Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 76


__ADS_3

Mamaku Hantu


Part 76


Damar memperlambat laju kendaraan roda empatnya di depan rumah dengan pagar sederhana berwarna putih. Damar membuka lagi aplikasi pesan singkatnya, dan memastikan informasi dari Silvia tentang alamat rumahnya.


Damar melihat ke seketikar sebelum mematikan mesin kendaraannya. “Buset! Parkir di sini apa enggak menghalangi yang lain lewat, ya?” Ucap Damar pada dirinya sendiri sambil terus berupaya menyampingkan parkirnya agar tidak mengambil jalan. Setelah dirasa yakin, Damar mematikan mobilnya dan segera keluar dari mobil hitam kesayangannya.


“Permisi.” Ucap Damar ke arah rumah Silvia yang terlihat sangat bersih dan tertata.


Tidak berapa lama, Silvia muncul dari pintu bagian samping rumah.


“Pak Damar, sudah sampai?” Ucap Silvia ramah menyapa kedatangan Damar. “Enggak susah kan nyari rumah saya?” Silvia berjalan anggun menuju pintu gerbang.


“Ya, perlu nanya sedikit di depan sana. Saya belum pernah ke daerah sini soalnya.” Sahut Damar yang masih berdiri di balik pagar.


Dentingan engsel pintu gerbang berbunyi, menandakan si pemilik rumah menggeser letakknya untuk membuka pintu.


Pandangan Damar mendeteksi halaman Silvia yang dipenuhi berbagai tanaman. Damar mendekati sekumpulan tanaman hias dengan berbagai bentuk.


“Wah, banyak sekali tanaman di rumahnya Silvia, ya. Saya panggil Silvia saja, boleh, kan?” Ucap Damar dengan senyum manis mengembang bagaikan gula kapas.


Silvi yang menyadari perubahan sikap Damar, merespon positif keadaan itu.


“Ah, iya Pak Damar. Saya memang suka berkebun. Suka sekali.” Jawab Silvia terlihat menahan agar antusiasnya tidak terlalu mencolok.


“Kok manggil saya Pak segala sih. Kan lebih akrab kalau panggil Damar saja.” Balas Damar mengerucutkan bibirnya.


“Enggak enak rasanya. Kan saya jadi enggak sopan.” Silvia menolak untuk membuka pintu keakraban dengan Damar.


“Sopan, sopan. Kan yang menilai saya. Lagi pula, kita enggak terlalu jauh juga jaraknya. Paling juga cuma beberapa tahun.” Balas Damar.


“Ya sudah. Gimana kalau saya panggil Mas Damar saja?” Ucap Silvia mengutarakan ide.


“Mas Damar, ya. Boleh juga kedengarannya.” Sahut Damar menyetujui saran Silvia.


“Kamu enggak sibuk kan Sil? Apa saya mengganggu kalau berkunjung ke rumah?” Tanya Damar mulai mencoba keberuntungan untuk mendekati Silvia.


“Enggak kok, Mas Damar. Saya flexible kok. Jam berapa saja boleh datang ke tempat kerja.” Sahut Silvia.


Damar menaikkan alisnya dan menduga dalam hati, “sepertinya orang ini enggak tahu kalau gue teman dekatnya Bagi.”

__ADS_1


“Wah bagus dong kalau begitu. Enggak terikat sama waktu. Saya juga begitu.” Balas Damar.


“Mas Damar memangnya kerja dimana?” Tanya Silvia ingin tahu.


“Kebetulan saya mengelola resort.” Balas Damar dengan senyuman penuh kesungguhan.


“Resort?” Mata Silvia membulat sempurna. “Ownernya dari mana, Mas?”


“Saya sendiri.” Balas Damar.


“Wow! Baru dengar kalau pemilik langsung mengelola sendiri. Keren, keren.” Balas Silvia tidak bisa menutupi kekagumannya.


“Ya begitulah. Sebelum saya memutuskan untuk mengambil alih properti ini, saya cukup lama mengelola properti orang lain. Jadi saya rasa, tidak terlalu sulit karena sudah terbiasa.” Jawab Damar terus terang.


“Sama. Saya sekarang juga sedang mengelola toko bunga. Tapi bedanya, saya bukan pemilik seperti Mas Damar. Saya mengelola saja.” Ucap Silvia tidak mau kalah menunjukkan kemampuannya dalam karir.


“Pemiliknya sering terlibat selama kamu mengelola?”


“Enggak juga. Tapi hampir setiap hari datang berkunjung. Dulunya saya pegawai biasa. Gapi karena pemilik banyak kesibukan mengurus anak-anak dan suaminya, saya diberikan wewenang untuk mengelola. Lumayan, nambah-nambah pengalaman.” Sahut Silvia


Damar hanya merespon dengan menganggukkan kepala beberapa kali. “Betul itu. Siapa tahu nanti bisa merintis sendiri ya, Sil.” Tanpa sengaja mata Damar menangkap bunga yang sama dengan bunga di G Florist. “Loh, ini bunga yang sama seperti yang Silvia berikan di toko beberapa waktu lalu, kan?”


