
Mamaku Hantu
Part 17
Bagi meninggalkan Senja dan Sena di rumah mertuanya. Urusannya sekarang adalah menginterogasi Dewi mengenai bunga yang disampaikan oleh Senja. Banyak hal yang ingin dia tanyakan kepada perempuan yang telah melahirkannya itu.
“Kok sendirian? Senja dan Sena enggak diajak?” Tanya Andi penuh selidik saat Bagi berjalan dari garasi rumah kakeknya. Terlihat gurat kekecewaan saat Bagi datang seorang diri.
“Mereka masih di rumah Ayah dan Bunda, Pa. Aku ke sini mau ketemu Mama.”
“Mau ngapain?” Andi penasaran dengan tujuan Bagi.
“Katanya Mama pernah ngasi Agia bunga dulu. Aku cuma mau pastiin aja sama Mama. Mama ada?” Jawabnya menerangkan kepada Andi.
“Ada di dalam. Memangnya Mama kamu ngasi bunga apa untuk Agia?”
“Aku juga kurang tahu, Pa.” Bagi enggan menceritakan secara detail pemikiran anak-anaknya tentang Dewi yang memiliki niat untuk menyakiti Agia.
“Ma!” Andi memanggil Dewi yang mendekam di dalam kamar setelah selesai mengerjakan segala urusan rumah tangga. Mereka hanya tinggal berdua saja menghabiskan waktu tua bersama di rumah peninggalan Bapak.
Dewi tidak kunjung muncul, maka Bagi berjalan menuju kamar orang tuanya.
“Ma…” Panggil Bagi setelah berhasil menggerakan handle pintu dan mendorongnya. Udara sejuk terasa begitu Bagi melangkah masuk. Sepertinya penyejuk udara di ruangan itu diatur sampai suhu terendah.
Dewi menoleh saat menyadari anak tersayangnya muncul dari balik pintu.
“Bagi!” Wajah Dewi berubah ceria dan memanggil anaknya untuk masuk. Tangannya segera menekan tombol pause pada drama yang ditontonnya.
“Sini, duduk di sini.” Panggilnya dan menepuk sofa di sebelah kanan.
“Mama masih senang nonton drama Korea?” Tanya Bagi berbasa-basi.
“Iya dong! Cuma ini aja hiburan Mama. Umur sudah sepuh, berkegiatan apapun malah bikin capek. Mendingan Mama selonjoran sambil nonton dan juga ngemil.” Jawabnya ceria.
“Jangan lupa istirahat ya, Ma.” Bagi mengingatkan Dewi untuk menunjukkan rasa perhatiannya.
“Ah! Kamu pakai sok perhatian segala. Berkunjung ke rumah aja kamu jarang banget.” Dewi langsung merengut.
__ADS_1
“Aku kan kerja, Ma. Ditambah semenjak Agia di rumah sakit, aku harus mengurus anak-anak.”
“Siapa suruh nikah sama orang penyakitan.” Dewi mencebik. Bibirnya bergerak menampilkan wujud yang tidak baik.
“Ma! Agia enggak penyakitan. Dia jarang sakit, Ma. Kebetulan aja dia bernasib sial. Aku minta sama Mama untuk bantu berdoa, ya, supaya Agia cepat sembuh.”
Dewi tidak menyahut permintaan Bagi.
“Oh ya, Ma. Apa benar Mama pernah memberikan Agia bunga untuk ditanam di toko?” Bagi memulai penyelidikannya.
“Bunga apa?” Dewi berusaha mengerti maksud pembicaraan Bagi.
“Bunga yang ada di belakang toko Agia, Ma.”
“Oh bunga itu? Iya benar. Dulu Mama beli lima warna pula. Cantik-cantik kan warnanya?” Seru Dewi antusias.
“Aku belum lihat, Ma.”
Dewi menaikkan alisnya terkejut, “Lantas, kenapa kamu tanya itu?”
“Apa Mama punya maksud tertentu dengan bunga-bunga itu?”
“Bukan begitu maksud aku, Ma. Aku kan cuma tanya saja.” Bagi sangat terpojok karena pikiran Mamanya sama persis seperti yang ada dalam pikirannya.
“Biarpun Mama enggak suka dengan istrimu yang merasa tahu banyak hal itu, tapi mustahil Mama sampai menyakiti, apa lagi sampai tidak sadarkan diri seperti itu.” Dewi tidak melanjutkan ucapannya. Dia melirik Bagi yang menatapnya seperti mencari-cari kebenaran.
