Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 37


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 37


“Raya, mau pegang tangan Tante, enggak?” Tanya Agia yang berjalan bersebelahan dengan Raya.


Raya berhenti mendengar pertanyaan Agia. “Aku udah lama enggak pernah berinteraksi dengan manusia.” Sahutnya dingin.


“Tante kan bukan manusia,” balas Agia seraya meraih tangan kiri Raya yang mungil dan menggenggamnya. “Jadi lebih asik kan, kalau pegangan gini. Jadi enggak akan takut kalau ada hantu yang muncul.” Ucap Agia dengan senyum mengembang.


Raya memandang Agia sebelum merespon ucapannya. “Kita ini hantunya, Tante.” Sahut Raya datar tanpa senyuman diwajah cantiknya.


“Yuk, kita ke tempat Mbak Dara.” Ajak Agia ceria.


Raya pun melanjutkan langkahnya menyusuri kebun pisang bersama Agia.


“Kedua anak Tante sekolah di sana.” Tunjuk Agia menuju sekolah di belakang kebun pisang. “Kalau Raya dulu sekolah dimana?” Tanya Agia.


“Kayaknya Raya juga sekolah di sana, Tante. Raya enggak terlalu ingat. Semuanya samar. Yang aku ingat, kalau diajak ke sini sama Om itu.” Sahutnya datar. Agia tidak mau meneruskan untuk mengorek informasi tentang pribadi Raya. Dia mengganti topik sesegera mungkin.


“Kalau kepala sekolah yang tadi, sering ke sini?” Agia tetap mencoba untuk mencari tahu tentang banyak hal dari Raya.


“Iya, Tante. Sering sekali. Bapak itu nyari-nyari Mbak Dara. Sayangnya aku enggak bisa bilang Mbak Dara dimana.” Balas Raya.


“Kenapa?” Tanya Agia heran.


“Aku takut Mbak Dara disakiti.”


“Disakiti siapa?” Balas Agia dengan perasaan was-was tentang keselamatan seorang anak yang tidak diketahuinya.


“Om yang jahat itu.” Sahut Raya pendek.


“Jadi, yang jahat bukan kepala sekolah?”


“Sepertinya begitu. Aku juga enggak yakin. Kepala sekolah itu enggak pernah bicara. Selalu datang diam-diam. Tahu-tahu udah ada di sekitar sini.” Balas Raya.

__ADS_1


“Memangnya, Raya tahu dari mana kalau kepala sekolah itu nyari-nyari Mbak Dara. Kan tadi Raya bilang kalau kepala sekolah itu enggak pernah bicara.” Tanya Agia penasaran.


“Habisnya dia celingak-celinguk di dekat Mbak Dara istirahat.” Balas Raya.


“Lalu, Mbak Dara itu ada dimana?” Tanya Agia sangat ingin segera lugas menanyakan keberadaan seorang anak bernama Dara.


Raya kembali berhenti dan menatap Agia, “memangnya Tante mau ngapain sama Mbak Dara?” Tanya Raya curiga.


“Tante mau kenalan juga sama Mbak Dara.” Balas Agia mencoba tenang dan sabar.


“Kalau udah kenal memangnya mau ngapain?” Tanya Raya penuh selidik.


Agia menangkap jika Raya benar-benar menjaga keberadaan Dara karena suatu hal.


“Ya, enggak ngapain, sih. Kalau seandainya Mbak Dara tersiksa, kan bisa kita selamatkan. Kalau dia takut, atau sedih, bisa kita hibur.”


“Mbak Dara enggak bisa lihat kita, Tante. Dia itu manusia. Kita, kan hantu.” Jawab Raya membuat Agia kalah telak. “Aku enggak mau bilang Mbak Dara ada dimana. Nanti Tante bilang sama orang lain, terus mereka semua jadi ke sini. Om itu pasti akan marah. Kasihan Mbak Dara.”


Agia memilih bungkam. “Ya udah, biar Tante lihat dari jauh aja ya. Boleh?”


***


“Sebenarnya saya enggak setuju kalau sekolah kita ngadain kegiatan jurit malam ini lagi. Kasihan anak-anak,” Ucap Pak Teguh, wali kelas untuk kelas 4-A.


“Betul, Pak. Saya juga sempat berpikir begitu.” Sahut Bu Siti di dalam perjalanan menuju Pos 2.


Suasana gelap dan mencekam, membuat para guru tidak bisa melihat ekspresi lawan bicara. Mereka tetap melangkahkan kaki agar segera tiba di rumah gubug, yang akan dijadikan sebagai Pos 2 dalam kegiatan jurit malam.


