
Mamaku Hantu
Part 55
Waktu menunjukkan pukul 05.30. Sinar mentari perlahan membelai permukaan bumi bagian timur dengan malu-malu. Dia tidak perduli, siap, tidak siap, segala sesuatu yang berada di bumi ini harus siap menerima kehadirannya.
Wajah-wajah lelah tergambar jelas dari Ragil, Riki, Doni, Dandi, dan Sena. Walaupun demikian, kebersamaan dan kekompakan mereka mampu menguak misteri hilangnya anak-anak. Terlebih, anak-anak tersebut merupakan salah seorang yang mereka kenal dengan baik. Pengalaman berharga yang akan mereka ingat seumur hidup.
Mereka semua kini berkumpul di antara rumah gubuk dan kandang ternak. Beratapkan langit yang semakin terang, juga hembusan angin bercampur embun tanpa peduli dengan kondisi objek tersebut.
Damar membuka jaketnya dan menyampirkannya untuk Dara. Dia tahu, bahwa anak perempuan itu sedang kedinginan karena udara pagi menguasai tubuhnya.
Ijal dan Kuntoro mengaitkan tangan mereka pada lengan Teguh yang telah terikat. Mereka hanya ingin memastikan jika pelaku tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri.
Para guru menatap Pak Teguh tidak percaya. Guru senior yang menjadi panutan untuk menjadi lebih aktif membimbing anak didik, mampu melakukan hal buruk seperti penculikan.
Andre mendapatkan informasi, jika anggota kepolisian lainnya telah berada di lapangan tempat tenda didirikan.
“Biarkan keadaan di sana tetap seperti apa adanya. Jangan biarkan siapa pun keluar atau masuk. Kita perlu menyelidiki semua pihak yang terkait sengan kejadian ini.” Perintah Andre kepada seseorang di seberang Hand Talky miliknya. “Oh ya, tolong tenaga medis agar membawa mobil ambulance masuk ke dalam kebun. Sepertinya bisa masuk melalui lapangan bola.” Ucap Andre lagi.
“Siap, 86!” Balas lawan bicara Andre.
Pak Hartanto selaku kepala sekolah tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun saat melihat keberadaan Dara di antara siswa lainnya. Perasaan malu dan tidak berguna menyelimuti seluruh tubuhnya. Orang-orang di seluruh dunia pasti akan membicarakannya. Bagaimana bisa, beberapa orang anak dibawah umur, lebih mampu berjuang untuk menyelamatkan temannya. “Tunggu, dimana Danti?” Tanya Pak Hartanto dalam hatinya. Sedikit pun dia tidak berani menunjukkan ekspresi apa pun. Dia tidak mau polisi mengaitkan kasus penculikan ini dengannya. “Biar saja, aku hanya perlu mengucapkan tidak tahu menahu. Sudah ada pihak kepolisian yang akan menyelesaikan semuanya. Aku hanya perlu diam.” Sahut Pak Hartanto lagi pada dirinya.
Andre kemudian beralih pada guru-guru yang sedari tadi diam.
“Bapak dan Ibu, saya harap kerja samanya untuk ikut kami ke kantor polisi, guna melakukan penyelidikan. Kami memerlukan keterangan dari Bapak dan Ibu.” Ucap Andre tegas bukan untuk sebuah pengharapan, namun sebuah perintah yang harus dilakukan.
__ADS_1
Pak Hartanto, Bu Siti, dan Bu Cahya menganggukkan kepala cepat.
“Baik, Pak.” Sahut Bu Siti.
***
Semua orang yang sebelumnya berada di kebun durian, kini harus melalui proses tanya jawab di kantor polisi, guna melengkapi penyelidikan. Mereka akan menggunakan mobil patroli milik kepolisian.
Sementara itu, beberapa orang petugas diperintahkan untuk melakukan pengamanan Tempat Kejadian Perkara di rumah gubuk kebun durian. Andre dan beberapa penyidik mulai memeriksa keadaan gudang rahasia di bawah tanah, dan juga rumah gubuk di kebun durian.
Setibanya Sena dan yang lain di lapangan bola, dia meneriaki nama Senja dengan keras. Seketika Senja menoleh dan mendapati adiknya berada di dalam mobil polisi dengan keadaan selamat. Bergegas Senja berlari mendekati mobil polisi.
“Pak, berhenti sebentar. Itu Kakak saya. Dia pasti khawatir. Sebentar saja, Pak.” Pinta Sena pada anggota kepolisian yang sedang mengendarai mobil patroli itu.
