Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 9


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 9


Bagi berhasil menyelesaikan keperluan audit untuk Pak Jaya, atasannya di kantor. Audit pun berjalan lancar melengkapi akhir pekannya dengan santai tanpa beban pikiran.


Dia sedang bersiap-siap untuk segera meninggalkan kantor.


“Balik sekarang, Pak?” Tanya Darmawan.


“Iya, Wan. Kamu enggak balik?”


“Balik juga. Ayolah bareng-bareng, Pak.”


Mereka lalu berjalan menuju tempat parkir kendaraan masing-masing dan melempar salam perpisahan.


“Sampai ketemu hari senin, Pak Bagi.”


“Hati-hati ya, Wan.”


Masih teringat jelas tiga bulan lalu selepas jam makan siang, Bagi dihubungi oleh Ibu Ragil yang mengatakan bahwa Agia sedang menuju UGD rumah sakit terdekat dari rumah mereka. Dalam keadaan panik Darmawan mengambil kunci mobilnya dan menuntun Bagi tanpa kata-kata. Dengan cekatan Darmawan mengemudikan mobilnya hingga sampai di rumah sakit dalam waktu singkat.


Darmawan juga tetap mendampingi Bagi saat Agia diperiksa tekanan darah, denyut nadi, serta pengambilan darah untuk mengetahui masalah yang terjadi pada tubuh istrinya.


Dokter jaga siang itu memberikan instruksi pemasangan infus dan melakukan resusitasi cairan atau proses penggantian cairan saat pasien dalam keadaan kritis. Penggantian cairan ini diperlukan untuk mengembalikan fungsi tubuh dan mencegah perburukan kondisi pasien.


“Pak, Saya Arisa dokter jaga siang ini. Kami akan melakukan penggantian cairan pada tubuh Ibu Agia karena kondisi tekanan darah yang sangat rendah.” Dokter Arisa menyampaikan keadaan Agia kepada Bagi.


“Apa itu, Dok?” Jawab Bagi yang kinerja otaknya tidak berfungsi dengan baik, sehingga tidak bisa mencerna kata-kata yang disampaikan oleh dokter.


“Saat m volume darah di dalam tubuh Ibu Agia sangat kurang. Itulah yang menyebabkan tekanan darahnya menjadi rendah, denyut nadinya pun menjadi sangat cepat. Setelah kami cek, suhu tubuh Ibu Agia semakin menurun. Ibu Agia seperti mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan. Jadi kami akan memasukkan cairan ke dalam tubuh agar kondisi pasien membaik.” Dokter Arisa menjelaskan secara umum kepada Bagi.


“Apapun itu, Dok. Tolong selamatkan istri saya.” Bagi memohon dengan wajah getir.


Bagi dan Darmawan menunggu di luar tirai ruang pemeriksaan UGD.


“Wan, kamu balik saja ke kantor. Pakai saja mobil saya.”


Darmawan lalu melirik jam tangannya.

__ADS_1


“Anak-anak siapa yang menjemput sekolah, Pak?”


Tiba-tiba Bagi terhenyak saat mengingat tentang kedua anaknya.


“Waduh, benar juga. Saya akan jemput sekarang, Wan.”


“Balak diam saja di sini. Biar saya yang jemput mereka ya, Pak.”


“Tapi kamu pasti repot, Wan.”


“Tidak ada yang lebih repot dari pada Bapak saat ini. Nanti saya antar mereka ke rumah atau ke sini, Pak?”


Bagi diam berpikir sejenak, “Ajak ke sini saja, Wan.”


Darmawan bergerak hendak meninggalkan rumah sakit.


“Wan, terima kasih banyak ya atas banyuannya.”


“Tetap kuat ya, Pak. Ibu pasti segera sadar.”


Darmawan lalu menghilang dari pandangannya.


Bagi terus bertanya-tanya, kenapa Agia bisa sampai tidak sadarkan diri seperti sekarang. Apakah dia terlalu lelah, atau ada apa?


Tidak lama setelah itu Dokter Arisa mendekati Bagi.


“Maaf, Pak. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan. Bisa duduk di sana?” Dokter Arisa menunjuk kursi yang berada di depan meja dokter.


Bagi dengan cepat bergerak menuju kursi yang ditunjuk oleh Dokter Arisa.


