
Mamaku Hantu
Part 20
Bunda Agia menyaring daun teh yang ditemukan Sena di toko bunga. Warna merah pekat hampir mendekati warna coklat menetes cepat dari lubang-lubang kecil saringan yang terbuat dari kawat, setelah disiram air panas.
Wangi teh bercampur mint menguar, memanggil siapapun yang menciumnya.
“Bikin apa, Bun?” Tanya Ayah Agia mendekati istrinya.
“Teh yang diminum Agia.” Sahut Bunda santai sambil menuang dua sendok teh gula pasir ke dalam cangkir.
“Hah? Ngapain minum teh itu? Nanti Bunda kenapa-kenapa, loh.” Ayah terkejut mendengar ucapan Bunda yang begitu santainya ingin mencoba teh beracun itu.
“Yah, pakai logika deh. Seandainya memang teh ini beracun, untuk apa pelakunya membiarkan tetap berada di dalam lemari? Pasti lah sudah dibuang, kan?” Balas Bunda santai. “Lagi pula, Bunda enggak yakin kalau anak Bunda bisa tumbang hanya dengan meminum teh begini satu kali. Makanya, bunda mau coba minum. Seperti apa sih rasanya teh yang kalian temukan ini.” Bunda mengangkat cangkirnya setelah mengaduk dengan menggunakan sendok. Kini dia berjalan menuju teras rumah untuk menikmati halamannya yang berisikan tanaman hias beraneka ragam.
Ayah mengikutinya tepat di belakang Bunda.
Bunda lalu berhenti dan menoleh suaminya itu. “Kenapa Ayah ngikutin Bunda? Takut Bunda pingsan, ya?”
Ayah Agia hanya memperlihatkan giginya tanpa membalas tuduhan Bunda.
Senja dan Sena sedang bermain sepeda di jalan depan rumah. Karena sudah terbiasa menginap di rumah Kakek dan Nenek, mereka menjadi akrab dengan tetangga sekitar.
“Teh ini kuat sekali Yah rasanya. Terlalu kuat untuk Bunda. Rasa mintnya segar. Tapi Bunda enggak suka.” Bunda Agia memberikan komentar tentang teh yang berada pada genggamannya. “Ayah mau nyoba?”
“Enggak. Nanti Ayah jadi mual.” Balasnya yakin, karena tahu betul bagaimana asam lambungnya yang akan meningkat setelah meminum kafein. Entah itu dari teh, kopi, maupun soda.
Senja duduk dengan napas memburu karena lelah mengayuh sepeda. Dia tertarik dengan obrolan Kakek dan Neneknya.
“Apaan itu, Kek?” Tanya Senja.
__ADS_1
“Teh yang kita temukan di toko.”
“Nenek minum itu? Nanti enggak kenapa- apa?” Serbu Senja gusar.
“Enggaklah. Kalau minum sekali saja bisa kenapa-napa, Mamamu bukan koma, tapi koit.” Jawan Bunda Agia santai. “Nenek cuma mau tahu, kayak apa sih rasanya. Supaya kita enggak menduga-duga, harus mencoba secara langsung, kan?”
“Terus, apa yang Nenek rasa?” Tanya Senja penasaran.
“Enggak rasa apa-apa. Cuma enggak enak aja sih rasanya. Terlalu kuat. Nenek enggak suka.”
“Seingat Senja, Mama juga sering minum teh di rumah. Tapi warnanya hitam, Nek. Aku tanya, Mama kok sekarang sering minum kopi kayak Papa? Eh, Mama bilang itu teh.”
“Kamu minum teh hitam?” Ayah Agia memandang anaknya yang duduk di antara mereka.
“Aku enggak ingat, Yah. Mungkin iya.”
“Teh hitam itu lebih kuat setahu Ayah.”
“Kek, coba pinjam Hp Kakek. Aku mau lihat teh itu apaan sih isinya.”
Dengan lihai tangan Senja beratraksi diatas layar Hp milik Kakek.
“Aku sekarang lagi emosi banget. Tiba-tiba ingat kalau dulu memang ada yang pernah ngasi Mama teh. Sejak itu Mama tiap hari minum teh. Pasti teh itu bikin Mama jadi ketagihan, terus sedikit demi sedikit Mama jadi melemah kesehatannya. Aku yakin begitu.” Ucap Senja menggebu-gebu namun tanpa melihat lawan bicaranya. Seolah-olah dia berbicara dengan dirinya sendiri.