Tanpa membantah, petugas tersebut pun menuruti permintaan Sena.
“Sena, kamu enggak apa-apa? Ada yang sakit?” Tanya Senja memeriksa keadaan Sena dari kepala hingga kaki.
“Aku baik-baik aja, Kak. Bukan aku yang hilang, Kak. Tapi Danti. Aku sama teman-teman nolong Danti.” Balas Sena menatap Senja kasihan. Dia pasti sangat khawatir dengan keadaan adiknya.
Namun, seketika raut wajah Senja berubah garang. Sekuat tenaga Senja memukul pundak Sena. ”Lo, ya! Enggak usah sok berani, sok-sok punya nyali nyelamatin teman macam itu!” Senja memekik garang. “Kalau lo sampai kenapa-napa, gimana? Lo mau ninggalin gue sama Papa? Iya?” Tak henti-hentinya Senja mengayunkan tangan untuk menyerang Sena. Tak kuasa rasanya Senja menahan kekhawatiran pada adik semata wayang itu.
“Senja!” Teriak Bagi memanggil anak sulungnya. Seketika saja Senja menoleh ke arah suara dan menghentikan serangannya pada Sena. Betapa terkejutnya dia saat melihat Bagi berdiri bersama Damar dan Stevina. Mereka lalu berjalan mendekati Sena yang kena amukan Senja.
“Papa! Kok bisa ada di sini?” Tanya Senja menghapus air matanya.
“Iya, adik kamu yang hubungin Papa. Semua aman terkendali. Sena sekarang sudah besar, dan jadi anak pemberani.” Balas Bagi bangga pada putra bungsunya.
__ADS_1
“Om Damar dan Tante Stevina juga ikut bantu Si Biang Rusuh yang sok tahu ini?” Tanya Senja tidak tahan melihat kelakuan adiknya yang terlalu gegabah ikut campur dalam masalah orang lain.
“Tentu, dong. Tante mana mungkin tega ngebiarin anak pemberani ini sendirian.” Balas Stevina.
Ragil, Riki, Doni, dan Dandi berjalan mendekati Sena dan yang lain.
“Adik lo luar biasa, Ja. Jangan marahi dia.” Ucap Ragil.
“Betul, Ja. Adik lo pemberani.” Sambung Doni menyetujui ucapan Ragil. “Lo harus bangga.”
“Kalau enggak ada Sena dan yang lain, Danti enggak mungkin ketemu, Kak. Aku mau ngucapin banyak-banyak terima kasih untuk kalian semua. Om, Tante, teman-teman. Tentu saja pihak kepolisian. Gue enggak akan bisa membayangkan kalau Danti sampai kenapa-napa. Sekali lagi. Makasi banyak.” Ucap Dandi dengan derai air mata.
Sena mendekati Dandi dan menepuk pundaknya. “Gue cuma berusaha semampu gue. Selebihnya, kekuatan Tuhan pasti menyertai kita. Gue cuma membayangkan, seandainya posisi lo terjadi sama gue. Kakak gue, Senja, yang diculik sama Pak Teguh. Gue pasti ngelakuin hal yang sama kayak yang lo lakuin.” Sahut Sena pada Dandi.
Tanpa segan Dandi kemudian merangkul Sena. Hal tersebut diikuti oleh Doni, Ragil, dan Riki. Mereka kini berpelukan karena terharu, kerja keras mereka mampu menyelamatkan dua orang anak sekaligus.
***
Guru-guru saling berbisik saat melihat sebuah mobil polisi yang membawa Pak Teguh di dalamnya meninggalkan area perkemahan.
“Jadi benar Pak Teguh pelaku penculikan? Tidak bisa dipercaya, ya? Guru sebaik dia justru bisa melakukan hal seperti itu.” Ucap salah seorang guru. Mereka masih belum tahu cerita sesungguhnya dari kejadian itu. Mereka hanya menangkap sekilas, jika Pak Teguh menculik anak-anak saat jurit malam.
Pak Guntur dan Bu Rima yang memiliki kecurigaan atas Pak Teguh merasa sangat terkejut oleh pemikiran dan dugaan mereka sebelumnya.
Ingin rasanya mengubah tuduhan agar kejadian hilangnya anak-anak bukanlah tindakan penculikan. Tapi apa daya, semua sudah terlanjur.
Mereka pun sangat penasaran dengan kondisi anak-anak yang menjadi korban penculikan. Apakah semua selamat?
__ADS_1
***