
Mamaku Hantu
Part 26
Riki tidak bisa dihubungi sama sekali. Pesannya tidak dibalas, telepon pun tidak diterima. Ragil cemas saat melirik jam dinding di kamarnya telah menunjukkan pukul tiga sore.
“Dengan atau tanpa Riki, gue harus ke perkemahan nanti malam.” Ucap Ragil dalam hatinya.
***
Sena duduk berselonjoran kaki seorang diri di depan tenda setelah menikmati makan siang. Jika berbicara tentang rasa, nasi bungkus yang disiapkan oleh guru-guru, biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Nasi putih, telur rebus setengah butir, sayur labu siam, semur tahu, dan tempe tepung yang tidak krispi lagi. Namun, kebersamaan saat duduk melingkar bersama teman satu kelompok membuat makan siang kali itu terasa sangat nikmat dan lezat.
Pembagian makan siang itu dilakukan oleh ketua kelompok dan wakil ketua kelompok yang ditunjuk oleh guru-guru.
Setelah makan siang, siswa-siswi tiap kelompok, dipersilahkan untuk mengatur dan membagi diri dalam tiga bagian. Masing-masing tenda akan ditempati oleh lima orang anak.
Sena senang karena Elano berada dalam kelompok yang sama dengannya, yaitu kelompok dua.
“Woi, lo adiknya Senja, ya?” Tanya seorang siswa laki-laki yang kini berdiri di depan Sena.
Sena mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang berbicara dengannya.
“Iya, gue adiknya Senja.”
“Gue Doni, teman sekelasnya Senja.” Ucap Doni seraya mengulurkan tangan kanannya. Otomatis, Sena meraih uluran tangan dari Doni.
“Kita satu kelompok. Semoga aman-aman, ya.” Sambung Doni.
“Kak Doni ketua kelompok kita, kan?” Tanya Sena.
“Iya. Kalau perlu apa-apa bilang gue, ya.”
Sena hanya membalas dengan senyuman. Senang rasanya jika memiliki seseorang yang terlibat dengan keluarganya. Ditambah orang itu sangat ramah dan juga mudah akrab.
Doni meninggalkan Sena dan masuk ke dalam tenda lain yang berada di sebelah kiri.
“Itu ketua kelompok kita kakak kelas kan, Sen?” Tanya Elano yang telah selesai meletakkan tasnya di dalam tenda. Dia kini ikut serta duduk di samping Sena.
“Iya, sekelas sama Kakak gue. Kelas 6-A.” Balas Sena.
Suara sirine dari pengeras suara yang dibawa oleh Pak Guntur berbunyi nyaring. Doni dan seorang siswi yang menjadi wakil ketua dalam kelompok dua berjalan cepat ke arah posisi Pak Guntur.
Beberapa siswa memerhatikan aktivitas yang dilakukan oleh masing-masing ketua dan wakil. Sementara yang lain masih asik bercengkrama bersama teman dalam satu kelompok.
__ADS_1
Pak Guntur memberikan arahan kepada seluruh ketua dan wakil, agar menginformasikan kepada anggotanya untuk bersiap melakukan pembersihan diri di sungai kecil dekat sawah.
“Tolong kalian sampaikan kepada anggota yang lain kalau lokasi pembersihan diri dilakukan dalam dua bagian. Sisi kanan untuk siswa, dan sisi kiri untuk siswi.” Kata Pak Guntur sambil menunjuk sungai kecil yang biasa digunakan untuk mengairi sawah di belakang tenda.
“Jika ada yang ingin menggunakan kamar mandi, bisa menuju pada bagian sudut lapangan dekat dengan kebun pisang. Di sana.” Tunjuk Pak Guntur lagi.
“Jangan lama-lama. Kita berikan waktu dua jam. Setelah itu kita akan mempersiapkan makan malam. Paham?” Lanjut Pak Guntur.
“Paham, Pak!” Jawab para ketua dan wakil masing-masing kelompok.
Informasi itu kemudian disampaikan oleh Doni kepada anggota kelompok dua.
“What? Mandi di sungai?” Pekik Tia siswi kelas 5-B saat mendengar informasi itu di depan tenda.
“Bukan mandi, bersih-bersih aja. Kali aja lo mau cuci muka gitu. Kalau mau mandi, noh di sana.” Sahut Doni terlihat malas mendengar celoteh salah satu anggotanya.
