Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 34


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 34


Dandi mendengar percakapan kelompok dua dari balik tenda. Nama Danti disebut-sebut dalam pembicaraan mereka. Niat awal untuk membuat beberapa jebakan sirna menjadi perasaan kalut dan takut. Dia bergegas keluar dan mendekati Sena juga Doni.


“Sen!” Panggil Dandi berdesis.


Bukan Sena yang menoleh, melainkan Doni.


“Sen, ada yang manggil.” Ujar Doni.


Seketika Sena pun menoleh ke arah jari Doni yang menunjuk Dandi di balik tenda. Sena lalu mendekati Dandi.


“Sen, apa benar Danti hilang?” Tanya Dandi dengan wajah pucat.


Sena menaikkan alis tanda tidak menyangka dengan pertanyaan dari Dandi. “Dari mana lo tahu?”


“Danti hilang dari kapan?” Tanya Dandi tidak menggubris pertanyaan Sena.


“Gue enggak tahu pasti, tapi tadi teman satu tendanya bilang, kalau sesaat sebelum jam tidur, Danti masih ada. Tapi begitu dia bangun, Danti sudah hilang. Dari informasi Pak Guntur, Danti katanya pulang karena enggak enak badan lalu dijemput oleh orang tuanya.” Terang Sena.


“Enggak mungkin orang tuanya jemput, mereka lagi di kampung. Danti itu ke sekolah kemarin diantar ojek online.” Sanggah Dandi.


“Ya, mana gue tahu. Itu kan informasi yang dibagikan oleh Pak Guntur. Kenapa lo? Kenapa lo panik?” Sena heran melihat wajah rivalnya yang selalu saja mengganggu dari awal mulai sekolah.


“Danti itu adik gue.” Sahut Dandi pasrah.


“Hah? Adik?” Mata Sena membesar setelah mendengar penyampaian dari Dandi.


“Iya. Kita kembar.”


“What? Kok enggak ada yang tahu kalau lo punya saudara kembar?” Informasi selanjutnya dari Dandi benar-benar mengejutkan.


“Gue enggak suka punya saudara perempuan. Mana kembar lagi.” Balas Dandi dengan raut wajah tidak nyaman.


“Guru-guru pasti tahu dong.”

__ADS_1


“Ada yang tahu, ada juga yang enggak. Banyakan sih enggak ada yang tahu. Sekarang masalahnya bukan tentang gue kembar atau apa, tapi dimana kita nyari adik gue itu?” Tanya Dandi kalut.


“Tunggu gue panggil Kak Doni.” Sena lalu bergegas mendekati Doni dan menceritakan tentang orang tua Danti dan tentu saja orang tua Dandi juga, tidak benar-benar datang untuk menjemput Danti. Doni terperangah mendengar penuturan Sena.


Doni dan Sena lalu mendekati Dandi. “Berarti memang ada yang enggak beres. Tapi kita enggak bisa gitu aja nuduh apa lagi berprasangka sendiri. Lagi pula kita enggak tahu detail gimana Danti hilang, kan?” Ucap Doni tidak berusaha untuk menenangkan Dandi.


“Terus, kita harus gimana, Kak?” Tanya Dandi.


“Kita pura-pura aja kalau kita enggak tahu apa-apa. Sambil jalan, kita lihat apakah ada yang janggal. Jangan sampai ada yang tahu kalau Danti itu saudara kembar lo. Gue yakin, sesuatu memang terjadi di acara kemah in. Atau apa mungkin kegiatan ini memang sengaja dibuat untuk melakukan tindak kejahatan?” Tambah Doni.


***


Pak Guntur memberikan perintah agar Doni berjalan paling depan, diikuti oleh anggota lain, dan diakhiri oleh Sena. Mereka jalan berbaris melewati kebun pisang yang gelap. Namun, sesaat setelah perjalanan dimulai, salah satu anggotanya mulai bertanya sambil berjalan, “Kak Doni, apa Danti hilang diculik?”


“Kan Pak Guntur bilang kalau Danti dijemput orang tuanya.” Balas Doni.


“Masak sih kita enggak ada yang sadar kalau Danti memang keluar dari tenda.” Balas Tia dengan suara bergetar.


“Kalau dia diculik, baranh-barangnya pasti masih ada di tenda, kan? Lah ini? Barang dan pemiliknya enggak ada. Udah deh, jangan terlalu mendramatisir suasana yang sudah mencekam begini. Apa lagi kita ngebahasnya di dalam kebun yang rasa-rasanya mirip sama hutan kayak begini.” Ucap Doni menenangkan yang lain.


“Kenapa nangis?” Tanya Doni mendekati Yulia.


“Gue takut, Kak. Gue takut.” Jawabnya lirih.


“Takut apa? Kan kita sama-sama di sini. Bukan sendiri-sendiri. Kalau sendirian, orang tua gue juga enggak mungkin ngasi izin. Lo harus semangat dong.” Dukung Doni.


“Gue takut kalau memang ada penjahat di kebun ini, dan akan menangkap kita satu per satu.” Balas Yulia semakin tertekan. Mendengar curhatan Yulia, Elano pun ikut menyuarakan ketakutannya.


