Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 16


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 16


Bagi dan Sena terkejut dan menghentikan langkah saat melihat Silvia berjalan cepat ke arah mereka.


“Sudah ambil raportnya Sena, Kak?” Tanya Silvia sembari mengulas senyum diwajahnya saat melihat tangan Bagi memegang raport bersampulkan warna biru tua dan tangan satunya menggenggam tangan Sena.


“Ngapain kamu kesini?” Bagi tidak menghiraukan pertanyaan Silvia.


“Saya ingat hari ini Senja dan Sena raportan, jadi saya ke sekolah, Kak. Saya pikir Kak Bagi tidak bisa ke sekolah.” Sahut Silvia sopan.


Sena melirik Agia yang juga menggenggam tangan Sena. Kesenangan Sena bisa berjalan berpegangan tangan dengan Mama Papa saat pengambilan raport terpenuhi. Biasanya hanya Agia saja yang datang ke sekolah.


“Tante enggak perlu sok perhatian sama aku dan Sena deh. Apapun yang Tante lakukan sekarang enggak akan menghilangkan rasa kecewa kita sama Tante.” Senja tiba-tiba menyahuti perkataan Silvia. Sena dan Bagi pun terkejut. Pada awalnya Sena dan Bagi memang hendak menuju kelas Senja setelah penerimaan raport di kelas Sena.


“Senja kok kesini?” Tanya Bagi heran.


“Iya aku nungguin kalian lama banget. Pantesan lama, ternyata ada yang sok menggantikan posisi Mama di sini.” Jawab Senja sinis. Masih teringat jelas bagaimana Papanya menceritakan tentang kelakuan yang dilakukan Silvia selama ini kepada toko Mama. Tidak rela rasanya harus bersikap baik kepada Silvia seperti dulu.


“Tante pikir enggak ada yang ambil raport. Jadi Tante ke sini. Tapi kalau memang sudah ada Papa, Tante bisa ke toko. Semoga hasil raportnya bagus ya anak-anak.” Balas Silvia.


“Anak-anak? Tante enggak usah merasa seakrab itu sama aku dan Sena. Tante itu cuma kebetulan kerja sama Mama aku, enggak lebih dari itu.” Senja tidak bisa mengontrol emosinya. Bagi bingung harus bagaimana saat orang tua siswa yang lain menoleh karena mendengar perkataan kasar Senja. Tapi Bagi tidak ingin amarah Senja tertanam begitu saja di dalam dirinya.


“Senja, sudah yuk kita ke kelas.” Ajak Bagi agar Senja mau berhenti berbicara kepada Silvia


Silvia menatap Senja dengan wajah merah menahan malu.


“Seandainya aku punya wewenang, Tante sudah aku pecat!” Senja berjalan cepat menuju kelasnya.


Sena melepas tangan Papa dan Mamanya lalu mengejar Senja.


“Maafkan saya, Kak Bagi. Saya awalnya tidak sengaja melakukan itu. Tapi karena Mbak Agia tidak pernah mengecek, saya jadi terbiasa.” Ucapnya malu-malu.


Agia tidak ingat sama sekali tentang masalah penyelewengan yang dilakukan oleh Silvia. Apa benar dirinya mendiamkan hal tersebut?


“Benar kata Senja, seandainya saya punya wewenang, saya tidak akan mau berurusan lebih lama lagi dengan situ. Tapi apa daya, toko itu punya Agia. Biarlah nanti Agia saja yang membuag keputusan setelah dia bangun.” Bagi pun tersulut emosinya mendengar ucapan Silvi, namun gerak-geriknya tidak menunjukkan sedikitpun penyesalan.


“Memangnya Mbak Agia akan bangun kapan, Kak?”

__ADS_1


Bagi menahan napas mendengar pertanyaan Silvia.


***


Setelah menyelesaikan pertemuan antara wali kelas dan orang tua siswa, Bagi meluncur ke rumah orang tua Agia.


Senja dan Sena berhamburan keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumah Kakek-Neneknya.


Tiba-tiba telepon genggam Bagi berdering. Nama Mamanya tertampil dilayar sebagai pemanggil.


“Halo, Ma.” Sapa Bagi halus.


“Lagi di mana, Nak?” Balas Dewi.


“Di rumah Ayah dan Bunda, Ma.” Jawab Bagi sambil mengunci mobilnya dengan menekan satu tombol pada handle pintu.


