
Mamaku Hantu
Part 21
Senja dan Sena tiba di rumah dengan diantarkan oleh Kakek dan Nenek.
Kedatangan mereka disambut oleh Ibu Ragil yang sedang menyapu halaman rumahnya.
“Senja dan Sena diantar Kakek-Nenek, ya?” Sapa Ibu Ragil saat Senja akan menutup pintu gerbang, setelah Kakek berhasil memasukkan mobil ke dalam garasi. Nenek dan Sena sudah terlebih dahulu memasuki rumah.
“Iya, Tante. Ragil mana, Tante?” Balas Senja ramah dari seberang jalan. Dia memutuskan untuk menunda merapatkan pintu gerbang dan mengobrol sebentar dengan tetangganya.
“Tuh lagi di dalam. Nonton apa itu Tante enggak tahu. Punya anak lanang, kerjaannya nonton terus.” Jawab Ibu Ragil misuh.
“Mumpung lagi libur, Tante. Sudah raportan juga kan Ragil?” Balas Senja.
“Iya tadi pagi dia terima raport. Gimana nilai kalian? Bagus, enggak?” Ibu Ragil menghentikan gwrakannya mengayun sapu lidi dan melihat Senja sepintas.
“Ya boleh lah, Tante. Enggak malu-maluin amat. Tuh si Sena yang jeblok. Keseringan nangis karena Mama, sih.” Senja merendah di hadapan tetangganya.
“Enggak apa-apa lah, yang penting sehat dulu. Kamu rencana lanjut SMP dimana, Ja? Jadi di sekolah Ragil?”
“Enggak tahu nih, Tante. Bakalan keterima atau enggak. Sekolah Ragil kan banyak peminatnya.” Sahut Senja tidak percaya diri.
“Iya, kalau orangnya kayak lo, sekolah gue sih ogah nerima.” Sahut Ragil yang tiba-tiba muncul dari balik jemuran di belakang Ibunya.
Senja melirik sinis keberadaan Ragil. “Memangnya nerima orang kayak lo itu suatu prestasi buat sekolah?”
“Jelas lah! Gue kan orang berprestasi. Banyak sekolah yang merebutkan gue.” Sahutnya percaya diri.
“Eleh! Prestasi apa? Prestasi mandangin HP?” Balas Senja.
“Gue ini content creator! Influencer! Bocah kayak lo tahu apa!”
“Konten, konten, memangnya hal apa yang lo distribusikan? Paling juga hal-hal konyol dan enggak mendidik!”
“Hei! Kalian ini berantem terus, nanti tahu-tahu malah pacaran.” Hardik Ibu Ragil memberhentikan kegiatan menyapunya. Memang sudah hal yang lumrah, jika Senja bertemu dengan Ragil, pertengkaran pasti terjadi.
“Tahun ini lo jadi kemah di sekolah?” Tanya Ragil kepada Senja tanpa merespon sedikitpun bualan dan sangkaan dari Ibunya.
“Jadi. Lo nanti datang?” Tanya Senja balik karena mengetahui bahwa biasanya alumni akan datang dan asik menertawakan adik-adik kelas yang mengikuti kegiatan perkemahan.
“Entahlah, gue tanya teman-teman yang lain dulu. Gengsi lah kalau gue sendirian.”
__ADS_1
Senja merespon dengan membawa naik bola matanya.
“Tapi, lo nanti hati-hati.” Ucap Ragil memelankan suara, seolah takut ada yang mendengar percakapan mereka.
“Kenapa? Gara-gara kejadian anak hilang itu?” Senja menebak arah pembicaraan Ragil.
“Betul! Lo enggak takut?”
“Kata guru-guru anak itu sudah ketemu. Ngapain takut? Katanya dia pulang ke rumah sebelum jurit malam.”
Ragil tertawa mendengar penjelasan Senja.
“Guru-guru bilang begitu?” Tanya Ragil.
Senja menganggukkan kepala yakin.
“Bohong. Guru-guru bohong supaya yang lain tidak khawatir. Waktu itu lo kan kelas empat. Wajar aja kalau guru-guru pada ngarang cerita. Sementara kita yang kelas enam mana bisa dibohongi begitu. Lo enggak tahu aja kalau sampai hari ini Dara belum ketemu.” Ragil mencoba meyakinkan Senja.
Senja membelalakkan mata mendengarkan informasi dari Ragil. “Salah satu teman gue yang sekelas dengan Dara bilang, kalau ada yang menculiknya sesaat sebelum jurit malam. Kabarnya lagi, penculik itu predator anak-anak.”
“Apaan itu predator anak-anak?” Tanya Senja penasaran.