“Yuk, kita siap-siap. Waktunya cuma dua jam. Pasti banyak yang ke sungai.” Ucap Danti kepada Tia.
“Siapa lo merintah-merintah gue?” Balas Tia.
Wajah Danti berubah mendung mendengar hardikan dari Tia.
“Dia wakil gue. Kenapa lo?” Lawan Doni.
Terdapat enam orang siswi dalam kelompok dua. Agar tidak bercampur dengan anak laki-laki, mereka memutuskan untuk berada dalam satu tenda.
Danti mengajak anggota perempuan lainnya untuk beranjak menuju sungai. Semua bersedia, kecuali Tia.
Sena melirik ke dalam tenda perempuan. Tia terlihat sedang asik membaca buku komik sambil menikmati makanan ringan seperti kue kering. Sena lalu melongokkan kepalanya ke dalam tenda perempuan, “kalau kemah cuma untuk baca buku komik, mana seru. Mending pulang aja.” Seru Sena.
“Berisik lo! Suka-suka gue, lah!”
“Kapan lagi bisa main di sungai kalau bukan sekarang?” Balas Sena lagi dari luar tenda.
“Kapan pun gue bisa mandi di sungai, enggak harus nunggu kemah macam gini. Udah sana!”
Sena tidak mau menghabiskan waktunya untuk hal-hal begini. Dia putuskan untuk pergi meninggalkan Tia.
***
Sena berjalan bersama Elano menuju sungai yang berada tepat di belakang tenda. Sungai kecil yang lebarnya sekitar seratus delapan puluh senti meter itu sangatlah panjang.
Terlihat siswa-siswi mulai membasahi diri. Bahkan anak laki-laki tak segan untuk menceburkan diri ke dalam sungai.
__ADS_1
“Ini kalau di rumah gue ada juga yang begini. Tapi namanya bukan sungai sih. Selokan bukan?” Ujar Elano.
“Iya benar. Tapi di sini airnya jernis banget. Gue jadi pengen nyebur juga deh.” Jawab Sena.
“Apa enggak bikin gatal?” Balas Elano.
“Kalau gatal, tinggal garuk aja.” Sahut Sena.
“Hai Adikku sayang.” Sapa Senja yang berjalan bersama beberapa teman perempuannya mendekati Sena dan Elano.
Sena hanya melirik mereka malas, dan tetap melanjutkan berjalan.
“Ih, Adik lo, ganteng-ganteng tapi sombong deh.” Goda Jeana kepada Sena.
“Nanti kalau mau mandi, popoknya jangan lupa dibuka ya, Sayang.” Tambah Senja membuat teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal.
Sena hanya diam dan menelan semua candaan yang diutarakan Senja dan yang lain.
Sena dan Elano menurunkan sepasang kaki ke dalam air, setelah berhasil duduk di pinggiran sungai.
“Sen, gue jadi pengen pipis. Boleh di sini?” Tanya Elano berbisik.
“Jangan lah! Kan ini untuk sawah, di toilet sana aja.” Perintah Sena.
“Tapi, gue gakut, Sen.” Balas Elano.
Sena menghela napas dengan panjang. Baru saja dirinya menikmati air segar, ditambah posisi duduk yang sangat strategis. Karena jika kepalanya menoleh ke sebelah kiri, pemandangan gunung dan perbukitan terlihat sangat indah.
“Ya udah, ayo buruan!” Ajak Sena kepada Elano.
Dengan cepat Sena mendahului Elano menuju toilet di ujung lapangan.
“Sena! Tunggu gue. Cepat amat ni anak jalannya. Apa dia kebelet pipis juga?” Ujar Elano sambil berjalan, setengah berlari.
***
Sena dan Elano berdiri di depan toilet yang berderet sebanyak sepuluh ruang. Walaupun tersedia banyak, mereka tetap harus menunggu siswa lain yang lebih dulu sampai di sana.
“Kebun pisang itu luas banget ya, Sen. Kalau malam pasti seram. Hiii…” Ucap Elano saat menatap bagian belakang toilet.
“Gue rasa jurit malam kita nanti lewat sini deh, El.” Balas Sena tanpa melihat perubahan wajah temannya.
“Yang benar, Sen?”
__ADS_1
Sena tidak menjawab pertanyaan Elano, karena sibuk memfokuskan pengelihatan untuk menjangkau seorang anak perempuan yang sedang berdiri dibalik pohon pisang dengan tatapan sendu.