“Ngapain?” Dewi terdengar tidak suka saat mengetahui anak dan cucunya berada di rumah besan.


“Anak-anak minta diantar ke sini, Ma.” Jawab Bagi kikuk.


“Memangnya kamu enggak kerja?”


“Oh…” Sahut Dewi malas.


“Ada apa, Ma?” Tanya Bagi penasaran. Dirinya masih berdiri di garasi rumah Ayah dan Bunda Agia.


“Papa mau ngajakin Senja dan Sena liburan sekolah.” Jawab Dewi datar.


“Oh ya? Mau kemana memangnya?”


“Tahu tu Papamu. Tanya sendiri. Kapan-kapan ke sini juga dong tengok Kakek dan Nenek. Jangan ke sana melulu.” Dewi terdengar ngambek seperti anak kecil.


“Iya besok aku antar mereka ke sana ya, Ma.”


Dewi menutup telepon tiba-tiba. Bagi menaikkan alisnya dan menggelengkan kepala pelan.


***


“Aku rasanya baru pertama kali itu punya marah yang meledak kayak bom atom, Kek.” Senja menceritakan kejadian pertemuan mereka dengan Silvia di sekolah tadi.

__ADS_1


“Ya kamu jangan sampai marah-marah begitu dong. Nanti cantiknya bisa hilang loh.” Balas Nenek.


“Memangnya kalau Nenek jadi aku bisa nahan marah? Anaknya Nenek lo dicurangi kayak begitu. Aku yakin banget kalau Tante Silvi yang bikin Mama enggak sadarkan diri. Dia pasti udah ketahuan sama Mama, terus mau nutupin kesalahannya itu. Ya enggak, Ma?” Senja berbicara dengan napas memburu.


“Mama bilang enggak ingat.” Sahut Sena yang asik menonton Youtube dari HP milik Kakek.


“Ih Mama deh, ngeselin banget kalau harus enggak ingat begini. Kapan kita jadi tahu pelakunya coba?” Senja begitu frustasi menahan rasa ingin tahu yang begitu berkecamuk di dalam pikirannya.


“Pa! Sini Pa.” Senja meneriaki Bagi yang baru masuk ke dalam rumah.


“Aku bilangin ke Papa. Nek Dewi pernah ngasi Mama bunga, Pa. Bisa jadi Nek Dewi juga mau jahatin Mama.” Kelugasan Senja membuat Bagi tersedak oleh udara yang dihirupnya.


“Senja, kamu kenapa bilang begitu?” Ayah Agia menghardik Senja yang selalu berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu.


“Papa harus tahu, Kek.”


“Maksudnya gimana ini, Yah?” Bagi menuntut jawaban dari Ayah mertuanya.


“Kamu duduk dulu.” Pinta Ayah Agia pelan.


“Kemarin saat anak-anak nginap di sini, kita main ke toko. Entahlah Ayah lupa Sena atau Senja yang nanya tentang bunga di belakang toko. Pegawai di toko bilang kalau Mama kamu yang memberikan dulu. Lalu ya begitu, seperti yang kamu dengar. Senja curiga kalau Mamamu yang mencoba menyakiti Agia.” Ayah Agia mencoba memberikan penjelasan dengan singkat.


“Memangnya Mama ngasi bunga apa?”


“Enggak tahu. Senja juga ngawur lah sama pikirannya. Memangnya ada bunga yang bisa bikin orang jadi sakit?”


“Ada pasti, Kek! Nanti kita ambil contoh bunga dan kita uji, apa saja kandungan bunga itu.” Seru Senja.


“Uji di mana? Di penggorengan?” Balas Sena santai.


“Ya di laboratorium lah.” Sahut Senja sambil merengut.


“Kakak pikir sekarang lagi difilm-film gitu bisa gampang nguji kandungan sesuatu?”


“Memangnya enggak bisa?”


“Mana aku tahu.” Balas Sena malas.


“Ish! Ini anak bikin gue emosi aja.”

__ADS_1


Bagi bermain dengan pikirannya. Teman-temannya ada banyak dari berbagai perkantoran. Bisa saja dia meminta salah satunya untuk memberikan informasi mengenai pengujian laboratorium kandungan dalam bunga yang disebut Senja tadi.


__ADS_2