“Mereka suka dengan anak-anak. Lalu, akan melakukan segala cara untuk menuntaskan hasratnya dengan anak-anak.” Jelas Ragil kepada Senja dengan serius. Tiba-tiba tangan Ibunya mendarat tepat diubun-ubun dengan suara pletak yang sangat kuat.
“Ibu! Sakit tahu enggak, sih!” Jawabnya sambil mengelus ubun-ubunnya.
Senja tersenyum geli melihat kelakukan Ibu dan anak itu.
“Udah ah, aku masuk dulu ya, Tante. Bye, Kakak influenser!” Ucap Senja dengan menekankan huruf S pada kata influencer untuk meledek Ragil.
***
“Apa yang bisa gue bantu?” Tanya Damar begitu waitress atau pramusaji selesai mencatat pesanan dari pemilik Umah Padi Resort.
“Enggak tahu harus cerita dari mana.” Sahut Bagi pasrah.
“Apa kabar Agia? Sudah ada kemajuan?” Damar memutuskan untuk memulai dari awal.
Bagi menggelengkan kepala. “Gue lagi dilema. Sepertinya ada yang dengan sengaja ingin menyelakai Agia.” Tepat sasaran, Bagu langsung mengutarakan kegelisahannya.
Damar menaikkan alisnya, “yang benar, lo? Apa yang bikin lo jadi curiga begini?”
“Salah satu pegawai Agia ketahuan nilep uang sekitar enam ratus juta.”
__ADS_1
“What? Enam ratus juta?” Damar membelalakkan mata, intonasi suara pun meningkat. “Sejak kapan itu orang korup?”
“Mungkin setelah Senja lahir. Agia kan semakin jarang ke toko. Gue curiga Agia sebenarnya tahu. Jadi entah pegawai ini mau menutupi fakta dengan menyakiti Agia, atau ada hal lain yang belum gue tahu.”
“Ada bukti selain korup ini?” Damar berusahan mengumpulkan informasi dari cerita Bagi.
Bagi menganggukkan kepala sebelum menjawab pertanyaan Damar, “Sena nemu teh di dapur toko. Gue rencana mau ngecek kandungan teh itu. Bisa jadi di dalamnya ada sesuatu.”
“Maksud lo? Gue enggak ngerti.”
Bagi menghela napas. Dia kemudian mulai menceritakan diagnosa Dokter Wirya tentang zat besi yang sangat sedikit didalam tubuh Agia, juga senyawa tanin yang dianggap membuat Agia tidak stabil kesehatannya.
“Lalu, lo curiga kalau teh yang ditemukan Sena itu adalah teh yang menyebabkan Agia koma? Enggak semudah itu lah. Masak iya pelaku ninggalin bukti begitu?”
“Makanya gue perlu dengar tanggapan dari lo. Gue, gue enggak tahu harus gimana.”
“Let me think! Kasi gue waktu untuk menelusuri sebentar keadaan toko Agia, nanti gue info lagi ke elo. Cheer, Man! Jangan loyo gini. Emangnya lo pikir Agia demen liat lo begini?”
“Gue takut terlambat. Gue takut, kalau Agia enggak mau bangun karena gue terlalu cuek dan enggak peduli dengan kehidupan Agia.”
“Kita kenal banget gimana Agia. Enggak mungkin Agia kayak gitu. Tapi, tunggu dulu. Apa ada yang enggak lo ceritain ke gue?”
Bagi menatap Damar.
“Ayo lah! Gue tahu enggak semua hal lo ceritain.”
Bagi sudah mempertimbangkan tentang keikutsertaan Dewi dalam masalah Agia. Dia pun memutuskan untuk mendiskusikannya dengan Damar. “Gue curiga nyokap gue ikut andil dalam kesehatan Agia.”
“Nyokap lo? Kenapa lo mikir gitu?”
“Dulu, nyokap gue pernah memberikan Agia bunga yang harus ditanam di belakang toko. Gue takutnya bunga itu beracun atau, entahlah. Gue terlalu naif untuk mengakui kalau nyokap gue enggak suka sama Agia.”
“Besok gue ke toko Agia. Kita mulai penyelidikan kita kayak zaman kuliah. Lo siap, kan?”
***
Halo para pembaca yang baik. Semoga semua dalam keadaan sehat ya. Mohon maaf karena keterlambatan posting kelanjutan cerita Mamaku Hantu. Saya libur sebentar kemarin, hehehe. Setelah ini, saya siap hadir lagi untuk melanjutkan kewajiban yang tertunda.
Sekalian saya juga mau mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan! Selamat Idul Fitri, semoga selalu dalam lindungan Tuhan. Juga, semoga semua bisa memperingati lebaran lagi tahun depan dengan keluarga dan kerabat.
Salam Sayang,
Intan Pandan
__ADS_1