang kini sedang mengiris bawang merah.
“Isi garam dan kecap manis, Kak. Sedikit aja.” Ulang Sena.
Senja membubuhi sejumput garam ke dalam tumisan bumbu tadi. Kemudian kecap manis yang ternyata sisa sangat sedikit.
“Ma, kecapnya habis.” Sahut Senja.
“Pakai gula, Kak. Satu sendok teh aja.” Balas Agia yang sedang sibuk mengiris bawang putih juga cabai rawit.
“Pakai gula, Kak. Satu sendok teh.” Ulang Sena. Senja pun menuruti perintah itu.
“Jangan lupa isi salam, itu ada di lemari dekat penanak nasi.” Ucap Agia.
“Kak, jangan lupa salam.”
“Hah? Salam? Selamat sore bumbu.” Jawab Senja mendekatkan diri ke wajan penggorengan.
Agia terpingkal-pingkal mendengar respon Senja atas perintahnya yang kurang lengkap.
Mendengar Mamanya tertawa membuat Sena ikut tertawa. “Apanya yang lucu, Ma?”
“Maksud Mama daun salam, bukan ucapan salam.”
Mendengar penjelasan Agia, Sena pun semakin tertawa dengan keras.
Senja menatap adiknya yang sedang tertawa dengan bingung.
***
Bagi kembali terheran-heran saat mendapati meja makan terhidang tempe bumbu tomat dan telur dadar dengan irisan bawang juga cabai.
Senja mengaku jika dirinya memasak berdasarkan perintah pada tayangan youtube.
Bagi mengakui hasil masakan Senja sangat enak.
Mereka menikmati makan malam dengan obrolan ringan, “Papa, apa enggak perlu ke toko bunga? Sudah tiga bulan Mama enggak pernah mengontrol toko.” Senja membuka obrolan.
“Papa enggak sempat. Nanti deh Papa ke sana.” Sahut Bagi santai.
“Nanti kalau kita diam saja, toko Mama bisa diambil Tante Silvi, Pa.” Sena membalas obrolan kakak dan papanya.
Agia heran dengan reaksi anak-anaknya terhadap Silvia.
Besok dia berencana untuk berkunjung ke toko. Tapi, bagaimana caranya?
__ADS_1