“Betul, Mas Damar. Bunga Azalea. Gimana keadaan bunga yang Mas Damar rawat?” Tanya Silvia.


“Iya, saya suka tanaman apa saja. Kalau bunga Azalea ini bagus untuk dijadikan teh, Mas. Tapi jangan berlebih. Nanti malah jadi boomerang untuk tubuh.” Sahut Silvia.


Mendengar ucapan Silvia, alis Damar terangkat, “boomerang gimana maksud kamu, Sil?”


“Ya, kan segala sesuatu yang berlebihan itu enggak baik, Mas.” Jawab Silvia.


Damar hanya menganggukkan kepala. Langkah kakinya mengitari halaman rumah Silvia. “Kalau ini tanaman apa? Banyak sekali yang saya enggak tahu. Semua ini kamu yang tanam?”


“Kalau ini tanaman herbal, Mas Damar. Sejenis temulawak.” Balas Silvia.


“Kamu yang tanam?” Tanya Damar mengulanginya.


“Iya. Siapa lagi? Cuma saya saja yang tinggal di sini. Sendirian.” Jawab Silvia ceria.


Pikiran Damar menjadi tidak menentu saat mendengar respon reaktif dari Silvia. Dengan cepat tangannya bergerak untuk memperlihatkan jam yang menunjukkan waktu makan siang. “Sudah siang, nih. Kamu mau makan siang?” Tanya Damar.


“Mas Damar sudah lapar?”

__ADS_1


“Lumayan. Cari makan, mau?”


“Boleh. Tunggu sebentar, saya ganti pakaian dulu ya, Mas Damar.”


***


“Kenapa kamu enggak mencoba untuk buka toko bunga sendiri, Sil?” Tanya Damar saat mereka berdua berada didalam mobil.


“Malas, Mas Damar. Modalnya itu yang bikin malas. Enak begini, modal punya orang lain, tapi saya yang kelola.” Balas Silvia apa adanya.


“Tapi kan keuntungan jauh lebih banyak bisa kamu dapatkan kalau punya sendiri.” Jawab Damar menanggapi ucapan Silvia.


“Benar. Tapi resiko juga besar, Mas Damar.”


“Memangnya apa resikonya?” Tanya Damar penasaran.


“Bunga layu. Itu yang paling beresiko. Ya kalau sesuai dengan prediksi, bunga akan segera habis terjual. Kalau tidak, akan layu percuma.” Balas Silvia.


“Benar juga ya. Lantas, sekarang kamu cari bunga dimana?”


“Ada supplier baru, Mas Damar. Tadinya sama langganan lama. Tempatnya jauh di bagian utara.” Ucap Silvia sambil menyebutkan nama salah satu daerah dataran tinggi tempat petani bunga biasa menanam tanaman bunga hias. “Tapi sekarang sudah saya ganti dengan yang baru.”


“Kenapa diganti? Harganya lebih murah?”


“Bukan. Kalau harga rata-rata sama saja, Mas Damar. Tapi saya rasa supplier yang lama itu sering curang. Saya juga susah untuk membuktikannya. Tapi saya yakin dia sering curang.” Jawab Silvia.


“Curangnya seperti apa?” Tanya Damar penasaran.


“Dari warna bunga yang berubah-ubah. Sampai ukuran juga. Sesuka hati dia saja. Padahal kualitas dari toko ini enggak pernah berubah. Alasannya nanti akan diganti atau ditukar. Tapi, entah lah. Saya juga sudah malas berurusan. Mending saya berhenti saja memesan bunga di sana. Masih banyak petani bunga lainnya yang lebih kooperatif.” Jawab Silvi lagi. “Lagi pula, cara supplier ini melihat saya kok bikin saya jadi takut.”


“Takut gimana?” Tanya Damar melirik sedikit ke arah Silvia yang duduk di kursi penumpang sebelah kirinya.


“Sering jelalatan begitu. Enggak suka saya.” Jawab Silvia sambil meringis.


Damar tertawa renyah mendengar sahutan Silvia. “Benar begitu atau pikiranmu sendiri itu?”


“Entah lah, Mas Damar.”


“Lalu, owner tahu masalah ini?”


“Tahu, Mas. Segala hal saya cerita kok. Bahkan, Mbak Agia sendiri yang mengkritik bunga kiriman orang itu. Langsung di depan orangnya.”

__ADS_1


“Oh ya? Berarti owner sudah tahu masalah ya. Untung saja owner mengerti ya. Takutnya nanti malah menganggap kamu ada main di dalam usahanya.” Balas Damar.


“Em, itu. Iya, Mas Damar.” Sahut Silvia kikuk.


__ADS_2