Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 74


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 74


Andre tetap menunggu Hartanto menjawab pertanyaan yang diajukan.


“Bukannya saya sudah bilang diawal, kalau saya tidak tahu, Pak. Video yang Bapak tunjukkan ke saya tidak merunut pada hal apa pun. Kenapa saya harus diinterogasi seperti penjahat begini?” Jawab Hartanto membela diri. Wajahnya berubah kesal karena Andre mengulang pertanyaan yang sama.


Andre tidak berusaha menjawab sanggahan dari Hartanto. Mau tidak mau Hartanto menyampaikan pembelaan dirinya sekali lagi.


“Lagi pula, memangnya salah kalau saya sebagai kepala sekolah untuk berkeliling di area perkemahan? Saya ‘kan cuma memastikan keselamatan dan keamanan peserta kemah.” Sambung Hartanto lagi yang mematahkan semangat Andre dalam penyelidikan.


***


Sementara, pembicaraan antara Andre dan Leri, terasa seperti berbicara dengan pelaku kejahatan yang sudah terbiasa melakukan pemeriksaan. Tenang dan stabil.


“Berarti, Pak Leri ini sudah lama mengenal kepala sekolah yang bernama Hartanto?” Tanya Andre. Setelah menanyakan identitas diri Leri.


“Betul, Pak.” Jawab Leri tenang.


“Bagaimana kalian bisa saling mengenal?”


“Satu kampung, Pak.” Intonasi tenang dan stabil tetap menguasai Leri.


“Pak Leri biasa menyewakan tenda secara rutin untuk kegiatan perkemahan, berkat hubungan pertemanan yang baik, ya?”


“Betul, Pak. Tapi, tidak semua betul juga. Fasilitas yang saya tawarkan lengkap, tentu saja dengan harga jauh lebih murah dari tempat lain. Di tempat lain juga saya banyak memiliki pelanggan. Boleh dipastikan pada bagian admin saya. Semua tercatat jelas.”


“Pak Leri kenal dengan Pak Teguh?” Tanya Andre mulai menggiring.


“Tidak kenal. Hanya tahu saja. Pak Teguh itu penculik, kan?”


Andre memejamkan mata sejenak.


“Apa Pak Leri membantu Pak Teguh dalam tindak penculikan waktu itu?”

__ADS_1


Dengan wajah tenang, Leri menjawab tuduhan Andre. “Untuk apa, Pak? Untuk apa saya membantu Pak Teguh?” Leri memberi jeda dengan menatap manik hitam milik Andre.


“Memangnya siapa yang bisa menguatkan alibi kalau waktu kejadian Pak Leri tidak terlibat?”


Leri terlihat berpikir. “Maaf, Pak. Saya sendirian didalam mobil. Saya tidur. Tahu-tahu sudah pagi.”


“Memangnya, jam berapa Pak Leri kembali kemobil?”


“Setelah tenda-tenda berdiri sempurna, dan tidak ada permintaan dari pihak sekolah, saya langsung diam didalam mobil.”


Kini giliran Andre yang menatap lekat kedua bola mata Leri. Berbekal informasi dari Sena tentang munculnya sosok Leri dari kebun pisang, mematangkan niatnya untuk menggali lebih dalam.


“Sama sekali tidak dapat mendatangi area perkemahan? Ke toilet misalnya?” Desak Andre.


“Tidak, Pak. Saya langsung tidur.”


“Kalau begitu, kenapa tidak segera pulang saja? Kenapa harus berada di lingkungan perkemahan?”


“Bisa saja ada gangguan teknis, seperti besi penyangga yang terlepas, atau kompor tidak menyala. Bisa apa saja, Pak.”


***


“Jangan sampai lo bicara sama siapa pun, Har. Apa pun itu. Kita harus terus bergerak sesuai rencana. Lo akan bilang, memang benar memberikan uang sejumlah dua puluh juta ke orang tua anak itu sebagai janji bahwa tidak akan menuntut kalau anaknya hilang di sekolah. Benar begitu, Har?” Kata Leri pada Hartanto yang masih memasang raut wajah cemas.