“Tapi kalau kegiatan jurit malam ini ditiadakan, tidak akan melatih mental anak-anak, Bu Siti. Lagi pula kegiatan ini kan masih di dalam kota. Tidak mungkin anak-anak sampai tersesat.” Balas Bu Cahya menimpali ucapan Pak Teguh.


“Tersesat sih enggak, Bu Cahya. Takutnya kan..”


“Sudah, sudah, enggak perlu meributkan hal yang telah ditetapkan oleh Pak Hartanto. Beliau pasti punya pemikiran sendiri. Kita ya ikuti saja.” Jawab Pak Guntur memotong ucapan Bu Siti.


“Betul ucapan Pak Guntur. Segala sesuatunya pasti sudah dipikirkan oleh Pak Har. Pak Teguh dan Bu Siti jangan khawatir, ya. Kita sama-sama jaga mereka.” Balas Bu Cahya menenangkan.

__ADS_1


“By the way, Pak Teguh gak berat bawa tas ransel besar itu? Biar saya gantikan, Pak.” Bu Cahya menawarkan diri untuk membantu Pak Teguh yang usianya tidak muda lagi.


“Ah, tidak apa-apa, Bu. Saya biasa mendaki gunung, jadi tidak terlalu membebankan.” Jawab Pak Teguh.


“Memangnya apa aja yang Pak Teguh isi di dalam tas itu? Kelihatannya berat sekali.” Tanya Bu Siti penasaran.


“Air minum untuk anak-anak dan keperluan lainnya, Bu.” Sahut Pak Teguh.


“Wah, pasti berat itu. Ayo giliran kita aja yang bawa, Pak Teguh. Nanti saya dan Bu Cahya yang tenteng. Kan enggak berat kalau dibawa berdua. Ya, Bu?” Ucap Bu Siti meminta persetujuan dari Bu Cahya.


“Betul, Pak. Biar saya dan Bu Siti bantu.” Sahut Bu Cahya menyetujui ajakan Bu Siti.


“Ibu-ibu ini, kok Pak Teguh saja yang ditawari bantuan. Saya juga bawa keperluan banyak di dalam ransel ini, kok enggak ada yang mau bantu?” Tanya Pak Guntur bergurau.


“Pak Guntur kan masih muda belia nan perkasa, masak perlu bantuan? Harusnya malah gendong saya biar enggak capek sampai di Pos 2.” Balas Bu Cahya menggoda Pak Guntur.


“Kalau saya sudah tua bangka ya, Bu?” Sergah Pak Teguh menyahuti godaan Bu Cahya kepada Pak Guntur.


“Eh, ya enggak lah, Pak. Kok Pak Teguh bilang begitu. Yang penting kan masih berjiwa muda.” Rayu Bu Cahya tersipu malu karena ucapannya sendiri.


“Ribut melulu deh Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak ini,” Seru Pak Rudian yang berjalan bersama guru-guru lainnya di depan.


“Supaya enggak kerasa tegangnya, Pak. Jalan tengah malam di tengah-tengah kebun pisang ini kan lumayan seram. Masih untung kita enggak ditunjukin penampakan. Makanya cerita-cerita, Pak.” Terang Bu Siti membela diri.


“Justru sebaliknya, Bu. Kalau kalian ribut terus, mereka yang lagi istirahat jadi bangun dan muncul di antara kita.” Balas Pak Rudian membuat wajah Bu Siti pias karena takut.


“Ah, Pak Rudi jangan bilang begitu. Saya jadi takut beneran ini, Pak.” Ucap Bu Siti merapatkan diri kepada Bu Cahya.


“Enggak usah didengarkan ucapak Pak Rudian itu, Bu Siti. Dia bercanda kok. Hantu itu enggak ada. Kalau jin mungkin ada ya, saya sih enggak pernah lihat. Kalau ratunya jin baru saya pernah lihat.” Balas Bu Cahya.


“Yang benar, Bu?” Tanya Pak Guntur tertarik.


“Iya, betul. Ini ratunya jin lagi nempel-nempel disaya.” Sahut Bu Cahya membuat yang lain mengarahkan lampu penerangan ke arahnya lalu tertawa keras setelah memahami apa maksud pembicaraannya.


“Enak aja! Bu Cahya bilang saya ini ratu jin? Salah besar, saya masih permaisuri jin!” Sambut Bu Siti melanjuti candaan Bu Cahya.

__ADS_1


***


__ADS_2