
Mamaku Hantu
Part 62
Teguh tertegun memandang ajudan calon presiden yang bernama Alvian.
“Memangnya bisa seperti itu?” Tanya Teguh tidak percaya dengan penuturan Alvian barusan. Dia bercerita, bahwa calon presiden itu meminta bantuan Mbah Kaliwesung untuk membuag dirinya menang daam pilpres mendatang.
“Apa yang tidak bisa Mbah Kaliwesung lakukan? Hal yang mustahil pun bisa dilakukannya.” Terang Alvian dengan bangga. “Pernah dulu, pengusaha batu bara, hampir ketahuan menyuap orang pajak. Tapi dengan bantuannya, saat pemeriksaan, tidak terdeteksi kecurangan itu. Ajaib, kan?”
“Bagaimana caranya?” Tanya Teguh penasaran.
“Jujur, kalau tentang pengusaha itu saya tidak menyaksikan secara langsung. Jadi, saya tidak bisa bercerita banyak. Kalau pemilihan anggota dewan saya saksikan sendiri bagaimana kehebatan Mbah Kaliwesung itu bekerja.” Terang Alvian pada Teguh.
“Memangnya bagaimana?”
“Di daerah yang isinya pendukung lawan, justru dimenangkan oleh anggota dewan yang meminta bantuan Mbah Kaliwesung. Hebat, kan?” Seru Alvian lagi. Teguh bergeming karena tidak memiliki ide tentang bagaimana cara Mbah Kaliwesung mengubah situasi politik melalui dunia supranatural.
“Masih belum tahu, kan, bagaimana caranya?” Alvian menebak Teguh yang menunjukkan wajah keheranan. Teguh pun menyambut dengan gelengan kepalanya.
“Pagi hari, tim sukses akan dibagikan dupa yang sudah diberikan mantra oleh Mbah Kaliwesung. Selama masa pemilihan di Tempat Pemilihan Suara, dupa itu tidak boleh mati. Setelah itu, mereka yang hendak memilih lawan, akan segera berubah pikiran, dan mencoblos anggota dewan itu. Luar biasa, kan?” Terang Alvian.
“Lalu, mereka yang tetap memilih lawan dewan itu, bagaimana?” Tanya Teguh penasaran.
“Biasanya dia rajin berdoa dan beribadah. Jadi mantra yang dibuat Mbah Kaliwesung tidak mempan.” Sahut Albian seraya menghisap rokoknya kuat-kuat.
“Ini benar atau cuma karangan anda saja?” Tanya Teguh tidak yakin dengan ucapan dari ajudan calon presiden itu.
“Ya terserah anda, mau percaya atau tidak.” Balas Alvian malas. “Kekuatan hipnotis yang dilakukan Mbah Kaliwesung kalau disamakan dengan karate, sudah diatas sabuk hitam. Sudah ahli! Hanya dengan menghirup asap dari dupa itu saja para pemilih bisa berubah pikiran. Hebat, bukan?” Terang Alvian tidak henti mengagungkan kehebatan Mbah Kaliwesung.
“Berarti, pilpres yang akan datang ini, sudah pasti akan dimenangkan oleh bos anda?” Tanya Teguh ingin tahu lebih pasti.
“Tergantung.”
“Tergantung apa?”
__ADS_1
“Tergantung kemampuan bos saya dalam memenuhi syarat yang diberikan.” Sahut Alvian memelankan suaranya.
“Memang apa syaratnya?” Tanya Teguh.
“Kapan hari saya dan bos diharuskan mencari kepompong kupu-kupu gajah.” Sahut Alvin.
“Kupu-kupu yang besar itu, kan? Apa susahnya? Cari saja di tempat penangkaran kupu-kupu. Pasti dapat.” Balas Teguh.
“Bukan disana letak perjuangannya. Bos harus cari sendiri. Kupu-kupu yang ada di salah satu tempat ibadah terbesar. Tempatnya dekat gunung. Gelap dan sepi. Bos harus ke sana tapi tidak boleh mengingat Tuhan. Kalau sampai teringat apa lagi menyebut nama Tuhan, kepompong itu akan hilang.” Sahut Alvian. “Waktu itu langit terang benderang berubab jadi gelap gulita. Angin berhembus kencang persis angin pantai saat malam hari.” Lanjut Alvian lagi.
“Kalau di dataran tinggi kan memang biasa cuaca mendadak berubah-ubah.” Balas Teguh mematahkan keyakinan Alvian.
