
Mamaku Hantu
Part 75
Rasa sesal sering meliputi hati dan nurani Hartanto. Bagaimana tidak? Pengabdiannya pada hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika, mampu menjadikannya seorang kepala sekolah dalam waktu singkat.
Dua kali. Ya, dua kali sudah Hartanto membantu Leri membawakan anak dengan usia dibawah sepuluh tahun untuk diserahkan kepada calon presiden saat itu. Setelah berhasil menjadi presiden, dengan mudahnya Bapak Presiden itu menyulap dirinya agar mendapat jabatan sebagai kepala sekolah.
Semua berawal dari ajakan Leri. Keinginannya yang tidak lagi menjadi sebuah impian, membuat tekadnya membuncah. Siapa sangka, awal perkenalan dengan ajudan calon presiden, menjadikannya sebagai penculik anak-anak dengan sistem yang terorganisir. Leri membawanya serta untuk bertemu dan bercengkerama dengan ajudan calon presiden saat itu.
Dengan mantap Leri menyanggupi permintaan ajudan calon presiden untuk membawakan syarat anak perempuan murni dalam waktu kurang dari sebulan.
Mata Hartanto membelalak ngeri saat membayangkan Leri harus membawa dan menyerahkan seorang anak kecil. Tak kuasa dirinya untuk bertanya, apa daya, kemampuannya pupus saat itu.
Tidak pernah ketahuan. Bahkan, tidak ada satu orang pun yang mengetahui tentang hilangnya kedua anak tersebut. Terlalu mudah untuk Leri menjalankan aksinya.
Seorang anak perempuan yang asik bermain dengan dedauan di pinggir jalan, menjadi target mudah untuk Leri dan Hartanto. Anak kecil lugu yang penuh dengan rasa ingin memiliki dan mencoba sesuatu yang baru, mengharuskannya masuk dalam lingkaran gelap buah karya Leri dan Hartanto.
Raya, seorang gadis kecil tanpa orang tua. Tumbuh kuat dan berani di jalanan ibu kota Indonesia. Leri dan Hartanto berjanji untuk menyekolahkannya di tanah kelahiran, juga mengangkat sebagai seorang anak. Hati siapa yang tidak luluh dengan bayangan masa depan cerah. Apa lagi untuk Raya yang bermimpi pun merupkan suatu hal yang tidak mungkin.
Tanpa izin, juga tanpa satu orang pun yang tahu, Raya ikut menuju pulau indah tujuan wisata dunia. Kepolosan Raya, mengantarkannya menuju rumah Mbah Kaliwesung. Hati Hartanto serasa bertalu-talu saat tangan kecil Raya menggenggam lembut dengan tatapan rasa terima kasih. Sayang, semua terlambat. Tidak ada tombol pengulangan yang bisa Hartanto tekan untuk menghentikannya.
Hari baik telah disepakati. Berbagai persiapan telah dilakukan. Pengikut calon presiden waktu itu berkumpul saling bahu membahu menyiapkan sarana. Rapalan mantra dari mulut Mbah Kaliwesung terdengar merdu. Dentingan genta mengalun menjadi simbol bahwa telah dilakukan suatu upacara. Tidak ada yang bersuara. Lebih tepatnya, tidak ada yang memiliki keberanian untuk bersuara, apa lagi berkomentar.
Raya mendapat perlakuan istimewa dari semuanya. Makanan lezat terhidang hanya untuknya. Ayam panggang dengan bumbu berminyak adalah tangkapan pertama untuk kedua bola matanya. Buah-buahan beraneka ragam warna dan bentuk meningkatkan imun tubuh Raya. Binar indah dari matanya tak mampu ditutupi.
Tubuh bersih setelah mandi dan keramas, serta pakaian baru menyelimuti Raya kecil. Baju kaos berwarna putih serta celana pendek membantunya santai dan mudah dalam menyantap hidangan yang telah disediakan. Entah siapa yang menyiapkan. Hartanto pun tidak tahu.
Mbah Kaliwesung memberikan kode pada salah satu pengikutnya untuk membawa Raya mendekat. Dengan enggan Raya berhenti dan mengikuti ajakan orang itu.
__ADS_1
Begitu mendekati Mbah Kaliwesung, Raya dipersilahkan duduk di sebelah kanannya. Tangan kanan Mbah Kaliwesung menjentikkan bunga kewajah Raya. Kemudian, tangan kanannya memegang pundak Raya. Dalam satu gerakan, tangan Mbah Kaliwesung menyentuh ubun-ubun Raya. Bersamaan dengan itu, Raya tidak sadarkan diri.
Semua orang yang berada di sana menahan napas. Tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dan sedang terjadi.
Pengikut Mbah Kaliwesung kemudian menggendong tubuh kecil Raya menuju suatu kamar.
Hartanto memutuskan untuk merokok di luar rumah Mbah Kaliwesung.
