Mamaku Hantu

Mamaku Hantu
Part 70


__ADS_3

Mamaku Hantu.


Part 70


“Bagus sekali impiannya, Pak. Kalau saya, bisa rutin mendaki setiap minggu saja sudah sangat bahagia.” Ucap Teguh pada pendaki yang baru saja dikenalnya pagi tadi saat akan memulai pendakian. Mereka kebetulan berangkat pada waktu yang sama. Teguh mendengar percakapan dua laki-laki dengan menggunakan bahasa daerah yang sama seperti dirinya.


“Bapak-bapak sepertinya satu kampung halaman dengan saya. Apa sengaja ke sini untuk mendaki, atau memang menetap di daerah sini?” Sapa Teguh memulai pengenalan dengan kedua laki-laki itu.


“Wah? Apa iya? Kami berdua memang datang ke sini khusus hanya untuk mendaki. Bapak sendirian?”


“Iya, saya terbiasa mendaki seorang diri.”


“Ayolah, kita naik sama-sama. Lebih asik kalau ada lawan bicara, Pak.” Timpal laki-laki yang satu lagi.


“Kalau saya boleh tahu, nama Bapak siapa?”


“Saya Teguh, kalau Bapak?”


“Saya Har, Hartanto. Kalau ini Leri, kawan saya dari kecil.” Ucapnya sambil memperkenalkan Leri.


Mereka bertiga saling berjabat tangan dan menjalin keakraban. Setelah saling bertukar informasi tentang identitas masing-masing, mereka memutuskan untuk melakukan pendakian bersama-sama.


Kegiatan rutin seperti mendaki, memang menjadi hal yang dianggap istimewa untuk Teguh. Apa lagi jika sedang libur semester di sekolah, Teguh akan meluangkan waktu untuk mendaki gunung di luar pulau.


“Memangnya sudah berapa lama Bapak mengajar di sana?” Tanya pendaki yang bernama Hartanto itu sambil memandang hamparan awan dari puncak gunung, sesaat setelah mereka sampai.


“Dari saya masih bujang. Sepertinya hampir delapan tahun.” Balas Teguh.


“Saya memang ingin sekali memimpin sekolah, Pak. Banyak sekali yang ingin saya kembangkan. Bukan hanya sekedar akademik saja. Tapi hal-hal lain yang mampu meningkatkan minat dan bakat peserta didik.” Sambung Hartanto masih dengan imlian dan keinginannya.


“Pengalaman enggak ada, umur juga masih muda. Mana ada komite atau yayasan yang mau nerima lo, Har.” Sahut Leri pesimis pada keinginan Hartanto.

__ADS_1


“Nah, itu dia masalahnya.” Balas Hartanto muram.


“Coba saja dulu mengabdi sebagai pengajar, Pak Har. Siapa tahu ada peluang, kan?” Teguh masih mencoba menyemangati Hartanto.


“Di sekolah tempat Bapak mengajar, apa masih ada lowongan?” Tanya Hartanto.


“Memangnya pendidikan terakhir Pak Har itu apa?”


“Bahasa Indonesia. Saya sarjana pendidikan, dengan program pendidikan Bahasa Indonesia, Pak.”


“Coba saja dulu memasukan lamarannya, nanti kan biar saya bantu mencarikan informasi.” Sahut Teguh.


Mereka kemudian bertukar nomor pribadi yang bisa dihubungi untuk memperlancar komunikasi


“Kalau Pak Leri, kegiatannya apa saja selain mendaki?” Tanya Teguh penasaran dengan kawan Hartanto yang tidak pernah berhenti mengisap tembakau bakar.


“Enggak ada. Begini-begini saja saya, Pak. Kasihan ya saya?” Sahut Leri setelah menghembuskan asap ke udara dingin di sekitar Teguh. Rasa manis, asam, dan pahit dari tembakau terasa begitu nikmat saat asap menyeberangi trakea atau batang tenggorokan tanpa melalui penyaringan lagi. Sudah dipastikan alat pembersih saluran napas tifak lagi berfungsi dengan baik karena zat-zat kimia yang masuk melalui asap rokok tersebut.


“Walaupun uangnya sedikit, yang penting ada pemasukan.” Balas Teguh mencoba membela pekerjaan yang dilakoninya beberapa tahun belakangan.


“Sudah, Pak. Jangan dengarkan dia.” Ucap Hartanto saat melihat gelagat kurang nyaman dari Teguh.


