
Mamaku Hantu
Part 19
Sena termenung memikirkan tantangan yang dia terima dari Dandi. Jam istirahat tinggal sebentar lagi, jadi dia duduk bersandar pada pohon cempaka berwarna putih dengan wangi yang sangat membuat candu.
“Lagi mikirin apa, Sayang?” Tanya Agia yang ikut serta menyandarkan punggungnya pada batang pohon cempaka.
“Kenapa tantangan Dandi aku terima ya, Ma. Harusnya biarin aja, enggak perlu dihiraukan.” Sena mengutarakan dilematika pikirannya saat ini.
“Mama juga heran, kenapa Sena menggubris gertakan dari Dandi?”
“Aku kesal kalau terus-menerus harus diganggu dia, Ma.”
“Memangnya kamu berani harus kembali ke perkemahan sendiri?” Tanya Agia penasaran.
Sena menunjukkan deretan giginya yang rapi dan bersih. “Enggak tahu aku,”
“Tapi, kenapa aku harus takut? Kan ada Mama yang selalu sama aku.” Lanjut Sena lagi.
“Mama bisa bantu apa sih, Nak. Kalau ketemu orang jahat gimana?” Agia menjadi paranoid dengan keadaan yang bisa saja terjadi.
“Memangnya ada orang jahat yang berani dekat-dekat? Kan peserta kemah ada banyak, Ma. Di setiap pos juga pasti ada guru-guru yang berjaga.” Sena menenangkan Mamanya. Bukan. Dia mencoba untuk menenangkan sirinya sendiri.
“Nanti kalau ada apa-apa, aku bisa teriak.” Sena melanjutkan dengan yakin.
“Ma, kalau ada apa-apa, Mama bisa jambak orang jahat itu. Kayak Mama jambak Si Dandi.” Sena kembali meyakinkan Agia agar selalu berada dekat dengannya.
“Atau Sena bilang saja menyerah sama Dandi.” Agia memberikan saran.
“Ih, Mama! Jangan konyol deh. Masak aku harus menyerah sama biang kerok itu?” Hardik Sena.
“Dari pada harus mengikuti tantangan yang berbahaya itu, kan?”
__ADS_1
“Aku yakin aman-aman, Ma. Aku punya ide cemerlang. Nanti, saat kelompok aku dapat giliran, akan aku perlambat jalannya, Ma. Jadi aku balik ke perkemahan enggak terlalu jauh. Gimana?”
“Boleh juga ide kamu.” Agia menyetujui dan akan mendukung ide dari Sena.
***
“Siapa sangka bocah kurang ajar yang biasa gue ajak nguber WiFi gratis, sekarang punya resort mewah di tempat yang sangaaaaat indah. Mampir ya guys ke Umah Padi Resort!” Bagi mengetik kata-kata pada media sosialnya setelah menekan gambar yang diabadikannya tadi, saat dia telah sampai di area parkir Umah Padi Resort.
Bagi membaca sekali lagi sebelum mempublikasikannya. Setelah yakin dan mantap, Bagi segera memposting gambar dari plang nama resort milik Damar.
Bagi lalu menelepon Damar dari dalam mobil untuk mengabarkan bahwa dirinya telah sampai di resort.
Damar memerintahkan untuk segera menuju ke lobby resort. Dia akan segera menuju lobby juga untuk menjemput Bagi.
Pintu masuk menuju lobby harus melewati jembatan yang berada di atas kolam ikan koi. Pintu masuk di apit oleh patung naga yang terbuat dari batu paras berwarna abu-abu. Patung naga itu berfungsi sebagai pegangan di sisi jembatan, agar orang yang melewatinya tidak terjatuh ke dalam kolam ikan.
Bagi memegang tubuh patung naga yang besarnya sekitar paha orang dewasa, dengan kepala mengarah ke luar pintu. Kemudian Bagi melihat kolam yang berada di bawah jembatan. Banyak sekali ikan koi besar dan berwarna sangat cantik. Bagi mengagumi ikan-ikan itu, sama seperti Andi, Papanya yang memelihara ikan koi di rumah.
