
Mamaku Hantu
Part 63
Stevina menatap kagum pintu masuk menuju lobby Umah Padi Resort milik Damar. Apa yang dilakukan Stevina, sama persis seperti Bagi. Namun, perlakuan Damar pada Stevina benar-benar menunjukkan sebuah isyarat tentang pembuktian usaha dan kerja keras.
“Aku enggak tahu, apa ini sesuai dengan seleramu?” Ucap Damar ketika mereka berada di lobby, memandang hamparan sawah yang terbentang di hadapan mereka. Stevina tidak memberikan jawaban, matanya berkaca-kaca mendengar pertanyaan Damar. Dia kemudian menarik tangan Stevina dan meletakkan sebuah cincin berbahan dasar emas putih yang berhiaskan batu saphire biru pada telapak tangannya.
Stevina memandang Damar dengan tatapan kagum. “Dan aku enggak mau ditolak.” Lanjut Damar dengan tangan tetap memandang ke dalam mata Stevina.
“Kakak ngelamar aku?” Tembak Stevina. “Baru sekarang? Selama ini kenapa diam dan menghilang? Kakak enggak mikirin gimana buruknya aku dimata orang-orang? Jawaban yang aku berikan sekarang pasti akan selalu salah. Kalau aku terima, orang-orang pasti akan menganggap aku mata duitan yang mengharuskan Kakak banyak uang dulu, baru menikah. Sementara kalau aku bilang enggak mau, sudah dipastikan kalau aku akan jadi orang yang super jahat.”
“Aku mau membuktikan omonganmu yang dulu, kalau aku pasti bisa mempersiapkan sesuatu yang layak. Membuktikan kesungguhanku untuk hidup denganmu, Stevina. Apa resort ini enggak cukup?” Tanya Damar terlihat frustasi dan hampir menangis. Jika dia tidak ingat seorang staff resepsionis sedang memasang telinga dengan tajam, bisa saja Damar memburu Stevina dengan tangisan.
“Memangnya siapa yang bilang kalau aku enggak mau hidup dengan Kak Damar? Aku cuma bilang butuh waktu. Tapi Kakak malah hilang dan ngebiarin aku berangkat ke Jepang. Aku pikir Kakak enggak serius sama Aku. Aku cuma perlu waktu untuk mengisi keinginanku, Kak. Kalau aku segera menikah, hidupku pasti akan terfokus dengan keluarga dan enggak ada kesempatan lagi untuk diri sendiri. Lihat Agia! Karena kehidupan monotonnya, sampai-sampai dia hilang kesadaran diri tanpa ada yang tahu asal muasalnya. Aku enggak mau sampai seperti itu, Kak.” Ungkap Stevina pada akhirnya.
Damar melongo mendengar penuturan Stevina. “Kenapa kamu baru bilang sekarang?”
__ADS_1
“Memangnya Kakak pernah nanya? Kakak terlalu fokus dengan staff itu tanpa mau tahu apa yang aku pikirkan. Kakak enggak pernah ada waktu untuk aku, kan?” Balas Stevina cepat tanpa memberikan kesempatan pada Damar untuk membela diri. “Sekarang apa? Umur aku sudah setua ini, gimana bisa punya keturunan? Umur aku sudah empat puluh tahun tahun, Kak!” Tuntut Stevina pada akhirnya.
“Aku enggak tahu kalau ternyata kamu sampai punya pemikiran gini. Kenapa kamu enggak utarakan semua, Sayang. Sejak kamu pergi ke Jepang untuk mimpi sebagai jembatan budaya itu, aku enggak pernah sekali pun berpikir untuk berdekatan dengan perempuan lain. Aku bahkan janji sama diri aku sendiri, kalau bukan sama kamu, lebih baik tidak usah berumah tangga.” Balas Damar pada akhirnya. “Padahal, kamu tetap bisa melakukan semuanya setelah menikah. Aku yakin, Pak Mentri memberikan izin untuk staff terbaiknya membangun rumah tangga.” Ucap Damar memberikan jeda pada pengakuannya. “Sekarang, apa mimpi kamu sudah terpenuhi? Apa bisa aku mengisi mimpiku? Apa boleh aku memenuhi mimpi dan keinginanku yang lama sekali tertunda?” Tanya Damar pada Stevina.