“Apa? Kenapa kamu lihat-lihat wajah Mama? Kamu enggak percaya sama Mama?” Dewi memburu Bagi. “Biarpun Mama punya masa lalu yang kurang baik, Mama enggak mungkin punya niat untuk masuk lagi ke dalam penjara itu.”
Bagi menarik napas panjang. Entah harus mempercayai instingnya atau ibu yang melahirkan dan membesarkan dengan kasih sayang. Tidak ingin rasanya untuk mengulang insting yang salah seperti waktu dulu. Karena instingnya, Mama harus mendekam di penjara.
“Ma, apa enggak bisa Mama suka dengan Agia?” Tanya Bagi berganti topik.
Dewi menatap Bagi lekat. “Mama perlu waktu.”
“Dua belas tahun sudah Agia menjadi istriku, Ma. Lagi pula semua yang terjadi bukan salah Agia. Kalau Mama enggak punya rasa dendam yang mengerikan kepada Asih, enggak mungkin begini, kan?”
“Kamu mau ungkit-ungkit masalah yang sudah lewat begitu? Bahas saja terus sampai kamu puas.” Dewi memalingkan wajahnya dan enggan melihat Bagi.
__ADS_1
Bagi hanya mampu meredam rasa penasarannya jika Dewi sudah merahuk seperti sekarang.
***
Bagi menatap taman yang berada di tengah jalan raya, sebagai pembatas antara dua jalur. Lampu berwarna merah membuat pengguna jalan berhenti beberapa detik untuk memberikan kesempatan pengguna jalan lainnya melaju agar tidak terjadi kesemrawutan.
Ingin rasanya Bagi menghubungi Damar untuk membantunya menyelesaikan teka-teki yang tidak memiliki awal dan salam pembuka seperi sekarang. Entah dirinya harus memulai dari mana agar benang-benang permasalahan yang berkaitan dengan istrinya itu terhubung. Namun, dia ragu untuk menelepon Damar. Bagi tahu bahwa Damar tengah disibukkan dengan resort yang dikelolanya kini. Tapi, kalau hanya sekedar menelepon, mungkin Damar bisa memberikan masukan. Biasanya ada saja ide-ide aneh yang bermunculan dikepalanya. Itulah yang menyebabkan diusianya yang sangat muda dulu, bisa menjadikannya seorang pemimpin di sebuah hotel maupun villa. Kini, diusianya yang sudah menyentuh angka empat puluh empat, Damar sudah mampu membeli sebuah resort kecil dan menjadikannya sebagai pemilik properti bergengsi.
Bagi memutuskan untuk menelepon saja. Bagi melirik sebentar lampu lalu lintas yang masih merah. Dengan cepat tangannya bergerak untuk menyambungkan panggilan kepada Damar.
Tidak perlu menunggu lama, sambungan itu telah terhubung, “Yes Ma Bro!” Sapa Damar dari seberang telepon saat tahu bahwa Bagi yang menelepon.
“Apa kabar bosku yang luar biasa keren?” Sapanya balik.
“Gue ya begini aja, masih seperti yang dulu!”
“Lo dimana, Mar?” Tanya Bagi.
“Di resort. Lo dimana? Mau mampir?” Balas Damar dengan bertanya balik.
“Gue dari rumah bokap. Enggak ganggu gue kalau ke sana?”
“Ya enggak lah! Santai kalau sama gue. Kan gue sudah jadi bos sekarang.” Tawanya renyah, masih seperti dulu yang penuh kelakar.
“Tunggu ya, gue sampai kurang lebih tiga puluh menit lagi.”
“Siap!”
***
“Lo dari mana, Sil? Kok jam segini baru ke toko?” Tanya Rania kepada Silvia.
“Tadi gue ke sekolah Senja dan Sena untuk ambil raport.” Sahutnya malas dan membuka kunci kantor.
“Oh! Kak Bagi berhalangan untuk ambil raport, ya?” Tanya Sutustini masuk dalam obrolan.
“Ya gitu deh.” Sahut Silvia malas. Dia enggan melakukan komunikasi dengan rekan-rekan kerja yang kini berbeda status. Silvia bergegas memasuki ruangannya dan mendekam tanpa memantau keadaan toko.
__ADS_1
Sutustini berbisik kepada Rania, “kenapa dia?”
“Entahlah, lagi datang bulan kali!”