“Pak Teguh, saya ini sudah lama ikut sama orang yang bisa bikin kaya mendadak. Bisa bikin orang lain takluk, bahkan, orang hebat ini bisa menghidupkan orang yang sudah mati.” Leri berbicara pongah tanpa tahu lawan bicaranya terkejut setengah mati.


“Yang benar, Pak Leri?” Sahut Teguh antusias.


“Loh? Yang biasa mendaki ke gunung kok tidak tahu hal-hal macam ini?” Balas Leri balik bertanya.


“Ya, saya hanya sekedar mendengar saja, Pak Leri. Tidak pernah sekali pun mengenal orang yang terlibat langsung dengan hal begitu.” Teguh menjawab ragu. Leri kemudian tertawa meremehkan.


“Yang penting, syaratnya itu terpenuhi. Apa pun keinginan dan permintaan, pasti akan dikabulkan.”

__ADS_1


“Memangnya, siapa yang akan mengabulkan?”


“Di dunia ini, banyak yang tidak bisa kita jelaskan secara ilmiah, Pak. Ada yang luar biasa sakti sampai bisa memberikan kekayaan diluar akal. Ada juga yang bisa memberikan jabatan atau kekuasaan. Tapi,” Leri berhenti kemudian melanjutkan dengan suara rendah, “ada tumbal yang harus ditukar untuk itu semua.”


“Tumbal?” Tanya Teguh tidak yakin


“Iya, tumbal. Bisa tumbal binatang, bisa juga manusia. Sebanding sih dengan apa yang didapat. Apa lagi, kalau yang ditumbalkan itu keluarga sendiri. Widih! Pasti nyer ser dikabulkannya, paten!”


Teguh menahan napas dan tiba-tiba merinding. Melihat raut wajah Teguh yang berubah tegang, Leri tertawa sekencang-kencangnya. “Kenapa, Pak? Takut, ya? Kenapa harus takut? Kan Bapak tidak melakukan apa pun. Cuma mendengarkan saya bercerita saja. Ya, siapa tahu berniat untuk jadi pengikutnya.”


“Memangnya Pak Leri pernah bertemu dengan orang sakti itu?” Teguh masih belum puas melampiaskan rasa penasarannya.


“Sama orang saktinya sih sering. Kalau sama yang membantu orang sakti itu, belum pernah, dan saya juga tidak berani. Pasti seram. Pasti mengerikan dan menakutkan. Jangan deh. Begini saja sudah bagus menurut saya.” Balas Leri.


“Memangnya Pak Leri minta apa sebelumnya?”


Wajah Leri berubah pias. “Rahasia.” Ucapnya kemudian.


“Sudahlah, Pak Teguh. Tetap jadi orang baik saja. Karena hal ini hanya mampu dilakukan oleh orang yang jahat dan putus asa. Tidak perlulah Pak Teguh ikut serta menjadi salah satu diantaranya. Benar begitu, kan, Har? Lo masih jadi orang, bukan? Atau ada niatan untuk mencoba jabatan dan kekuasaan yang ingin sekali lo mau itu?” Ucap Leri sambil melirik Teguh dan Hartanto. Hartanto diam membeku mendengar cibiran Leri.


“Kalau saya boleh tahu, dimana tempat orang sakti itu berada, Pak Leri?” Sahut Teguh.


“Ada di dekat tempat tinggal saya, Pak Teguh.” Ucap Leri sambil menyebutkan secara jelas nama sebuah daerah beserta jalan menuju ke sana. “Tapi ya begitu. Tidak sembarang orang bisa berkunjung. Nasib baik kalau berhasil menemukan Griya milik Mbah ini. Tapi kalau tujuannya masih setengah-setengah, pasti tidak akan ketemu.” Sahut Leri memberikan jeda agar asap dengan banyak kandungan zat kimia memenuhi paru-parunya. “Kalau mau ke sana, badan kita harus bersih. Lalu, tidak boleh berbicara pada saat perjalanan. Griya Mbah ini ada di barat jalan. Megah, seperti istana Kerajaan Majapahit.” Sambung Leri antusias menceritakan rumah orang yang dia percaya melebihi pencipta alam ini.


“Memangnya lo pernah ke Kerajaan Majapahit?” Ejek Hartanto dengan bibir tersungging penuh canda.


“Konon, Mbah ini bisa melakukan perjalanan waktu, dan mendapatkan inspirasi dari Kerajaan Majapahit. Ah! Lo mana ngerti sama hal beginian.” Balas Leri sengit mendengar ejekan kawan baiknya itu.


“Siapa nama Mbah ini, Pak Leri?”


“Mbah Kaliwesung.”

__ADS_1


***


__ADS_2