“Har! Lo dengar, enggak?” Hardik Leri menepuk lengan kanan Hartanto yang sibuk memandang hamparan rumput hijau di taman dekat rumah Leri.


“Memangnya siapa yang akan bertanya hal itu? Polisi? Bagaimana mungkin polisi bisa bertanya hal macam itu?” Jawab Hartanto.


“Lo ini enggak pernah berpikir secara panjang. Logika dong, logika! Polisi pasti akan menemui orang tua anak itu. Kalau sudah terpojok, orang tua anak itu pasti bilang kalau lo ada memberikan uang tutup mulut sebesar dua puluh juta rupiah . Lo paham enggak, sih?” Balas Leri sengit.


“Kalau orang tua Dara mengaku, berarti mereka juga mengakui melakukan jual beli manusia dong. Mereka juga pasti akan dipenjara! Gue enggak yakin mereka akan mengakui hal itu.” Seru Hartanto mematahkan pemikiran Leri.


“Lah, kan ini namanya rencana. Rencana! Seandainya, seandainya kalau orang tua, siapa nama anak itu?”


“Dara.” Jawab Hartanto malas.

__ADS_1


“Iya, seandainya kalau orang tua Dara mengaku kalau lo, kepala sekolah, Pak Hartanto membeli anak-anak, dengan nominal dua puluh juta rupiah, lo harus bilang, kalau uang itu adalah kesepakatan bersama untuk menghentikan orang tua Dara menuntut pihak sekolah.” Sambung Leri.


“Tapi, Ler…”


“Tapi apa lagi? Gitu aja dulu! Gue mau cari cara lagi supaya enggak ketahuan. Yang penting, enggak ada saksi yang tahu, kalau kita terlibat dengan kasus hilangnya Dara dua tahun yang lalu. Paham?” Ucap Leri tegas, kemudian beranjak pergi meninggalkan Hartanto seorang diri.


***


Ragil, Riki, dan Doni sedang berkumpul di rumah Sena dan Senja. Mereka tidak lelah memikirkan cara untuk menjebak orang tua Dara agar mengakui kalau telah menjual anaknya.


“Tapi kalau kita sampai ketahuan, gimana?” Tanya Senja.


“Kita ngomong dulu sama Dara. Gue rasa, kita harus cerita apa adanya tentang percakapan antara Ibunya dan laki-laki itu. Biar bagaimana pun, Dara harus tahu kalau keadannya enggak lagi aman.” Sahut Ragil.


“Gimana caranya kita ngobrol sama Dara, mau main ke sana lagi? Gue takut.” Balas Senja.


“Enggak perlu takut. Kan kita ramai-ramai. Kita ajak Dara jalan-jalan ke luar rumah. Kan dekat rumah Dara ada warung rujak. Kita ajak aja ke sana. Nanti di warung rujak itu kita cerita ke Dara.” Jawab Riki menenangkan Senja.


“Kalian yakin Kak Dara akan percaya?” Sahut Sena menanggapi.


“Kita harus bisa buat dia yakin. Jangan dipaksa. Tapi buat pengertian. Lagian, untuk apa sih kita harus mengarang cerita berbahaya begini. Apa untungnya buat kita, kan? Harusnya Dara tahu hal itu.” Jelas Riki kepada yang lain.


“Terus, langkah berikutnya apa?” Tanya Senja.


“Kita pasang alat penyadap, makanya kita perlu Dara biar lebih gampang.” Balas Ragil.


“Alat penyadap? Memangnya bisa?” Senja tidak mau menyisakan rasa penasarannya. Segala hal harus diketahuinya.


“Gampang! Di market place banyak yang jual segala macam hal. Es batu aja ada yang jual. Apa lagi cuma sekedar alat penyadap macam detektif gitu. Gampang lah.” Balas Riki.


“Kalau kita ketahuan?” Balas Senja lagi.


“Kita harus bilang dulu sama Papa dan Om Damar.” Sahut Sena.


“Sekalian sama Pak Andre juga.” Seru Doni.

__ADS_1


Wajah anak-anak itu berubah. Antara antusias, tegang, juga bercampur takut.


__ADS_2