Ayah memandang Agia yang sedang berpikir. Kasihan sekali rasanya melihat Agia berusaha mengingat sesuatu dengan sulit.
“Waduh! Gawat ini Kek.” Seru Senja dengan mata membesar.
“Gawat kenapa?”
“Nih aku bacain, ya. Di dalam teh kaya akan sumber senyawa tanin yang dapat mengikat zat besi dalam makanan tertentu. Akibatnya, jika senyawa tanin terlalu banyak, maka zat besi tidak tersedia untuk diserap di saluran pencernaan.” Senja berhenti sebentar dan menatap Kakek dan Neneknya.
__ADS_1
“Ini nama senyawa yang beberapa waktu lalu diinformasikan ke Papa.” Senja menunjukkan wajah getir dan melanjutkan pencarian informasi dari internet.
“Penelitian menunjukkan bahwa senyawa tanin dalam teh memberi efek samping lebih kuat menghambat penyerapan zat besi dari sumber nabati daripada dari makanan hewani. Artinya apaan itu, ya?”
“Zat besi dari tumbuh-tumbuhan lebih susah memberikan zat besi pada tubuh, kalau kita sering minum teh. Misalnya kalau makan tempe, sayur bayam, atau brokoli yang kandungan zat besinya tinggi, malah enggak ngaruh kebadan. Kasarnya, percuma lah kita makan. Nutrisi yang seharusnya didapat oleh tubuh malah sia-si.” Balas Nenek.
“Jumlah tanin yang ada dalam teh sangat bervariasi tergantung pada jenis dan cara penyajiannya. Karena itu, membatasi konsumsi hingga 3 cangkir dalam sehari.” Senja memandang orang tua Mamanya.
“Aku yakin banget kalau Mama minum teh bisa lebih dari tiga kalo sehari. Pagi, waktu kita sarapan. Bisa jadi siang di toko Mama juga minum teh. Nanti malamnya juga minum teh sama Papa.” Senja memberi jeda pada analisisnya, “Itu kan yang aku tahu. Selama aku dan Sena di sekolah, bisa aja kan Mama minum teh lagi.”
Bunda Agia merinding mendengar penuturan cucunya. “Memangnya apa efek samping kalau minum teh berlebihan? Coba cari di internet.” Perintah Nenek kepada Senja.
Senja bergegas menggerakkan jari-jemarinya.
“Efek samping minum teh berlebihan.” Senja diam sebentar karena sedang membaca informasi yang ada melalui internet. “Oh, sama kayak tadi. Menghambat penyerapan zat besi. Terus, dapat menyebabakan perasaan cemas, stress, dan gelisah. Waduh! Ini yang sering dibilang Mama, mual dan pusing.” Senja menatap Kakek dan Neneknya seperti menemukan setitik cahaya dalam gelapnya masalah keluarga.
“Wah… Senja sama seperti teh, kekuatannya yang sejati baru muncul ketika dia masuk ke dalam air panas.” Ujar Kakek.
***
Bagi tidak berhenti mengagumi resort milik Damar. Mereka kini berada di taman yang tertata sangat apik hendak menuju restoran.
“Kenapa lo pilih nama Umah Padi Resort?” Tanya Bagi penasaran kepada Damar yang berjalan di depannya.
“Iya, Umah itu artinya rumah, Padi melambangkan kesejahteraan. Apa lagi padi kan bahan pangan utama untuk kita. Jadi gue berharap supaya tempat ini bisa jadi rumah dengan kesejahteraan di dalamnya.”
“Terus, kenapa bukan hotel? Kenapa harus resort?” Tanya Bagi lagi.
“Oh! lo enggak tahu perbedaan hotel dan resort?” Damar malah bertanya balik kepada Bagi.
“Memang ada bedanya? Sama aja tempat menginap.”
__ADS_1
“Enggak, Bro. Memang benar keduanya sama-sama tempat menginap. Tapi resort itu punya pemandangan, sementara hotel enggak. Lagi pula nama resort itu terdengar lebih mewah dari pada hotel. Ya, gak?”
“Iya juga. Pokoknya apapun keputusan yang lo ambil, gue percaya semua pasti ada alasannya.”