“Kalian enggak usah pura-pura enggak tahu sama kejadian dua tahun lalu tentang anak hilang saat kegiatan kemah, deh. Kejadiannya pun sama. Anak itu hilang saat sebelum jurit malam tiba. Berarti dia memang ditangkap saat yang lain istirahat.”


“Lo jangan bikin kita jadi takut dong, El!” Serang Tia.


“Siapa yang nakut-nakutin. Gue kan bicara apa adanya. Gue juga dengar dari kakak-kakak kelas. Sekarang tanya sama Kak Doni dan Kak Deva. Apa benar isu yang beredar itu?” Tuntut Elano.


Doni bergeming sebentar. “Gue juga enggak yakin. Kejadian waktu itu sama kayak sekarang. Jurit malam dilakukan per kelompok saat kelompok lainnya masih tidur. Jadi gue enggak yakin kalau anak yang dikabarakan hilang itu benar ada, atau hanya isu saja untuk menambah keseruan acara. Kasarnya, cerita dibuat untuk menaik-turunkan adrenalin siswa-siswa. Ya kan, Dev?”


“Gue malah enggak dengar ada isi macam ini. Memangnya ada isu begitu?” Sahut Deva bingung.

__ADS_1


“Oke, gini deh sekarang. Supaya kita enggak takut, gimana kalau kita ubah formasi jurit malam ini?” Saran Sena kemudian.


“Ubah gimana?” Balas Tia.


“Kita jalan beriringan aja. Masing-masing berdua. Jangan sendiri kayak sekarang. Kita jadi sulit untuk melindungi. Kalau kita jalan berdua, barisan kita pun jadi mengecil, kan?” Jelas Sena.


“Bagus juga ide lo, Sen.” Balas yang lain.


“Biar bagaimana pun, kita harus menjaga satu sama lain. Salah satu anggota kita sudah pulang tanpa ada yang tahu kejelasannya. Enggak mau kan kalau hal itu terulang lagi?” Sahut Sena menambahkan yang dibalas dengan anggukkan dari yang lain. Formasi baru kemudian dibentuk dan diatur oleh Doni, anggota kelompok yang lain pun tidak segan untuk membantu.


***


“Guys, kalian tahu enggak kalau pohon pisang itu sangat bermanfaat, loh. Selain karena pohon pisang tidak mengenal musim, pohon pisang juga berguna sama seperti pohon kelapa.” Terang Dino dengan tujuan membuat topik baru agar yang lain tidak melulu terfokus dengan masalah hilangnya Danti.


“Tapi, ada juga mitos-mitos yang bilang kalau pohon pisang ini juga ngeri, loh.” Balas Deva menambahkan topik tentang pohon pisang sambil berjalan melalui kebun pisang menuju Pos 2.


“Jangan bahas yang seram-seram dong Kak Deva!” Hardik Tia karena tidak pantas rasanya untuk membahas yang menyeramkan disaat seperti sekarang ini.


“Memangnya ada mitos apaan, Kak?” Tanya yang lain.


“Kalian tahu jantung pisang? Katanya kalau jantung pisang digantung di atas pohon, bisa dijadikan sebagai pintu antara dunia nyata dan dunia gaib.” Balas Deva. “Kalian mau nyoba, nggak?” Tambahnya lagi.


“Ih! Enggak ah! Skip topik ini!” Sergah yang lain.


“Tapi kalau tentang pohon pisang, Kakek gue juga pernah cerita. Katanya kalau pohon pisang ditanam di depan rumah, bisa bikin aura negatif sama rumah dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.” Balas Yulia menambahkan.


“Iya, benar. Kalau itu gue juga pernah dengar. Makanya di keluarga gue, enggak ada yang nanam pohon pisang di pekarangan rumah. Apa lagi di depan rumah.” Balas Elano menyetujui cerita Yulia.


“Tapi nih, tapi ya. Pohon pisang juga katanya paling disenangi makhluk yang enggak bisa kita lihat. Pohon pisang itu dijadiin tempat kumpul-kumpul gitu deh.” Ucap Deva.


“Mulai deh, mulai! Udah dibilangin jangan ngomongin yang begitu-begitu.” Tia mulai meninggikan suaranya agar Deva mengerti bahwa dia tidak suka dengan topik pembicaraannya. “Bandel amat kalau dibilangin, geran gue. Nanti kalau beneran ada yang muncul, gimana?” Tia kembali mengomel.


Tiba-tiba Elano yang berjalan paling depan bersama Deva berhenti mendadak. Hal itu menyebabkan yang lain ikut berhenti dan terheran-heran. “Kenapa?” Tanya Yulia yang berjalan berdampingan dengan Tia di deretan nomor empat.


“Itu.. itu apa?” Elano berdiri kaku melihat pohon pisang yang berada sekitar lima langkah di depannya. Pohon itu bergerak-gerak dan mengeluarkan sinar terang.


Sesosok makhluk berbadan besar keluar dari balik pohon itu dan menghadang mereka. Seluruh anggota kelompok dua berdiri diam mematung menahan napas.

__ADS_1


__ADS_2