***
Hartanto masih mematung seorang diri di taman dekat rumah Leri. Sepeninggal Leri, segala memori tentang kebusukan yang telah dirinya dan Leri lakukan muncul satu demi satu.
“Seandainya gue tahu lebih dulu kalau Teguh menyekap Dara di bawah sana. Tidak mungkin hal ini terjadi. Tidak mungkin lah gue disangkut pautkan dengan kasus penculikkan. Memang dari awal mengikut sertakan Teguh dalam rencana ini salah. Seharusnya Teguh tidak perlu bergabung.” Ucap Hartanto dalam hatinya.
Memang benar, aksi Leri dan Hartanto saat menyembunyikan jasad Raya di dalam kebun durian diketahui oleh Teguh secara tidak sengaja. Siapa sangka, kalau pilihan kebun yang Dipilih secara acak oleh Leri, ternyata dikelola oleh Teguh. Pemilik lahan kebun durian itu menyewakan tanahnya untuk dikelola oleh Teguh.
Awalnya biasa saja, sampai suatu ketika, Teguh menghubunginya dan mengatakan kalau segala kegiatannya di kebun durian telah diketahui.
Betapa terkejutnya Hartanto dan Leri saat mengetahui hal tersebut. Teguh memaksa untuk mengetahui hal penting apa yang harus mereka lakukan di kebun durian. Mau tidak mau, Leri mengatakan kalau jasad anak perempuan itu telah digunakan sebagai pembuka jalan tercapainya keinginan calon presiden untuk menang pada saat pilpres.
Tiba-tiba saja tercetus ide, jika memang jadi presiden saja bisa dikabulkan oleh kenalan Pak Leri, menghidupkan Mala pun pasti bisa.
“Kalau saya ikut, apa boleh?” Tanya Teguh pada Leri dan Hartanto di suatu malam saat melakukan pendakian.
“Ikut apa?” Tanya Hartanto bingung.
”Saya sudah pernah ke rumah Mbah Kaliwesung. Saya diminta untuk memenuhi syarat yang diajukan supaya Mala bisa hidup lagi.” Sahut Teguh.
Tanpa mampu mencegah, tawa Leri membahana.
__ADS_1
“Kenapa ketawa, Pak Leri?” Sungut Teguh.
“Percaya juga dengan hal beginian?” Sindir Leri.
“Saya mau anak saya hidup lagi.” Sahut Teguh malu-malu.
“Yakin kalau Pak Teguh akan bisa melakukan hal ini? Yakin tidak akan mengganggu?” Tanya Leri meyakinkan. Sementara Hartanto diam saja.
“Demi anak saya bisa hidup lagi. Kalau saya membayar Bapak-bapak sekalian, sudah pasti biayanya akan sangat mahal. Saya tidak punya uang banyak. Jadi saya pikir, saya bisa membantu.” Sahut Teguh.
“Betul sekali. Calon presiden itu bisa membayar kita empat ratus juta untuk satu anak.” Balas Leri. “ya sudah, nanti kalau kita akan melakukan aksi. Pasti akan segera diinformasikan.
Sejak saat itu lah Hartanto dan Leri berkomplot dengan Teguh untuk menculik Dara. Ritual rutin yang dilakukan oleh Bapak Presiden mengharuskannya untuk menyediakan anak-anak murni. Entah untuk kepentingan apa, Hartanto tidak tahu.
Kebengisan Leri menaklukkan rasa kasihan pada diri Hartanto. Tanpa perlawanan, dirinya pun melibatkan Teguh. Nama baik sebagai kepala sekolah tidak boleh dikotori dengan cara begini.
Teguh pun mulai dilibatkan dalam pemilihan anak. Anak yang aktif, dan dekat dengan Teguh, juga memiliki masalah di rumahnya, menjadi pilihan terbaik untuk Hartanto, Teguh, dan Leri.
Namun sayang, anak pilihan itu tidak lagi murni.
Entahlah, suatu hal baik atau buruk menemukan seorang anak yang tidak sesuai dengan syarat. Kesialan untuk Hartanto, Leri, dan semua yang terlibat. Keuntungan untuk Dara karena tidak harus menjadi budak setan untuk memenuhi keinginan satu pihak.
***
Halo semua, maunya nih saya masukan hal yang sadis pada part ini. Tapi akhirnya tidak saya masukkan. Kayaknya kita perlu pikiran yang lebih jernih supaya mental kita jadi sehat terus ya.
Pasti ada yang penasaran. Memangnya ada dukun yang begini? Serius. Ada. Saya tidak akan menyebutkan lokasi, dan segala hal yang menyerempet tentang orang dan semua yang terlibat ini. Cukup jadikan sebagai cerita fiksi aja ya.
Kalau di tempat kalian, hal aneh apa aja nih yang pernah kalian dengar tentang perdukunan? Boleh share di sini ya, ditunggu komennya.
__ADS_1
Salam sayang,
Intan Pandan