
Mamaku Hantu
Part 38
Ragil, Riki, dan seluruh anggota kelompok dua, serta Dandi, membahas cara bagaimana menemukan Danti. Mereka duduk berdekatan satu sama lain.
“Feeling gue, Danti ada di sekitar kebun pisang. Bisa aja ada tempat persembunyian yang pas di sekitar kebun pisang dan dekat sekolah. Karena malam semua jadi gelap gulita. Makanya kita enggak bisa lihat apa-apa. Besok, setelah semua peserta kemah bubar, mulai deh itu pelaku beraksi.” Elano memberikan opininya.
“Beraksi apa maksud lo? Jangan ngomong aneh-aneh deh!” Dandi menyahuti dengan gusar.
“Ya makanya, sebelum pelaku itu beraksi, kita harus nemuin Danti lebih dulu. Lo emang kerjaannya negatif mulu ya cara berpikirnya. Heran gue.” Balas Elano sengit. Dandi memalingkan wajah gusar.
“Kalau menurut gue, justru Danti ada di dalam rumah gubug di dalam kebun durian. Secara, tadi Pak Har celingak-celinguk di sekitar rumah itu. Ditambah, kita berdua disuruh segera pergi dari sana. Pasti ada sesuatu yang ditutupin itu.” Giliran Riki yang memberikan opini.
“Memangnya Pak Hartanto enggak tahu ya kalau kalian alumnus?” Tanya Jeremiah penasaran.
“Gue rasa enggak. Kita ngakunya mau nyari durian jatuh. Kalau memang Pak Har ingat siapa kita, pasti responnya berbeda.” Tambah Riki.
“Kalau gue justru curiga sama yang punya tenda. Kalian tahu enggak? Bapak itu, yang nyewain tenda ke sekolah, malam setelah gue dari toilet, gue lihat Bapak itu keluar dari arah kebun pisang. Tapi dia ngakunya dari toilet. Sementara gue lihat sendiri kalau Bapak itu keluar dari kebun pisang yang di belakang toilet.” Sena pun turut serta menyampaikan pendapatnya.
“Kalau gue curiga sama Pak Guntur.” Balas Doni. “Terlalu enteng rasanya Pak Guntur menyampaikan kalau Danti dijemput orang tuanya. Paling enggak, kalau memang Danti dijemput, pasti ada sedikit grasak-grusuk dari para guru, kan? Salah satu dari kalian cewek-cewek pasti sadar seberapa pun ngantuknya. Kecuali kalian semua kena ajian sesirep lain lagi kasusnya.Sementara apa? Guru-guru kok enggak ada respon apa-apa?” Tambah Doni.
“Bisa jadi guru-guru enggak tahu kalau Danti hilang.” Sahut Yulia menambahkan opini Doni dan mendapat balasan anggukan kepala darinya tanda bahwa Doni menyetujui opini Yulia.
“Menurut gue, kita jangan dulu deh bilang ke guru-guru. Takutnya ya itu, ternyata salah satu dari guru itu memang pelakunya, kan?” Balas Tia.
“Dari hasil rekaman yang Kak Ragil tangkap, Pak Teguh, Pak Guntur, dan Bu Rima yang menggendong ransel besar. Kita asumsikan bahwa mereka yang membawa Danti dari perkemahan menuju suatu tempat di tengah kebun ini.” Ucap Sena mengutarakan ingatakannya tentang guru-guru yang patut dicurigai.
“Alasannya apa ya pelaku itu memilih Danti?” Tanya Sapto.
“Penjahat itu enggak perlu alasan untuk berbuat kejahatan. Selama ada kesempatan, siapa pun bisa melakukan kejahatan.” Balas Riki.
__ADS_1
“Berarti suspect kita sementara ini adalah Pak Hartanto, Pak Guntur, Pak Teguh, dan Bu Rima, ya?” Sambung Elano melanjutkan spekulasi dari Sena.
“Gaya lo, El. Pakai bahasa Enggres segala.” Balas Tia meledek Elano.
“Loh, kan biar keren kayak Conan-kun. Lo enggak ada kreatifnya sama sekali, deh.” Sahut Elano membela dirinya. Tia hanya tertawa kecil mendengar celoteh Elano yang berusaha menirukan anime atau kartun buatan negara Jepang.
“Jangan lupa Bapak pemilik tenda itu, El. Dia juga patut dicurigai.” Sambung Sena.
“Benar juga. Ngapain juga Bapak itu berlama-lama di area perkemahan? Kan masang tenda sudah selesai dari siang, ya?” Sahut Yudis.
“Kalau Bu Rima kayaknya enggak perlu kita curigai deh. Mana kuat Bu Rima gendong Danti, kan?” Opini Jena disetujui oleh yang lainnya.