Bagi teringat dengan cerita dari Kakeknya tentang ukiran seperti ini di pintu masuk. Raksasa tersebut bernama Sang Kala Boma.
Relief Sang Kala Boma ini pun memiliki filosofinya. Siapa pun yang masuk melewati pintu dengan berisikan relief Sang Kala Boma, akan dinetralisirkan sifat keraksasaannya.
Bagi memandang takjub pada seni ukir yang terpampang di atasnya. Dia sangat mengapresiasi pembuat ukiran relief itu.
“Woi! Sini masuk! Ngapain lo berdiri di sana?” Damar menyadarkan Bagi dari kekagumannya pada relief tadi.
“Gila, gila, gila! Resort lo keren banget, sumpah!” Puji Bagi kepada Damar seraya melangkahkan kakinya memasuki lobby resort.
Damar merangkul Bagi dengan rasa haru penuh rindu kepada sahabatnya yang kini tengah dilanda musibah yang menyedihkan.
“Gue enggak mau nanya kabar lo. Pasti enggak baiklah, ya. Tapi lo sehat, kan?” Ucap Damar sesaat setelah dirinya melepas pelukan hangat untuk sahabatnya itu.
“Sehat gue. Harus sehat gue, Mar. Kalau gue terus-terusan down, kasihan anak-anak.” Balas Bagi. Dia kemudian memindai lobby terbuka dari Umah Padi Resort.
__ADS_1
Ruangan terbuka dengan banyak sekali karya seni berupa ukiran kayu yang digunakan sebagai tempat menaruh payung, kursi, meja, bahkan gantungan koran pun dari bahan kayu yang diukir sangat indah.
Lukisan pewayangan dengan tingkat kesulitan pun dijadikan Damar sebagai pemikat kekaguman untuk siapapun yang melihatnya.
“Dari mana lo punya inspirasi untuk buat tempat sekeren ini, Mar?” Tanya Bagi tanpa menoleh ke arah sahabatnya itu. Bagi berjalan menuju seberang meja resepsionis. Hamparan sawah terbentang hingga kemampuan batas maksimal pengelihatan manusia. Awan putih berarak melintasi langit berusaha untuk sampai sesegera mungkin di tempat tujuan.
“Gue terima ya sudah begini, Bro. Kan gue beli apa adanya sepaket sama staff juga. Cuma ya ada beberapa yang gue perbaiki dan touch up sedikit di beberapa tempat.” Jawab Damar seraya mendekati Bagi yang asik menikmati panorama dari Tuhan.
Seorang staff resepsionis mendekati Bagi dan Damar.
“Selamat siang, bapak-bapak.” Bagi dan Damar reflek menoleh ke arah suara. “Ini welcome drink atau minuman penyambut kedatangan bapak di resort kami.” Ucapnya dengan senyuman manis.
“Minuman apa ini?” Tanya Bagi sesaat setelah menerima suguhan segelas minuman dingin yang kelihatan sangat segar.
“Ini Mojito, Pak. Air soda dengan daun mint dan sedikit gula sebagai pemanis.”
Bagi meneguk segelas minuman yang bernama Mojito itu.
“Wow! Segar sekali ini. Terima kasih ya.” Sahut Bagi. Matanya beralih pada Damar. “Ide brilian!”
“Ah, di pondok wisata lainnya juga begini kok. Lo bikin gue melayang tinggi kalau terus muji gini.” Damar menepuk pundak Bagi.
Bagi tersenyum dan meneguk lagi Mojito dengan kepuasan untuk matanya memandang kesejukan dari sawah yang hampir menguning seluruhnya.
“Jadi, kita mau ngobrol di mana?” Tanya Damar kepada Bagi.
“Terserah lo. Kan lo penguasanya di sini. Gue ikut aja.” Balas Bagi.
“Ya udah, ke restoran aja yuk!”
“Boleh.”
***
__ADS_1