
Mamaku Hantu
Part 42
“Kalian udah sampai?” Ucap Ragil ketika melihan Sena dan Doni berjalan dari belakang rumah gubug dan mendekati Ragil juga Riki di belakang kandang ternak.
“Iya, Kak. Untuk aja enggak ketemu ular.” Sahut Sena.
“Gimana, Kak? Ada yang mencurigakan di dalam rumah, enggak?” Tanya Doni berbisik tidak sabar mendengar kabar dari Ragil dan Riki.
“Enggak ada apa-apa di dalam rumah. Tapi, tadi ada fakta baru. Pak Teguh luar biasa mencurigakan.” Jawab Riki pelan.
“Kenapa memang?” Balas Sena.
“Pak Teguh muncul dari belakang rumah, sama kayak jalan kalian tadi.” Sahut Riki.
“Hah? Kok bisa? Memangnya Pak Teguh mau kemana?” Tanya Doni.
“Entahlah. Pak Teguh nukar tas ransel tadi. Tapi gerak-geriknya mencurigakan. Karena Pak Teguh nukar tas ranselnya diam-diam.” Sahut Ragil.
“Tas ransel apaan?” Balas Doni penasaran.
“Tadi waktu kita baru sampai di sini, kita nemu tas ransel hitam. Ternyata tas itu ditukar sama Pak Teguh. Tuh, tas Pak Teguh di dalam kandang.” Tunjuk Riki pada tas ransel di dekat kotak pakan ternak. “Sudah gue periksa, isinya cuma air mineral dan roti.” Lanjut Riki.
“Kalau yang ini, isinya apa?” Tanya Sena kemudian. Bersamaan dengan itu, tas ransel hitam itu bergerak dan menimbulkan suara.
Mereka berempat terdiam mematung. “Apa itu?” Tanya Ragil. Dengan ragu Riki masuk ke dalam kandang ternak hendak memeriksa tas ransel milik Pak Teguh.
“Hati-hati, Ki.” Bisik Ragil lirih.
Doni mengikuti Riki dengan berbekal lampu penerangan dari senter yang digenggamnya.
Pelan tapi pasti, Riki dan Doni berhasil mendekati tas ransel. Riki memandang Doni ragu. Doni menganggukkan kepalanya untuk memberikan semangat agar Riki tidak takut apa lagi ragu.
Riki membuka tas ransel dengan cepat. Doni menyoroti isi tas ransel itu dengan lampu. Betapa terkejutnya mereka berdua saat kepala seorang anak perempuan terlihat dari dalam tas ransel. Mereka membekap mulut masing-masing agar tidak mengeluarkan suara.
“Kalian sedang apa di sini?”
Pak Teguh berada di samping Ragil yang sibuk mengawasi kedua temannya di dalam kandang ternak.
***
__ADS_1
Doni mengaduh saat Pak Teguh mendorongnya masuk ke dalam gudang bawah tanah.
Gudang itu cukup besar, namun sangat pengap dan berbau durian.
Ragil, Riki, Doni, dan juga Sena terjerembab setelah didorong oleh Pak Teguh dari atas.
“Ternyata di bawah kandang ada ruang rahasia.” Ujar Riki.
“Sial! Semua lampu senter kita diambil sama Pak Teguh. Gimana nih?” Seru Doni tidak menghirauan keheranan Riki.
Sena teringat dengan lampu senter yang disiapkan oleh Senja di dalam tas ranselnya. Dengan cepat tangannya merogoh tas ransel, dan menemukan lampu senter yang khusus digunakan dengan menempelkan dikepala. Dalam satu sentuhan ruang rahasia di bawah kandang ternak menjadi terang. Ragil dan hang lainnya memicingkan mata karena menahan terang dari sinar lampu dikepala Sena.
Doni menjerit karena melihat seorang perempuan muda duduk di sudut ruangan. Dengan tatapan kosong.
Ragil dan yang lain mengikuti arah pandang Doni.
“Dara!” Panggil Ragil kepada perempuan itu.
“Dara, ini Dara, Ki.” Seru Ragil tertahan. Perlahan Ragil mendekati Dara.
Dara diam, hanya manik matanya saja yang memandang Ragil.
Dara bergeming tanpa reaksi.
“Lo selama ini di sini, Dara?” Tanya Ragil.
Sena memperhatikan kondisi Dara. Semua nampak baik-baik saja. Tubuh yang bersih, pakaian yang layak, serta fisik yang terlihat terawat dengan baik.
Sena melihat ke sekitar gudang rahasia. Sisa-sisa makanan nampak di sudut lain dari ruangan ini.