Stevina menganggukkan kepala lemah dan menyerahkan dirinya pada kekasih tercinta.
Damar kemudian merengkuh Stevina ke dalam pelukannya, seraya membisikkan sebuah kalimat. “Apa kamu sudah siap, untuk jadi nyonya pemilik resort?” Stevina menganggukkan kepala cepat dengan napas tertahan karena tangisan penuh haru. “Selamat mengemban tugas baru, Ibu Owner!” Lanjut Damar yang mampu mengembangkan senyuman Stevina.
***
“Gue kok jadi kasihan banget ya, sama Dara.” Ujar Senja saat mereka baru saja sampai di taman dekat rumah Senja, Sena dan Ragil. Mereka memarkirkan sepeda dengan rapi agar tidak menghambat lalu lintas di komplek perumahan.
“Kata Ibu Warung yang di depan rumah Dara, dia itu dikekang banget sama Ibunya. Parahnya lagi, tetangga-tetangga di sekitar rumah Dara, enggak tahu kalau Dara hilang. Aneh, kan? Mana ada sih, orang tua yang enggak heboh kalau anaknya hilang. Apa lagi ini, Dara hilangnya kan enggak jelas. Bukan sekedar kelamaan main sama teman di tetangga gitu.” Ungkap Senja lagi.
“Kalau gue cerita, kalian bisa pingsan saking ngerinya.” Balas Riki yang telah lebih dulu mencapai kursi taman terbuat dari beton dengan beratapkan pohon bunga Bougainville atau kembang kertas berwarna ungu.
“Memang lo punya informasi apa? Kok pas keluar dari kamar mandi, muka lo jadi pucat begitu?” Sahut Ragil yang berdiri di depan Riki. Siang hari yang sangat panas, tidak menyurutkan semangat anak-anak itu untuk mengungkap misteri keluarga Dara.
__ADS_1
“Dara itu ternyata dijual sama Ibunya ke Pak Hartanto!” Seru Riki kemudian.
“Hah? Jangan bercanda lo! Dijual gimana? Memangnya Dara itu kerupuk bisa dijual?” Sahut Ragil terkesiap dengan ucapan Riki.
“Untuk apa gue bohong? Gue dengar sendiri percakapan Ibu dan laki-laki yang jadi pacarnya itu!” Balas Riki tidak kalah sengit menjawab keterkejutan Ragil. “Intinya, ada sesuatu yang mereka rahasiakan tentang hilangnya Dara. Dari yang gue tangkap, Dara itu dijual ke Pak Hartanto, tapi Pak Teguh dijadiin kambing hitam.”
“Kambing hitam, gimana? Jelas-jelas Dara sendiri yang bilang kalau dia dipanggil sama Pak Teguh dan diajak ke tendanya untuk minyak yang bisa meredakan dingin itu, kan?” Balas Sena ikut menjadi bagian dalam pembicaraan penting itu.
“Apa jangan-jangan, Dara itu sebenarnya diculik Pak Hartanto?” Sambung Doni. “Lantas? Gimana dengan Danti yang nyata-nyata berada di dalam tas ransel Pak Teguh? Atau, ada sesuatu yang kita lewati?” Ucap Doni pada mereka semua.
“Aduh! Kepala gue jadi ruwet begini. Kenapa ada Banyak sekali predator anak-anak di sekeliling kita? Kita harus bergegas ngasi informasi ini ke polisi.” Balas Senja.
Agia tidak tinggal diam, “Sena, Doni, kaloan jangan sampai gegabah untuk bergerak sendirian. Nanti kalian harus cerita sama Papa, biar Papa yang menemani untuk bertemu polisi. Ini bukan hal sederhana lagi. Apa lagi, Raya secara terang-terangan mengungkapkan ke Mama kalau Pak Teguh itu Om Jahat yang mengikat dirinya. Bisa jadi Pak Hartanto dan Pak Teguh itu bersekongkol. Pihak kepolisian harus tahu itu.”
“Kenapa kalian diam dan memandang ke sana?” Tanya Ragil pada Sena dan Doni yang tiba-tiba diam memandang satu titik yang sama. “Oh! Nyokap lo lagi ngomong, ya?” Tebaknya tepat yang disahuti dengan anggukan kepala dari Sena.
“Mama bilang apa?”
__ADS_1
“Mama bilang ketek Kakak bau bawang.”