
Mamaku Hantu
Part 40
“Ya ampun, HP saya tertinggal di Pos 2. Pak Yusuf dan Bu Rima duluan saja jalan ke Pos 3. Nanti saya menyusul.” Ucap Pak Teguh yang berada pada barisan paling belakang secara tiba-tiba dengan suara keras, sehingga mengejutkan Bu Rima dan Pak Yusuf.
“Ayo biar kita balik sama-sama saja, Pak.” Sahut Bu Rima seraya membalikkan badan.
“Benar, Pak. Ayo kita balik. Mumpung belum terlalu jauh.” Balas Pak Yusuf menyetujui saran Bu Rima.
“Tidak, tidak usah. Biar saya sendiri. Kasihan Bu Rima kalau harus bolak-balik. Nanti saya pasti segera menyusul.” Tungkas Pak Teguh meyakini Pak Yusuf dan Bu Rima agar melanjutkan perjalanan menuju Pos 3.
Lokasi Pos 3 tidak semengerikan Pos 2, tepatnya berada di akhir kebun durian. Peserta jurit malam harus melewati Pos 3 terlebih dahulu agar bisa melanjutkan perjalanan ke Pos 1 atau area perkemahan. Para siswa akan berjalan di jalan aspal dan melewati perumahan milik warga setempat. Jadi, keadaan akan berbanding terbalik dengan jalur Pos 2 yang gelap dan mencekam. Sementara jalur Pos 3 sudah dilengkapi dengan lampu penerangan jalan. Mereka pun akan melewati sekolah terlebih dahulu, sebelum masuk ke jalan setapak menuju persawahan.
“Pak Teguh enggak takut kalau jalan sendirian di dalam kebun yang kayak hutan ini?” Tanya Bu Rima heran dengan keputusan Pak Teguh untuk kembali seorang diri menuju Pos 2.
“Ya takut sedikit, Bu. Tapi saya memang sudah biasa berjalan sendirian di tengah hutan. Hampir tiap bulan saya mendaki pegunungan. Lagi pula, saya kan bawa lampu senter, Bu.” Sahut Pak Teguh.
“Ya sudah kalau begitu. Kami akan jalan pelan-pelan agar nanti Pak Teguh bisa menyusul kami.” Balas Pak Yusuf.
***
Pak Teguh bersiul lirih dengan langkah kaki pelan di antara pohon durian yang menjulang tinggi setelah memisahkan diri dari Bu Rima dan Pak Yusuf.
“Masih dingin? Tahan sebentar lagi, ya. Nanti Bapak akan ajak kamu ke tempat yang hangat. Sabar sebentar lagi, ya.” Ucap Pak Teguh dengan senyum lembug menghiasi wajahnya.
Kakinya terus melangkah pelan tanpa terganggu apa lagi memikirkan beban berat yang berada dipundaknya.
Secercah sinar dari Pos 2 terlihat dari posisi Pak Teguh berdiri kini, dia melanjutkan lantunan nada dengan udara dari bibirnya yang mengerucut.
Bukannya berjalan lurus mengikuti sinar dari Pos 2, kakinya justru berbelok ke sebelah kanan. Kecepatan mulai ditingkatkan, “dingin sekali, ya? Sabar ya. Sebentar lagi sampai.” Ucap Pak Teguh lagi dengan nada menenangkan.
***
“Kita ngumpet di sini aja, Ki.” Bisik Ragil, nyaris tidak terdengar. Ragil menghentikan langkah tepat di belakang kandang ternak.
__ADS_1
Mereka tiba lebih dulu dari anggota pasukan khusus untuk menyelamatkan saudara kembar Dandi. Ragil dan Riki mengintip guru-guru di Pos 2 melalui kandan hewan ternak di samping rumah gubug.
“Ki. Ada tas ransel di sana.” Bisik Ragil kepada Riki saat melihat sebuah tas ransel besar berwarna hitam, seperti yang biasa dibawa oleh pendaki saat mendaki gunung. Tas itu berada di samping kandang, tepat di depan pintu rumah gubug yang berada pada dinding bagian samping.
“Biar gue periksa.” Sahut Riki.
“Gue awasi dari sini.” Balas Ragil.
Riki lalu berjalan mengendap-ngendap agar tidak menimbulkan suara yang dapat mengundang reaksi dari para guru. Jika sedikit saja salah satu dari guru itu menoleh ke arah kandang, aksi Riki pasti akan terlihat.