“Tapi apa salahnya? Siapa pun patut kita curigai di sini.” Balas Sena.
“By the way, kita terlalu lama diam di dalam kebun, nih. Sebentar lagi kelompok tiga pasti akan menuju ke sini. Kita sebaiknya bergegas untuk lanjut bergerak dan menuju Pos 2, supaya enggak mencurigakan.” Saran Deva mengingatkan yang lain.
“Oke. Sekarang dengar gue dulu. Gue akan ikut dalam kelompok kalian. Begitu dekat dengan Pos 2, gue dan Riki akan keluar dari kelompok. Kita pantau dari jauh ya, Ki?” Ucap Ragil sambil menoleh Riki untuk meminta persetujuan. Riki lun membalas dengan anggukan.
“Gampang, Kak. Kita punya Tia di sini.” Sahut Sapto teman sekelas Tia.
“Maksud lo apa?” Hardik Tia.
“Lo kan paling jago bikin suasana jadi tidak menyenangkan dengan rengekan-rengekan lo itu. Sekarang gue setuju deh sama Tuhan, karena menciptakan orang baik dan beberapa orang buruk kayak lo. Ternyata ada fungsinya juga.” Sahut Sapto cepat tanpa jeda.
Tak bisa menahan diri, Tia memukul Sapto dengan botol air mineral ukuran enam ratus mili liter.
“Sudah, sudah. Jangan ribut. Lo enggak bisa nahan diri banget sih, Ti.” Ucap Deva menengahi.
“Kenapa kalau ribut? Nanti yang lagi rapat di pohon pisang pada keganggu?” Sahut Tia sinis.
“Sudah, ribut mulu deh. Heran gue.” Ucap Doni berusaha menghentikan Tia. “Lanjut, Kak.” Pinta Doni kepasa Ragil.
__ADS_1
“Nanti setelah kalian lewat Pos 2, siapa ya g bersedia untuk putar balik ke Pos 2 lagi? Rasanya sedikit mustahil kalau cuma gue dan Riki. Gue perlu tambahan pasukan untuk mengintai rumah itu.” Lanjut Ragil menjelaskan rencananya.
“Gue siap.” Sahut Sena.
“Gue juga!” Elano pun menyatakan kesanggupannya. Diikuti oleh Doni, Deva, dan juga Yudis.
“Oke, gue rasa semua pasti mau saling membantu untuk nemuin Danti. Tapi enggak mungkin semuanya, kan. Kalian juga perlu lanjut ke Pos berikutnya. Kita akan bagi tugas. Sena, Doni, dan Dandi, kalian ikut gue dan Riki. Sementara yang lain harus lanjut dan jaga anak-anak perempuan. Jangan sampai kalian tersesat, apa lagi ikutan hilang kayak Danti, ya.” Ragil memberikan instruksinya bak seorang komandan pasukan khusus yang akan menjalani misi menjadi mata-mata.
“Tapi, kalau ada apa-apa, gimana? Gue kok jadi takut.” Ucap Elano tiba-tiba.
“Apa yang lo takutin? Kan kita ramai-ramai.” Sahut Deva.
“Kekuatan kita berkurang dua orang, Sena dan Kak Doni.” Balaa Elano.
Sena lalu memiliki ide. Dia lalu merogoh tas ransel bagian terluar. Masih ingat betul bagaimana Senja memaksa Sena untuk tetap membawa lepri itu di dalam ranselnya.
“Ini, gue punya peluit. Kalau ada apa-apa. Kalian harus tiup ini kencang-kencang. Seseorang pasti akan segera datang untuk mendekati kalian.” Ucap Sena.
“Persiapan lo boleh juga, Sen. Tadi cokelat, sekarang peluit.” Ucap Yulia terpukau dengan kesigapan Sena dalam melaksanakan kegiatan jurit malam ini.
Sena tersipu mendengar pujian dari Yulia. Untung saja Sena mengikuti perintah dari Senja.
“I, iya. Gue rasa beberapa hal ini perlu untuk acara kemah.” Balas Sena malu.
“Oke! Semua siap, ya. Kita berangkat sekarang.” Ragil menyiapkan pasukannya untuk segera berangkat menuju Pos 2.
“Tunggu! Kita berhitung dulu. Semua ada tujuh belas orang termasuk Ragil dan Riki.” Riki menyela instruksi Ragil. Mereka pun mengikuti saran baik dari Riki. Setelah semua anggota kelompok dua lengkap, mereka segera bergerak menuju Pos 2.
“Danti, tunggu kita, ya.” Ucap Dandi dalam hatinya.
***
__ADS_1