“Tapi tidak dibarengi dengan kelelawar yang sangat heboh berterbangan saat sore hari, kan?” Sahut Alvian lagi.
Teguh tertegun, “memang artinya apa?”
“Mana saya tahu. Kata bos saya keinginannya tidak disetujui oleh pemilik dunia ini.” Balas Alvian.
“Siapa pemilik dunia ini?”
“Memangnya kepompong itu digunakan untuk apa?” Tanya Teguh masih belum jelas.
“Diambil sari patinya untuk mengisi pada dupa.” Sahut Alvian. “Dupa ini luar biasa. Kalau orang yang tidak memilih pun bisa dibuat untuk memilih orang yang dibantu Mbah Kaliwesung.”
“Oh ya? Lantas, syarat selanjutnya apa lagi?” Tanya Teguh belum enggan untuk menyudahi pencarian informasinya.
“Kata bos saya, beliau harus menangkap kunang-kunang yang berada di atas sungai terbesar di pulau ini saat tengah malam . Bahkan, bos saya dilarang mengajak siapa pun. Hanya boleh mencarinya seorang diri.” Balas Alvian meyakini Teguh. “Katanya sih, kunang-kunang itu bertujuan untuk menerangi surat suara agar wajah bos saya saja yang terlihat.” Cerita Alvian.
“Lantas, saya harus bagaimana ya? Apa saya harus menjadi tim sukses calon presiden itu?” Tanya Teguh.
“Ya terserah anda.”
“Nanti calon presiden ini pasti akan buat-buat isu yang tidak menyenangkan tentang lawannya. Saya malas terlibat kalau harus begini-begitu. Saya tidak suka politik.” Sahut Teguh.
“Lalu, apa yang anda suka?”
__ADS_1
Teguh diam tidak menjawab.
“Kalau anda merasa mampu mewujudkan keinginan anda sendirian, silahkan, kalau tidak, bisa dipikirkan lagi.” Balas Alvian diplomatis. “Sama seperti tadi, anda tidak langsung berhasil menemukan rumah Mbah Kaliwesung, kan? Karena rumah ini memang tidak benar-benar ada. Niatannya itu yang menjadi pintu gerbang menuju ke sini. Anda punya keinginan, anda harus siap dengan segala konsekuensinya. Sederhana, kan?”
***
Bergetar Riki membuka pintu kamar mandi di rumah Dara. Nasib baik berpihak padanya, karena dua orang dewasa yang membicarakan hal-hal tidak terpuji itu telah pergi.
Ragil terkejut mendapati Riki muncul dengan wajah pucat pasi.
“Napa lo?” Tanya Ragil dengan menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara. Riki membalas dengan menggelengkan kepala cepat.
“Ra, nyokap lo kerj dimana?” Tanya Riki kemudian.
“Kerja di rumah aja, Ki. Nyokap gue tukang jahit.” Sahut Dara dengan senyum tertahan.
“Hebat banget ya. Penghasilan tukang jahit pasti banyak. Furniture di rumah lo keren-keren banget. Pasti mahal-mahal.” Lanjut Riki memuji rumah Dara.
“Gue juga baru tahu kalau nyokap gue beli furniture baru. Sebelumnya biasa-biasa aja.” Sahut Dara.
“Mungkin nyokap lo berusaha mengurai rasa sedih lewat nonton TV, Ra.” Ragil menanggapi ucapan Riki. Feelingnya mengatakan bahwa ucapan Riki bukan hanya sekedar pujian biasa.
“Kak Dara, nanti sekolahnya mau bareng sama Ragil?” Tanya Doni berusaha mengganti topik.
“Gue belum tahu. Nyokap gue belum ada membahas tentang sekolah. Gue sih maunya gitu. Dekat juga, kan, dari rumah.” Sahut Dara.
“Setuju gue, nanti kita bisa berangkat bareng ya, Ra.” Balas Ragil ramah. “Siapa sangka dulu kita enggak pernah bertegur sapa, sekarang bisa ngobrol bareng.” Lanjut Ragil.
“Kalau yang tadi bukain kita pintu, siapa, Ra?” Tanya Riki lagi.
“Itu… Itu pacarnya nyokap gue.” Sahut Dara ragu.
“Tinggalnya di sini?” Sambung Riki lagi.
Dara menganggukkan kepala lemah dan memandang Riki juga yang lain dengan tatapan seperti ingin menyampaikan sesuatu.
__ADS_1
“Maaf, kalian masih lama di sini?” Tanya Bram yang muncul tiba-tiba dari balik pintu rumah dengan tatapan tidak bersahabat.