“Boleh saya tahu riwayat kesehatan dari Ibu Agia?” Tanya Dokter Arisa.


“Silahkan, Dok.” Jawab Bagi.


“Apa Ibu menderita diabetes?”


“Seingat saya tidak, Dok.”


“Kita akan segera mengetahui kadar gula dalam tubuh Ibu Agia sebentar lagi setelah hasil cek laboratorium keluar. Saya akan menginformasikannya juga untuk Bapak.” Dokter Arisa berbicara dengan ramah agar keluarga pasien tidak berlarut dalam kepanikan.

__ADS_1


“Baik, Dok.”


“Apa Bapak bersama Ibu tadi saat kehilangan kesadaran?” Dokter Arisa kembali bertanya.


“Tidak, Dok. Yang menemukan adalah tetangga saya. Saya di kantor sedang bekerja.” Jawab Bagi kecewa, mengapa tidak bisa selalu bersama istrinya.


“Apa akhir-akhir ini Ibu Agia pernah mengatakan bahwa dirinya mengalami sakit kepala, atau mual, bahkan sampai muntah, Pak?”


“Benar, Dok. Istri saya mengeluh perutnya sering mual dan sakit kepala. Dia mengira dirinya terkena maag. Jadi saya tidak terlalu memperhatikan lagi. Karena sepertinya istri saya tidak terlalu terganggu dengan hal itu.” Bagi semakin merasa bersalah karena telah mengabaikan keluhan Agia selama ini. Hampir dua bulan Agia terus mengaku sakit kepala. Bagi justru hanya menyuruhnya unyuk beristirahat. Tidak pernah sekalipun Bagi mengajaknya untuk berobat ke dokter.


“Apa Bapak tahu obat apa saja yang dikonsumsi oleh Ibu Agia?”


“Tidak, Dok. Istri saya tidak suka meminum obat-obatan. Dia lebih tertarik dengan minuman herbal.”


“Boleh saya tahu minuman herbal apa?”


“Entahlah namanya apa, Dok. Tapi dia sering bilang kalau itu teh peppermint. Bisa menyegarkan pikiran dan menghilangkan rasa mual katanya.”


“Baiklah, Pak. Terima kasih banyak atas informasinya. Kita akan melakukan observasi terhadap Ibu Agia selama proses penggantian cairan tubuh. Nanti kami akan menghubungi Bapak jika kami memerlukan bantuannya.” Dokter Arisa kembali mendekati Agia dan menyarankan Bagi agar menunggu di luar.


***


“Sil, lo enggak nengokin Mbak Agia?” Tanya Rania kepada Silvia di ruangannya.


“Sudah minggu lalu, kenapa?” Jawab Silvia seraya menghentikan kegiatannya mengetik laporan keuangan.


“Gue mau ke sana nanti malam. Lo ikut?”


“Enggak seh, Ran. Nanti saja.”


“Ya sudah kalau begitu.” Rania bergegas keluar dari ruangan Silvia. Dia merasa Silvia semakin arogan sejak Agia tidak bisa berkunjung ke toko.


Rania tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya diam-diam mencatat jumlah orderan beserta harga setiap harinya. Walaupun cara mencatatnya pun masih terbilang sangat buruk, tapi dia yakin suatu saat rencana kecilnya akan berguna untuk Agia.


Tanpa bermaksud untuk memikirkan keburukan orang lain, Rania hanya tidak rela jika Agia yang sangat baik harus dibohongi oleh Silvia.


Terlebih, Silvia tiba-tiba mengganti pemasok bunga yang sudah lama digunakan oleh Agia. Entah apa yang menjadi pemikiran Silvia untuk mengganti pemasok itu.


“Namanya bisnis ya harus berani bersaing harga, Ran. Kalau ada pemasok yang lebih murah, kenapa harus menggunakan yang mahal?” Sahut Silvia saat Rania mencoba menanyakan pemasok baru itu.

__ADS_1


“Memangnya perbedaan harganya sangat jauh, Sil? Kan kasihan Pak Gede harus kehilangan pembeli.”


“Siapa suruh dia bandel dan bersikukuh dengan harga lama. Resiko dia lah. Sudah kamu diam saja. Pokoknya aku enggk akan biarkan G Florist sampai tumbang seperti pemiliknya.”


__ADS_2