Riki membuka tas ransel itu dan menemukan air mineral dan juga beberapa roti di dalamnya. Bergegas Riki menutup dan kembali ke posisi awal tempat mereka bersembunyi.
“Air mineral dan roti.” Ucap Riki melaporkan penemuannya.
“Kok di sana?” Balas Ragil.
“Entahlah.” Sahut Riki.
Suara riuh terdengar dari jarak yang tidak begitu jauh, mengalihkan perhatian Ragil dan Riki dari taa ransel tadi. Kelompok dua telah berhasil sampai di Pos 2.
“Aduh, Pak. Saya mau pingsan ini. Saya enggak mau jalan lagi. Biar nanti Mama jemput saya aja.” Rengek Tia begitu mendaratkan bokongnya di depan guru-guru.
“Kan enggak jauh. Masak sih sampai mau pingsan?” Sahut Bu Siti menanggapi Tia.
“Ya iya lah, Bu. Langkah kaki saya kan masih pendek. Satu langkah kaki dewasa, bagi saya itu dua langkah. Capek!” Balas Tia sengit.
“Nih, minum dulu.” Sahut Pak Guntur menawarkan Tia sebotol air mineral berukuran enam ratus mili liter.
“Kalau air minum sih saya sudah bawa. Tenaga ekstra yang enggak punya, nih. Saya mau pulang pokoknya, titik!” Bentak Tia.
“Pak, Maag saya kambuh. Saya mual dan perut kembung.” Elano pun mengeluarkan aksinya.
“Kalau saya ngantuk banget, rasanya enggak sanggup lagi kalau harus melanjutkan perjalanan. Saya pulang saja ya, Pak.” Jeremiah turut serta membantu yang lain untuk menghambat dan mengalihkan konsentrasi para guru.
“Waduh. Kok pada letoy begini, sih?” Ujar Pak Guntur.
__ADS_1
“Enak aja bilang saya letoy! Kalau Pak Guntur ngajakin saya tarung, sanggup kok. Sini lawan saya.” Sahut Doni mencoba menunjukkan amarah yang dibuat-buat.
“Bukan gitu maksudnya Pak Guntur, Don. Bercanda ya, Pak.” Bela Bu Siti kepada Pak Guntur.
“Lagian kamu kok enggak perhatian sama teman-teman, sih? Memangnya kamu enggak ngecek kalau mereka ada yang sakit?” Pak Guntur mencerca Doni dengan berbagai pertanyaan.
“Sudah siap, Ki? Mumpung mereka lagi sibuk.” Tanya Ragil yang disambut dengan anggukan kepala dari Riki. Mereka bersiap untuk menyelidiki isi dari rumah gubug di dalam kebun durian.
***
“Loh, kok ada Ragil di sini?” Ucap Agia kaget saat melihat anak tetangganya bersembunyi di balik kandang.
“Itu siapa, Tante?” Tanya Raya.
“Anak tetangga di depan rumah Tante. Ngapain ya dia di sini?” Tanya Agia heran.
Agia dan Raya kemudian melihat Riki berjalan mengendap-ngendap menuju posisi mereka. Perlahan Riki memeriksa isi di dalam tas ransel berwarna hitam yang telah diperiksa lebih dulu oleh Agia. Setelah melihat isinya yang tidak patut dicurigai, Riki kembali ke tempat awal mereka bersembunyi.
“Tante!” Raya meraih tangan Agia dan tubuhnya gemetar.
Agia menoleh anak perempuan cantik yang sedang menunjukkan wajah ketakutan.
“Kenapa?”
“Om jahat itu ke sini.” Sahut Raya berbisik.
***
Langkah kaki Ragil dan Riki terhenti saat mereka mendengar langkah kaki serta siulan lirih dari belakang rumah gubug. Dengan cepat mereka bergegas menunduk dan menyembunyikan diri agar tidak terlihat.
Ragil dan Riki begitu terkejut saat melihat Pak Teguh muncul dari belakang rumah dan berjalan mendekati kandang. Dalam diam, Pak Teguh menurunkan tas ransel yang digendongnya. Lalu meletakkan di dekat kotak pakan ternak yang terbuat dari kayu.
Pak Teguh lalu mendekati tas ransel yang berisikan air mineral dan roti. Dia kemudian mengangkat dan menggendongnya. Perlahan, Pak Teguh pergi meninggalkan Pos 2 melalui belakang rumah gubug.
***
__ADS_1