“Siapa sebenarnya Pak Teguh itu?” Tanya Sena tiba-tiba.
Riki kemudian berusaha untuk mencari jalan keluar. Dia menaiki anak tangga tempat awal mereka terjatuh dari atas sebelumnya. Riki mendorong pintu yang berada di atasnya. Gagal. Pintu itu terlalu berat.
“Don! Coba bantu gue dorong pintu ini.” Pinta Riki kepada Doni. Dengan senang hati Doni membantu Riki. Namun mereka tetap gagal. Doni dan Riki kembali ke dalam gudang rahasia tempat Ragil dan Sena berada.
“Dara itu siapa, Kak?” Tanya Doni kepada Riki.
“Teman seangkatan kita waktu SD dulu. Sama kayak Danti, dia juga hilang saat kemah. Kita pikir itu cuma isu aja. Ternyata semua benar. Untung aja Dara masih hidup.” Balas Riki.
“Waduh! Gimana sama Danti? Dia kan masih di atas.” Sambung Doni saat teringat dengan Danti yang masih berada di dalam tas ransel “Kita harus bergegas. Apa yang harus kita lakuin sekarang?” Tanya Doni panik.
__ADS_1
Doni teringat dengan Sena. “Sen, Sena! Nyokap lo dimana, ya? Kok enggak kelihatan tadi di rumah gubug?”
Sena pun memiliki ide bagaimana cara menyelamatkan diri dan juga teman-temannya.
Sena lalu memejamkan mata dan memanggil Agia. “Ma, Mama dimana? Tolong aku, Ma. Aku terperangkap di sini. Mama, tolong bantu aku. Tolong ke sini, Ma.”
Dalam sekejap, Agia muncul di tengah-tengah gudang rahasia.
***
Bu Siti terperangah hampir kehabisan napas saat melihat Pak Teguh datang tanpa lampu penerangan.
“Astaga, Pak Teguh! Saya pikir siapa! Kok enggak bawa lampu senter, Pak?” Tanya Bu Siti seraya menepuk-nepuk dadanya mencoba menenangkan gemuruh akibat serangan visual yang ditangkap oleh matanya secara tiba-tiba.
“Iya, Bu. Saya mau ambil HP, tertinggal di dalam.” Sahut Pak Teguh tanpa menghentikan langkahnya menuju ke dalam rumah gubug.
“Pak Teguh jalan sendirian ke sini?” Tanya Bu Cahya terpana.
Bu Siti diam mencoba untuk menggali ingatannya, bahwa yang masuk ke dalam rumah gubug hanyalah Pak Guntur saja.
Bu Siti lalu mengikuti Pak Teguh menuju ke dalam rumah. Berbekal lampu penerangan salam genggaman, Bu Siti membantu Pak Teguh menyoroti area di depannya. Langkah Bu Siti terhenti saat tanpa sengaja dirinya melihat beberapa helai rambut dari dalam tas ransel yang digendong oleh Pak Teguh.
“Itu rambut, kan?” Tanya Bu Siti dalam hatinya. Bu Siti lalu merasakan sebuah firasat buruk dan tidak melanjutkan untuk mengikuti Pak Teguh.
Dada Bu Siti bertalu-talu menahan rasa takut yang tiba-tiba menguasai dirinya. Hanya ada Bu Cahya dan Dandi saat ini. “Apa mungkin Pak Teguh adalah orang jahat?” Pikir Bu Siti.
“Bu Cahya…” Panggil Bu Siti.
“Kenapa, Bu?”
“Saya kok tiba-tiba jadi takut, ya.” Ucap Bu Siti berbisik.
“Takut apa, Bu? Sebentar lagi Pak Latif kan sampai.” Jawab Bu Cahya yang sibuk bermain game di telepon genggamnya.
Bu Siti lalu berinisiatif untuk menelepon Pak Latif, “Pak Latif, masih lama kah sampai di sini?” Ucap Bu Siti begitu panggilan terhubung.
“Enggak sampai sepuluh menit, pasti saya sampai. Sabar ya, Bu.” Balas Pak Latif.
“Kenapa, Bu Siti? Takut di sini, ya?” Ucap Pak Teguh yang muncul tiba-tiba di sebelah kanan Bu Siti. Reflek Bu Siti berteriak histeris
Pak Teguh tersenyum menyeringai dengan mengerikan pada Bu Siti. “Jangan terlalu curiga sama orang lain, Bu. Nanti kalau kecurigaan Bu Siti jadi nyata, pasti akan kaget dua kali.” Bisik Pak Teguh.
__ADS_1